แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Wei Yun
last update วันที่เผยแพร่: 2025-08-22 13:36:55

Malam telah jatuh menyelimuti Perguruan Gunung Yang. Di dalam ruangan kayu yang remang oleh cahaya lilin, Bai Xiang duduk bersila di hadapan Guru Jin. Suasana terasa berat sejak Bai Xiang menyampaikan kabar bahwa dirinya telah diminta secara resmi menjadi pengawal pribadi Putri Wen Mei.

​Guru Jin menatap api lilin yang bergoyang, "Xiang'er," suaranya parau. "Istana bukan sekadar bangunan megah dengan pilar emas. Ingatlah misimu. Kau masuk ke sana bukan untuk menjadi pelayan setia, melainkan untuk mencari kebenaran atas kematian orang tuamu."

​Bai Xiang menunduk, tangannya mengepal di atas lutut. "Hamba mengerti, Guru. Hamba tidak akan pernah melupakan darah yang tumpah di tangan Jenderal Han."

​"Bagus. Tapi ingat," Guru Jin menatapnya tajam. "Jangan lengah. Tetaplah waspada dan jangan sia-siakan kesempatan sekecil apa pun. Kau harus bersabar. Amati situasi, kenali siapa lawan dan kawanmu. Dendam yang terburu-buru hanya akan membawamu ke liang lahat sebelum waktunya."

​Paginya, saat matahari masih bersembunyi di balik cakrawala, Bai Xiang telah bersiap. Ia mengelus leher Hei Yun, kuda hitam legam kesayangannya. Dengan satu lompatan ringan, ia menunggangi kuda itu dan memacu kencang meninggalkan gerbang Perguruan Gunung Yang menuju ibu kota.

​Perjalanan itu panjang dan melelahkan. Namun, tekad yang membara di dadanya seolah menjadi energi yang tak habis-habis. Menjelang sore, gerbang istana Mingyue yang menjulang tinggi akhirnya tampak di depan mata. Penjaga bersenjata lengkap berdiri tegak lurus di setiap sudut.

​Bai Xiang sempat menahan napas sejenak saat melewati gerbang utama. Ia sadar, mulai detik ini, kebebasannya terkunci di balik tembok-tembok ini. Segala gerak-geriknya akan diawasi oleh ribuan pasang mata.

​Ia dibawa langsung menuju Paviliun Lotus. Begitu memasuki kediaman Putri Wen Mei, Bai Xiang tertegun. Sosok yang beberapa hari lalu ditemuinya di hutan—yang tampak sederhana dengan pakaian rakyat jelata —kini telah berubah total. Wen Mei berdiri di tengah ruangan, mengenakan Hanfu sutra berwarna biru langit. Hiasan giok menghiasi rambut hitamnya yang ditata indah.

​Bai Xiang segera berlutut dengan satu kaki, menundukkan kepala dalam-dalam. "Hamba Bai Xiang, memberi salam pada Yang Mulia Putri Wen Mei."

​Tawa kecil yang renyah terdengar. Wen Mei melangkah mendekat. "Xiang, berdirilah! Jangan begitu. Jika hanya ada kita berdua di sini, buang saja semua formalitas yang menyesakkan itu. Aku sudah muak dengan aturan istana yang kaku. Bersikaplah sama seperti saat kita di hutan."

​Bai Xiang mengangkat wajahnya, namun ekspresinya tetap kaku. "Tapi ... hamba tetap harus menghormati Yang Mulia. Di sini adalah istana, bukan hutan."

​Wen Mei menatapnya lekat. "Ayahanda sudah menunggumu. Ayo, jangan buat Kaisar menunggu."

​Aula kekaisaran terasa begitu luas dan megah. Di ujung ruangan, di atas singgasana emas, duduk pria paruh baya yang memancarkan aura wibawa yang luar biasa. Kaisar menatap Bai Xiang yang sedang berlutut di hadapannya.

​"Hamba memberi salam pada Baginda Kaisar," ucap Bai Xiang dengan suara yang diusahakan tetap tenang.

