LOGINDengung mesin pendingin ruangan beradu dengan bau pekat karet sintetis.Otot bahuku menegang hingga batas maksimal. Matras yoga berwarna abu-abu gelap di bawah tubuhku sudah licin oleh keringat."Posturmu terlalu kaku, Lea."Suara Raina terdengar dari matras di sebelah kananku. Napasnya teratur. Postur plank-nya absolut tanpa cela."Aku benci posisi ini," balasku tajam."Napasmu tertahan di dada. Lepaskan.""Insting bertahan hidup.""Atau kebiasaan memikul beban sendirian," tembak Raina telak.Aku menurunkan tubuhku ke matras. Mengabaikan instruktur di depan cermin raksasa yang masih memberikan aba-aba.Raina memilih studio yoga ini. Studio privat yang persis menjadi tempat pelarianku dua kali seminggu."Kau memilih tempat ini secara kebetulan?" tanyaku. Aku meraih botol minum stainless.Raina ikut duduk. Dia menyeka keringat di lehernya dengan handuk kecil."Lokasinya sepuluh menit dari kantor kita. Fasilitas shower-nya privat." Raina memutar tutup botol airnya. "Itu algoritma efisie
Ketukan stiletto setinggi sembilan sentimeter menghantam lantai marmer.Gema tajam itu memantul di lobi utama Diwangsa Corp. Aku melipat tangan di depan dada. Berdiri menanti di dekat area resepsionis khusus tamu VVIP.Aroma freesia dan daun mint segar memotong pekatnya udara pendingin ruangan.Wangi itu murni. Ringan. Sangat kontras dengan bau parfum korporat kaku dan artifisial yang biasanya mendominasi gedung ini. Sistem sarafku mencatat perbedaan itu seketika.Seorang wanita melangkah mendekat dari arah pintu kaca putar.Pakaiannya kasual tapi berkelas. Blazer terracotta dipadu celana kain berpotongan lurus. Rambut sebahunya dibiarkan tergerai natural."Alea?" sapanya duluan.Raina Pratama tidak menunggu diantar oleh petugas keamanan. Senyumnya terbentuk natural. Sama sekali tidak ada basa-basi menjilat yang biasa kuterima dari calon konsultan atau vendor perusahaan.Tangan kanannya terulur tanpa ragu."Raina," ucapnya singkat. Suaranya bervolume pas.Aku menyambut jabat tangan it
Suara statis pelan dari baby monitor di atas meja kaca memecah keheningan.Satu detik kemudian, terdengar dengusan napas bayi yang ritmis dan teratur. Elang sudah terlelap sepenuhnya di kamar sebelah.Ruang keluarga raksasa ini hanya diterangi oleh satu lampu sudut bersinar kuning redup. Sisa ruangan dibiarkan tenggelam dalam bayangan.Tidak ada pendaran cahaya dari layar televisi. Tablet, laptop, dan kedua ponsel kami telah dimatikan secara paksa. Benda-benda pembawa racun korporat itu sudah kukunci di laci meja kerja sejak jam delapan malam.Aku duduk menyamping di atas sofa kulit yang luas. Menekuk lutut ke dada.Mataku memperhatikan pria yang sedang berdiri di dekat konter bar mini.Malam ini, Arjuna tidak membuka botol Château Margaux atau menuang wiski murni ke dalam gelas kristal. Tangannya yang besar dan kapalan justru sibuk menuang air panas ke dalam teko keramik kecil.Aroma pekat teh chamomile dan sedikit seduhan lavender menguar di udara.Pilihan yang sangat tidak biasa un
Suara dengung bernada tinggi membelah keheningan ruang kerja utama Arjuna.Bunyi itu hanya berlangsung dua detik, tapi efeknya absolut. Itu adalah alarm dari sistem keamanan prioritas satu. Sesuatu yang hanya menyala jika ada intrusi level merah di jaringan privat Diwangsa Corp.Layar monitor raksasa di dinding ruangan berkedip. Menampilkan garis merah solid di sepanjang tepi layar.Aku sedang duduk di sofa kulit seberang meja kerja Arjuna, membaca ulang draf final kontrak joint venture Raka Wiratama. Konsentrasiku hancur seketika.Pintu ganda mahoni terbuka tanpa ketukan.Hendra melangkah masuk. Kepala intelijen korporat kami itu biasanya bergerak seperti bayangan. Tapi kali ini, langkah kakinya terdengar berat dan memburu. Ada aroma udara jalanan yang kotor dan sisa nikotin pekat yang menguar dari jas hitamnya.Dia tidak membawa tablet. Dia tidak membawa ponsel.Hanya sebuah map abu-abu kusam berisi tumpukan kertas fisik.Dalam dunia kami, informasi yang dicetak di atas kertas adala
