LOGINMalam telah jatuh menyelimuti Perguruan Gunung Yang. Di dalam ruangan kayu yang remang oleh cahaya lilin, Bai Xiang duduk bersila di hadapan Guru Jin. Suasana terasa berat sejak Bai Xiang menyampaikan kabar bahwa dirinya telah diminta secara resmi menjadi pengawal pribadi Putri Wen Mei.
Guru Jin menatap api lilin yang bergoyang, "Xiang'er," suaranya parau. "Istana bukan sekadar bangunan megah dengan pilar emas. Ingatlah misimu. Kau masuk ke sana bukan untuk menjadi pelayan setia, melainkan untuk mencari kebenaran atas kematian orang tuamu." Bai Xiang menunduk, tangannya mengepal di atas lutut. "Hamba mengerti, Guru. Hamba tidak akan pernah melupakan darah yang tumpah di tangan Jenderal Han." "Bagus. Tapi ingat," Guru Jin menatapnya tajam. "Jangan lengah. Tetaplah waspada dan jangan sia-siakan kesempatan sekecil apa pun. Kau harus bersabar. Amati situasi, kenali siapa lawan dan kawanmu. Dendam yang terburu-buru hanya akan membawamu ke liang lahat sebelum waktunya." Paginya, saat matahari masih bersembunyi di balik cakrawala, Bai Xiang telah bersiap. Ia mengelus leher Hei Yun, kuda hitam legam kesayangannya. Dengan satu lompatan ringan, ia menunggangi kuda itu dan memacu kencang meninggalkan gerbang Perguruan Gunung Yang menuju ibu kota. Perjalanan itu panjang dan melelahkan. Namun, tekad yang membara di dadanya seolah menjadi energi yang tak habis-habis. Menjelang sore, gerbang istana Mingyue yang menjulang tinggi akhirnya tampak di depan mata. Penjaga bersenjata lengkap berdiri tegak lurus di setiap sudut. Bai Xiang sempat menahan napas sejenak saat melewati gerbang utama. Ia sadar, mulai detik ini, kebebasannya terkunci di balik tembok-tembok ini. Segala gerak-geriknya akan diawasi oleh ribuan pasang mata. Ia dibawa langsung menuju Paviliun Lotus. Begitu memasuki kediaman Putri Wen Mei, Bai Xiang tertegun. Sosok yang beberapa hari lalu ditemuinya di hutan—yang tampak sederhana dengan pakaian rakyat jelata —kini telah berubah total. Wen Mei berdiri di tengah ruangan, mengenakan Hanfu sutra berwarna biru langit. Hiasan giok menghiasi rambut hitamnya yang ditata indah. Bai Xiang segera berlutut dengan satu kaki, menundukkan kepala dalam-dalam. "Hamba Bai Xiang, memberi salam pada Yang Mulia Putri Wen Mei." Tawa kecil yang renyah terdengar. Wen Mei melangkah mendekat. "Xiang, berdirilah! Jangan begitu. Jika hanya ada kita berdua di sini, buang saja semua formalitas yang menyesakkan itu. Aku sudah muak dengan aturan istana yang kaku. Bersikaplah sama seperti saat kita di hutan." Bai Xiang mengangkat wajahnya, namun ekspresinya tetap kaku. "Tapi ... hamba tetap harus menghormati Yang Mulia. Di sini adalah istana, bukan hutan." Wen Mei menatapnya lekat. "Ayahanda sudah menunggumu. Ayo, jangan buat Kaisar menunggu." Aula kekaisaran terasa begitu luas dan megah. Di ujung ruangan, di atas singgasana emas, duduk pria paruh baya yang memancarkan aura wibawa yang luar biasa. Kaisar menatap Bai Xiang yang sedang berlutut di hadapannya. "Hamba memberi salam pada Baginda Kaisar," ucap Bai Xiang dengan suara yang diusahakan tetap tenang. Kaisar mengangguk pelan. "Kau lebih muda dari yang kubayangkan. Tetapi mata itu ... tajam, penuh tekad. Baiklah, aku titipkan Wen Mei padamu. Aku sudah terlalu letih mengurus segala tingkah lakunya yang liar." "Ayahanda terlalu berlebihan," sela Wen Mei sambil tersenyum nakal ke arah ayahnya. "Aku hanya ingin sedikit kebebasan." Kaisar mendengkus kecil, namun ada binar sayang di matanya. "Mulai hari ini, kau adalah pengawal pribadinya. Lindungi dia, meski nyawamu taruhannya." "Hamba