Share

Bab 7

Author: Cathy
Sudut Pandang Abigail:

Aku refleks menjauh dari sentuhannya, jantungku berdebar tak karuan. Pegangannya terlepas dan aku melihat jakunnya bergerak saat dia sendiri mundur setengah langkah.

Aku cepat-cepat meraih kantong belanja itu dari tangannya, menjadikannya sebagai pembatas fisik di antara kami.

"Aku sudah bilang, panggil aku Ryan. Aku suamimu," ulangnya.

Aku menatapnya, pikiranku kacau, lalu memaksakan senyum gugup yang penuh ketegangan. "Kita sama-sama tahu itu bukan pernikahan sungguhan. Itu cuma transaksi yang diatur oleh nenekmu. Maaf, tapi aku nggak bisa kasih apa yang kamu cari."

Sekilas rasa terkejut melintas di wajahnya sebelum berganti menjadi seringai arogan yang sudah sangat kukenal. "Aku nggak tahu kamu lagi jual mahal atau gimana, tapi biar aku perjelas. Kalau aku bukan tipemu, kamu bahkan lebih jauh lagi dari tipe idamanku." Setelah mengatakan itu, dia berbalik dan kembali ke sofa.

"Hmph. Katanya aku bukan tipenya, tapi dia menatapku kayak santapan berikutnya," gumamku pelan sambil melotot ke arah wajahnya yang cemberut.

"Pak Ryan," panggilku dengan suara formal. "Aku siap-siap dulu biar kita bisa berangkat." Aku tidak menunggu jawabannya. Aku langsung berbalik dan kabur ke kamar tamu.

Aku menutup pintu, menguncinya, lalu bersandar sambil memegangi dada. Jantungku berdetak begitu keras seolah-olah akan menembus tulang rusukku. Mulai sekarang, aku harus menghindari dia sebisa mungkin. Aku tidak mau suatu hari nanti terbangun dan menyadari kalau dia sudah memiliki tubuhku.

Kenapa dia harus setampan itu? Kalau saja dia bukan playboy terkenal, mungkin aku bisa mengaguminya. Namun, dia memangsa karyawannya, terutama para sekretarisnya. Aku menggeleng cepat, menepis pikiran bodoh itu.

Aku menatap isi kantong belanja itu, mengeluarkan pakaian-pakaian di dalamnya. Semuanya baru, dengan label yang masih terpasang. Elegan dan profesional. Kenapa dia repot-repot begini? Aku cuma karyawan. Pernikahan kami hanya di atas kertas, kesepakatan bisnis di mana aku menyelamatkan dia dari rasa malu, dengan masa depanku sebagai imbalannya. Aku tidak berutang apa-apa selain itu.

Kusingkirkan semua pikiran itu, lalu mandi dengan cepat. Kepalaku begitu penuh sampai hampir lupa waktu, mengingat bosku yang mengintimidasi sedang menunggu.

Pakaian yang dia belikan sangat pas, entah bagaimana itu membuatku senang sekaligus membuat bulu kudukku merinding. Untung departemen kami tidak punya seragam khusus, jadi blus dan celana itu masih sesuai. Begitu aku keluar, Ryan langsung berdiri. Matanya menelusuriku dari atas sampai bawah dengan sangat cepat sebelum dia berbalik diam-diam menuju pintu. Aku pun mengikutinya.

Perjalanan naik mobil ke kantor terasa sunyi. Dia tidak bicara, jadi aku sibuk menatap keluar jendela. Hanya sepuluh menit kemudian, mobil kami sudah memasuki area perusahaan. Dia masih tenggelam dalam pikirannya sendiri, rahangnya terlihat tegang.

'Mungkin dia kangen sekretarisnya,' pikirku sinis. Sudah hampir pukul 11, bisa dipastikan kalau aku sudah terlambat. Kenapa dia tidak membangunkanku lebih awal?

Begitu turun dari mobil, gelombang kecemasan baru melandaku. Kalau aku masuk bersama-sama dengan presdir, gosip akan meledak. Semua orang pasti akan menarik kesimpulan masing-masing.

"Kamu tunggu apa? Kamu mau kerja hari ini atau kamu lagi nggak enak badan?" Suaranya memotong kepanikanku.