​Kaisar mengangguk pelan. "Kau lebih muda dari yang kubayangkan. Tetapi mata itu ... tajam, penuh tekad. Baiklah, aku titipkan Wen Mei padamu. Aku sudah terlalu letih mengurus segala tingkah lakunya yang liar."

​"Ayahanda terlalu berlebihan," sela Wen Mei sambil tersenyum nakal ke arah ayahnya. "Aku hanya ingin sedikit kebebasan."

​Kaisar mendengkus kecil, namun ada binar sayang di matanya. "Mulai hari ini, kau adalah pengawal pribadinya. Lindungi dia, meski nyawamu taruhannya."

​"Hamba akan menjaga Putri dengan segenap jiwa dan raga hamba," jawab Bai Xiang dengan mantap.

​Malam itu, saat mereka kembali ke Paviliun Lotus. Wen Mei duduk di tepi ranjangnya sambil memandang Bai Xiang yang berdiri waspada di dekat pintu.

​"Besok, aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang menarik, ke Markas Pasukan Longyan, tempat sepupuku," ujar Wen Mei misterius.

​"Sepupumu? Maksudnya ... Jenderal Han Feng?" Bai Xiang mengernyit, mencoba menyembunyikan getaran di suaranya saat menyebut nama itu.

​"Ya," jawab Wen Mei santai. "Aku ingin dia tahu bahwa kini aku sudah punya pengawal yang hebat. Jadi dia tidak perlu repot-repot mencari-cariku atau mengirim pasukannya jika aku menghilang lagi."

​Bai Xiang terdiam. Hatinya bergetar hebat. Han Feng ternyata bukan sekadar jenderal biasa, ia adalah kerabat dekat Kaisar. Itu berarti misinya akan jauh lebih sulit dan berbahaya dari yang ia duga.

​Keesokannya, matahari baru saja naik ketika mereka tiba di Markas Militer Longyan. Suasana di sana sangat berbeda dengan ketenangan istana. Suara dentuman kaki prajurit dan teriakan latihan memenuhi udara. Di tengah lapangan, seorang pria bertubuh tinggi tegap berdiri dengan busur di tangan.

​Itulah Han Feng. Tanpa topeng perangnya, wajahnya terlihat jelas. Tegas, tampan, namun dingin. Bai Xiang merasa darahnya mendidih saat melihat pria itu. Inilah orangnya ... pembunuh ayah dan ibuku, batinnya geram.

​Wen Mei dengan ceria menghampiri sepupunya itu. "Sepupu! Lihat siapa yang kubawa!"

​Han Feng menurunkan busurnya, namun tidak menoleh sepenuhnya. "Kau seharusnya berada di istana, Wen Mei. Bukan di sini."

​"Jangan kaku begitu! Kenalkan, ini Bai Xiang. Dia pengawal pribadiku sekarang. Dialah yang menyelamatkanku dari bandit gunung waktu itu," ujar Wen Mei sambil mendorong Bai Xiang maju.

​Bai Xiang membungkuk kaku. "Hormatku pada Jenderal Han Feng."

​Han Feng hanya melirik sekilas dari sudut matanya. "Hm," gumamnya singkat, lalu kembali memasang anak panah.

​Sikap tak acuh itu menusuk harga diri Bai Xiang. Wen Mei yang menyadari ketegangan itu malah tertawa. "Xiang sangat piawai dalam memanah, kau tahu? Bagaimana kalau kau beradu dengannya? Atau kau takut kalah oleh seorang gadis, Sepupu?"

​Han Feng menghentikan gerakannya. "Aku tidak melawan wanita. Itu membuang-buang waktu berhargaku."

​Bai Xiang melangkah maju, suaranya dingin dan tajam. "Jenderal, dalam dunia bela diri, tak ada bedanya laki-laki atau perempuan. Yang ada hanyalah kemampuan."

