Share

BAB 215

Author: Avelynne
last update publish date: 2026-03-14 17:41:46

Pintu lift VIP berdenting halus saat terbuka di lantai eksekutif Diwangsa Corp.

Aku melangkah keluar dengan santai, menenteng rantang susun thermal bermerek bento Jepang yang berisi makan siang khusus untuk suamiku.

Ini adalah rutinitas baru. Arjuna tidak lagi makan siang dengan rekan bisnis jika tidak mendesak.

Dia lebih suka makan masakan rumah—atau lebih tepatnya, makan bersamaku di ruangannya yang kedap suara.

Aku mengenakan blazer dress hitam tanpa lengan yang dipadukan dengan kemeja putih
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 242

    Dengung mesin pendingin ruangan beradu dengan bau pekat karet sintetis.Otot bahuku menegang hingga batas maksimal. Matras yoga berwarna abu-abu gelap di bawah tubuhku sudah licin oleh keringat."Posturmu terlalu kaku, Lea."Suara Raina terdengar dari matras di sebelah kananku. Napasnya teratur. Postur plank-nya absolut tanpa cela."Aku benci posisi ini," balasku tajam."Napasmu tertahan di dada. Lepaskan.""Insting bertahan hidup.""Atau kebiasaan memikul beban sendirian," tembak Raina telak.Aku menurunkan tubuhku ke matras. Mengabaikan instruktur di depan cermin raksasa yang masih memberikan aba-aba.Raina memilih studio yoga ini. Studio privat yang persis menjadi tempat pelarianku dua kali seminggu."Kau memilih tempat ini secara kebetulan?" tanyaku. Aku meraih botol minum stainless.Raina ikut duduk. Dia menyeka keringat di lehernya dengan handuk kecil."Lokasinya sepuluh menit dari kantor kita. Fasilitas shower-nya privat." Raina memutar tutup botol airnya. "Itu algoritma efisie

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 241

    Ketukan stiletto setinggi sembilan sentimeter menghantam lantai marmer.Gema tajam itu memantul di lobi utama Diwangsa Corp. Aku melipat tangan di depan dada. Berdiri menanti di dekat area resepsionis khusus tamu VVIP.Aroma freesia dan daun mint segar memotong pekatnya udara pendingin ruangan.Wangi itu murni. Ringan. Sangat kontras dengan bau parfum korporat kaku dan artifisial yang biasanya mendominasi gedung ini. Sistem sarafku mencatat perbedaan itu seketika.Seorang wanita melangkah mendekat dari arah pintu kaca putar.Pakaiannya kasual tapi berkelas. Blazer terracotta dipadu celana kain berpotongan lurus. Rambut sebahunya dibiarkan tergerai natural."Alea?" sapanya duluan.Raina Pratama tidak menunggu diantar oleh petugas keamanan. Senyumnya terbentuk natural. Sama sekali tidak ada basa-basi menjilat yang biasa kuterima dari calon konsultan atau vendor perusahaan.Tangan kanannya terulur tanpa ragu."Raina," ucapnya singkat. Suaranya bervolume pas.Aku menyambut jabat tangan it

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 240

    Suara statis pelan dari baby monitor di atas meja kaca memecah keheningan.Satu detik kemudian, terdengar dengusan napas bayi yang ritmis dan teratur. Elang sudah terlelap sepenuhnya di kamar sebelah.Ruang keluarga raksasa ini hanya diterangi oleh satu lampu sudut bersinar kuning redup. Sisa ruangan dibiarkan tenggelam dalam bayangan.Tidak ada pendaran cahaya dari layar televisi. Tablet, laptop, dan kedua ponsel kami telah dimatikan secara paksa. Benda-benda pembawa racun korporat itu sudah kukunci di laci meja kerja sejak jam delapan malam.Aku duduk menyamping di atas sofa kulit yang luas. Menekuk lutut ke dada.Mataku memperhatikan pria yang sedang berdiri di dekat konter bar mini.Malam ini, Arjuna tidak membuka botol Château Margaux atau menuang wiski murni ke dalam gelas kristal. Tangannya yang besar dan kapalan justru sibuk menuang air panas ke dalam teko keramik kecil.Aroma pekat teh chamomile dan sedikit seduhan lavender menguar di udara.Pilihan yang sangat tidak biasa un

