INICIAR SESIÓN
Lima ratus. Seribu. Dua ribu lima ratus.
Aku menatap tumpukan koin di telapak tangan. Logam-logam dingin ini berbau apek, sama seperti udara lembap di dalam kontrakan sempit yang terpaksa kuhuni tiga bulan terakhir.
Listrik mati sejak sore. Meteran di luar menampilkan angka nol, dan dua ribu lima ratus rupiah di genggamanku tidak cukup untuk mengubah angka itu menjadi satu pun.
DUAR!
Suara gedoran benda keras menghantam pintu kayu rapuh di depanku. Jantungku serasa berhenti berdetak sedetik, sebelum memacu gila-gilaan menabrak rusuk.
"Buka! Gue tahu lu di dalem, Bangsat!"
Suara teriakan laki-laki. Kasar. Parau. Penuh ancaman.
Aku membekap mulutku sendiri, menahan isak tangis yang mendesak keluar. Tubuhku gemetar hebat di sudut ruangan, di atas kasur lipat tipis yang sudah tak berbentuk.
Hujan di luar turun semakin deras, seolah berlomba dengan suara gedoran di pintu untuk memecahkan gendang telingaku.
"Keluar dalam hitungan tiga, atau gue bakar tempat ini sama lo!"
Bau bensin merembes lewat celah bawah pintu. Mereka tidak mengancam — mereka berjanji.
Tanganku meraba lantai gelap. Jari-jariku menyentuh sudut tajam layar retak — ponsel dengan baterai 15%. Dalam kondisi ini, satu-satunya koneksi ke dunia yang mungkin bisa menolong.
Aku menekan kontak di Speed Dial 1. Luna.
Tuuut... Tuuut...
"Angkat, Lun... Please, angkat..." bisikku parau. Air mata mulai menetes, panas di pipi yang dingin.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.
Sial. Luna pasti sedang di pesawat menuju Paris. Dia sedang liburan semester, hidup di dunia yang jauh berbeda dari neraka ini.
BRAK!
Pintu kayu itu retak. Engsel tua di bagian atas mulai longgar. Kayu lapuk berjatuhan ke lantai.
"Satu!" Teriakan di luar makin keras.
Aku menggulir kontak dengan panik. Siapa? Siapa yang bisa menolongku detik ini juga? Ibu masih di rumah sakit, tidak mungkin kubebani.
Saudara? Mereka semua menjauh sejak Ayah bangkrut dan kabur. Rian? Dia cuma mahasiswa sepertiku, dia tidak akan berani melawan preman-preman itu.
Jariku berhenti di satu nama. Kontak yang tersimpan paling bawah, yang tidak pernah berani kuhubungi seumur hidupku kecuali untuk urusan sangat darurat menyangkut Luna.
Om Arjuna.
Arjuna Diwangsa. Ayah Luna.
Rasa malu menikam ulu hatiku. Meminta tolong padanya sama saja dengan menelanjangi harga diriku. Dia pria terhormat, konglomerat yang melihatku hanya sebagai "teman kecil Luna yang manis". Apa yang akan dia pikirkan jika tahu aku dikejar lintah darat seperti buronan?
BRAK!
"Dua!"
Pintu itu melengkung ke dalam. Kunci grendel murahan itu tidak akan bertahan lima detik lagi.
Persetan dengan harga diri. Aku ingin hidup.
Aku menekan tombol panggil. Napasku tercekat di tenggorokan.
Dering pertama. Dering kedua.
"Halo."
Suara itu. Bariton, dalam, datar, dan dingin. Suara yang biasa kudengar memberi perintah di ruang rapat atau memarahi pelayan restoran bintang lima karena kesalahan kecil. Suara kekuasaan.
"Om..." Suaraku pecah, hampir tak terdengar karena isak tangis. "Om Arjuna... tolong..."
Hening sejenak di seberang sana. Tidak ada nada kaget, tidak ada nada khawatir. Hanya sunyi yang mencekam.
"Siapa ini?" tanyanya datar. Tentu saja dia tidak menyimpan nomorku.
"Alea, Om. Teman Luna..."
KRAAAK!
Pintu depan jebol. Potongan kayu terlempar ke dalam ruangan. Cahaya senter menyilaukan mata menerobos masuk, diikuti bayangan tiga pria berbadan besar.
"Itu dia! Tangkap!"
Aku menjerit. Ponsel di telingaku terlepas, tapi aku tidak peduli lagi. Aku melempar tumpukan koin ke arah mereka—usaha perlawanan yang menyedihkan—lalu berbalik badan.
Jendela kaca nako di belakang — sebagian sudah pecah sejak bulan lalu — satu-satunya jalan.
Kaca yang tersisa mengoyak lengan dan pahaku saat aku menerobos. Aku tidak merasakan perihnya sampai kakiku menghantam lumpur gang di belakang kontrakan.
Adrenalin adalah anestesi terbaik yang pernah ada.
