MasukMalam di Paviliun Giok terasa lebih dingin dari biasanya. Cahaya rembulan yang pucat menembus celah jendela, jatuh tepat di atas meja cermin tempat Bai Xiang duduk membelakangi. Bau tajam cairan herbal memenuhi ruangan kecil itu. Bai Xiang meringis, giginya beradu saat ia menekan kain yang sudah dibasahi ramuan ke pangkal lengannya yang koyak.
Luka itu cukup dalam, hasil dari tebasan dingin pedang Han Feng di lapangan latihan tadi siang. Darah yang mengering membuat kain hanfu hijaunya kaku, namun Bai Xiang menolak bantuan siapa pun. Selama bertahun-tahun mengembara dan belajar di bawah bimbingan Liu Wei, kakak kedua seperguruannya yang merupakan ahli pengobatan, ia telah terbiasa menjahit luka-lukanya sendiri. Baginya, rasa sakit fisik hanyalah pengingat bahwa ia masih hidup untuk menuntaskan dendamnya. "Satu ... dua...," bisiknya pada diri sendiri, menahan desis perih saat ramuan itu bereaksi dengan daging yang terbuka. Tiba-tiba, suara langkah kaki yang ringan namun terburu-buru terdengar dari koridor luar. Bai Xiang menajamkan pendengarannya. Refleks pengawalnya segera bekerja. Dengan gerakan secepat kilat, ia menutup botol obat, menyembunyikan kain berdarah ke dalam laci meja, dan menggulung kembali lengan bajunya yang lebar. Ia merapikan duduknya tepat saat pintu paviliun didorong terbuka. "Xiang! Kau di dalam?" Putri Wen Mei melangkah masuk dengan wajah cemas yang tidak bisa disembunyikan. Napasnya sedikit memburu, pertanda ia berlari dari Paviliun Lotusnya. "Xiang! Bagaimana dengan lukamu? Mengapa lilinmu hampir habis tapi kau belum juga memanggil tabib?" tanya Wen Mei seraya menghampiri, matanya menyapu tubuh Bai Xiang dari atas ke bawah. "Apakah lukamu serius? Aku melihat darah yang cukup banyak tadi siang. Aku akan melaporkan ini pada Ayahanda sekarang juga. Sepupu Han benar-benar keterlaluan!" Bai Xiang segera berdiri dan membungkuk hormat, berusaha mengabaikan denyut nyeri yang seolah ingin meledakkan pangkal lengannya. "Hamba memberi salam, Yang Mulia. Tidak perlu membesar-besarkan masalah kecil ini kepada Baginda Kaisar. Terluka saat latihan itu adalah hal yang biasa bagi seorang petarung." Wen Mei mendengus kesal, ia mendekat dan mencoba menarik tangan Bai Xiang. "Biasa katamu? Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Sepupu Han sepertinya sengaja melukaimu. Dia ingin membalas dendam karena kau membelah anak panahnya!" Bai Xiang menggeleng pelan, wajahnya tetap datar tanpa ekspresi. "Tidak, Putri. Jenderal Han adalah seorang petarung yang jujur. Dia tidak sengaja, pedangnya melukai hamba karena hamba kehilangan fokus sejenak. Jangan khawatir. Hamba sudah mengobatinya. Besok pagi luka ini akan menutup." Wen Mei menatap mata Bai Xiang, mencari kebohongan di sana, namun ia hanya menemukan ketegasan. Ia mendesah lega, bahunya yang tegang perlahan merosot. "Syukurlah kalau kau memang baik-baik saja. