Share

Bab 5

Penulis: Wei Yun
last update Tanggal publikasi: 2025-08-22 16:13:54

Malam di Paviliun Giok terasa lebih dingin dari biasanya. Cahaya rembulan yang pucat menembus celah jendela, jatuh tepat di atas meja cermin tempat Bai Xiang duduk membelakangi. Bau tajam cairan herbal memenuhi ruangan kecil itu. Bai Xiang meringis, giginya beradu saat ia menekan kain  yang sudah dibasahi ramuan ke pangkal lengannya yang koyak.

​Luka itu cukup dalam, hasil dari tebasan dingin pedang Han Feng di lapangan latihan tadi siang. Darah yang mengering membuat kain hanfu hijaunya kaku, namun Bai Xiang menolak bantuan siapa pun. Selama bertahun-tahun mengembara dan belajar di bawah bimbingan Liu Wei, kakak kedua seperguruannya yang merupakan ahli pengobatan, ia telah terbiasa menjahit luka-lukanya sendiri. Baginya, rasa sakit fisik hanyalah pengingat bahwa ia masih hidup untuk menuntaskan dendamnya.

​"Satu ... dua...," bisiknya pada diri sendiri, menahan desis perih saat ramuan itu bereaksi dengan daging yang terbuka.

​Tiba-tiba, suara langkah kaki yang ringan namun terburu-buru terdengar dari koridor luar. Bai Xiang menajamkan pendengarannya. Refleks pengawalnya segera bekerja. Dengan gerakan secepat kilat, ia menutup botol obat, menyembunyikan kain berdarah ke dalam laci meja, dan menggulung kembali lengan bajunya yang lebar. Ia merapikan duduknya tepat saat pintu paviliun didorong terbuka.

​"Xiang! Kau di dalam?"

​Putri Wen Mei melangkah masuk dengan wajah cemas yang tidak bisa disembunyikan. Napasnya sedikit memburu, pertanda ia berlari dari Paviliun Lotusnya.

​"Xiang! Bagaimana dengan lukamu? Mengapa lilinmu hampir habis tapi kau belum juga memanggil tabib?" tanya Wen Mei seraya menghampiri, matanya menyapu tubuh Bai Xiang dari atas ke bawah. "Apakah lukamu serius? Aku melihat darah yang cukup banyak tadi siang. Aku akan melaporkan ini pada Ayahanda sekarang juga. Sepupu Han benar-benar keterlaluan!"

​Bai Xiang segera berdiri dan membungkuk hormat, berusaha mengabaikan denyut nyeri yang seolah ingin meledakkan pangkal lengannya. "Hamba memberi salam, Yang Mulia. Tidak perlu membesar-besarkan masalah kecil ini kepada Baginda Kaisar. Terluka saat latihan itu adalah hal yang biasa bagi seorang petarung."

​Wen Mei mendengus kesal, ia mendekat dan mencoba menarik tangan Bai Xiang. "Biasa katamu? Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Sepupu Han sepertinya sengaja melukaimu. Dia ingin membalas dendam karena kau membelah anak panahnya!"

​Bai Xiang menggeleng pelan, wajahnya tetap datar tanpa ekspresi. "Tidak, Putri. Jenderal Han adalah seorang petarung yang jujur. Dia tidak sengaja, pedangnya melukai hamba karena hamba kehilangan fokus sejenak. Jangan khawatir. Hamba sudah mengobatinya. Besok pagi luka ini akan menutup."

​Wen Mei menatap mata Bai Xiang, mencari kebohongan di sana, namun ia hanya menemukan ketegasan. Ia mendesah lega, bahunya yang tegang perlahan merosot. "Syukurlah kalau kau memang baik-baik saja. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri jika pengawal pertamaku cacat karena ulah sepupuku yang berhati es itu."

​Wen Mei berkeliling di ruangan itu sebentar, memainkan kipas sutranya dengan gerakan gelisah sebelum akhirnya duduk di kursi kayu di depan Bai Xiang.

​"Xiang ... ada alasan lain aku datang selarut ini," sapa Wen Mei, suaranya kini merendah. "Besok malam, kau harus mendampingiku menghadiri sebuah pesta."

​Bai Xiang mengangkat alisnya sedikit, tangannya yang tersembunyi di balik lengan baju meremas perban yang baru dipasangnya. "Pesta? Pesta seperti apa, Putri?"

