로그인Burhan terburu melangkah turun dari mobil. Langkahnya tergesa-gesa dengan snelli di tangan. Ia bahkan belum memakai jas putih kebanggaan, untuk sekarang sampai di poli adalah yang nomor satu. Untung dia tidak harus visite pasien pagi ini, masih sekitar pukul 10 nanti. Tidak ada cito, jadi ia bisa segera menemui anak gadisnya yang tiba-tiba menelepon dan mengatakan sudah menunggunya di rumah sakit. Ah! Itu mereka. Burhan makin mempercepat langkahnya, Yaksa lebih dulu menyadari kehadiran sang ayah mertua, bangkit dan menyapa Burhan dengan sangat sopan. "Syifa kenapa, Yak?" tanya Burhan dengan nada panik. Mendengar itu Syifa hanya nyengir lebar, ia merogoh tas, memamerkan 5 buah testpack yang hasilnya positif itu. Sejenak Burhan tercengang, sama responnya seperti Yaksa tadi. Namun ia segera bertindak cepat, melukiskan senyum bersamaan dengan matanya yang langsung memerah. Ia merebut testpack itu, mengamatinya satu persatu lalu menepuk bahu Yaksa dengan sorot mata bangga. "Sudah t
Dua minggu kemudian .... Syifa tersentak, ia terengah sembari menoleh dan mendapati Yaksa masih begitu pulas dalam tidurnya. Sudut mata Syifa menangkap kalender meja yang ada di nakas. Sebuah lingkaran besar yang dia buat dengan spidol merah, tertuju pada hari ini. Sembari mengawasi sang suami, Syifa melangkah turun dari kasur, menghampiri pintu walk in closet mereka lalu merangsak masuk ke dalam. Sejenak, Syifa berdiri mematung di depan sebuah kabinet dekat gantungan baju. Ia terdiam cukup lama di sana, sampai kemudian dengan hati-hati, Syifa menarik salah satu laci, menatap nanar barang yang tersimpan rapi di dalamnya. Sebuah cup plastik, beberapa alat tes kehamilan dari berbagai merek, terjajar rapi di dalam sana. Dengan tangan bergetar, Syifa mengulurkan tangan, meraih satu cup dan satu alat tes kehamilan dengan bungkus kertas berwarna putih. Sembari terus bergumam dalam hati, Syifa melangkah masuk ke kamar mandi, duduk di atas kloset dengan wajah dan hati ragu luar biasa. Sy
"Aku pamit, ya?"Syifa mengangguk, kembali menjatuhkan diri ke dalam pelukan Yaksa, mengabaikan Kenny yang seketika menundukkan wajah, tidak berani memperhatikan interaksi manis apa yang tersaji di depan matanya. Yaksa menunduk, menciumi puncak kepala Syifa lalu menarik sang istri dari pelukan. "Istirahat. Nanti jalan-jalan, mau?"Mata Syifa membulat, ia segera mengangguk cepat, dengan binar mata cerah dan sorot bahagia. Yaksa terkekeh, mencubit gemas hidung Syifa lalu menoleh ke arah Kenny. "Ayo." titahnya lalu melangkah keluar dari rumah. Kenny segera mengangkat wajah, berpamitan dengan sopan pada Syifa lalu memburu langkah Yaksa yang sudah hampir mencapai gerbang. "Ada tambahan agenda hari ini?" tanya Yaksa yang terpaksa menarik kembali tangannya, ketika Kenny sudah dengan sigap membuka pintu mobil untuknya. "Belum ada, Pak. Semua masih seperti jadwal yang saya kirim semalam."Kenny segera menutup pintu mobil, beringsut menghampiri sisi lain mobil dan masuk ke dalam. "Saya n
"Jangan kamu suruh Syifa ngurus kucing-kucingmu, Yak. Mama nggak izinin." ucap Juliana pagi-pagi sekali sudah mengomel. Yaksa yang sudah rapi dengan setelan kemeja itu hanya menarik napas panjang, berdoa dalam hati supaya nanti malam mamanya sudah tidak lagi menginap di sini. "Tentu tidak, Ma. Sudah Yaksa pikir soal itu.""Mama tahu selama mereka sehat dan bersih, aman ibu hamil berinteraksi sama mereka, cuma ini ... kucing kamu selusin lebih."Yaksa melirik sang istri. Syifa hanya mengangkat bahunya sembari tersenyum simpul. "Heran ya ... nggak bapak, nggak anak ... suka banget rumahnya macam kebun binatang." kembali Juliana mengomel, kali ini sukses membuat Suhud terbatuk-batuk. Dengan wajah pasrah, Suhud meletakkan cangkir kopi di meja, mengusap bekas kopi di bibir sembari menarik napas panjang. "Namanya juga bapak sama anak." sahutnya santai. Juliana nampak ingin kembali mengomel, namun ia urungkan Agaknya Juliana lebih memilih fokus pada sepiring nasi gorengnya ketimbang t