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 239

    Suara dengung bernada tinggi membelah keheningan ruang kerja utama Arjuna.Bunyi itu hanya berlangsung dua detik, tapi efeknya absolut. Itu adalah alarm dari sistem keamanan prioritas satu. Sesuatu yang hanya menyala jika ada intrusi level merah di jaringan privat Diwangsa Corp.Layar monitor raksasa di dinding ruangan berkedip. Menampilkan garis merah solid di sepanjang tepi layar.Aku sedang duduk di sofa kulit seberang meja kerja Arjuna, membaca ulang draf final kontrak joint venture Raka Wiratama. Konsentrasiku hancur seketika.Pintu ganda mahoni terbuka tanpa ketukan.Hendra melangkah masuk. Kepala intelijen korporat kami itu biasanya bergerak seperti bayangan. Tapi kali ini, langkah kakinya terdengar berat dan memburu. Ada aroma udara jalanan yang kotor dan sisa nikotin pekat yang menguar dari jas hitamnya.Dia tidak membawa tablet. Dia tidak membawa ponsel.Hanya sebuah map abu-abu kusam berisi tumpukan kertas fisik.Dalam dunia kami, informasi yang dicetak di atas kertas adala

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 238

    Aroma mentega panggang dari croissant yang baru diangkat dari oven menguar di udara.Wangi itu bercampur dengan kepulan uap panas dari cangkir porselen berisi teh Earl Grey di depanku. Aku duduk sendirian di sudut VIP restoran lantai empat puluh.Kaca jendela raksasa di sisiku menampilkan lanskap Jakarta yang dibungkus polusi pagi. Kemacetan merayap lambat bak urat nadi yang tersumbat.Seharusnya ini adalah pagi yang tenang.Arjuna sedang memimpin rapat tertutup dengan dewan komisaris di gedung Sudirman sejak jam tujuh tadi. Aku sengaja mengambil waktu satu jam di luar kantor untuk membedah laporan audit kuartalan tanpa gangguan.Tapi ketenangan itu hanyalah ilusi.Otot bahuku masih tegang. Sisa-sisa mimpi buruk semalam—bayangan wajah pemuda itu di cermin yang menggantikan suamiku—masih menempel lengket di sudut pikiranku. Sialan.Aku menekan tombol Enter di laptopku. Mencoba memfokuskan pandangan pada deretan angka margin profit.Lalu, perubahan tekanan udara itu terjadi.Sistem sara

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 237

    Rintik hujan menampar kaca jendela kamar utama dengan ritme yang brutal.Cuaca Jakarta malam ini memburuk drastis. Udara dingin menyusup lewat celah ventilasi, bertabrakan dengan suhu hangat dari mesin pendingin yang sudah kunaikkan beberapa derajat.Aku duduk bersandar di kepala ranjang. Cahaya lampu tidur di atas nakas berpendar redup, melempar bayangan panjang ke dinding.Tubuhku hanya berbalut gaun tidur sutra berwarna hitam. Tali tipisnya bertengger longgar di bahuku.Ketegangan sisa perdebatan di dapur subuh tadi belum sepenuhnya menguap. Otot leherku masih terasa kaku. Otakku menolak untuk mati, terus memutar ulang deretan angka dan klausul jebakan dari Raka Wiratama.Pintu kayu mahoni terbuka tanpa suara ketukan.Arjuna melangkah masuk. Dia masih mengenakan kemeja kerja putihnya, tapi dasinya sudah lenyap. Lengan kemejanya digulung asal hingga siku.Di kedua tangannya, dia membawa dua gelas kristal berisi anggur merah pekat.Langkah beratnya menembus karpet tebal. Dia berhenti

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 65

    Pagi ini, Arjuna berangkat kerja lebih awal. Dia mencium keningku sekilas sebelum pergi, ciuman dingin yang terasa seperti stempel absensi."Jangan lupa minum vitaminmu," pesannya datar, lalu menghilang di balik pintu lift pribadi.Begitu pintu lift tertutup, aku tidak minum vitamin. Aku tidak bers

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 73

    Balairung Universitas Indonesia penuh sesak.Ribuan manusia tumpah ruah di sini. Suara riuh rendah obrolan, tawa bahagia, dan pengumuman dari pengeras suara bercampur menjadi satu dengungan raksasa yang memekakkan telinga. \Udara terasa panas dan lembap meski AC sentral menyala maksimal, dikalahka

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 69

    Cahaya matahari pagi yang lembut menyapa kelopak mataku, memaksa kesadaranku untuk kembali ke permukaan.Aku mengerjap pelan.Hal pertama yang kusadari adalah rasa ringan di kepalaku. Kabut panas yang menyelimuti otakku selama dua hari terakhir perlahan menipis.Demamku turun. Rasa sakit di persend

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 70

    Tiga hari berlalu sejak demamku turun.Aku sudah kembali ke rutinitas "normal" di dalam sangkar emas ini. Duduk di sofa ruang tengah yang menghadap dinding kaca, dengan selimut bulu menutupi kaki dan secangkir teh chamomile hangat di tangan.Arjuna sedang di ruang kerjanya, mengurus tumpukan pekerj

    last updateLast Updated : 2026-03-22
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status