Share

Bab 3

Penulis: Wei Yun
last update Terakhir Diperbarui: 2025-08-22 12:31:30

​Debu yang beterbangan perlahan mengendap, menyisakan derap langkah kuda yang kian melambat saat lima puluh prajurit berbaju zirah hitam legam mengepung area tersebut.

Di tengah kepungan itu, seorang prajutit dengan raut wajah tegas melompat turun dari kudanya. Li Rui, salah satu tangan kanan kepercayaan Pasukan Longyan, melangkah cepat melewati tumpukan mayat bandit. Matanya menyapu sekeliling hingga tertuju pada sosok gadis yang mengenakan pakaian lelaki lusuh. Ia segera berlutut satu kaki, memberikan hormat militer yang sempurna.

​"Tuan Putri Wen Mei, syukurlah kau selamat. Kau tidak apa-apa, Yang Mulia? Kami hampir gila mencari keberadaanmu," ujar Li Rui dengan nada lega yang tak disembunyikan.

​Putri Wen Mei menghela napas panjang sembari menepuk debu di pakaian penyamarannya. "Aku tidak apa-apa, Li Rui. Kau lihat sendiri, kan? Aku masih utuh tanpa kurang suatu apa pun."

​Li Rui berdiri, matanya beralih waspada ke arah mayat bandit dengan luka sabetan pedang yang sangat presisi. "Pasukan kami menyisir jalur utama, namun Jenderal Han Feng bersikeras bahwa putri pasti mengambil jalur tikus yang berbahaya ini. Beliau sangat mengkhawatirkanmu, Putri."

​Wen Mei mendengkus kecil, sebuah senyum penuh rencana terbit di bibirnya. "Bilang pada sepupuku yang kaku itu, ia tak perlu lagi cemas. Sekarang, aku sudah punya pengawal pribadi yang hebat."

​"Pengawal pribadi?" Li Rui mengerutkan dahi, tatapannya beralih waspada ke arah Bai Xiang yang masih menggenggam pedangnya. "Apa maksud Anda, Putri?"

​"Iya ... ini pengawalku." Tanpa diduga, Wen Mei menggamit tangan Bai Xiang dengan erat, menarik pendekar perempuan itu hingga mereka berdiri bersisian.

​Bai Xiang tersentak. Refleksnya hampir saja membuat ia memelintir tangan Wen Mei, namun ia segera menahan diri. Ia mencoba melepaskan tangannya, tetapi Wen Mei justru menggenggamnya lebih kuat.

​"Putri, apa yang kau lakukan?" bisik Bai Xiang canggung.

​Wen Mei tidak mempedulikan bisikan itu. Ia menatap Li Rui dengan tatapan menantang. "Li Rui, perkenalkan. Ini adalah nona pendekar yang tadi menyelamatkanku sendirian dari serangan dua puluh bandit. Aku akan membawanya ke istana sekarang juga. Aku akan meminta Ayah Kaisar agar mengizinkanku menjadikannya pengawal pribadiku."

​Kaisar? Jantung Bai Xiang seakan berhenti berdetak. Darahnya membeku. Jadi, gadis yang tadi menangis di pelukannya ini adalah Wen Mei, putri tunggal Kaisar? Bai Xiang segera menyarungkan pedangnya dan memberikan hormat yang paling dalam.

​"Hamba, Bai Xiang, memberi hormat kepada Yang Mulia Tuan Putri. Maafkan hamba jika hamba telah lancang memerintah tadi di tengah kekacauan," ujar Bai Xiang dengan nada rendah.

​Wen Mei buru-buru menyuruh Bai Xiang berdiri. "Jangan begitu, Xiang! Kau telah berjasa besar. Itulah sebabnya, kuharap kau tidak menolak tawaranku untuk menjadi pengawal pribadiku."

​Bai Xiang terdiam sejenak. Pikirannya berputar kacau. Ia tidak pernah menyangka jalan menuju istana akan terbuka selebar ini. Ia tak perlu menjadi selir seperti gurauan Liu Wei; ia bisa masuk sebagai pengawal pribadi. Ini adalah posisi emas untuk mendekati targetnya. Namun, ia harus memastikan segalanya tidak terlihat mencurigakan.