"Mamamu ngamuk lagi, Yak?"Hal pertama yang ditanyakan Suhud ketika sampai dan bertemu dengan Yaksa adalah ini. Yaksa yang duduk di ruang tamu lantai bawah hanya terkekeh sembari mengangguk pelan. "Papa kayak nggak ngerti aja mama gimana." desis Yaksa pasrah, berharap lelaki ini bisa mengerti dirinya sebagai sesama lelaki, dan tentu saja sebagai sosok yang menjadi cikal bakal kelahirannya ke dunia ini. Suhud ikut terkekeh, menghampiri dan duduk di dekat Yaksa sembari mengulurkan tangan. Yaksa segera mencium tangan itu dengan penuh hormat, membiarkan ayahnya duduk bersamanya di ruang tamu barang sebentar. "Papa nggak bisa belain, kamu salah juga sih."Kembali Yaksa tersenyum kecut, ia tidak butuh dibela sebenarnya, hanya perlu teman mengobrol dan bicara sebagai sesama pria dan bapak."Iya emang salah, Pa. Cuma tujuannya biar surprise. Apalagi proses ini kan belum tentu ...." kalimat Yaksa terhenti, membuat Suhud mengangguk pelan sembari tersenyum simpul. "Jadi kamu pesimis sama pro
Amel tidak menjawab, hanya pasrah ketika Anton kembali memeluk dan mendekap erat tubuhnya. Ia masih terisak, dan Anton pun sama. Suasana menjadi hening, kecuali isak lirih mereka berdua. Tidak ada percakapan, namun jauh di dalam hati Anton, ia tahu kalau usahanya jauh-jauh sampai kemari dan kenyang dimaki-maki Adi, tidak sia-sia. Meskipun Amel tidak menjawab, namun Anton tahu semua. Anton tahu bagaimana Amel. Ia tahu bagaimana cara meluluhkan Amel sejak dulu sekali, bagaimana kemudian membuat Amel bertekuk lutut dalam kendalinya.Tapi kali ini Anton tidak ingin mengendalikan Amel hanya untuk memuaskan birahinya saja. Anton ingin menyudahi segala ambisinya, berhenti mengejar apa yang sudah terlalu jauh untuk dia gapai. Ya ... Syifa sudah sangat jauh, tak peduli mereka masih satu kota. Anton sudah tidak bisa menggapai Syifa untuk dia miliki kembali. Dan Helena ... dia bukan wanita yang ingin Anton nikahi, tak peduli dia cantik bak bonek Barbie, namun dengan isi kepala dan segala sika
Bukan hanya Anton, semua yang ada di sana terkejut bukan main. Sebagai satu almamater, semua mengenal Yaksa. Senior yang terkenal akan prestasi dan wajah tampan dengan tubuh tinggi favorit banyak siswi. Dan apa yang keluar dari mulut Yaksa barusan benar-benar membuat semua terkejut luar biasa. Ya
“Dokter tentu tahu alasannya apa, kan?”Yaksa belum sempat menjawab ketika suara langkah kaki dan obrolan itu membuat tidak hanya Yaksa, Afi pun menoleh ke arah sumber suara. Syifa nampak masih mengobrol dengan perempuan dengan tas kucing dalam pelukan sampai kemudian perempuan itu menghampiri meja
"Kalau lebih dari empat, bagaimana?"Tawa Syifa pecah, ia mencubit gemas hidung mancung Yaksa, membuat Yaksa ikut tertawa lalu membenamkan wajahnya di dada Syifa. Syifa tertegun, sejenak tersenyum lalu mengusap-usap kepala Yaksa lembut dan penuh kasih sayang."Ternyata ... rasanya senyaman ini." de
Mata Yaksa membulat mendapati jawaban yang dia dapatkan dari sang istri, sebuah foto yang membuat Yaksa segera menelepon istrinya untuk konfirmasi. "Ya, Mas?" suara itu begitu manis, membuat Yaksa rasanya ingin terbang kesana untuk sekedar melihat wajah istrinya. "Kamu makan siang harus sampai sa