Aku memaksakan senyum kikuk. "Kamu masuk duluan saja. Aku ... aku nggak mau bikin orang bergosip."

Kerutan dahinya makin dalam. "Gosip apa? Kenapa harus ada gosip?"

Aku menggigit bibir, mencoba mencari alasan. Bukannya sudah jelas? Mereka akan mengira kalau aku adalah selingkuhan barunya, salah satu wanita simpanan di kantornya. Harga diriku tidak sanggup menerima itu. Aku bahkan masih perawan, demi Tuhan!

"Sial. Jangan gigit bibirmu seperti itu," geramnya, suaranya tiba-tiba kasar.

Aku menatapnya penuh kebingungan dan yang kulihat adalah pandangan panas yang membara. Ada kilatan lapar yang aneh di matanya.

Astaga. Apa yang terjadi? Kenapa rasanya presdir sedang menatapku dengan ... nafsu? Aku bisa melihat tenggorokannya bergerak saat dia menelan, tatapannya tak bergeming. Karena refleks, tubuhku memilih bertahan hidup. Aku langsung berbalik dan bergegas masuk gedung, menyadari kalau dia mengikuti di belakang.

Seperti dugaanku, kedatangan kami jadi tontonan. Setiap karyawan yang kami lewati menyapa "Pak Ryan" dan tatapan mereka langsung pindah padaku. Campuran penasaran, bingung, dan kecemburuan dari para wanita.

Ryan mengabaikan semuanya dan berjalan lurus ke lift VIP-nya. Aku mencoba melipir ke lift staf biasa, berharap hilang dari pandangannya.

Namun, dia benar-benar sedang mempermainkanku. Alih-alih masuk ke lift pribadinya, dia malah berbelok dan berjalan ke arahku. Seisi lobi seakan-akan menahan napas ketika tangannya menggenggam pergelangan tanganku. Dia menarikku, tidak dengan lembut, ke lift VIP yang terbuka.

Aku ingin protes, tetapi tatapan marah di wajahnya memadamkan semua kata-kata itu. Aku membiarkan dia menarikku masuk, pintu lift menutup di hadapan puluhan wajah tercengang. Aku benar-benar tidak memahami pria ini. Mood-nya lebih labil daripada perempuan yang sedang menopause dan dua kali lebih membingungkan.

"Pak Ryan, tadi aku sudah bilang aku harusnya pakai lift biasa," bisikku begitu pintu tertutup. "Sekarang aku akan jadi topik gosip. Bahkan di kota besar seperti Kota Marina, tetap banyak orang yang kepo."

Dia menoleh, kerutan dahinya yang khas kembali lagi. "Apa yang kamu bilang tadi? Kepo?"

Aku hampir tertawa. Tentu saja dia tidak biasa mendengarnya. Di dunianya yang dikelilingi vila pribadi dan lingkungan yang super eksklusif, mungkin tidak ada gosip yang berani menyentuhnya.

"Pak, departemen akuntansi ada di lantai tiga. Lift ini bisa berhenti di sana nggak? Aku sudah telat banget, dan teman-temanku pasti sedang cari aku," jelasku, mencoba mengembalikan pembicaraan ke masalah pekerjaan.

Dia tidak menjawab. Dia cuma ... menatap. Tatapannya begitu intens dan tak bergeser sampai terasa meresahkan.

"Pak Ryan? Halo?" Aku mengibaskan tangan di depannya. Dia seperti kehilangan fokus, matanya terpaku padaku. Suasana menjadi canggung.

"Kamu tahu nggak, seberapa inginnya aku cium kamu sekarang?" tanyanya dengan suara rendah dan serak.

Mataku langsung melebar. Saat wajahnya mulai mendekat, memori lima tahun lalu langsung menghantamku. Tekanan brutal bibirnya, rasa sakit yang bertahan berhari-hari.

Aku seketika panik. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi lagi. Aku langsung berbalik, membelakanginya. Aku tidak mau dicium seperti itu lagi. Sekali saja sudah cukup membuatku trauma. Ciuman di film yang aku lihat itu romantis, tetapi satu-satunya hal yang kualami malah ciuman yang agresif dan menyakitkan. Itu membuatku trauma.

