Share

Bab 38

Author: Wei Yun
last update Last Updated: 2025-10-28 11:18:10

Langit siang ibu kota tampak cerah. Seperti biasa jalanan utama dipenuhi suara para pedagang yang berseru menawarkan dagangannya. Di tengah hiruk-pikuk itu, Nyonya Besar Han turun dari kereta kudanya, diikuti Bai Xiang dan Xiao Niao.

“Tempat ini terkenal dengan hanfu terbaik di seluruh ibu kota,” ujar Nyonya Besar Han sambil menggandeng lengan menantunya. “Hari ini, kau harus memilih pakaian yang layak untuk istri seorang Jenderal.” Bai Xiang tersenyum gugup. “Ibu, rasanya tidak perlu seperti ini. Aku tidak terbiasa dengan pakaian mahal.”

“Omong kosong,” balas Nyonya Han dengan nada tegas tapi lembut. “Mulai sekarang, kau bagian dari keluarga Han. Tidak ada alasan untuk berpakaian sederhana.”

Di dalam toko, pelayan wanita berbaris menyambut dengan hormat. Kain sutra berwarna pastel dan merah marun terhampar di rak kaca. Nyonya Besar Han dengan lincah memilihkan beberapa potong hanfu dan meletakkannya di lengan pelayan. “Yang ini bagus, dan yang ini juga. Oh, dan jahitkan satu lagi d
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 149

    Udara dingin Da Shan yang semula sunyi kini pecah oleh deru api dan teriakan kematian. Zhu Yu Liang memacu langkahnya keluar dari pintu rahasia di belakang aula utama, tangannya mencengkeram erat jemari Wen Mei yang gemetar. Di luar, pasukan Mingyue yang tadinya bersembunyi telah memulai serangan balasan untuk mengalihkan perhatian, namun jumlah musuh yang terlalu besar membuat keadaan semakin kritis.​"Itu mereka! Di sana! Tangkap Putri!" sebuah teriakan serak menggelegar dari arah halaman samping.​Sekelompok pria berpakaian hitam dengan pedang terhunus melesat mengejar mereka. Yu Liang tidak punya pilihan. Ia segera bersiul nyaring, sebuah kode khusus yang hanya dimengerti oleh kuda tunggangannya. Dari kegelapan hutan, seekor kuda hitam besar menerjang masuk, menabrak dua penyusup hingga terpental sebelum berhenti tepat di depan Yu Liang.​"Naik, Tuan Putri! Sekarang!" Yu Liang mengangkat tubuh Wen Mei ke atas pelana dengan satu hentakan kuat, lalu ia melompat naik di belakangnya.

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 148

    Angin malam menderu kencang, menusuk hingga ke tulang saat Zhu Yu Liang memacu kudanya mendaki lereng terjal menuju puncak bukit Da Shan. Medan yang berbatu dan curam membuat pasukan Mingyue yang ia pimpin harus berjuang ekstra keras. Beberapa kali kaki kuda mereka tergelincir, memaksa mereka melambat di jalur yang hanya cukup dilewati satu kuda. ​"Panglima, medan ini terlalu berbahaya untuk dipacu lebih cepat!" teriak salah satu letnannya di tengah deru angin. ​"Kita tidak punya waktu!" balas Yu Liang tanpa menoleh. "Setiap detik yang kita buang adalah langkah Cao Bing mendekati Putri. Terus maju!" ​Begitu mereka mencapai gerbang luar Biara Da Shan, bau anyir darah segera menyergap indra penciuman mereka. Yu Liang menarik kekang kudanya hingga hewan itu meringkik nyaring. Di depan mata mereka, kedamaian biara telah berubah menjadi ladang pembantaian. Obor-obor yang terjatuh membakar sebagian pintu kayu, menyinari sosok-sosok berpakaian hitam yang sedang membantai para biksuni dan

