共有

Bab 24

作者: Wei Yun
last update 公開日: 2025-10-21 14:39:29

"BRAKK!"

Pintu kamar terbanting, terbuka untuk kedua kalinya, kali ini dengan tenaga yang cukup untuk membuat udara di sekitarnya bergetar. Tak seorang pun di dalam kamar siap menerima hentakan itu. Han Feng, yang berdiri tak jauh di belakang pintu, tersambar keras oleh dorongan kayu tebal dan terjungkal ke depan. Bai Xiang, yang berdiri di hadapannya, ikut terhempas ke lantai. Tubuh keduanya jatuh bertumpuk tanpa sempat berpikir, dan pedang Han Feng terlepas, meluncur jauh hingga menabrak kaki
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 204

    Lima tahun telah berlalu sejak api peperangan melawan pemberontak dan pasukan Kasgan di perbatasan padam. Kini, kediaman Keluarga Han di pinggiran ibukota dipenuhi oleh riuh rendah suara tawa anak-anak yang memenuhi halaman luas yang asri.​Di bawah pohon plum yang sedang berbunga, Bai Xiang berdiri dengan anggun. Matanya yang dulu sedingin es kini memancarkan kehangatan seorang ibu saat menatap ketiga buah hatinya yang sedang asyik bermain.​Putri sulungnya, Han Ling yang kini berusia lima tahun, memiliki paras yang sangat mirip dengan Han Feng, rahang yang tegas namun elegan dan mata yang tajam. Namun, sifatnya adalah cerminan murni dari Bai Xiang. Di sampingnya, si tengah Han Mei lebih muda satu tahun, adalah perpaduan sempurna; ia memiliki kecerdasan Han Feng namun kelembutan wajah ibunya. Sedangkan si bungsu Han Jian, tiga tahun, adalah replika kecil dari ayahnya. Mulai dari cara berjalannya yang angkuh hingga sifatnya yang nakal dan tak bisa diam, ia adalah "Han Feng kecil" yan

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 203

    Pesta pernikahan Zhu Yu Liang dan Wen Mei berlangsung semarak di aula utama Istana Mingyue. Gelak tawa para pejabat dan denting cawan perunggu yang beradu menciptakan simfoni kemenangan yang membahana. Han Feng, yang tengah mendampingi Kaisar, tampak sibuk meladeni ucapan selamat, namun matanya tak pernah lepas dari sosok Bai Xiang di barisan meja terhormat. ​Sejak upacara bermula, Han Feng menyadari ada yang berbeda dari istrinya. Wajah Bai Xiang yang biasanya segar kini pucat, dan ia berulang kali memijat pelipisnya. Han Feng mengira itu hanyalah kelelahan pasca-tempur melawan pemberontak dan pasukan Kasgan. Saat Han Feng hendak menghampiri istrinya, tiba-tiba tubuh Bai Xiang limbung. Cawan di tangannya jatuh berdenting, dan sebelum tubuhnya menyentuh lantai, Han Feng melesat, menangkap istrinya dalam dekapan yang sigap. ​"Xiang! Xiang!" seru Han Feng, suaranya yang menggelegar seketika menghentikan keriuhan di aula. ​Pesta yang tadinya penuh tawa berubah menjadi kepanikan keci

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 202

    Debu peperangan yang menyelimuti perbatasan perlahan luruh, digantikan oleh panji-panji Naga Perak yang berkibar gagah di bawah langit biru menuju Ibukota Mingyue. Barisan pasukan Longyan berbaris panjang, langkah kaki mereka yang serempak menciptakan irama kemenangan yang menggetarkan jalanan utama kota. Rakyat berdiri di sisi jalan, bersorak-sorai melepaskan bunga-bunga sebagai tanda syukur atas perdamaian yang berhasil direbut kembali dari ambisi Kasgan dan para pemberontak. ​Di barisan depan, Han Feng dan Bai Xiang berkuda berdampingan, diikuti oleh Zhu Yu Liang yang terus berada di sisi kereta kuda Wen Mei. Sesampainya di depan gerbang istana yang megah, Kaisar sudah menunggu di atas podium tinggi, didampingi oleh para pejabat istana yang kini telah bersih dari pengaruh Cao Bing. ​"Hamba, Han Feng, Panglima Tertinggi Pasukan Longyan, melaporkan bahwa ancaman dari barat telah dipadamkan, dan para pengkhianat telah menerima pengadilannya!" Han Feng turun dari kuda dan berlutut