Aku mendengar helaan napas frustrasi di belakangku. Aku tidak berani menoleh sampai lift berhenti dan pintu terbuka. Hatiku langsung mencelus. Kami bukan di lantai tiga. Kami di lantai paling atas, di ruangannya dan aku tidak bisa turun pakai lift ini tanpa kartu akses. Sial.

"Um, Pak Ryan? Gimana cara aku turun ke bawah?" tanyaku.

Dia mengabaikanku, melangkah keluar menuju kantornya. Sekretarisnya menyapa dengan manis sekali, "Selamat pagi, Pak Ryan." Tatapannya menusuk ke arahku.

"Hubungi Arthur. Suruh dia ke kantorku sekarang," perintah Ryan tanpa menoleh.

Wanita itu mengangguk cepat, tatapan mautnya beralih sepenuhnya padaku. Aku cuma mengangkat alis dan mengikuti Ryan masuk ke ruangan pribadinya. "Aku serius nih, aku turun lewat mana? Lewat tangga?"

"Duduk," katanya, menunjuk kursi empuk di depan mejanya. "Sudah hampir jam makan siang. Kamu makan dulu sama aku."

Rahangku ternganga. "Apa? Sekarang bahkan belum jam 11! Aku sudah telat kerja. Timku pasti mengira aku nggak masuk. Mereka bisa laporin aku ke HRD!" Aku tidak bisa menahan rasa frustrasi itu.

Dia akhirnya menatapku lagi, menggeleng perlahan. "Kamu nggak boleh ke mana-mana. Kamu tetap di sini sampai aku bilang kamu boleh pergi. Dan berapa kali harus aku bilang? Berhenti panggil aku Pak Ryan. Namaku Ryan. Kamu istriku."

Aku menarik rambutku dengan putus asa. 'Ini gila. Apa dia benar-benar sakit jiwa? Apa aku resign saja sekarang juga?'

"Um, Pak Ryan ...." Aku mulai protes.

Dia menyelaku, suaranya merendah menjadi geraman yang mengancam. "Sekali lagi kamu panggil aku Pak Ryan, aku akan maksa kamu berhubungan seks denganku di meja ini sekarang juga."

Darahku langsung membeku. Napasku terhenti. Aku cuma bisa menatapnya, membelalak ketakutan. Ancaman itu terlalu tajam, terlalu kasar, dan jelas bukan bercanda.

"Ja ... jangan," bisikku gemetar. "Aku ... aku nggak akan panggil kamu itu lagi. Tapi kamu yang harus jelasin ini ke siapa pun ya? Mereka semua bakal anggap aku ... ya kamu tahu sendiri lah."

Dia mengangkat alis. "'Tahu sendiri' apa?"

"Lupakan saja," gumamku lemas.

"Aku nggak perlu menjelaskan apa-apa. Sekarang diamlah. Aku harus kerja. Kalau bosan, bikin kopi." Kemudian, dia memutar kursi menghadap monitornya, mengabaikanku.

Aku menatap keluar lewat dinding kaca kantornya. Sekretarisnya tampak seksi dan profesional, meski aku tahu perannya jauh lebih intim. Dia pun tadi memanggilnya "Pak Ryan". Jadi mereka mungkin memang cuma teman seks.

Soal namanya ... aku panggil 'Ryan' saja. Ini hanya harga kecil yang harus kubayar. Jauh lebih baik daripada ancamannya tadi.

Aku menarik napas dalam-dalam. "Pak Ry ... maksudku, Ryan," kataku, cepat-cepat mengoreksi. Nama itu terasa asing di lidahku. "Kamu mau kopi? Sekalian aku buatkan."

Kepalanya terangkat dan matanya bertemu dengan mataku. Kemudian, aku melihat seulas senyum kecil, senyum yang tulus.

Dia ... tersenyum? Untuk pertama kalinya sejak aku kenal dia, dia terlihat seperti bisa didekati. Seolah-olah malaikat pelindungnya, jika dia punya, sedang mengambil alih kemudi dirinya.

"Mau," jawabnya, lalu dia mengedipkan mata.

