เข้าสู่ระบบ"Mama!"Teriakan penuh antusias itu membuat Syifa tersenyum sekaligus menitikkan air mata. Nampak Sena dalam gendongan Juliana, menantinya keluar dari kamar operasi. Syifa benar-benar tidak mampu melihat buah hatinya yang per hari ini genap berusia satu tahun itu. Ia merasa menjadi seorang ibu yang jahat, yang sudah harus membagi perhatian dan kasih sayangnya untuk adik Sena yang baru saja lahir. Namun ini benar-benar bukan kemauan Syifa! Hadirnya Kaleindra Bestari Suteja, laksana mukjizat bagi Syifa maupun Yaksa.Tanpa direncana, diduga ... Kaleindra hadir seolah mendobrak semua vonis yang dokter beri untuk mereka. "Mama."Kembali suara itu memanggil, membuat Syifa memberi kode pada mama mertuanya agar menurunkan Sena dan membiarkan bocah itu memeluk manja Syifa yang bahkan masih sedikit berkunang-kunang efek anestesi. "Kenapa?" tanya Syifa yang melihat Sena nampak memperhatikan dia dengan saksama. Bocah itu seperti ini bertanya, namun mungkin bingung harus bagaimana menyuarakan
Tangan Syifa bergetar, ia sudah didorong masuk ke dalam OK, terbaring di meja operasi dengan segala macam selang infus dan oksigen yang menancap di tubuh. Syifa sudah beres di anestesi, sudah dipasang segala alat penunjang untuk proses tindakan di lakukan.Semua nampak sibuk, baik ayahnya maupun para operator, masih nampak bersiap dengan gown dan handscoon yang sudah terpasang di tangan."Hei." Panggilan itu begitu lirih dan usapan lembut di dahi segera menyapa Syifa.Laki-laki dengan masker dan nurse cap itu adalah Yaksa. Syifa bisa mengenali suaminya tidak hanya dari suara, tapi juga aroma tubuh, sentuhan dan tentu saja sorot matanya."Takut?" Syifa menganguk pelan, membuat Yaksa menempelkan kepalanya di dahi Syifa sembari memeluk Syifa dengan lembut,"Aku di sini, tidak akan kemana-mana sama seperti setahun yang lalu."Ah!Setahun yang lalu bahkan rasanya lebih nyaman dari hari ini. Ruangan itu begitu dingin sampai merasuk ke dalam tulang. Bukan hal yang aneh sebenarnya karena ket
Anton menatap nanar kartu nama yang berada dalam genggaman tangannya. Sebuah tempat yang ia pernah dengar dan baca di sosial media.Secara garis besar, sebagai dokter yang pernah koas di stase penyakit jiwa, psikiaternya sendiri bahkan sudah hampir menyerah. Sampai memberinya terapi di luar jalur medis seperti ini.Anton tersenyum kecut, tidak ada salahnya mencoba daripada dia harus menginap di rumah sakit jiwa dan terpisah dengan anak gadisnya.Tangan Anton beralih, ia meraih ponsel, ingin menghubungi ayahnya dan meminta bantuan untuk pergi ke Bali beberapa saat tanpa harus membuat Amel curiga. Tapi apakah ini tepat? Itu artinya ia harus menceritakan pengobatan yang selama ini diam-diam ia lakoni?"Papa harus tahu." Bisik Anton mengikuti sisi lain dirinya.Ia harus berterus terang dan mendapat dukungan, meskipun hanya dari satu orang. Tangan Anton akhirnya menekan nomor itu, kembali meraih kartu nama dan menatap segala tulisan yang menempel di sana.Meskipun ragu, Anton sudah putuska
"Setelah ini ingatkan aku untuk memasukkan kondom ke dalam daftar groceries kita."Napas mereka terengah, momen panas mereka sudah usai. Yaksa terkekeh, berbaring di samping sang istri yang masih polos tanpa busana itu. Ya ... Bukan hanya Syifa, ia pun sama, masih polos tanpa sehelai kain menempel di tubuh."Kamu takut?"Mata Syifa yang hampir terpejam, kini membelalak, menoleh ke arah Yaksa dan segera mengomel ketika pertanyaan dengan nada menyebalkan itu menyapa telinganya."Pikirmu bagaimana?" Salak Syifa galak, "Kamu mau aku hamil lagi tiga atau empat bulan setelah lahiran nanti?"Yaksa tertawa lirih, masih cukup tenang dan santai. "Apakah aku senormal itu sekarang?"Bayangan selembar kertas berisi vonis azoospermia itu kembali muncul di kepala Syifa, mungkin bukan hanya di kepalanya, tetapi juga dikepala Yaksa. Mau apapun hasil tes, mau sampai berapa kali sample sperma Yaksa diambil untuk kemudian ditemukan sperma hidup yang lantas menjadi cikal-bakal Sena lahir kemarin, Syifa t