​Tanpa menunggu jawaban, Han Feng melepas anak panahnya. Sret! Panah itu menancap nyaris tepat di tengah sasaran. Namun, sebelum gema suaranya hilang, sret! Sebuah panah lain meluncur dengan kecepatan luar biasa, menghantam panah Han Feng hingga terbelah menjadi dua, dan keduanya menancap tepat di titik pusat.

​Lapangan seketika hening. Para prajurit yang menonton ternganga. Han Feng berbalik sepenuhnya, menatap Bai Xiang dengan mata yang kini meruncing tajam. "Hmph ... jadi kau ingin pamer?"

​"Hamba hanya ingin menunjukkan kalau Putri tak salah memilih pengawal," balas Bai Xiang sinis.

​Tiba-tiba, Han Feng menarik tiga pisau kecil dari pinggangnya dan melemparkannya ke arah Bai Xiang. Trang! Trang! Trang! Dengan gerakan secepat kilat, Bai Xiang menghunus pedangnya dan menangkis ketiga pisau itu hingga terpental ke tanah.

​"Bagus," ujar Han Feng pendek. Ia meraih sebuah tombak dan mulai menyerang. Bai Xiang menangkis dengan pedangnya. Pertarungan yang awalnya hanya ujian, berubah menjadi duel yang sungguh-sungguh.

​Hingga akhirnya, pedang mereka beradu. Bai Xiang terkesiap saat melihat bilah pedang Han Feng. Di dekat pangkalnya, terdapat ukiran bunga lotus dengan tiga kelopak—tanda tangan khusus buatan ayahnya.

​"Pedang itu ..." Bai Xiang berbisik, matanya berkilat penuh amarah. Dari mana dia mendapatkan pedang itu?

​Hasrat dendam mengambil alih pikiran Bai Xiang. Serangannya menjadi brutal dan tanpa kendali. Han Feng yang tenang melihat celah itu. Sret! Bilah pedangnya menyayat pangkal lengan Bai Xiang. Darah segar mulai merembes di Hanfu hijaunya.

​"Xiang!" teriak Wen Mei panik sambil berlari. "Berhenti! Kau melukainya, Sepupu!"

​Han Feng menurunkan pedangnya, menatap ke arah Bai Xiang. "Ilmumu masih rendah karena emosimu yang mentah. Tapi kau punya nyali ... menarik." Ia menyarungkan pedangnya dengan elegan. "Jangan mati terlalu cepat. Aku ingin melihat sejauh mana kau bisa berkembang di istana ini."

​Han Feng berlalu pergi dengan senyum sinis. Bai Xiang mengepalkan tangannya, menahan perih di lengan dan luka yang jauh lebih dalam di hatinya.

​"Xiang, kau baik-baik saja?" tanya Wen Mei cemas sambil memegangi lengannya.

​Bai Xiang tidak menjawab, matanya tetap terpaku pada punggung Han Feng yang menjauh. Suatu hari nanti, ia bersumpah akan menuntaskan dendamnya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
Rayhan Rawidh
Bikin penasaran. Lanjut.
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 204

    Lima tahun telah berlalu sejak api peperangan melawan pemberontak dan pasukan Kasgan di perbatasan padam. Kini, kediaman Keluarga Han di pinggiran ibukota dipenuhi oleh riuh rendah suara tawa anak-anak yang memenuhi halaman luas yang asri.​Di bawah pohon plum yang sedang berbunga, Bai Xiang berdiri dengan anggun. Matanya yang dulu sedingin es kini memancarkan kehangatan seorang ibu saat menatap ketiga buah hatinya yang sedang asyik bermain.​Putri sulungnya, Han Ling yang kini berusia lima tahun, memiliki paras yang sangat mirip dengan Han Feng, rahang yang tegas namun elegan dan mata yang tajam. Namun, sifatnya adalah cerminan murni dari Bai Xiang. Di sampingnya, si tengah Han Mei lebih muda satu tahun, adalah perpaduan sempurna; ia memiliki kecerdasan Han Feng namun kelembutan wajah ibunya. Sedangkan si bungsu Han Jian, tiga tahun, adalah replika kecil dari ayahnya. Mulai dari cara berjalannya yang angkuh hingga sifatnya yang nakal dan tak bisa diam, ia adalah "Han Feng kecil" yan