Hatiku langsung jungkir balik. Aku berdiri terlalu cepat dan buru-buru keluar, mencoba mengatur napas. Aku harus menjauh darinya. Aku tidak percaya diri bisa bertahan kalau terlalu lama berada di dekatnya. Karena kenyataannya, ketika dia tersenyum dan mengedipkan mata seperti itu, dia bukan cuma terlihat tampan. Dia sangat menggoda dan hatiku nyaris mengkhianati semua pertahananku.

Aku keluar dan menghampiri meja sekretarisnya. Aku bahkan tidak tahu namanya, tetapi tatapan mematikannya sudah jelas. Dia pasti cemburu!

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (5)
goodnovel comment avatar
Ilyaskiki
seru banget
goodnovel comment avatar
marisa mariea
sudah beli langganan 1 minggu..tetap gak bs terbuka bab berikutnya......
goodnovel comment avatar
Denica Astuti
kisah abigail,apakah wanita sebodoh itu saat jatuh cinta,harus melihat suami 2 kali tidur sm wanita lain dan baru sadar?butuh bertahun2 untuk mengerti?sebodoh itu?aahhhh...sedih dan capek
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 409

    Sudut Pandang Trinity:"Mama, aku baik-baik saja. Aku bisa kok," jawabku segera sambil bersiap di depan cermin.Hari ini adalah hari pertamaku masuk ke kantor sejak pulang dari Amestria.Aku akan menepati janjiku kepada Papa, mengambil alih Perusahaan Logistik Baskoro setelah berhasil pulih dari patah hati akibat perlakuan Dante."Mama cuma khawatir, Sayang. Papa juga nggak protes kalau kamu nggak mulai kerja hari ini. Kamu baru saja pulang, tapi sudah langsung mikirin pekerjaan. Kamu bisa santai dulu sama anak-anak. Jangan khawatir soal perusahaan. Papa bisa mengurusnya," kata Mama.Aku tersenyum."Aku tetap bisa santai sama anak-anak meski sambil bekerja. Jangan khawatir, Ma. Aku nggak apa-apa kok. Aku cuma nggak enak sama Papa. Dulu aku minta waktu setahun, tapi malah molor jadi tiga tahun gara-gara harus mengurus anak-anak," sahutku sambil tersenyum."Kamu ini ngomong apa? Mama sudah bilang, nggak usah dipikirkan. Papa nggak masalah," kata Mama.Aku menyelesaikan riasanku, lalu men

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 408

    Sudut Pandang Dante:"Nyonya sudah pulang ke Philvania, bagaimana rencana selanjutnya?" tanya Ruben.Dia satu-satunya saksi atas semua yang telah kulalui selama beberapa tahun terakhir, jadi aku menganggapnya seperti keluarga sendiri. Aku berterima kasih kepadanya karena selalu menjagaku.Aku menyandarkan tubuh di kursi sambil memijat pelipisku. Kepalaku berdenyut akibat beberapa malam tidak bisa tidur.Sejak melihat Trinity dan anak-anak kami di bandara, aku tidak bisa tidur. Insomniaku makin parah. Setiap kali memejamkan mata, wajah lembut Trinity terus menghantui pikiranku.Aku membuka mata dan menatap bingkai foto di atas meja. Itu adalah foto Trinity dan anak kembar kami.Ya, aku tahu semua tentang kehidupan Trinity di Amestria berkat saudari tiriku, Dorothy.Dorothy adalah putri ibuku dari pria lain. Aku baru mengetahui keberadaannya belum lama ini. Aku pun senang kami bisa menerima satu sama lain sebagai saudara.Dia satu-satunya saudara perempuanku. Tidak ada alasan bagiku untu

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 407

    Sudut Pandang Trinity:Setelah menginjakkan kaki di Philvania, kebahagiaan yang sulit dijelaskan langsung memenuhi hatiku.Aku benar-benar merindukan negara ini. Kini, aku tahu aku bisa menghadapi rintangan apa pun. Pengalaman dan anak-anakku telah membuatku menjadi lebih kuat.Saat keluar dari bandara, kami disambut sebuah spanduk besar bertuliskan ucapan selamat datang. Senyumku semakin lebar ketika melihat bukan hanya Mama dan Papa yang menungguku, tetapi juga Felicia dan Orson.Tiba-tiba, aku merasa malu di depan Felicia. Aku meninggalkan tanah air tanpa berpamitan kepadanya. Setiap kali kami berbicara lewat telepon, dia selalu mengungkitnya. Aku bersyukur dia mau menerima penjelasanku dan tak lagi merasa kecewa."Trinity, selamat datang ya," kata Mama sambil bergegas menghampiri untuk memelukku.Air mataku mengalir ketika Papa, Orson, dan Felicia ikut mengerumuni kami.Setelah memeluk Mama, aku berjalan menghampiri Papa. Dia memelukku erat sambil berbisik, "Selamat datang di rumah