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri jika pengawal pertamaku cacat karena ulah sepupuku yang berhati es itu." Wen Mei berkeliling di ruangan itu sebentar, memainkan kipas sutranya dengan gerakan gelisah sebelum akhirnya duduk di kursi kayu di depan Bai Xiang. "Xiang ... ada alasan lain aku datang selarut ini," sapa Wen Mei, suaranya kini merendah. "Besok malam, kau harus mendampingiku menghadiri sebuah pesta." Bai Xiang mengangkat alisnya sedikit, tangannya yang tersembunyi di balik lengan baju meremas perban yang baru dipasangnya. "Pesta? Pesta seperti apa, Putri?" Wen Mei menepuk kipas di tangannya dengan gaya genit yang menjadi ciri khasnya, namun matanya memancarkan nada yang lebih serius. "Putri Mian Li, anak dari keluarga Jiang, akan mengadakan pesta ulang tahun besar-besaran besok malam. Keluarga Jiang adalah sekutu paling penting Ayahanda di luar lingkaran istana. Aku diundang dan tentu saja ...." Ia menatap Bai Xiang sambil tersenyum lebar. "...aku ingin kau menemaniku." "Hanya hamba?" tanya Bai Xiang singkat. "Bukankah biasanya Yang Mulia Putri dikawal oleh rombongan pengawal, kasim dan dayang?" "Tentu saja hanya kau!" jawab Wen Mei setengah bercanda. "Aku muak dikelilingi oleh para kasim yang berjalan membungkuk-bungkuk dan dayang yang hanya bisa menangis jika aku melompat pagar. Aku ingin pengawal sungguhan yang bisa diajak bicara." Ia kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Bai Xiang, merendahkan suaranya hingga nyaris berbisik. "Xiang, dengarkan aku. Pesta keluarga Jiang bukan sekadar acara ulang tahun yang membosankan. Akan ada pertemuan besar antara para putri dan pangeran dari berbagai klan bangsawan. Dan kau tahu apa artinya itu di ibu kota? Perjodohan politik. Ayahanda ingin aku lebih sering terlihat di lingkaran ini untuk memperkuat posisi kekaisaran." Bai Xiang menghela napas panjang, kepalanya terasa sedikit pening. "Jadi ini adalah acara politik berbalut musik dan tarian. Baiklah, hamba akan ikut sesuai perintah. Tapi hamba harus memperingatkan Yang Mulia, hamba tidak pandai berbasa-basi, apalagi melempar tersenyum palsu pada orang-orang yang hanya peduli pada kekuasaan." Wen Mei tertawa renyah, tawa yang terdengar jujur di tengah kemunafikan istana. "Itulah kenapa aku sangat menyukaimu, Xiang! Kau jujur, bahkan terlalu jujur. Tapi ingat, besok kau tidak boleh muncul dengan pedang besar di pinggang seolah-olah kau mau pergi ke medan perang atau berburu bandit di hutan." Bai Xiang memiringkan kepalanya, matanya menatap Wen Mei dengan tajam namun ada nada seringai ringan di bibirnya. "Jika hamba tidak membawa pedang, lalu siapa yang akan melindungi Yang Mulia kalau ada orang jahat yang menyerang di tengah kerumunan bangsawan itu? Apakah Yang Mulia ingin hamba melawan mereka dengan sapaan sopan?" Wen Mei terdiam sejenak, membayangkan Bai Xiang memukul mundur penjahat hanya dengan kata-kata. Ia kemudian tertawa kecil. "Kau benar. Tapi percayalah, di pesta keluarga Jiang, pedang yang terlihat adalah penghinaan. Besok, aku akan mendandanimu dengan pakaian ala putri bangsawan. Kita akan menyembunyikan senjatamu di balik sutra yang indah. Kau akan tampil cantik, Xiang. Sangat cantik hingga para bangsawan itu tidak akan menyadari bahwa kau bisa mematahkan leher mereka dalam sekejap." "Dandanan putri bangsawan?" Bai Xiang bergumam ngeri. Baginya, pakaian sutra yang berlapis-lapis lebih menyesakkan daripada baju zirah. "Jangan membantah. Ini perintah Putri!" Wen Mei berdiri, wajahnya kembali ceria. "Besok sore kita berangkat. Pastikan kau beristirahat agar lukamu tidak terbuka saat kita menari nanti." Wen Mei mengangguk, namun ada sedikit keraguan di matanya saat ia melirik ke arah laci meja cermin sebelum akhirnya ia berbalik dan melangkah pergi keluar paviliun. Begitu