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 147

    Lentera di ruang kerja Markas Longyan menari-nari ditiup angin malam yang menyusup dari celah jendela, membiaskan bayangan tiga orang yang tengah berkumpul dengan raut wajah tegang. Aroma tajam dari obat-obatan herbal meruap di udara.​Bai Xiang bergerak dengan jemari terampil dan penuh kelembutan. Ia mengoleskan ramuan obat racikannya pada luka di punggung dan bahu Han Feng. Sesekali Han Feng meringis kecil saat ramuan itu menyentuh luka yang sempat terbuka kembali akibat pertempuran di aula sidang tadi.Namun, perhatian sang Jenderal tidak teralih dari potongan kain gelap milik penyusup yang tergeletak di atas meja kerja.​"Aku tidak mengenali wajah mereka di balik penutup kain itu, tapi gerakannya ... aku mengenali pola serangan tersebut," ujar Bai Xiang pelan, matanya menyipit mengingat detail pertempuran yang kacau. "Langkah kaki mereka terlalu ringan untuk prajurit biasa. Serangan mereka sangat spesifik, selalu mengincar titik-titik saraf vital. Besar kemungkinan mereka berasal

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 146

    Lembah di pinggiran ibu kota itu dilingkupi kabut yang sangat tebal, menyembunyikan sebuah paviliun kayu tua yang tampak terbengkalai. Namun, di dalamnya, suasana justru mendidih oleh ketegangan dan amarah. Suara napas yang memburu dan aroma kecemasan memenuhi ruangan utama yang remang-remang.​PLAK!​Suara tamparan keras memecah kesunyian malam. Selir Agung Wu berdiri dengan napas tersengal, telapak tangannya masih terasa panas setelah menghantam pipi Menteri Militer Cao Bing. Matanya yang biasanya penuh tipu daya, kini berkilat oleh kemurkaan yang murni.​"Kau gila, Cao Bing! Apa yang kau lakukan tadi di ruang sidang?!" teriak Selir Agung Wu dengan suara melengking. "Rencana kita adalah menghancurkan Han Feng secara perlahan lewat hukum! Tapi kau justru mengirim pasukan penyusup dan menyerang pengadilan secara terbuka!Kau membuat kita menjadi buronan dalam semalam!"​Cao Bing terdiam sejenak, kepalanya sedikit tertoleh ke samping akibat tamparan itu. Perlahan, ia memutar lehernya,

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 145

    Gema teriakan "Penyusup! Lindungi Kaisar!" memecah keheningan Aula Sidang Militer seperti petir yang menyambar di siang bolong. Suara desingan anak panah segera disusul oleh dentuman keras pintu-pintu samping yang jebol secara paksa. Dari langit-langit aula yang tinggi, puluhan pria merosot turun menggunakan tali sutra hitam. Mereka mengenakan pakaian ketat berwarna legam dengan penutup wajah kain gelap yang hanya menyisakan celah sempit untuk mata mereka yang berkilat tajam. ​Gerakan mereka tidak seperti perampok biasa; mereka bergerak dengan presisi militer yang mematikan. Asap tebal mulai memenuhi ruangan saat beberapa bom asap dilemparkan ke tengah aula, menciptakan kekacauan instan di antara para jenderal dan menteri yang panik menyelamatkan diri. ​"Pasukan Longyan! Bentuk formasi lingkaran! Jaga Kaisar!" teriak Li Rui, menghunus pedangnya dan segera menarik Liu Ban, si tukang jagal, ke balik perlindungan pilar marmer yang besar. ​Di tengah kepulan asap dan denting senjata,

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 144

    Pintu besar Aula Sidang Militer terbuka dengan dentuman berat. Di bawah pengawalan ketat dua faksi pasukan —Longyan dan Mingyue—seorang pria paruh baya melangkah masuk. Ia mengenakan apron kulit tebal yang kusam namun bersih dari noda baru. Namanya adalah Liu Ban, seorang jagal senior dari pasar pusat. ​Berbeda dengan rakyat jelata pada umumnya yang akan gemetar ketakutan menginjakkan kaki di lantai marmer istana, Liu Ban berjalan dengan punggung tegak. Langkahnya mantap, mencerminkan bertahun-tahun pengalaman menghadapi maut di tempat pemotongan. Sesampainya di hadapan takhta, ia berlutut dengan khidmat dan memberikan hormat yang sempurna kepada Kaisar. ​"Rakyat jelata Liu Ban hormat di hadapan Baginda Kaisar yang mulia," ucapnya dengan suara berat dan tenang. ​Kaisar mengangguk kecil, terkesan dengan ketenangan pria itu. Hakim Agung kemudian maju satu langkah, menatap Liu Ban dengan tajam. ​"Liu Ban, sebelum pengadilan ini meminta keahlianmu, aku harus bertanya," ujar Hakim Agun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status