​"Tuan Putri, hamba merasa belum pantas," ujar Bai Xiang. "Ilmu hamba masih rendah, dan hamba hanya orang gunung yang terbiasa hidup kasar. Mohon pertimbangkan lagi keputusan Putri."

​"Tidak!" Wen Mei memotong dengan tegas. "Xiang, kau tidak boleh menolak! Kau adalah pilihanku. Kau tidak kasihan padaku? Jika kau menolak, aku akan terus diawasi oleh pasukan sepupuku yang menyebalkan itu."

​Bai Xiang memberanikan diri bertanya, "Maafkan hamba, Yang Mulia ... siapa sebenarnya sepupu yang dimaksud?"

​Wen Mei memutar bola matanya kesal. "Siapa lagi? Sepupuku adalah Jenderal Han Feng, Panglima Pasukan Longyan. Mereka ini pasti disuruh olehnya untuk menjemputku."

​Han Feng. Nama itu menghantam dada Bai Xiang bagaikan gada besi. Nama yang terukir di plakat giok milik mendiang ibunya. Takdir seolah sedang menarik benang merahnya dengan sangat kasar. Ia kini berada di hadapan sepupu dari pria yang ingin ia bunuh.

​"Putri ...." Bai Xiang menarik napas panjang, mencoba menekan api dendam di matanya. "Jika memang itu keinginanmu, hamba tidak kuasa menolak. Namun, berikan hamba waktu untuk kembali ke Gunung Yang. Besok pagi, hamba berjanji akan berangkat ke istana."

​"Tidak bisa!" seru Wen Mei dengan wajah cemberut. "Kau harus berangkat bersamaku sekarang! Kalau kau kubiarkan pergi, kau pasti bohong dan tidak akan pernah datang.Orang-orang pendekar biasanya lebih suka kebebasan daripada istana, kan?"

​"Tapi Yang Mulia ... hamba benar-benar harus berpamitan dulu ke Gunung Yang. Begini saja ...." Bai Xiang meraih tusuk konde giok berhias batu berbentuk bulan sabit dari rambutnya. "Tusuk konde ini sangat berharga bagi hamba, milik mendiang ibu hamba. Ini sebagai jaminan bahwa hamba akan pergi ke istana. Tolong jaga baik-baik. Besok kita bertemu."

​Wen Mei menerima tusuk konde itu dengan wajah serius. "Kau janji, Xiang? Kita akan bertemu besok?"

​"Hamba berjanji demi langit dan para dewa," jawab Bai Xiang mantap.

​Li Rui yang sedari tadi menyimak akhirnya berdeham. "Yang Mulia, sebaiknya kita segera kembali sebelum malam. Hutan ini tidak aman."

​"Aku tidak mungkin meninggalkan bantuan ini di sini begitu saja," sahut Wen Mei sembari menunjuk ke arah gerobak pangan.

​"Hamba telah mengatur pasukan yang akan mengantar bantuan itu ke Desa Nanjue. Sekarang, Tuan Putri harus kembali ke istana bersama hamba," ujar Li Rui tegas.

​Bai Xiang mengangguk setuju. "Sebaiknya Tuan Putri kembali. Daerah lainnya belum tentu lebih aman di malam hari."

​Wen Mei diam sejenak, bergantian melihat ke arah Bai Xiang dan Li Rui. "Baiklah. Aku kembali ke istana. Xiang ... kutunggu kau besok!"

​Li Rui bernapas lega. Ia memberikan hormat singkat kepada Bai Xiang. "Terima kasih, Nona Bai. Sampai berjumpa di istana besok pagi."

​Bai Xiang membalas hormat itu dengan saksama. Ia berdiri diam, memperhatikan iring-iringan kereta sang putri yang perlahan menghilang di balik kabut hutan. Setelah mereka benar-benar hilang, Bai Xiang bersiul memanggil Hei Yun.