pintu menutup dan suara langkah kaki Wen Mei menghilang, Bai Xiang menarik napas panjang yang tertahan sejak tadi. Ia merosot kembali ke kursinya, memegangi lengannya yang kini berdenyut hebat. Rasa hangat mulai terasa merembes di kain lengannya. Lukanya terbuka sedikit karena gerakan-gerakan tadi. Ia menatap lilin yang bergetar di atas meja. Pesta keluarga Jiang, pertemuan para bangsawan, Han Feng pasti akan ada di sana. Bai Xiang menatap pantulan dirinya di cermin yang kusam. Dendam ini butuh kesabaran, seperti kata Guru Jin. Ia harus belajar memakai topeng sutra, menyembunyikan pedangnya di balik tarian, sampai saat yang tepat tiba untuk menusukkannya tepat ke jantung sang Jenderal. Udara dingin Da Shan yang semula sunyi kini pecah oleh deru api dan teriakan kematian. Zhu Yu Liang memacu langkahnya keluar dari pintu rahasia di belakang aula utama, tangannya mencengkeram erat jemari Wen Mei yang gemetar. Di luar, pasukan Mingyue yang tadinya bersembunyi telah memulai serangan balasan untuk mengalihkan perhatian, namun jumlah musuh yang terlalu besar membuat keadaan semakin kritis."Itu mereka! Di sana! Tangkap Putri!" sebuah teriakan serak menggelegar dari arah halaman samping.Sekelompok pria berpakaian hitam dengan pedang terhunus melesat mengejar mereka. Yu Liang tidak punya pilihan. Ia segera bersiul nyaring, sebuah kode khusus yang hanya dimengerti oleh kuda tunggangannya. Dari kegelapan hutan, seekor kuda hitam besar menerjang masuk, menabrak dua penyusup hingga terpental sebelum berhenti tepat di depan Yu Liang."Naik, Tuan Putri! Sekarang!" Yu Liang mengangkat tubuh Wen Mei ke atas pelana dengan satu hentakan kuat, lalu ia melompat naik di belakangnya.
Angin malam menderu kencang, menusuk hingga ke tulang saat Zhu Yu Liang memacu kudanya mendaki lereng terjal menuju puncak bukit Da Shan. Medan yang berbatu dan curam membuat pasukan Mingyue yang ia pimpin harus berjuang ekstra keras. Beberapa kali kaki kuda mereka tergelincir, memaksa mereka melambat di jalur yang hanya cukup dilewati satu kuda. "Panglima, medan ini terlalu berbahaya untuk dipacu lebih cepat!" teriak salah satu letnannya di tengah deru angin. "Kita tidak punya waktu!" balas Yu Liang tanpa menoleh. "Setiap detik yang kita buang adalah langkah Cao Bing mendekati Putri. Terus maju!" Begitu mereka mencapai gerbang luar Biara Da Shan, bau anyir darah segera menyergap indra penciuman mereka. Yu Liang menarik kekang kudanya hingga hewan itu meringkik nyaring. Di depan mata mereka, kedamaian biara telah berubah menjadi ladang pembantaian. Obor-obor yang terjatuh membakar sebagian pintu kayu, menyinari sosok-sosok berpakaian hitam yang sedang membantai para biksuni dan
Lentera di ruang kerja Markas Longyan menari-nari ditiup angin malam yang menyusup dari celah jendela, membiaskan bayangan tiga orang yang tengah berkumpul dengan raut wajah tegang. Aroma tajam dari obat-obatan herbal meruap di udara.Bai Xiang bergerak dengan jemari terampil dan penuh kelembutan. Ia mengoleskan ramuan obat racikannya pada luka di punggung dan bahu Han Feng. Sesekali Han Feng meringis kecil saat ramuan itu menyentuh luka yang sempat terbuka kembali akibat pertempuran di aula sidang tadi.Namun, perhatian sang Jenderal tidak teralih dari potongan kain gelap milik penyusup yang tergeletak di atas meja kerja."Aku tidak mengenali wajah mereka di balik penutup kain itu, tapi gerakannya ... aku mengenali pola serangan tersebut," ujar Bai Xiang pelan, matanya menyipit mengingat detail pertempuran yang kacau. "Langkah kaki mereka terlalu ringan untuk prajurit biasa. Serangan mereka sangat spesifik, selalu mengincar titik-titik saraf vital. Besar kemungkinan mereka berasal