Aku mendarat di gang becek di belakang kontrakan, lututku menghantam lumpur.
Hujan langsung menampar wajahku. Dingin. Menusuk tulang.
"Jangan lari lu!"
Derap langkah kaki berat terdengar mengejar. Aku bangkit, mengabaikan darah yang mulai merembes bercampur air hujan di kakiku. Lari. Aku harus lari ke jalan raya. Di sana ada orang. Di sana ada lampu.
Gang itu gelap dan licin. Sandalku putus satu, membuatku terpincang-pincang. Napasku memburu, paru-paruku terasa terbakar.
Di ujung gang, cahaya lampu jalan raya terlihat samar.
Sedikit lagi.
Aku memaksakan kakiku yang lemas. Suara teriakan preman di belakang semakin dekat.
Aku menghambur keluar dari mulut gang, langsung memotong jalan aspal tanpa menoleh.
CIIIT!!!
Bunyi decit ban beradu dengan aspal basah memekakkan telinga. Cahaya putih menyilaukan menelan seluruh pandanganku. Klakson panjang berbunyi nyaring.
Aku membeku. Kakiku kaku.
Moncong sebuah mobil besar berwarna hitam mengkilap berhenti tepat dua sentimeter dari lututku. Panas mesinnya menerpa kulitku yang basah kuyup.
Aku jatuh terduduk di aspal, menutupi wajah dengan kedua tangan, menunggu benturan yang tak kunjung datang atau teriakan makian dari supir.
Tapi hening.
Hanya suara hujan dan deru halus mesin mobil di depanku.
Perlahan, aku menurunkan tangan. Mataku menyipit di balik tirai hujan, menatap logo mobil di depanku. Dua huruf M yang saling bertaut dalam bingkai segitiga. Maybach.
Pintu penumpang belakang terbuka. Sebuah payung hitam besar mengembang, melindungi sosok yang keluar dari sana. Sepatu pantofel kulit mengkilap menapak di aspal basah, tak peduli pada genangan air kotor.
Wangi Oud Wood dan tembakau mahal samar-samar tercium, melawan bau amis hujan dan sampah jalanan.
Sosok tinggi tegap itu berdiri menjulang di depanku yang terduduk menyedihkan di aspal. Dia tidak mengulurkan tangan.
Dia hanya menatapku ke bawah, dengan sorot mata tajam dan dingin yang lebih menakutkan daripada preman yang mengejarku tadi.
Di tangannya, sebuah ponsel menyala, masih tersambung panggilan yang belum diputus.
"Alea."
Bukan pertanyaan. Bukan ajakan. Sebuah klaim atas nama.
"Masuk."
Pukul satu dini hari.Perpustakaan kecil ini steril dari segala bentuk gangguan eksternal. Tidak ada deru mesin kendaraan. Tidak ada dering telepon. Suasana sunyi dan kedap udara.Hanya ada bunyi ketukan mekanis dari papan ketik laptopku."Ketukanmu melambat," komentar Arjuna memecah kesunyian.Pria itu duduk di sofa sudut. Layar tablet di tangannya memancarkan pendar kebiruan. Dia tidak beranjak dari posisi itu sejak dua jam lalu."Aku sedang menyelaraskan paragraf terakhir," jawabku tanpa memutus pandangan dari layar."Draf kasarnya selesai malam ini?""Kerangka utamanya tuntas seratus persen."Arjuna meletakkan tabletnya ke atas meja kaca. Bunyi benturan pelan terdengar tajam. Pria itu menyandarkan punggungnya ke bantalan sofa."Kita tidak memesan sampanye untuk merayakannya?" tanya Arjuna datar."Ini bukan kemenangan perang, Juna." Aku menolak ide itu mentah-mentah. "Ini sekadar rutinitas penulisan.""Bagi orang normal, merampungkan sebuah kerangka buku adalah pencapaian besar.""