​"Dendam ini sudah menunggu sepuluh tahun, Hei Yun," bisiknya pada telinga sang kuda. "Satu malam lagi tidak akan mengubah apa pun, kecuali memberikan akhir yang lebih sempurna bagi Han Feng."

​Ia memacu kudanya dengan kecepatan penuh menuju puncak Gunung Yang. Keputusan telah diambil. Pintu istana yang selama ini tertutup rapat kini terbuka lebar lewat tangan Wen Mei. Bai Xiang tahu, saat ia melangkah masuk ke gerbang itu besok, ia bukan lagi sekadar murid perguruan, melainkan malaikat maut yang membawa pesan kematian untuk sang Jenderal.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Rayhan Rawidh
Siapakah dia? Besok kita lanjut baca.
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 203

    Pesta pernikahan Zhu Yu Liang dan Wen Mei berlangsung semarak di aula utama Istana Mingyue. Gelak tawa para pejabat dan denting cawan perunggu yang beradu menciptakan simfoni kemenangan yang membahana. Han Feng, yang tengah mendampingi Kaisar, tampak sibuk meladeni ucapan selamat, namun matanya tak pernah lepas dari sosok Bai Xiang di barisan meja terhormat. ​Sejak upacara bermula, Han Feng menyadari ada yang berbeda dari istrinya. Wajah Bai Xiang yang biasanya segar kini pucat, dan ia berulang kali memijat pelipisnya. Han Feng mengira itu hanyalah kelelahan pasca-tempur melawan pemberontak dan pasukan Kasgan. Saat Han Feng hendak menghampiri istrinya, tiba-tiba tubuh Bai Xiang limbung. Cawan di tangannya jatuh berdenting, dan sebelum tubuhnya menyentuh lantai, Han Feng melesat, menangkap istrinya dalam dekapan yang sigap. ​"Xiang! Xiang!" seru Han Feng, suaranya yang menggelegar seketika menghentikan keriuhan di aula. ​Pesta yang tadinya penuh tawa berubah menjadi kepanikan keci

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 202

    Debu peperangan yang menyelimuti perbatasan perlahan luruh, digantikan oleh panji-panji Naga Perak yang berkibar gagah di bawah langit biru menuju Ibukota Mingyue. Barisan pasukan Longyan berbaris panjang, langkah kaki mereka yang serempak menciptakan irama kemenangan yang menggetarkan jalanan utama kota. Rakyat berdiri di sisi jalan, bersorak-sorai melepaskan bunga-bunga sebagai tanda syukur atas perdamaian yang berhasil direbut kembali dari ambisi Kasgan dan para pemberontak. ​Di barisan depan, Han Feng dan Bai Xiang berkuda berdampingan, diikuti oleh Zhu Yu Liang yang terus berada di sisi kereta kuda Wen Mei. Sesampainya di depan gerbang istana yang megah, Kaisar sudah menunggu di atas podium tinggi, didampingi oleh para pejabat istana yang kini telah bersih dari pengaruh Cao Bing. ​"Hamba, Han Feng, Panglima Tertinggi Pasukan Longyan, melaporkan bahwa ancaman dari barat telah dipadamkan, dan para pengkhianat telah menerima pengadilannya!" Han Feng turun dari kuda dan berlutut

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 201

    Angin di dataran gersang perbatasan berdesing kencang, membawa aroma belerang dan debu sisa ledakan dari medan pertempuran yang masih membara di kejauhan. Di atas sebuah tebing batu yang menjorok tinggi, menghadap langsung ke arah perkemahan Kasgan yang kini porak-poranda, dua sosok berdiri berhadapan. Jin Peng, sang iblis yang telah kehilangan kejayaannya, tampak goyah. Jubah abu-abunya compang-camping, tercemar darah dari luka perutnya yang terus merembes. ​Di hadapannya, Bai Xiang berdiri tegak dengan rambut putih yang berkibar liar. Ia menggenggam pedang, yang berkilau dingin tertimpa cahaya matahari senja. ​"Masih saja mengejarku hingga ke ujung bumi ini, Xiang?" Jin Peng terbatuk, tawanya terdengar seperti gesekan batu nisan di tengah padang sunyi. "Kau benar-benar murid yang patuh. Bahkan setelah aku menghancurkan keluargamu, kau masih ingin memberikan penghormatan terakhir dengan membunuhku di tanah terkutuk ini?" ​Bai Xiang tidak langsung menjawab. Ia mengangkat pedangnya,