​Wen Mei menepuk kipas di tangannya dengan gaya genit yang menjadi ciri khasnya, namun matanya memancarkan nada yang lebih serius. "Putri Mian Li, anak dari keluarga Jiang, akan mengadakan pesta ulang tahun besar-besaran besok malam. Keluarga Jiang adalah sekutu paling penting Ayahanda di luar lingkaran istana. Aku diundang dan tentu saja ...." Ia menatap Bai Xiang sambil tersenyum lebar. "...aku ingin kau menemaniku."

​"Hanya hamba?" tanya Bai Xiang singkat. "Bukankah biasanya Yang Mulia Putri dikawal oleh rombongan pengawal, kasim dan dayang?"

​"Tentu saja hanya kau!" jawab Wen Mei setengah bercanda. "Aku muak dikelilingi oleh para kasim yang berjalan membungkuk-bungkuk dan dayang yang hanya bisa menangis jika aku melompat pagar. Aku ingin pengawal sungguhan yang bisa diajak bicara."

​Ia kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Bai Xiang, merendahkan suaranya hingga nyaris berbisik. "Xiang, dengarkan aku. Pesta keluarga Jiang bukan sekadar acara ulang tahun yang membosankan. Akan ada pertemuan besar antara para putri dan pangeran dari berbagai klan bangsawan. Dan kau tahu apa artinya itu di ibu kota? Perjodohan politik. Ayahanda ingin aku lebih sering terlihat di lingkaran ini untuk memperkuat posisi kekaisaran."

​Bai Xiang menghela napas panjang, kepalanya terasa sedikit pening. "Jadi ini adalah acara politik berbalut musik dan tarian. Baiklah, hamba akan ikut sesuai perintah. Tapi hamba harus memperingatkan Yang Mulia, hamba tidak pandai berbasa-basi, apalagi melempar tersenyum palsu pada orang-orang yang hanya peduli pada kekuasaan."

​Wen Mei tertawa renyah, tawa yang terdengar jujur di tengah kemunafikan istana. "Itulah kenapa aku sangat menyukaimu, Xiang! Kau jujur, bahkan terlalu jujur. Tapi ingat, besok kau tidak boleh muncul dengan pedang besar di pinggang seolah-olah kau mau pergi ke medan perang atau berburu bandit di hutan."

​Bai Xiang memiringkan kepalanya, matanya menatap Wen Mei dengan tajam namun ada nada seringai ringan di bibirnya. "Jika hamba tidak membawa pedang, lalu siapa yang akan melindungi Yang Mulia kalau ada orang jahat yang menyerang di tengah kerumunan bangsawan itu? Apakah Yang Mulia ingin hamba melawan mereka dengan sapaan sopan?"

​Wen Mei terdiam sejenak, membayangkan Bai Xiang memukul mundur penjahat hanya dengan kata-kata. Ia kemudian tertawa kecil. "Kau benar. Tapi percayalah, di pesta keluarga Jiang, pedang yang terlihat adalah penghinaan. Besok, aku akan mendandanimu dengan pakaian ala putri bangsawan. Kita akan menyembunyikan senjatamu di balik sutra yang indah. Kau akan tampil cantik, Xiang. Sangat cantik hingga para bangsawan itu tidak akan menyadari bahwa kau bisa mematahkan leher mereka dalam sekejap."

​"Dandanan putri bangsawan?" Bai Xiang bergumam ngeri. Baginya, pakaian sutra yang berlapis-lapis lebih menyesakkan daripada baju zirah.

​"Jangan membantah. Ini perintah Putri!" Wen Mei berdiri, wajahnya kembali ceria. "Besok sore kita berangkat. Pastikan kau beristirahat agar lukamu tidak terbuka saat kita menari nanti."

​Wen Mei mengangguk, namun ada sedikit keraguan di matanya saat ia melirik ke arah laci meja cermin sebelum akhirnya ia berbalik dan melangkah pergi keluar paviliun.

​Begitu pintu menutup dan suara langkah kaki Wen Mei menghilang, Bai Xiang menarik napas panjang yang tertahan sejak tadi. Ia merosot kembali ke kursinya, memegangi lengannya yang kini berdenyut hebat. Rasa hangat mulai terasa merembes di kain lengannya. Lukanya terbuka sedikit karena gerakan-gerakan tadi.

