แชร์

Ch. 108 Rencana Demi Rencana

ผู้เขียน: Selfie Hurtness
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-05 20:58:34

Amel berdiri dengan masker menutupi wajah, matanya menatap lurus ke sebuah meja yang ada disudut ruangan. Orang yang dia cari ada di sana, tengah mengobrol dengan perempuan yang kemarin dia lihat di rumah sakit, tengah mengobrol dengan sangat akrab sama seperti yang dia lihat sekarang.

Nampak mereka tengah berbicara serius, sesekali tertawa bersamaan, menikmati camilan mereka atau menyeruput kopi yang ada di atas meja.

Tubuh Amel seperti membeku, matanya memanas. Bayang air mata mulai menghal
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (4)
goodnovel comment avatar
Juli Ati
eee ya ee e ya
goodnovel comment avatar
NING
Ampunn....pasangan bucin ini. Iri aku tuh.
goodnovel comment avatar
Fitri Si'cewe Cubby
so sweet.........
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Ketika Musuh Bebuyutan Menawarkan Pernikahan   Ch. 187 Benar Positif

    Burhan terburu melangkah turun dari mobil. Langkahnya tergesa-gesa dengan snelli di tangan. Ia bahkan belum memakai jas putih kebanggaan, untuk sekarang sampai di poli adalah yang nomor satu. Untung dia tidak harus visite pasien pagi ini, masih sekitar pukul 10 nanti. Tidak ada cito, jadi ia bisa segera menemui anak gadisnya yang tiba-tiba menelepon dan mengatakan sudah menunggunya di rumah sakit. Ah! Itu mereka. Burhan makin mempercepat langkahnya, Yaksa lebih dulu menyadari kehadiran sang ayah mertua, bangkit dan menyapa Burhan dengan sangat sopan. "Syifa kenapa, Yak?" tanya Burhan dengan nada panik. Mendengar itu Syifa hanya nyengir lebar, ia merogoh tas, memamerkan 5 buah testpack yang hasilnya positif itu. Sejenak Burhan tercengang, sama responnya seperti Yaksa tadi. Namun ia segera bertindak cepat, melukiskan senyum bersamaan dengan matanya yang langsung memerah. Ia merebut testpack itu, mengamatinya satu persatu lalu menepuk bahu Yaksa dengan sorot mata bangga. "Sudah t

  • Ketika Musuh Bebuyutan Menawarkan Pernikahan   Ch. 186 Positif?

    Dua minggu kemudian .... Syifa tersentak, ia terengah sembari menoleh dan mendapati Yaksa masih begitu pulas dalam tidurnya. Sudut mata Syifa menangkap kalender meja yang ada di nakas. Sebuah lingkaran besar yang dia buat dengan spidol merah, tertuju pada hari ini. Sembari mengawasi sang suami, Syifa melangkah turun dari kasur, menghampiri pintu walk in closet mereka lalu merangsak masuk ke dalam. Sejenak, Syifa berdiri mematung di depan sebuah kabinet dekat gantungan baju. Ia terdiam cukup lama di sana, sampai kemudian dengan hati-hati, Syifa menarik salah satu laci, menatap nanar barang yang tersimpan rapi di dalamnya. Sebuah cup plastik, beberapa alat tes kehamilan dari berbagai merek, terjajar rapi di dalam sana. Dengan tangan bergetar, Syifa mengulurkan tangan, meraih satu cup dan satu alat tes kehamilan dengan bungkus kertas berwarna putih. Sembari terus bergumam dalam hati, Syifa melangkah masuk ke kamar mandi, duduk di atas kloset dengan wajah dan hati ragu luar biasa. Sy

  • Ketika Musuh Bebuyutan Menawarkan Pernikahan   Ch. 185 Menang?

    "Aku pamit, ya?"Syifa mengangguk, kembali menjatuhkan diri ke dalam pelukan Yaksa, mengabaikan Kenny yang seketika menundukkan wajah, tidak berani memperhatikan interaksi manis apa yang tersaji di depan matanya. Yaksa menunduk, menciumi puncak kepala Syifa lalu menarik sang istri dari pelukan. "Istirahat. Nanti jalan-jalan, mau?"Mata Syifa membulat, ia segera mengangguk cepat, dengan binar mata cerah dan sorot bahagia. Yaksa terkekeh, mencubit gemas hidung Syifa lalu menoleh ke arah Kenny. "Ayo." titahnya lalu melangkah keluar dari rumah. Kenny segera mengangkat wajah, berpamitan dengan sopan pada Syifa lalu memburu langkah Yaksa yang sudah hampir mencapai gerbang. "Ada tambahan agenda hari ini?" tanya Yaksa yang terpaksa menarik kembali tangannya, ketika Kenny sudah dengan sigap membuka pintu mobil untuknya. "Belum ada, Pak. Semua masih seperti jadwal yang saya kirim semalam."Kenny segera menutup pintu mobil, beringsut menghampiri sisi lain mobil dan masuk ke dalam. "Saya n