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 200

    Debu peperangan masih membubung tinggi di sisi barat medan tempur. Cao Bing, pria yang dulu berjalan di aula istana dengan dagu terangkat, kini merangkak di atas tanah yang becek oleh darah. Ia mencoba melarikan diri ke arah kuda-kuda Kasgan yang tertambat di balik gundukan pasir, wajahnya yang angkuh kini kusam oleh debu dan ketakutan yang murni.​Namun, langkah pengecut itu terhenti secara paksa. Sebuah tombak panjang dengan mata perak yang berkilat tajam menghujam bumi tepat satu inci di depan kakinya. Getarannya begitu hebat hingga membelah tanah.​"Mau lari ke mana, Pengkhianat?"​Suara itu berat dan sarat akan kebencian. Zhu Yu Liang melangkah keluar dari kabut debu yang pekat. Zirah beratnya telah kehilangan kilau emasnya, tertutup oleh lumuran darah musuh yang mulai mengering. Namun, di balik kotornya medan perang, tatapannya tetap setajam elang, dingin dan menusuk. Ia mencabut tombaknya dari tanah dengan satu sentakan kuat, memutar senjata itu dengan kemahiran yang menakutka

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 199

    Lembah perbatasan yang dulunya merupakan hamparan hijau kini telah berubah menjadi pemakaman terbuka yang menyesakkan. Di tengah hiruk-pikuk teriakan maut dan ringkikan kuda yang meregang nyawa, sebuah ruang kosong tercipta secara alami di pusat palagan. Di sana, dua kutub kekuasaan akhirnya berhadapan: Han Feng dan Azhren, berdiri di atas tumpukan zirah dan patahan tombak yang berserakan.​Han Feng mengencangkan genggaman pada hulu pedang pusakanya. Napasnya teratur, namun matanya mengunci setiap gerak-gerik lawan. Di sekeliling mereka, kavaleri Kasgan dan Pasukan Longyan masih bertumbukan layaknya ombak raksasa yang menghantam karang, namun bagi sang Jenderal, dunia seolah menyempit hanya pada mata elang Azhren yang berkilat haus darah.​"Kau datang juga, Jenderal tua!" Azhren berteriak, suaranya membelah kebisingan logam yang beradu. Ia memacu kudanya dalam jarak pendek, pedang lengkung khas barat miliknya terangkat tinggi.​"Aku datang untuk menepati janjiku, Azhren!" balas Han F

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 198

    Lembah perbatasan yang biasanya sunyi senyap, kini bergetar hebat di bawah derap ribuan kuku kuda yang menghantam bumi. Kabar mengenai invasi "Serigala-Serigala Utara", sebutan bagi pasukan Kasgan yang haus darah, telah menyebar secepat api yang melahap rumput kering. Namun, Mingyue tidak lagi terpecah. Raja-raja wilayah yang selama ini saling berselisih, kini bangkit bersatu di bawah satu panji kehormatan, membentuk aliansi perkasa: Pasukan Longyan.​Han Feng berdiri tegak di atas bukit kecil, sebuah titik strategis yang memungkinkannya memantau bentangan cakrawala. Di seberang sungai yang menjadi garis batas terakhir, hamparan tenda kulit bangsa Kasgan tampak memenuhi lembah seperti barisan sisik naga purba. Di belakang Han Feng, barisan infanteri dan kavaleri gabungan Mingyue membentang luas, nyaris tanpa ujung. Hutan tombak berkilauan tertimpa sinar matahari yang pucat, menciptakan pemandangan yang sanggup meruntuhkan nyali siapa pun yang memandangnya.​Namun, di balik sepasang ma

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status