Matahari memanggang aspal kompleks perumahan tanpa ampun.Pagar besi depan rumah didorong terbuka. Engselnya berderit pelan memecah kesunyian.Elang berjalan melintasi pelataran batu. Langkah sepatunya menghantam konblok dengan irama berat tapi sangat pasti. Anak sembilan tahun itu mengenakan seragam putih merah yang sudah berantakan. Keringat membasahi kerah kemejanya.Dia menaiki anak tangga teras. Ransel sekolah berwarna hitam dilemparkannya ke atas kursi rotan. Bunyi debum kain tebal beradu dengan anyaman rotan terdengar keras.Aku berdiri diam di ambang pintu utama. Tanganku bersilang di depan dada. Aku tidak menyambutnya dengan pelukan atau sapaan melengking.Elang tidak langsung berbicara. Dia meraih botol air minum transparan berukuran satu liter dari atas meja teras. Tutupnya diputar cepat.Anak itu menenggak air putih tersebut. Cairan dingin mengalir turun ke kerongkongannya. Setengah liter air tandas dalam hitungan detik.Botol plastik itu diturunkannya dengan satu entakan
Aroma roti panggang mendominasi ruang dapur pagi ini. Mesin pembuat kopi berdengung konstan di sudut konter marmer.Elang membuka lemari kabinet atas dengan cepat. Anak sembilan tahun itu mengeluarkan tiga piring keramik datar. Gerakannya sangat efisien dan presisi.Di sebelahnya, Arjuna berdiri menghadap mesin kopi. Suamiku sudah mengenakan kemeja kerja abu-abu gelap yang disetrika licin.Pagi ini berjalan sangat fungsional. Tidak ada kepanikan mencari dokumen yang hilang. Tidak ada teriakan anak kecil yang menolak menu sarapan.Aku menarik kursi bar dan duduk. Mataku merekam dinamika dua laki-laki di depanku secara saksama."Roti gandum atau putih?" tanya Elang tanpa menoleh padaku."Gandum," jawabku singkat."Satu lembar atau dua lembar?""Satu.""Mentega atau selai kacang?""Polos."Elang meletakkan satu lembar roti gandum panggang yang masih berasap di atas piringku.Aku menatap lurus ke wajah putraku. Dia bukan lagi balita bingung yang selalu menangis saat mendengar suara keras
Jam digital di sudut meja menunjukkan pukul satu dini hari.Lampu meja menyala sangat terang. Fokus cahayanya menyorot langsung ke atas permukaan kertas putih. Aku duduk tegak di kursi kerja perpustakaan kecil ini. Ujung penaku bergerak liar namun terstruktur di atas buku catatan baru."Kau belum tidur."Suara bariton itu memotong kesunyian absolut ruangan.Arjuna berdiri di ambang pintu. Pria itu bertelanjang dada. Dia hanya mengenakan celana tidur panjang berbahan katun gelap. Rambutnya sedikit berantakan akibat gesekan bantal."Aku sedang bekerja," jawabku tanpa menghentikan gerakan pena."Ini jam satu pagi, Alea.""Waktu tidak relevan saat otakku sedang merangkai struktur," balasku lugas.Arjuna melangkah masuk. Telapak kakinya menapak lantai kayu tanpa suara. Pria itu menarik kursi tamu dan duduk tepat berhadapan denganku. Meja kerja ini menjadi satu-satunya pembatas fisik di antara kami."Apa yang sedang kau bedah?" tuntut Arjuna. Matanya yang gelap memindai kertas di depanku."
Jam dinding digital di ruang keluarga menunjukkan pukul dua belas malam.Lantai dua sudah sepenuhnya senyap. Suara pintu kamar Elang ditutup telah terdengar sejak satu jam lalu. Anak berusia sembilan tahun itu tertidur lelap setelah kelelahan membedah tugas sekolahnya.Hanya ada satu lampu lantai menyala temaram di sudut ruangan ini.Arjuna melangkah keluar dari arah dapur. Pria itu berjalan mendekati sofa tempatku bersandar. Dia menyodorkan sebuah gelas kaca berisi air putih dingin tepat ke depan wajahku."Minum," perintah Arjuna singkat.Aku menerima gelas itu tanpa penolakan. Suhu dingin dari permukaan kaca langsung meresap ke dalam kulit telapak tanganku.Aku menenggak air putih itu hingga tandas separuh. Cairan dingin membasuh kerongkonganku, menurunkan suhu tubuhku secara instan. Aku meletakkan gelas tersebut ke atas meja dengan bunyi dentingan pelan.Otakku tiba-tiba mencatat sebuah fakta internal yang sangat spesifik malam ini.Sepuluh tahun lalu, memilih pria di depanku ini m
Lampu meja memancarkan cahaya kuning tajam di dalam perpustakaan kecil. Aku duduk berhadapan dengan meja kayu solid.Buku catatan bersampul kulit hitam tergeletak terbuka di depanku. Ujung halamannya melengkung dan usang. Buku ini telah menjadi saksi bisu dari ratusan jam kerja dan analisis tanpa filter.Hanya tersisa satu halaman kosong. Lembar terakhir dari sebuah era.Pintu perpustakaan berderit pelan.Arjuna melangkah masuk. Pria itu membawa secangkir teh panas dan meletakkannya tepat di dekat sikuku. Asap tipis mengepul dari permukaan cairan berwarna kecokelatan tersebut."Buku itu sudah penuh," komentar Arjuna datar. Pria itu bersandar pada tepi meja kerjaku."Sisa satu halaman," jawabku tanpa menoleh. "Aku akan menyelesaikannya malam ini.""Kau sudah memakai buku itu sejak sebelum draf buku pertamamu lahir ke dunia."Aku menyentuh permukaan kertas bergaris itu. Teksturnya terasa kasar di ujung jari."Iya. Ini adalah rekam jejak yang tidak pernah masuk dalam jadwal kerja kita."







