LOGINKalimat Julian membuat Alana mendongak. Ia menatap pria di hadapannya itu dengan tatapan yang penuh dengan campuran beragam emosi.Julian, suaminya yang selama tiga tahun bersikap dingin dan tak tersentuh, kini terlihat begitu putus asa ingin menyelamatkan nyawa seorang anak yang baru ia kenal beberapa jam yang lalu.Lalu, bagaimana dengan nyawa istrinya sendiri?“Tidak semua hal di dunia ini bisa ditaklukan dengan kekuasaan dan kekayaan Ashford, Julian,” balas Alana dengan suara parau.“Ada penyakit yang tidak peduli seberapa banyak uang yang kau lempar padanya, dia tetap akan merenggut nyawa.”“Tapi kita tidak bisa diam saja menunggu dia mati, Alana!”“Lalu apa yang harus kita lakukan?” Alana balas meninggikan suara. Bahunya bergetar. Air matanya meluncur turun melewati pipinya. Ia tidak tahu lagi tentang siapa ia bicara sekarang—tentang dirinya kah, atau tentang Noel.“Dokter terbaik mana pun, tidak akan bisa melawan waktu yang sudah Tuhan gariskan, Julian.” Alana berbisik lirih, p
“Sayangnya, waktuku sudah tidak lagi banyak untuk bisa menemaninya melihat anak-anak di panti ini tumbuh dewasa.”Nyonya Betty menoleh dengan kening berkerut, tidak menangkap maksud tersirat dari ucapan Alana.“Waktu? Ah, Nyoya Alana dan Tuan Julian pasti sangat sibuk dengan urusan perusahaan ya. Tidak apa-apa, bisa berkunjung sesekali saja anak-anak sudah sangat senang.”Alana hanya membalas dengan senyum tipis, memilih membiarkan kesalahpahaman itu tetap di sana.Tepat pada detik itu, suara sorakan riuh terdengar dari arah lapangan.“Terbang! Ayah Julian hebat! Layangan Noel paling tinggi!”Alana mengangkat wajahnya. Di tengah langit sore yang bersemburat jingga, layang-layang dengan tulisan tangan ‘NOEL’ itu akhirnya mengudara dengan gagah. Julian berdiri di tengah lapangan, tangannya menarik-ulur benang dengan mahir untuk menahan tarikan angin.Napas pria itu terengah-engah, rambutnya berantakan, keringat membasahi keningnya. Namun di wajah Julian Ashford, tercetak sebuah senyum
Tiba-tiba, suara mesin mobil terdengar menggemuruh nyaring di luar. Dua unit truk tampak hendak masuk ke pelataran panti.Semua orang menatap panik ke luar jendela. Tidak mengerti apa yang terjadi. Kecuali Julian Ashford.“Oh, itu hadiah dariku.”Alana menoleh cepat. “Hadiah?”“Aku tidak tahu hadiah ulang tahun untuk anak usia tujuh tahun. Jadi aku memborong dua truk mainan, buku anak-anak dan makanan ringan.” Julian menjawab enteng. “Julian … itu terlalu banyak ….” Alana berbisik tak percaya.Namun Julian hanya mengangkat bahunya dengan ekspresi datar. Sedangkan anak-anak berteriak kegirangan. Mereka menghambur ke arah pintu dan jendela dengan energi yang seolah terisi kembali oleh kata ‘mainan’.***Sepanjang siang hari, Noel sibuk bermain dengan mainan-mainan baru dan menolak tidur siang. Bahkan ketika tubuhnya sudah tampak kelelahan pun ia tetap merengek meminta Julian menemaninya bermain layang-layang di halaman belakang.Alana melangkah ke teras belakang bangunan panti didampin
“Nyonya Alana?” Sebuah suara di sudut ruangan membuat suara tawa Alana terhenti. Wanita itu menoleh, bibirnya mengulas senyum tipis saat menemukan sosok yang berdiri di ambang pintu.Seorang wanita paruh baya tampak menunduk singkat sambil tersenyum pada Alana dan Julian dengan wajah hangat. Alana bangkit perlahan dan menghampiri wanita yang ia kenal akrab dengan panggilan Nyonya Betty itu. Ia memeluknya singkat. Nyonya Betty kemudian mengajak Alana berkeliling dan memberi kabar tentang perkembangan panti.Setelah berkeliling, seorang pengurus panti memanggil Nyonya Betty karena membutuhkan bantuan. Nyonya Betty pun pamit dan berkata bahwa ia akan segera kembali.Alana akhirnya kembali ke aula dan menemukan Julian sedang menggambar di sebuah kertas. Sebuah pemandangan langka yang membuat Alana tersenyum tipis. Wanita itu akhirnya memilih berdiri bersandar di dinding, mengamati mereka dari belakang.Jari pria yang terbiasa menandatangani kontrak bernilai triliunan itu kini menggores
“Ayah!” Tiba-tiba, Noel berlari kecil melewati Alana dan langsung memeluk kedua kaki Julian erat-erat.Tubuh Julian tersentak. Ia mematung, menatap anak kecil asing yang kini membuat kakinya sulit digerakkan. “K-kau panggil aku apa?”Noel mendongak menatap Julian, senyumnya mengembang lebar hingga sebagian giginya yang ompong kini terlihat. “Ibu benar! Ayah sangat tampan seperti di foto! Ibu bilang, Ayah tidak pernah ikut ke sini karena Ayah sibuk bekerja mencari uang untuk Noel dan teman-teman. Tapi sekarang Ayah datang!” Noel kembali memeluk kaki Julian erat.Jantung Julian seolah berhenti berdetak. Ia tidak terbiasa dengan anak kecil. Bahkan seumur hidupnya, interaksinya dengan anak kecil hampir bisa dihitung jari.Pria itu menatap canggung puncak kepala Noel yang benar-benar mulus seperti bohlam. Lalu beralih menatap Alana yang kini menatap Noel sambil tersenyum lembut. Ekspresinya sendu, seperti seorang Ibu yang akhirnya mempertemukan anaknya dengan sang Ayah yang lama tidak pu
‘35. Berkunjung ke panti dan menjadi orang tua Noel dalam sehari.’Julian menatap kalimat itu dengan rahang mengeras. Tatapannya kini berubah tajam. “Panti? Orang tua Noel?” Pria itu mendongak, menatap Alana dengan kilatan tidak suka yang tidak disembunyikan. “Sejak kapan kau mengurusi anak-anak panti di belakangku?”Kalimat tajam itu meluncur lancar. Sebagai suami, Julian membenci fakta bahwa ada bagian dari kehidupan Alana, bahkan seorang anak kecil bernama Noel, yang sama sekali tidak ia ketahui.Sementara itu, Alana menelan ludah, menahan perih di dadanya dan bersiap mengubur harapan untuk menyenangkan hati Noel yang sedang sakit.“Itu panti asuhan kecil yang kudanai selama dua tahun terakhir. Aku mendirikannya menggunakan nama pribadiku, tanpa embel-embel Sinclair maupun Ashford.”“Untuk apa? Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?”Alana menunduk, menyembunyikan tatapannya yang rapuh karena mengingat Noel. “Dulu, di awal pernikahan kita, aku punya satu impian bodoh,” ucap Alana