  • Ketika Musuh Bebuyutan Menawarkan Pernikahan   Ch. 184 Pengakuan Dosa Yaksa

    "Jangan kamu suruh Syifa ngurus kucing-kucingmu, Yak. Mama nggak izinin." ucap Juliana pagi-pagi sekali sudah mengomel. Yaksa yang sudah rapi dengan setelan kemeja itu hanya menarik napas panjang, berdoa dalam hati supaya nanti malam mamanya sudah tidak lagi menginap di sini. "Tentu tidak, Ma. Sudah Yaksa pikir soal itu.""Mama tahu selama mereka sehat dan bersih, aman ibu hamil berinteraksi sama mereka, cuma ini ... kucing kamu selusin lebih."Yaksa melirik sang istri. Syifa hanya mengangkat bahunya sembari tersenyum simpul. "Heran ya ... nggak bapak, nggak anak ... suka banget rumahnya macam kebun binatang." kembali Juliana mengomel, kali ini sukses membuat Suhud terbatuk-batuk. Dengan wajah pasrah, Suhud meletakkan cangkir kopi di meja, mengusap bekas kopi di bibir sembari menarik napas panjang. "Namanya juga bapak sama anak." sahutnya santai. Juliana nampak ingin kembali mengomel, namun ia urungkan Agaknya Juliana lebih memilih fokus pada sepiring nasi gorengnya ketimbang t

  • Ketika Musuh Bebuyutan Menawarkan Pernikahan   Ch. 183 Terimakasih, Tuhan

    "Mamamu ngamuk lagi, Yak?"Hal pertama yang ditanyakan Suhud ketika sampai dan bertemu dengan Yaksa adalah ini. Yaksa yang duduk di ruang tamu lantai bawah hanya terkekeh sembari mengangguk pelan. "Papa kayak nggak ngerti aja mama gimana." desis Yaksa pasrah, berharap lelaki ini bisa mengerti dirinya sebagai sesama lelaki, dan tentu saja sebagai sosok yang menjadi cikal bakal kelahirannya ke dunia ini. Suhud ikut terkekeh, menghampiri dan duduk di dekat Yaksa sembari mengulurkan tangan. Yaksa segera mencium tangan itu dengan penuh hormat, membiarkan ayahnya duduk bersamanya di ruang tamu barang sebentar. "Papa nggak bisa belain, kamu salah juga sih."Kembali Yaksa tersenyum kecut, ia tidak butuh dibela sebenarnya, hanya perlu teman mengobrol dan bicara sebagai sesama pria dan bapak."Iya emang salah, Pa. Cuma tujuannya biar surprise. Apalagi proses ini kan belum tentu ...." kalimat Yaksa terhenti, membuat Suhud mengangguk pelan sembari tersenyum simpul. "Jadi kamu pesimis sama pro

  • Ketika Musuh Bebuyutan Menawarkan Pernikahan   Ch. 182 Kejutan Berakhir Hukuman

    Amel tidak menjawab, hanya pasrah ketika Anton kembali memeluk dan mendekap erat tubuhnya. Ia masih terisak, dan Anton pun sama. Suasana menjadi hening, kecuali isak lirih mereka berdua. Tidak ada percakapan, namun jauh di dalam hati Anton, ia tahu kalau usahanya jauh-jauh sampai kemari dan kenyang dimaki-maki Adi, tidak sia-sia. Meskipun Amel tidak menjawab, namun Anton tahu semua. Anton tahu bagaimana Amel. Ia tahu bagaimana cara meluluhkan Amel sejak dulu sekali, bagaimana kemudian membuat Amel bertekuk lutut dalam kendalinya.Tapi kali ini Anton tidak ingin mengendalikan Amel hanya untuk memuaskan birahinya saja. Anton ingin menyudahi segala ambisinya, berhenti mengejar apa yang sudah terlalu jauh untuk dia gapai. Ya ... Syifa sudah sangat jauh, tak peduli mereka masih satu kota. Anton sudah tidak bisa menggapai Syifa untuk dia miliki kembali. Dan Helena ... dia bukan wanita yang ingin Anton nikahi, tak peduli dia cantik bak bonek Barbie, namun dengan isi kepala dan segala sika

  • Ketika Musuh Bebuyutan Menawarkan Pernikahan   Ch. 136 Masuk Jebakan

    Pertanyaan itu membuat wajah pak Adi mengeras, Syifa menyadari itu, ditambah kening yang refleks berkerut. Pak Adi nampak garuk-garuk kepala, ia terlihat sedang berpikir keras. "Aduh ... bapak lupa, Bu. Siapa, ya?" wajahnya menyorotkan kebingungan yang akhirnya membuat Syifa tersenyum. "Yaudah at

  • Ketika Musuh Bebuyutan Menawarkan Pernikahan   Ch. 135 Waspada

    "Terimakasih."Yaksa menyudahi sepatah-dua patah kata setelah menerima plakat penghargaan yang diserahkan langsung oleh Gunawan. Tepuk tangan terdengar riuh, Yaksa menundukkan badan di hadapan sejawat dan rekan-rekan di rumah sakit, lalu melangkah turun dari podium dan kembali ke kursinya. Semua y

  • Ketika Musuh Bebuyutan Menawarkan Pernikahan   Ch. 134 Plan B?

    "Sudah tidak ingin apa-apa lagi?"Mereka melangkah keluar, Yaksa sama sekali tidak melepaskan tangan Syifa, mereka bergandengan menuju parkiran dengan kantung belanja di tangan Yaksa yang berisi banyak roti yang sengaja ia beli untuk sang istri. "Mas harus siap-siap, kan? Udah mepet ini." ucap Syi

  • Ketika Musuh Bebuyutan Menawarkan Pernikahan   Ch. 133 The Day!!!

    Hari H. "Berangkat ke hotel jam berapa, Mas?"Sudah cukup siang, mereka berdua libur, jadi setelah sarapan mereka kembali naik ke kamar, menghabiskan libur mereka di atas kasur sembari bersenda gurau. "Mepet jam acara aja ah. Habis magrib mungkin." ucap Yaksa pelan, tentu saja, untuk apa datang k

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status