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 201

    Angin di dataran gersang perbatasan berdesing kencang, membawa aroma belerang dan debu sisa ledakan dari medan pertempuran yang masih membara di kejauhan. Di atas sebuah tebing batu yang menjorok tinggi, menghadap langsung ke arah perkemahan Kasgan yang kini porak-poranda, dua sosok berdiri berhadapan. Jin Peng, sang iblis yang telah kehilangan kejayaannya, tampak goyah. Jubah abu-abunya compang-camping, tercemar darah dari luka perutnya yang terus merembes. ​Di hadapannya, Bai Xiang berdiri tegak dengan rambut putih yang berkibar liar. Ia menggenggam pedang, yang berkilau dingin tertimpa cahaya matahari senja. ​"Masih saja mengejarku hingga ke ujung bumi ini, Xiang?" Jin Peng terbatuk, tawanya terdengar seperti gesekan batu nisan di tengah padang sunyi. "Kau benar-benar murid yang patuh. Bahkan setelah aku menghancurkan keluargamu, kau masih ingin memberikan penghormatan terakhir dengan membunuhku di tanah terkutuk ini?" ​Bai Xiang tidak langsung menjawab. Ia mengangkat pedangnya,

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 200

    Debu peperangan masih membubung tinggi di sisi barat medan tempur. Cao Bing, pria yang dulu berjalan di aula istana dengan dagu terangkat, kini merangkak di atas tanah yang becek oleh darah. Ia mencoba melarikan diri ke arah kuda-kuda Kasgan yang tertambat di balik gundukan pasir, wajahnya yang angkuh kini kusam oleh debu dan ketakutan yang murni.​Namun, langkah pengecut itu terhenti secara paksa. Sebuah tombak panjang dengan mata perak yang berkilat tajam menghujam bumi tepat satu inci di depan kakinya. Getarannya begitu hebat hingga membelah tanah.​"Mau lari ke mana, Pengkhianat?"​Suara itu berat dan sarat akan kebencian. Zhu Yu Liang melangkah keluar dari kabut debu yang pekat. Zirah beratnya telah kehilangan kilau emasnya, tertutup oleh lumuran darah musuh yang mulai mengering. Namun, di balik kotornya medan perang, tatapannya tetap setajam elang, dingin dan menusuk. Ia mencabut tombaknya dari tanah dengan satu sentakan kuat, memutar senjata itu dengan kemahiran yang menakutka

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 199

    Lembah perbatasan yang dulunya merupakan hamparan hijau kini telah berubah menjadi pemakaman terbuka yang menyesakkan. Di tengah hiruk-pikuk teriakan maut dan ringkikan kuda yang meregang nyawa, sebuah ruang kosong tercipta secara alami di pusat palagan. Di sana, dua kutub kekuasaan akhirnya berhadapan: Han Feng dan Azhren, berdiri di atas tumpukan zirah dan patahan tombak yang berserakan.​Han Feng mengencangkan genggaman pada hulu pedang pusakanya. Napasnya teratur, namun matanya mengunci setiap gerak-gerik lawan. Di sekeliling mereka, kavaleri Kasgan dan Pasukan Longyan masih bertumbukan layaknya ombak raksasa yang menghantam karang, namun bagi sang Jenderal, dunia seolah menyempit hanya pada mata elang Azhren yang berkilat haus darah.​"Kau datang juga, Jenderal tua!" Azhren berteriak, suaranya membelah kebisingan logam yang beradu. Ia memacu kudanya dalam jarak pendek, pedang lengkung khas barat miliknya terangkat tinggi.​"Aku datang untuk menepati janjiku, Azhren!" balas Han F

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 198

    Lembah perbatasan yang biasanya sunyi senyap, kini bergetar hebat di bawah derap ribuan kuku kuda yang menghantam bumi. Kabar mengenai invasi "Serigala-Serigala Utara", sebutan bagi pasukan Kasgan yang haus darah, telah menyebar secepat api yang melahap rumput kering. Namun, Mingyue tidak lagi terp

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 197

    Angin barat menderu ganas, membawa butiran pasir ke daratan wilayah perbatasan gurun. Di antara deretan tenda kulit binatang yang kokoh dan panji-panji , dua sosok tampak berjalan tertatih, menyeret bayangan mereka sendiri yang rapuh di bawah sinar bulan. ​Cao Bing, sang pengkhianat yang dulu diag

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 196

    Hening malam di Paviliun Gunung Song terasa begitu menekan bagi Wen Mei. Di dalam kamar yang luas namun terasa dingin itu, ia duduk termenung di atas ranjang kayu yang keras. Pikirannya berkecamuk, menari-nari di antara bayang-bayang masa lalu keluarganya yang kelam dan masa depannya yang kini ta

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 195

    Malam di puncak Gunung Song menyisakan kesunyian yang mencekam pasca pertempuran. Pasukan Longyan telah menyebar, menyisir setiap jengkal hutan untuk mencari jejak Cao Bing dan Jin Peng yang dikabarkan melarikan diri menuju perbatasan, tempat pasukan Kasgan mulai memobilisasi kekuatan. Namun, di te

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status