​Ia menatap lilin yang bergetar di atas meja. Pesta keluarga Jiang, pertemuan para bangsawan, Han Feng pasti akan ada di sana. Bai Xiang menatap pantulan dirinya di cermin yang kusam. Dendam ini butuh kesabaran, seperti kata Guru Jin. Ia harus belajar memakai topeng sutra, menyembunyikan pedangnya di balik tarian, sampai saat yang tepat tiba untuk menusukkannya tepat ke jantung sang Jenderal.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Rayhan Rawidh
Bai Xiang didandanin cewek
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 204

    Lima tahun telah berlalu sejak api peperangan melawan pemberontak dan pasukan Kasgan di perbatasan padam. Kini, kediaman Keluarga Han di pinggiran ibukota dipenuhi oleh riuh rendah suara tawa anak-anak yang memenuhi halaman luas yang asri.​Di bawah pohon plum yang sedang berbunga, Bai Xiang berdiri dengan anggun. Matanya yang dulu sedingin es kini memancarkan kehangatan seorang ibu saat menatap ketiga buah hatinya yang sedang asyik bermain.​Putri sulungnya, Han Ling yang kini berusia lima tahun, memiliki paras yang sangat mirip dengan Han Feng, rahang yang tegas namun elegan dan mata yang tajam. Namun, sifatnya adalah cerminan murni dari Bai Xiang. Di sampingnya, si tengah Han Mei lebih muda satu tahun, adalah perpaduan sempurna; ia memiliki kecerdasan Han Feng namun kelembutan wajah ibunya. Sedangkan si bungsu Han Jian, tiga tahun, adalah replika kecil dari ayahnya. Mulai dari cara berjalannya yang angkuh hingga sifatnya yang nakal dan tak bisa diam, ia adalah "Han Feng kecil" yan

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 203

    Pesta pernikahan Zhu Yu Liang dan Wen Mei berlangsung semarak di aula utama Istana Mingyue. Gelak tawa para pejabat dan denting cawan perunggu yang beradu menciptakan simfoni kemenangan yang membahana. Han Feng, yang tengah mendampingi Kaisar, tampak sibuk meladeni ucapan selamat, namun matanya tak pernah lepas dari sosok Bai Xiang di barisan meja terhormat. ​Sejak upacara bermula, Han Feng menyadari ada yang berbeda dari istrinya. Wajah Bai Xiang yang biasanya segar kini pucat, dan ia berulang kali memijat pelipisnya. Han Feng mengira itu hanyalah kelelahan pasca-tempur melawan pemberontak dan pasukan Kasgan. Saat Han Feng hendak menghampiri istrinya, tiba-tiba tubuh Bai Xiang limbung. Cawan di tangannya jatuh berdenting, dan sebelum tubuhnya menyentuh lantai, Han Feng melesat, menangkap istrinya dalam dekapan yang sigap. ​"Xiang! Xiang!" seru Han Feng, suaranya yang menggelegar seketika menghentikan keriuhan di aula. ​Pesta yang tadinya penuh tawa berubah menjadi kepanikan keci

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 202

    Debu peperangan yang menyelimuti perbatasan perlahan luruh, digantikan oleh panji-panji Naga Perak yang berkibar gagah di bawah langit biru menuju Ibukota Mingyue. Barisan pasukan Longyan berbaris panjang, langkah kaki mereka yang serempak menciptakan irama kemenangan yang menggetarkan jalanan utama kota. Rakyat berdiri di sisi jalan, bersorak-sorai melepaskan bunga-bunga sebagai tanda syukur atas perdamaian yang berhasil direbut kembali dari ambisi Kasgan dan para pemberontak. ​Di barisan depan, Han Feng dan Bai Xiang berkuda berdampingan, diikuti oleh Zhu Yu Liang yang terus berada di sisi kereta kuda Wen Mei. Sesampainya di depan gerbang istana yang megah, Kaisar sudah menunggu di atas podium tinggi, didampingi oleh para pejabat istana yang kini telah bersih dari pengaruh Cao Bing. ​"Hamba, Han Feng, Panglima Tertinggi Pasukan Longyan, melaporkan bahwa ancaman dari barat telah dipadamkan, dan para pengkhianat telah menerima pengadilannya!" Han Feng turun dari kuda dan berlutut

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 201

    Angin di dataran gersang perbatasan berdesing kencang, membawa aroma belerang dan debu sisa ledakan dari medan pertempuran yang masih membara di kejauhan. Di atas sebuah tebing batu yang menjorok tinggi, menghadap langsung ke arah perkemahan Kasgan yang kini porak-poranda, dua sosok berdiri berhadapan. Jin Peng, sang iblis yang telah kehilangan kejayaannya, tampak goyah. Jubah abu-abunya compang-camping, tercemar darah dari luka perutnya yang terus merembes. ​Di hadapannya, Bai Xiang berdiri tegak dengan rambut putih yang berkibar liar. Ia menggenggam pedang, yang berkilau dingin tertimpa cahaya matahari senja. ​"Masih saja mengejarku hingga ke ujung bumi ini, Xiang?" Jin Peng terbatuk, tawanya terdengar seperti gesekan batu nisan di tengah padang sunyi. "Kau benar-benar murid yang patuh. Bahkan setelah aku menghancurkan keluargamu, kau masih ingin memberikan penghormatan terakhir dengan membunuhku di tanah terkutuk ini?" ​Bai Xiang tidak langsung menjawab. Ia mengangkat pedangnya,