akan menjaga Putri dengan segenap jiwa dan raga hamba," jawab Bai Xiang dengan mantap. Malam itu, saat mereka kembali ke Paviliun Lotus. Wen Mei duduk di tepi ranjangnya sambil memandang Bai Xiang yang berdiri waspada di dekat pintu. "Besok, aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang menarik, ke Markas Pasukan Longyan, tempat sepupuku," ujar Wen Mei misterius. "Sepupumu? Maksudnya ... Jenderal Han Feng?" Bai Xiang mengernyit, mencoba menyembunyikan getaran di suaranya saat menyebut nama itu. "Ya," jawab Wen Mei santai. "Aku ingin dia tahu bahwa kini aku sudah punya pengawal yang hebat. Jadi dia tidak perlu repot-repot mencari-cariku atau mengirim pasukannya jika aku menghilang lagi." Bai Xiang terdiam. Hatinya bergetar hebat. Han Feng ternyata bukan sekadar jenderal biasa, ia adalah kerabat dekat Kaisar. Itu berarti misinya akan jauh lebih sulit dan berbahaya dari yang ia duga. Keesokannya, matahari baru saja naik ketika mereka tiba di Markas Militer Longyan. Suasana di sana sangat berbeda dengan ketenangan istana. Suara dentuman kaki prajurit dan teriakan latihan memenuhi udara. Di tengah lapangan, seorang pria bertubuh tinggi tegap berdiri dengan busur di tangan. Itulah Han Feng. Tanpa topeng perangnya, wajahnya terlihat jelas. Tegas, tampan, namun dingin. Bai Xiang merasa darahnya mendidih saat melihat pria itu. Inilah orangnya ... pembunuh ayah dan ibuku, batinnya geram. Wen Mei dengan ceria menghampiri sepupunya itu. "Sepupu! Lihat siapa yang kubawa!" Han Feng menurunkan busurnya, namun tidak menoleh sepenuhnya. "Kau seharusnya berada di istana, Wen Mei. Bukan di sini." "Jangan kaku begitu! Kenalkan, ini Bai Xiang. Dia pengawal pribadiku sekarang. Dialah yang menyelamatkanku dari bandit gunung waktu itu," ujar Wen Mei sambil mendorong Bai Xiang maju. Bai Xiang membungkuk kaku. "Hormatku pada Jenderal Han Feng." Han Feng hanya melirik sekilas dari sudut matanya. "Hm," gumamnya singkat, lalu kembali memasang anak panah. Sikap tak acuh itu menusuk harga diri Bai Xiang. Wen Mei yang menyadari ketegangan itu malah tertawa. "Xiang sangat piawai dalam memanah, kau tahu? Bagaimana kalau kau beradu dengannya? Atau kau takut kalah oleh seorang gadis, Sepupu?" Han Feng menghentikan gerakannya. "Aku tidak melawan wanita. Itu membuang-buang waktu berhargaku." Bai Xiang melangkah maju, suaranya dingin dan tajam. "Jenderal, dalam dunia bela diri, tak ada bedanya laki-laki atau perempuan. Yang ada hanyalah kemampuan." Tanpa menunggu jawaban, Han Feng melepas anak panahnya. Sret! Panah itu menancap nyaris tepat di tengah sasaran. Namun, sebelum gema suaranya hilang, sret! Sebuah panah lain meluncur dengan kecepatan luar biasa, menghantam panah Han Feng hingga terbelah menjadi dua, dan keduanya menancap tepat di titik pusat. Lapangan seketika hening. Para prajurit yang menonton ternganga. Han Feng berbalik sepenuhnya, menatap Bai Xiang dengan mata yang kini meruncing tajam. "Hmph ... jadi kau ingin pamer?" "Hamba hanya ingin menunjukkan kalau Putri tak salah memilih pengawal," balas Bai Xiang sinis. Tiba-tiba, Han Feng menarik tiga pisau kecil dari pinggangnya dan melemparkannya ke arah Bai Xiang. Trang! Trang! Trang! Dengan gerakan secepat kilat, Bai Xiang menghunus pedangnya dan menangkis ketiga pisau itu hingga terpental ke tanah. "Bagus," ujar Han Feng pendek. Ia meraih sebuah tombak dan mulai menyerang. Bai Xiang menangkis dengan pedangnya. Pertarungan yang awalnya hanya ujian, berubah menjadi duel yang sungguh-sungguh. Hingga akhirnya, pedang mereka beradu. Bai Xiang terkesiap saat melihat bilah pedang