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 406

    Sudut Pandang Trinity:Tiga tahun pun berlalu."Kamu yakin dengan keputusanmu? Nggak ada lagi yang bisa membuatmu berubah pikiran?" tanya Dorothy saat aku sibuk mengemasi barang-barangku.Siang ini, aku akan terbang kembali ke Philvania. Aku masih tidak percaya sudah tiga tahun aku tinggal di negara ini."Ya, Papa dan Mama terus mendesakku. Mereka ingin mengurus cucu-cucu mereka," kataku sambil tersenyum dan melirik kedua anak yang sedang tertidur.Ya, waktu berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin aku mengetahui bahwa diriku hamil.Aku bersyukur Mama selalu berada di sisiku saat aku berada di titik terendah. Dia menemaniku selama proses persalinan hingga melewati masa depresi setelah melahirkan.Aku juga berterima kasih kepada sahabatku, Dorothy, yang selalu ada untukku. Dia sudah resmi menjadi seorang dokter dan berencana kembali ke Philvania minggu berikutnya untuk mengambil alih rumah sakit milik keluarganya di Vistablanc.Dunia memang sempit. Dorothy juga berasal dari Vistablanc

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 405

    Sudut Pandang Trinity:Lingkungan baru, kehidupan baru. Itulah yang terlintas dalam pikiranku saat melihat-lihat apartemen tempat tinggalku di Amestria.Aku tersenyum getir. Kalau bukan karena Dante, aku tidak akan pernah terpikir untuk meninggalkan Philvania. Aku sebenarnya lebih memilih tetap tinggal di sana bersama semua orang yang kusayangi. Namun sekarang, aku tahu aku akan hidup sendirian.Aku membereskan barang-barangku sebelum keluar untuk mencari makanan. Aku juga perlu membeli beberapa peralatan dapur. Beberapa hari ke depan pasti akan cukup sibuk.Minggu-minggu pertama di Amestria berjalan lancar. Karena perkuliahan belum dimulai, aku menghabiskan waktu di apartemen dengan menonton film.Setidaknya, itu sedikit membantu mengurangi rasa rinduku kepada Dante dan kedua orang tuaku.Suatu pagi, aku bangun dengan tubuh yang terasa tidak nyaman. Entah kenapa, tiba-tiba kepalaku pusing dan perutku terasa mual.Aku berlari ke kamar mandi dan berlutut di depan toilet, lalu muntah cuk

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 404

    Sudut Pandang Dante:"Pergilah. Apa pun yang kamu lakukan, kami nggak akan membiarkanmu kembali bersama putri kami."Aku bisa melihat amarah yang membara di mata Ayah saat dia berbicara. Aku keluar dari kantor itu dengan bahu terkulai. Aku tidak bisa menyalahkannya meski menurutku keputusannya terlalu keras. Semuanya baru saja terjadi, jadi aku tidak akan memaksakan apa pun.Aku akan mengikuti nasihat ibu mertuaku, menemui psikolog terlebih dahulu dan mengatasi masalah pengendalian amarahku. Aku harus berubah, supaya ketika aku dan Trinity bertemu lagi, dia bisa melihat Dante yang berbeda.Aku berjalan dengan lesu menuju lift. Aku sudah menerima kenyataan bahwa semua orang marah kepadaku.Siapa yang tidak akan marah setelah apa yang kulakukan kepada Trinity? Sialan. Kenapa aku begitu bodoh? Kenapa aku baru menyadari betapa pentingnya dia ketika dia sudah menyerah kepadaku?Ketika pintu lift terbuka, Carlos berjalan ke luar. Aku bisa melihat tatapannya berubah tajam saat melihatku."Eh,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status