เข้าสู่ระบบSaat keluar dari kamar mandi, aku langsung melihat makanan yang sudah tersaji di meja kecil di kamarku. Aku memperhatikan satu per satu hidangan itu sebelum berjalan menuju ruang ganti untuk berganti pakaian.Setelah mengenakan pakaian yang nyaman, aku langsung mulai makan.Sebenarnya aku tidak terlalu berselera, tetapi aku harus memaksakan diri. Aku tidak boleh membiarkan kesedihan menguasaiku. Aku harus belajar melupakan apa yang telah terjadi antara aku dan Dante.Ya, aku dan Dante. Kenapa aku tidak bisa melupakannya? Kenapa wajah tampannya terus terbayang di benakku?Rasanya dia telah mengambil sebagian besar dari diriku. Sepertinya bukan hanya keperawananku yang dia renggut, tetapi juga hati dan pikiranku.Selama makan, pikiranku terus melayang kepada Dante sampai aku tidak sadar makananku sudah habis. Aku kembali ke kamar mandi untuk menggosok gigi.Karena sekarang aku sudah merasa baik-baik saja, aku memutuskan keluar untuk menghirup udara segar. Aku tahu akan sulit bagiku untuk
Aku tidak tahu sudah berapa lama tertidur. Aku terbangun ketika merasakan belaian lembut dari kening hingga rambutku. Perlahan aku membuka mata dan terkejut melihat orang yang ada di hadapanku."Mama?" celetukku.Aku melihat sekeliling dengan bingung. Aku terkejut saat menyadari bahwa aku sudah kembali ke kamarku sendiri di rumah kami.Apa yang terjadi? Di mana Dante? Ada banyak pertanyaan yang tidak bisa kuutarakan di depan Mama, jadi aku hanya menyimpannya dalam hati."Trinity, syukurlah kamu selamat. Terima kasih, Tuhan," ucap Mama di sela tangisnya.Aku langsung bangkit dan memeluknya."Mama," ucapku sambil menangis.Aku tidak tahu apa yang seharusnya kurasakan saat ini. Yang kutahu, aku bahagia bisa bertemu Mama lagi. Aku benar-benar merindukannya.Aku tidak tahu bagaimana semua ini bisa terjadi. Hal terakhir yang kuingat adalah percakapanku dengan Dante dan semua perkataan kasar yang kulontarkan kepadanya. Lalu ketika terbangun, aku sudah berada di kamarku sendiri bersama Mama."
"Kamu masih punya hubungan keluarga dengannya? Kamu masih kerabat dengan wanita yang dibesarkan dan dirawat oleh orang tuaku?" tanyaku pelan dengan air mata yang terus mengalir di pipiku.Dunia benar-benar tidak adil. Dari sekian banyak orang di dunia ini, kenapa harus Felicia? Kenapa Felicia harus memiliki hubungan keluarga dengan orang yang telah menodaiku?Itulah kenyataannya. Seharusnya akulah yang dirawat oleh Mama dan Papa sejak kecil sampai aku berusia 16 tahun, tetapi selama bertahun-tahun itu, mereka justru bersama Felicia. Felicia telah mendapatkan seluruh kasih sayang dari orang tua kandungku yang seharusnya menjadi milikku.Selama bertahun-tahun itu, aku menderita. Tante Sylvia memperlakukanku dengan buruk dan bahkan sampai sekarang, masa lalu masih terus menghantuiku. Dia telah menjualku kepada Dante dan kenyataan itu tidak akan berubah sekeras apa pun aku berusaha melarikan diri. Aku tidak akan mudah lepas dari cengkeraman Dante dan baru saja kubuktikan sendiri.Sejak aku
Aku tidak menyangka Dante ternyata sangat mahir di dapur. Selama ini dia punya kesan seperti pria nakal, jadi aku benar-benar terkejut."Ini, makanlah dulu supaya setelah itu kamu bisa tidur lagi," katanya sambil tersenyum dan meletakkan makanan yang baru dibuatnya di hadapanku.Hanya ada kornet dan telur, tetapi semuanya dimasak dengan sempurna."Terima kasih," ucapku pelan sebelum mengambil alat makan.Sejak dia menculikku, aku belum makan apa pun, jadi sekarang aku benar-benar kelaparan. Aku tidak peduli meskipun terlihat memalukan. Aku langsung menyantap makanan di hadapanku dengan lahap.Sementara itu, dia hanya diam memperhatikanku dengan senyum di bibirnya. Saat makananku hampir habis, dia kembali berbicara."Maaf karena kamu sampai nggak makan. Jangan khawatir, mulai sekarang aku akan membiarkanmu berjalan-jalan di sekitar rumah supaya kamu nggak bosan," katanya.Aku tidak bisa menahan diri untuk menatapnya."Kenapa kamu melakukan semua ini? Kenapa kamu menculikku?" tanyaku.Di
Sudut Pandang Trinity:Aku terbangun saat merasakan tepukan lembut di pipiku. Ketika membuka mata, hal pertama yang kulihat adalah wajah Dante."Kamu nggak apa-apa? Astaga, apa yang kamu lakukan pada dirimu sendiri? Kamu mau mati?" celetuknya.Aku tidak mengerti apa maksudnya, jadi aku hanya menatapnya dengan bingung."Untung aku kembali tepat waktu. Kamu sadar nggak, aku menemukanmu kejang-kejang karena demam tinggi? Kenapa tadi kamu nggak bilang kalau kamu nggak enak badan? Kamu juga nggak makan," omelnya.Air mata mulai menggenang di mataku.Barulah aku teringat. Tadi aku mencoba tidur meskipun sedang merasa tidak enak badan. Sepertinya aku akhirnya demam.Secara refleks, aku melihat sekeliling. Aku terkejut saat menyadari ada beberapa orang lain di dalam kamar. Aku kembali menatap Dante dan melihat kekhawatiran yang begitu jelas di wajahnya."Aku panggil dokter. Tadi demammu tinggi sekali dan kamu membuatku sangat khawatir," katanya sambil menggenggam tanganku.Baru saat itu aku me
Sudut Pandang Trinity:Aku terbangun dengan seluruh tubuh terasa nyeri. Kepalaku sakit. Sepertinya aku demam.Aku melihat sekeliling untuk memastikan Dante masih di kamar. Saat menyadari dia tidak ada, aku segera bangun dan berjalan terpincang-pincang menuju pintu.Aku memutar kenopnya, tetapi pintu itu terkunci.Mataku berkaca-kaca karena frustrasi. Seluruh tubuhku terasa sakit, terutama bagian intimku. Sepertinya Dante benar-benar mengurungku.Aku melihat sekeliling kamar yang luas. Hanya ada tempat tidur, TV besar, dan meja kecil. Aku juga tidak memiliki ponsel untuk menghubungi Mama dan Papa.Meski tubuhku sakit, aku memeriksa seluruh kamar, berharap menemukan jalan keluar lain. Saat menyingkap tirai jendela, aku kembali kecewa melihat jeruji besi. Selain itu, aku berada di lantai yang tinggi, jadi melarikan diri lewat jendela hampir mustahil.Aku kembali ke tempat tidur dan meringkuk sambil menangis. Aku tidak tahu harus berbuat apa atau berapa lama lagi bisa bertahan di tempat in