"Pesta ulangtahun Sena batal berarti?"Yaksa menarik napas panjang, menoleh ke arah Syifa yang tengah berbaring sembari memeluk Sena yang nampak pulas tertidur. Pemandangan ini adalah sebuah pemandangan mahal bagi Yaksa, bagaimana cinta yang tidak pernah mati dari hatinya sejak dulu sekali, kini berhasil ia miliki, bahkan sampai memberinya dua anak.Perlahan Yaksa melangkah mendekati ranjang, duduk di tepian sembari mengusap lembut kaki Syifa yang nampak sedikit membengkak. Bukan bengkak yang parah karena indikasi tertentu, lebih ke penambahan berat badan yang cukup signifikan."Siapa bilang batal?"Kalimat itu membuat Syifa menoleh, ia menatap Yaksa dengan saksama. Raut wajah suaminya itu berubah serius, namun seperti biasa, sorot mata Yaksa lembut dan begitu hangat."Begitu mama dan adiknya keluar dari kamar operasi, kita rayakan ulangtahun dia, sekaligus menyambut adiknya."Syifa tersenyum, dengan sedikit susah payah ia bangkit, duduk berhadapan dengan sang suami."Kita jahat ngga
"Aman, Yah?"Tentu Syifa melihat ekspresi wajah Burhan yang seketika berubah setelah layar monitor menampakkan kondisi janin dalam rahimnya. Syifa bukan lulusan kedokteran umum, ia tidak terlalu paham membaca USG pada manusia, beda pada kucing, anjing dan hewan lain.Sementara Yaksa, ia termangu menatap layar yang menempel di tembok, menyipitkan mata seolah hendak memahami informasi apa yang terangkum jelas di sana."Aman, Fa. Cuma ...."Kalimat menggantung dan nada suara itu membuat Syifa menengang, ia menoleh ke arah Yaksa, melihat wajah Yaksa yang sama menegangnya, hati Syifa jadi tidak karu-karuan. Ada apa dengan janinnya? Bukankah bulan-bulan sebelumnya semua pemeriksaan baik dan tidak ada indikasi khusus?"Yah ... Kenapa sih? Jangan bikin aku takut!" Renggek Syifa hampir menangis.Burhan menarik napas panjang, melirik Yaksa yang rupanya sudah memalingkan pandangan dari layar di tembok. Syifa melihat dua laki-laki yang begitu ia cintai itu saling melemparkan pandangan dalam diam,
Range Rover yang dikendarai Yaksa berhenti di sebuah gerbang tinggi menjulang, dengan pagar berhiaskan batu alam. Begitu klakson Yaksa tekan, gerbang tinggi itu segera terbuka, tampaklah bangunan besar yang berkonsep menyatu dengan alam yang ada di balik gerbang itu. Suasana begitu asri, sejauh ma
"Saya yang akan simpan surat ini."Syifa menatap Yaksa yang baru saja mengambil kertas di tangannya, sebuah sertifikat resmi dari negara yang menyatakan keduanya kini sudah sah dan resmi menjadi sepasang suami istri. Ia tidak membantah, hanya mengangguk dan menatap ke luar jendela.Keduanya berada
"Kamu gila?!"Syifa memekik, tangannya mendorong Yaksa dengan kasar. Lelaki itu tertawa lirih, melipat dua tangan di dada sembari menatap Syifa lekat-lekat. "Saya hanya berusaha memberi penawaran, Dokter." ucapnya dengan sangat santai. "Mau mengganti 3.5 milyar atau setuju menikah dengan saya, sem
“Kamu yang ambil tindakan?” Suara itu kembali berkata tajam. Syifa tersentak sejenak, sebelum kemudian mengangguk. “Saya dokter sekaligus pemilik klinik,” balas Syifa. Ia sedikit mendongak, berusaha menyamakan pandangan dengan si pria dingin di depannya.Sambil berharap matanya tidak kelihatan mer