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 200

    Debu peperangan masih membubung tinggi di sisi barat medan tempur. Cao Bing, pria yang dulu berjalan di aula istana dengan dagu terangkat, kini merangkak di atas tanah yang becek oleh darah. Ia mencoba melarikan diri ke arah kuda-kuda Kasgan yang tertambat di balik gundukan pasir, wajahnya yang angkuh kini kusam oleh debu dan ketakutan yang murni.​Namun, langkah pengecut itu terhenti secara paksa. Sebuah tombak panjang dengan mata perak yang berkilat tajam menghujam bumi tepat satu inci di depan kakinya. Getarannya begitu hebat hingga membelah tanah.​"Mau lari ke mana, Pengkhianat?"​Suara itu berat dan sarat akan kebencian. Zhu Yu Liang melangkah keluar dari kabut debu yang pekat. Zirah beratnya telah kehilangan kilau emasnya, tertutup oleh lumuran darah musuh yang mulai mengering. Namun, di balik kotornya medan perang, tatapannya tetap setajam elang, dingin dan menusuk. Ia mencabut tombaknya dari tanah dengan satu sentakan kuat, memutar senjata itu dengan kemahiran yang menakutka

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 199

    Lembah perbatasan yang dulunya merupakan hamparan hijau kini telah berubah menjadi pemakaman terbuka yang menyesakkan. Di tengah hiruk-pikuk teriakan maut dan ringkikan kuda yang meregang nyawa, sebuah ruang kosong tercipta secara alami di pusat palagan. Di sana, dua kutub kekuasaan akhirnya berhadapan: Han Feng dan Azhren, berdiri di atas tumpukan zirah dan patahan tombak yang berserakan.​Han Feng mengencangkan genggaman pada hulu pedang pusakanya. Napasnya teratur, namun matanya mengunci setiap gerak-gerik lawan. Di sekeliling mereka, kavaleri Kasgan dan Pasukan Longyan masih bertumbukan layaknya ombak raksasa yang menghantam karang, namun bagi sang Jenderal, dunia seolah menyempit hanya pada mata elang Azhren yang berkilat haus darah.​"Kau datang juga, Jenderal tua!" Azhren berteriak, suaranya membelah kebisingan logam yang beradu. Ia memacu kudanya dalam jarak pendek, pedang lengkung khas barat miliknya terangkat tinggi.​"Aku datang untuk menepati janjiku, Azhren!" balas Han F

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 194

    Udara di dalam paviliun semakin sesak oleh debu dan aroma kematian. Bai Xiang bertarung layaknya iblis yang haus darah; setiap ayunan pedangnya membelah barisan zirah, namun gelombang prajurit Cao Bing seolah tak ada habisnya.Luka-luka kecil mulai menghiasi tubuhnya, dan napasnya mulai tersengal.

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 193

    Aroma karat dari darah yang mengering dan hawa dingin yang menusuk tulang seakan menghimpit dada Bai Xiang saat ia melangkah masuk ke ruang penyekapan di jantung paviliun. Di sudut ruangan yang remang, hanya diterangi oleh sebatang lilin yang hampir habis, seorang wanita bersimpuh dengan bahu yang

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 192

    ​ Darah hangat memercik ke pipi Bai Xiang, kontras dengan hawa dingin puncak Gunung Song yang membeku. Di hadapannya, Liu Wei berdiri goyah. Pedang tipis Jin Peng tertancap telak di dada kiri pria itu, hanya beberapa inci dari jantungnya. Jin Peng yang terkejut melihat campur tangan tak terduga

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 191

    Hawa dingin di puncak Gunung Song seakan membeku ketika Bai Xiang menapakkan kakinya di lantai batu paviliun. Sebelum mencapai pintu utama tempat Wen Mei disekap, enam orang penjaga rahasia berpakaian serba hitam muncul dari balik pilar-pilar bayangan. Mereka adalah pembunuh terlatih, bergerak tanp

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status