Lembah di pinggiran ibu kota itu dilingkupi kabut yang sangat tebal, menyembunyikan sebuah paviliun kayu tua yang tampak terbengkalai. Namun, di dalamnya, suasana justru mendidih oleh ketegangan dan amarah. Suara napas yang memburu dan aroma kecemasan memenuhi ruangan utama yang remang-remang.PLAK!Suara tamparan keras memecah kesunyian malam. Selir Agung Wu berdiri dengan napas tersengal, telapak tangannya masih terasa panas setelah menghantam pipi Menteri Militer Cao Bing. Matanya yang biasanya penuh tipu daya, kini berkilat oleh kemurkaan yang murni."Kau gila, Cao Bing! Apa yang kau lakukan tadi di ruang sidang?!" teriak Selir Agung Wu dengan suara melengking. "Rencana kita adalah menghancurkan Han Feng secara perlahan lewat hukum! Tapi kau justru mengirim pasukan penyusup dan menyerang pengadilan secara terbuka!Kau membuat kita menjadi buronan dalam semalam!"Cao Bing terdiam sejenak, kepalanya sedikit tertoleh ke samping akibat tamparan itu. Perlahan, ia memutar lehernya,
Gema teriakan "Penyusup! Lindungi Kaisar!" memecah keheningan Aula Sidang Militer seperti petir yang menyambar di siang bolong. Suara desingan anak panah segera disusul oleh dentuman keras pintu-pintu samping yang jebol secara paksa. Dari langit-langit aula yang tinggi, puluhan pria merosot turun menggunakan tali sutra hitam. Mereka mengenakan pakaian ketat berwarna legam dengan penutup wajah kain gelap yang hanya menyisakan celah sempit untuk mata mereka yang berkilat tajam. Gerakan mereka tidak seperti perampok biasa; mereka bergerak dengan presisi militer yang mematikan. Asap tebal mulai memenuhi ruangan saat beberapa bom asap dilemparkan ke tengah aula, menciptakan kekacauan instan di antara para jenderal dan menteri yang panik menyelamatkan diri. "Pasukan Longyan! Bentuk formasi lingkaran! Jaga Kaisar!" teriak Li Rui, menghunus pedangnya dan segera menarik Liu Ban, si tukang jagal, ke balik perlindungan pilar marmer yang besar. Di tengah kepulan asap dan denting senjata,
Pintu besar Aula Sidang Militer terbuka dengan dentuman berat. Di bawah pengawalan ketat dua faksi pasukan —Longyan dan Mingyue—seorang pria paruh baya melangkah masuk. Ia mengenakan apron kulit tebal yang kusam namun bersih dari noda baru. Namanya adalah Liu Ban, seorang jagal senior dari pasar pusat. Berbeda dengan rakyat jelata pada umumnya yang akan gemetar ketakutan menginjakkan kaki di lantai marmer istana, Liu Ban berjalan dengan punggung tegak. Langkahnya mantap, mencerminkan bertahun-tahun pengalaman menghadapi maut di tempat pemotongan. Sesampainya di hadapan takhta, ia berlutut dengan khidmat dan memberikan hormat yang sempurna kepada Kaisar. "Rakyat jelata Liu Ban hormat di hadapan Baginda Kaisar yang mulia," ucapnya dengan suara berat dan tenang. Kaisar mengangguk kecil, terkesan dengan ketenangan pria itu. Hakim Agung kemudian maju satu langkah, menatap Liu Ban dengan tajam. "Liu Ban, sebelum pengadilan ini meminta keahlianmu, aku harus bertanya," ujar Hakim Agun