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 203

    Pesta pernikahan Zhu Yu Liang dan Wen Mei berlangsung semarak di aula utama Istana Mingyue. Gelak tawa para pejabat dan denting cawan perunggu yang beradu menciptakan simfoni kemenangan yang membahana. Han Feng, yang tengah mendampingi Kaisar, tampak sibuk meladeni ucapan selamat, namun matanya tak pernah lepas dari sosok Bai Xiang di barisan meja terhormat. ​Sejak upacara bermula, Han Feng menyadari ada yang berbeda dari istrinya. Wajah Bai Xiang yang biasanya segar kini pucat, dan ia berulang kali memijat pelipisnya. Han Feng mengira itu hanyalah kelelahan pasca-tempur melawan pemberontak dan pasukan Kasgan. Saat Han Feng hendak menghampiri istrinya, tiba-tiba tubuh Bai Xiang limbung. Cawan di tangannya jatuh berdenting, dan sebelum tubuhnya menyentuh lantai, Han Feng melesat, menangkap istrinya dalam dekapan yang sigap. ​"Xiang! Xiang!" seru Han Feng, suaranya yang menggelegar seketika menghentikan keriuhan di aula. ​Pesta yang tadinya penuh tawa berubah menjadi kepanikan keci

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 202

    Debu peperangan yang menyelimuti perbatasan perlahan luruh, digantikan oleh panji-panji Naga Perak yang berkibar gagah di bawah langit biru menuju Ibukota Mingyue. Barisan pasukan Longyan berbaris panjang, langkah kaki mereka yang serempak menciptakan irama kemenangan yang menggetarkan jalanan utama kota. Rakyat berdiri di sisi jalan, bersorak-sorai melepaskan bunga-bunga sebagai tanda syukur atas perdamaian yang berhasil direbut kembali dari ambisi Kasgan dan para pemberontak. ​Di barisan depan, Han Feng dan Bai Xiang berkuda berdampingan, diikuti oleh Zhu Yu Liang yang terus berada di sisi kereta kuda Wen Mei. Sesampainya di depan gerbang istana yang megah, Kaisar sudah menunggu di atas podium tinggi, didampingi oleh para pejabat istana yang kini telah bersih dari pengaruh Cao Bing. ​"Hamba, Han Feng, Panglima Tertinggi Pasukan Longyan, melaporkan bahwa ancaman dari barat telah dipadamkan, dan para pengkhianat telah menerima pengadilannya!" Han Feng turun dari kuda dan berlutut

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 201

    Angin di dataran gersang perbatasan berdesing kencang, membawa aroma belerang dan debu sisa ledakan dari medan pertempuran yang masih membara di kejauhan. Di atas sebuah tebing batu yang menjorok tinggi, menghadap langsung ke arah perkemahan Kasgan yang kini porak-poranda, dua sosok berdiri berhadapan. Jin Peng, sang iblis yang telah kehilangan kejayaannya, tampak goyah. Jubah abu-abunya compang-camping, tercemar darah dari luka perutnya yang terus merembes. ​Di hadapannya, Bai Xiang berdiri tegak dengan rambut putih yang berkibar liar. Ia menggenggam pedang, yang berkilau dingin tertimpa cahaya matahari senja. ​"Masih saja mengejarku hingga ke ujung bumi ini, Xiang?" Jin Peng terbatuk, tawanya terdengar seperti gesekan batu nisan di tengah padang sunyi. "Kau benar-benar murid yang patuh. Bahkan setelah aku menghancurkan keluargamu, kau masih ingin memberikan penghormatan terakhir dengan membunuhku di tanah terkutuk ini?" ​Bai Xiang tidak langsung menjawab. Ia mengangkat pedangnya,