Han Feng. Di dekat pangkalnya, terdapat ukiran bunga lotus dengan tiga kelopak—tanda tangan khusus buatan ayahnya. "Pedang itu ..." Bai Xiang berbisik, matanya berkilat penuh amarah. Dari mana dia mendapatkan pedang itu? Hasrat dendam mengambil alih pikiran Bai Xiang. Serangannya menjadi brutal dan tanpa kendali. Han Feng yang tenang melihat celah itu. Sret! Bilah pedangnya menyayat pangkal lengan Bai Xiang. Darah segar mulai merembes di Hanfu hijaunya. "Xiang!" teriak Wen Mei panik sambil berlari. "Berhenti! Kau melukainya, Sepupu!" Han Feng menurunkan pedangnya, menatap ke arah Bai Xiang. "Ilmumu masih rendah karena emosimu yang mentah. Tapi kau punya nyali ... menarik." Ia menyarungkan pedangnya dengan elegan. "Jangan mati terlalu cepat. Aku ingin melihat sejauh mana kau bisa berkembang di istana ini." Han Feng berlalu pergi dengan senyum sinis. Bai Xiang mengepalkan tangannya, menahan perih di lengan dan luka yang jauh lebih dalam di hatinya. "Xiang, kau baik-baik saja?" tanya Wen Mei cemas sambil memegangi lengannya. Bai Xiang tidak menjawab, matanya tetap terpaku pada punggung Han Feng yang menjauh. Suatu hari nanti, ia bersumpah akan menuntaskan dendamnya.Udara dingin Da Shan yang semula sunyi kini pecah oleh deru api dan teriakan kematian. Zhu Yu Liang memacu langkahnya keluar dari pintu rahasia di belakang aula utama, tangannya mencengkeram erat jemari Wen Mei yang gemetar. Di luar, pasukan Mingyue yang tadinya bersembunyi telah memulai serangan balasan untuk mengalihkan perhatian, namun jumlah musuh yang terlalu besar membuat keadaan semakin kritis."Itu mereka! Di sana! Tangkap Putri!" sebuah teriakan serak menggelegar dari arah halaman samping.Sekelompok pria berpakaian hitam dengan pedang terhunus melesat mengejar mereka. Yu Liang tidak punya pilihan. Ia segera bersiul nyaring, sebuah kode khusus yang hanya dimengerti oleh kuda tunggangannya. Dari kegelapan hutan, seekor kuda hitam besar menerjang masuk, menabrak dua penyusup hingga terpental sebelum berhenti tepat di depan Yu Liang."Naik, Tuan Putri! Sekarang!" Yu Liang mengangkat tubuh Wen Mei ke atas pelana dengan satu hentakan kuat, lalu ia melompat naik di belakangnya.
Angin malam menderu kencang, menusuk hingga ke tulang saat Zhu Yu Liang memacu kudanya mendaki lereng terjal menuju puncak bukit Da Shan. Medan yang berbatu dan curam membuat pasukan Mingyue yang ia pimpin harus berjuang ekstra keras. Beberapa kali kaki kuda mereka tergelincir, memaksa mereka melambat di jalur yang hanya cukup dilewati satu kuda. "Panglima, medan ini terlalu berbahaya untuk dipacu lebih cepat!" teriak salah satu letnannya di tengah deru angin. "Kita tidak punya waktu!" balas Yu Liang tanpa menoleh. "Setiap detik yang kita buang adalah langkah Cao Bing mendekati Putri. Terus maju!" Begitu mereka mencapai gerbang luar Biara Da Shan, bau anyir darah segera menyergap indra penciuman mereka. Yu Liang menarik kekang kudanya hingga hewan itu meringkik nyaring. Di depan mata mereka, kedamaian biara telah berubah menjadi ladang pembantaian. Obor-obor yang terjatuh membakar sebagian pintu kayu, menyinari sosok-sosok berpakaian hitam yang sedang membantai para biksuni dan