Aroma mentega panggang dari croissant yang baru diangkat dari oven menguar di udara.Wangi itu bercampur dengan kepulan uap panas dari cangkir porselen berisi teh Earl Grey di depanku. Aku duduk sendirian di sudut VIP restoran lantai empat puluh.Kaca jendela raksasa di sisiku menampilkan lanskap Jakarta yang dibungkus polusi pagi. Kemacetan merayap lambat bak urat nadi yang tersumbat.Seharusnya ini adalah pagi yang tenang.Arjuna sedang memimpin rapat tertutup dengan dewan komisaris di gedung Sudirman sejak jam tujuh tadi. Aku sengaja mengambil waktu satu jam di luar kantor untuk membedah laporan audit kuartalan tanpa gangguan.Tapi ketenangan itu hanyalah ilusi.Otot bahuku masih tegang. Sisa-sisa mimpi buruk semalam—bayangan wajah pemuda itu di cermin yang menggantikan suamiku—masih menempel lengket di sudut pikiranku. Sialan.Aku menekan tombol Enter di laptopku. Mencoba memfokuskan pandangan pada deretan angka margin profit.Lalu, perubahan tekanan udara itu terjadi.Sistem sara
Rintik hujan menampar kaca jendela kamar utama dengan ritme yang brutal.Cuaca Jakarta malam ini memburuk drastis. Udara dingin menyusup lewat celah ventilasi, bertabrakan dengan suhu hangat dari mesin pendingin yang sudah kunaikkan beberapa derajat.Aku duduk bersandar di kepala ranjang. Cahaya lampu tidur di atas nakas berpendar redup, melempar bayangan panjang ke dinding.Tubuhku hanya berbalut gaun tidur sutra berwarna hitam. Tali tipisnya bertengger longgar di bahuku.Ketegangan sisa perdebatan di dapur subuh tadi belum sepenuhnya menguap. Otot leherku masih terasa kaku. Otakku menolak untuk mati, terus memutar ulang deretan angka dan klausul jebakan dari Raka Wiratama.Pintu kayu mahoni terbuka tanpa suara ketukan.Arjuna melangkah masuk. Dia masih mengenakan kemeja kerja putihnya, tapi dasinya sudah lenyap. Lengan kemejanya digulung asal hingga siku.Di kedua tangannya, dia membawa dua gelas kristal berisi anggur merah pekat.Langkah beratnya menembus karpet tebal. Dia berhenti
Debur ombak Samudra Hindia terdengar berirama di kejauhan, menghantam tebing karang di bawah villa privat kami di Nusa Dua.Langit Bali malam ini cerah. Bulan purnama menggantung rendah, memancarkan cahaya perak yang memantul di permukaan air kolam renang infinity yang gelap dan tenang. Ujung kolam
Cermin setinggi langit-langit di kamar villa memantulkan sosok perempuan yang tampak sempurna, namun rapuh.Aku mengenakan gaun malam backless berbahan satin warna champagne yang jatuh memeluk tubuhku hingga menyapu lantai.Potongan lehernya rendah, menampilkan tulang selangka, sementara bagian pun
Aku membanting pintu toilet VIP yang berat itu hingga tertutup dengan suara BLAM yang menggelegar. Untungnya, musik dari ballroom cukup keras untuk meredam kegilaanku ini.Tanganku gemetar hebat saat mengunci pintu.Aku bersandar pada daun pintu yang dingin, napasku terengah-engah seperti orang yan
Hari ini dimulai seperti hari-hari biasa di Diwangsa Corp. Aku duduk di meja kerjaku di depan ruangan Arjuna, menyortir surat masuk dan berpura-pura sibuk mengetik laporan yang sebenarnya tidak ada.Arjuna sedang di dalam, sibuk dengan tumpukan dokumen pasca perjalanan dinas kami ke Bali. Pintu rua