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 200

    Debu peperangan masih membubung tinggi di sisi barat medan tempur. Cao Bing, pria yang dulu berjalan di aula istana dengan dagu terangkat, kini merangkak di atas tanah yang becek oleh darah. Ia mencoba melarikan diri ke arah kuda-kuda Kasgan yang tertambat di balik gundukan pasir, wajahnya yang angkuh kini kusam oleh debu dan ketakutan yang murni.​Namun, langkah pengecut itu terhenti secara paksa. Sebuah tombak panjang dengan mata perak yang berkilat tajam menghujam bumi tepat satu inci di depan kakinya. Getarannya begitu hebat hingga membelah tanah.​"Mau lari ke mana, Pengkhianat?"​Suara itu berat dan sarat akan kebencian. Zhu Yu Liang melangkah keluar dari kabut debu yang pekat. Zirah beratnya telah kehilangan kilau emasnya, tertutup oleh lumuran darah musuh yang mulai mengering. Namun, di balik kotornya medan perang, tatapannya tetap setajam elang, dingin dan menusuk. Ia mencabut tombaknya dari tanah dengan satu sentakan kuat, memutar senjata itu dengan kemahiran yang menakutka

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 199

    Lembah perbatasan yang dulunya merupakan hamparan hijau kini telah berubah menjadi pemakaman terbuka yang menyesakkan. Di tengah hiruk-pikuk teriakan maut dan ringkikan kuda yang meregang nyawa, sebuah ruang kosong tercipta secara alami di pusat palagan. Di sana, dua kutub kekuasaan akhirnya berhadapan: Han Feng dan Azhren, berdiri di atas tumpukan zirah dan patahan tombak yang berserakan.​Han Feng mengencangkan genggaman pada hulu pedang pusakanya. Napasnya teratur, namun matanya mengunci setiap gerak-gerik lawan. Di sekeliling mereka, kavaleri Kasgan dan Pasukan Longyan masih bertumbukan layaknya ombak raksasa yang menghantam karang, namun bagi sang Jenderal, dunia seolah menyempit hanya pada mata elang Azhren yang berkilat haus darah.​"Kau datang juga, Jenderal tua!" Azhren berteriak, suaranya membelah kebisingan logam yang beradu. Ia memacu kudanya dalam jarak pendek, pedang lengkung khas barat miliknya terangkat tinggi.​"Aku datang untuk menepati janjiku, Azhren!" balas Han F

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 113

    Sesampainya di markas Longyan, suasana hangat dan bersahabat langsung menyambut kedatangan Wen Mei. Di aula depan, Li Hua sudah menantinya. Mereka berdua, Li Hua dan Wen Mei, tampak anggun dalam balutan pakaian sederhana yang tetap memancarkan aura bangsawan. Pembedanya hanya cadar tipis dari sutra

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 112

    Permaisuri Yuan Hua meneguk teh hangatnya perlahan, matanya mengamati putrinya yang duduk di seberang meja dengan sikap tak biasa. Wen Mei hari itu tampak berbeda. Rambutnya disanggul rapi dengan hiasan sederhana namun anggun, pipinya diberi sentuhan warna lembut, dan hanfu berwarna biru pucat itu

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 111

    Dalam kereta kuda yang melaju perlahan meninggalkan Markas Longyan menuju Istana Mingyue, Wen Mei duduk bersandar, namun pikirannya sama sekali tidak tenang.Kata-kata sepupunya, Han Feng, terus terngiang di benaknya, berputar-putar seperti daun yang tertiup angin musim gugur.Xiao Pang .… Julukan

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 110

    ​Li Hua lalu berkata kepada Han Feng, mempertahankan ketenangan. "Suamiku, kau jelaskan dahulu pada Nona ini. Melihat penampilan Nona, dan cara suamiku memperlakukanmu, kau pasti sepupu suamiku, Putri Wen Mei. Perkenalkan, aku Li Hua, istri sepupumu. Aku permisi dulu."​Li Hua membungkuk sopan dan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status