Lentera di ruang kerja Markas Longyan menari-nari ditiup angin malam yang menyusup dari celah jendela, membiaskan bayangan tiga orang yang tengah berkumpul dengan raut wajah tegang. Aroma tajam dari obat-obatan herbal meruap di udara.Bai Xiang bergerak dengan jemari terampil dan penuh kelembutan. Ia mengoleskan ramuan obat racikannya pada luka di punggung dan bahu Han Feng. Sesekali Han Feng meringis kecil saat ramuan itu menyentuh luka yang sempat terbuka kembali akibat pertempuran di aula sidang tadi.Namun, perhatian sang Jenderal tidak teralih dari potongan kain gelap milik penyusup yang tergeletak di atas meja kerja."Aku tidak mengenali wajah mereka di balik penutup kain itu, tapi gerakannya ... aku mengenali pola serangan tersebut," ujar Bai Xiang pelan, matanya menyipit mengingat detail pertempuran yang kacau. "Langkah kaki mereka terlalu ringan untuk prajurit biasa. Serangan mereka sangat spesifik, selalu mengincar titik-titik saraf vital. Besar kemungkinan mereka berasal
Lembah di pinggiran ibu kota itu dilingkupi kabut yang sangat tebal, menyembunyikan sebuah paviliun kayu tua yang tampak terbengkalai. Namun, di dalamnya, suasana justru mendidih oleh ketegangan dan amarah. Suara napas yang memburu dan aroma kecemasan memenuhi ruangan utama yang remang-remang.PLAK!Suara tamparan keras memecah kesunyian malam. Selir Agung Wu berdiri dengan napas tersengal, telapak tangannya masih terasa panas setelah menghantam pipi Menteri Militer Cao Bing. Matanya yang biasanya penuh tipu daya, kini berkilat oleh kemurkaan yang murni."Kau gila, Cao Bing! Apa yang kau lakukan tadi di ruang sidang?!" teriak Selir Agung Wu dengan suara melengking. "Rencana kita adalah menghancurkan Han Feng secara perlahan lewat hukum! Tapi kau justru mengirim pasukan penyusup dan menyerang pengadilan secara terbuka!Kau membuat kita menjadi buronan dalam semalam!"Cao Bing terdiam sejenak, kepalanya sedikit tertoleh ke samping akibat tamparan itu. Perlahan, ia memutar lehernya,
Gema teriakan "Penyusup! Lindungi Kaisar!" memecah keheningan Aula Sidang Militer seperti petir yang menyambar di siang bolong. Suara desingan anak panah segera disusul oleh dentuman keras pintu-pintu samping yang jebol secara paksa. Dari langit-langit aula yang tinggi, puluhan pria merosot turun menggunakan tali sutra hitam. Mereka mengenakan pakaian ketat berwarna legam dengan penutup wajah kain gelap yang hanya menyisakan celah sempit untuk mata mereka yang berkilat tajam. Gerakan mereka tidak seperti perampok biasa; mereka bergerak dengan presisi militer yang mematikan. Asap tebal mulai memenuhi ruangan saat beberapa bom asap dilemparkan ke tengah aula, menciptakan kekacauan instan di antara para jenderal dan menteri yang panik menyelamatkan diri. "Pasukan Longyan! Bentuk formasi lingkaran! Jaga Kaisar!" teriak Li Rui, menghunus pedangnya dan segera menarik Liu Ban, si tukang jagal, ke balik perlindungan pilar marmer yang besar. Di tengah kepulan asap dan denting senjata,
Pintu besar Aula Sidang Militer terbuka dengan dentuman berat. Di bawah pengawalan ketat dua faksi pasukan —Longyan dan Mingyue—seorang pria paruh baya melangkah masuk. Ia mengenakan apron kulit tebal yang kusam namun bersih dari noda baru. Namanya adalah Liu Ban, seorang jagal senior dari pasar pusat. Berbeda dengan rakyat jelata pada umumnya yang akan gemetar ketakutan menginjakkan kaki di lantai marmer istana, Liu Ban berjalan dengan punggung tegak. Langkahnya mantap, mencerminkan bertahun-tahun pengalaman menghadapi maut di tempat pemotongan. Sesampainya di hadapan takhta, ia berlutut dengan khidmat dan memberikan hormat yang sempurna kepada Kaisar. "Rakyat jelata Liu Ban hormat di hadapan Baginda Kaisar yang mulia," ucapnya dengan suara berat dan tenang. Kaisar mengangguk kecil, terkesan dengan ketenangan pria itu. Hakim Agung kemudian maju satu langkah, menatap Liu Ban dengan tajam. "Liu Ban, sebelum pengadilan ini meminta keahlianmu, aku harus bertanya," ujar Hakim Agun







