Share

Ch. 110 Rencana Demi Rencana

last update publish date: 2026-05-06 22:51:57

Suara penyatuan itu makin terdengar menggila. Berpadu dengan desahan yang bersahut-sahutan dari keduanya. Amel mencengkeram kuat lengan Anton, hingga kemudian mereka meledak bersamaan, ditandai pekikan keras dan penuhnya rahim Amel dengan cairan hangat yang menyembur dari diri Anton.

Anton terengah, segera mencabut miliknya yang membuat cairan putih itu turut meleleh keluar. Wajah mereka memerah dengan keringat yang membanjiri tubuh. Rasanya semua beban Anton seperti ikut menguap, tubuhnya ter
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
virna putri
kepedean si anton.. ga tau aja klo amel dah back-up semua foto&video.. silakan kalian saling susun rcna..saling tusuk..yg jelas yaksa syifa bahagia..
goodnovel comment avatar
Yosila Ariesty
yakin banget anton bakal miliki syifaa lagi kwkwwkwkw
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ketika Musuh Bebuyutan Menawarkan Pernikahan   Ch. 185 Menang?

    "Aku pamit, ya?"Syifa mengangguk, kembali menjatuhkan diri ke dalam pelukan Yaksa, mengabaikan Kenny yang seketika menundukkan wajah, tidak berani memperhatikan interaksi manis apa yang tersaji di depan matanya. Yaksa menunduk, menciumi puncak kepala Syifa lalu menarik sang istri dari pelukan. "Istirahat. Nanti jalan-jalan, mau?"Mata Syifa membulat, ia segera mengangguk cepat, dengan binar mata cerah dan sorot bahagia. Yaksa terkekeh, mencubit gemas hidung Syifa lalu menoleh ke arah Kenny. "Ayo." titahnya lalu melangkah keluar dari rumah. Kenny segera mengangkat wajah, berpamitan dengan sopan pada Syifa lalu memburu langkah Yaksa yang sudah hampir mencapai gerbang. "Ada tambahan agenda hari ini?" tanya Yaksa yang terpaksa menarik kembali tangannya, ketika Kenny sudah dengan sigap membuka pintu mobil untuknya. "Belum ada, Pak. Semua masih seperti jadwal yang saya kirim semalam."Kenny segera menutup pintu mobil, beringsut menghampiri sisi lain mobil dan masuk ke dalam. "Saya n

  • Ketika Musuh Bebuyutan Menawarkan Pernikahan   Ch. 184 Pengakuan Dosa Yaksa

    "Jangan kamu suruh Syifa ngurus kucing-kucingmu, Yak. Mama nggak izinin." ucap Juliana pagi-pagi sekali sudah mengomel. Yaksa yang sudah rapi dengan setelan kemeja itu hanya menarik napas panjang, berdoa dalam hati supaya nanti malam mamanya sudah tidak lagi menginap di sini. "Tentu tidak, Ma. Sudah Yaksa pikir soal itu.""Mama tahu selama mereka sehat dan bersih, aman ibu hamil berinteraksi sama mereka, cuma ini ... kucing kamu selusin lebih."Yaksa melirik sang istri. Syifa hanya mengangkat bahunya sembari tersenyum simpul. "Heran ya ... nggak bapak, nggak anak ... suka banget rumahnya macam kebun binatang." kembali Juliana mengomel, kali ini sukses membuat Suhud terbatuk-batuk. Dengan wajah pasrah, Suhud meletakkan cangkir kopi di meja, mengusap bekas kopi di bibir sembari menarik napas panjang. "Namanya juga bapak sama anak." sahutnya santai. Juliana nampak ingin kembali mengomel, namun ia urungkan Agaknya Juliana lebih memilih fokus pada sepiring nasi gorengnya ketimbang t

  • Ketika Musuh Bebuyutan Menawarkan Pernikahan   Ch. 183 Terimakasih, Tuhan

    "Mamamu ngamuk lagi, Yak?"Hal pertama yang ditanyakan Suhud ketika sampai dan bertemu dengan Yaksa adalah ini. Yaksa yang duduk di ruang tamu lantai bawah hanya terkekeh sembari mengangguk pelan. "Papa kayak nggak ngerti aja mama gimana." desis Yaksa pasrah, berharap lelaki ini bisa mengerti dirinya sebagai sesama lelaki, dan tentu saja sebagai sosok yang menjadi cikal bakal kelahirannya ke dunia ini. Suhud ikut terkekeh, menghampiri dan duduk di dekat Yaksa sembari mengulurkan tangan. Yaksa segera mencium tangan itu dengan penuh hormat, membiarkan ayahnya duduk bersamanya di ruang tamu barang sebentar. "Papa nggak bisa belain, kamu salah juga sih."Kembali Yaksa tersenyum kecut, ia tidak butuh dibela sebenarnya, hanya perlu teman mengobrol dan bicara sebagai sesama pria dan bapak."Iya emang salah, Pa. Cuma tujuannya biar surprise. Apalagi proses ini kan belum tentu ...." kalimat Yaksa terhenti, membuat Suhud mengangguk pelan sembari tersenyum simpul. "Jadi kamu pesimis sama pro

  • Ketika Musuh Bebuyutan Menawarkan Pernikahan   Ch. 182 Kejutan Berakhir Hukuman

    Amel tidak menjawab, hanya pasrah ketika Anton kembali memeluk dan mendekap erat tubuhnya. Ia masih terisak, dan Anton pun sama. Suasana menjadi hening, kecuali isak lirih mereka berdua. Tidak ada percakapan, namun jauh di dalam hati Anton, ia tahu kalau usahanya jauh-jauh sampai kemari dan kenyang dimaki-maki Adi, tidak sia-sia. Meskipun Amel tidak menjawab, namun Anton tahu semua. Anton tahu bagaimana Amel. Ia tahu bagaimana cara meluluhkan Amel sejak dulu sekali, bagaimana kemudian membuat Amel bertekuk lutut dalam kendalinya.Tapi kali ini Anton tidak ingin mengendalikan Amel hanya untuk memuaskan birahinya saja. Anton ingin menyudahi segala ambisinya, berhenti mengejar apa yang sudah terlalu jauh untuk dia gapai. Ya ... Syifa sudah sangat jauh, tak peduli mereka masih satu kota. Anton sudah tidak bisa menggapai Syifa untuk dia miliki kembali. Dan Helena ... dia bukan wanita yang ingin Anton nikahi, tak peduli dia cantik bak bonek Barbie, namun dengan isi kepala dan segala sika

  • Ketika Musuh Bebuyutan Menawarkan Pernikahan   Ch. 181 Akhir Bahagia?

    "Nggak ada yang dirasakan, kan?"Akhirnya Juliana lebih memilih ikut duduk di teras depan, di dekat kolam yang begitu tenang dengan pohon dan suara gemericik air. Ia tidak jadi naik ke lantai atas, duduk bersama Syifa dengan secangkir teh hangat dan cake yang dia bawa untuk Syifa sepulang praktek tadi. "Rasanya campur aduk, Ma." ucap Syifa jujur. "Seneng tapi cemas juga."Juliana meletakkan cangkirnya, ia menatap lurus ke depan. "Jangan terlalu capek dan banyak pikiran dulu, Fa. Udah dikasih tahu harus avoid apa aja, kan?"Dengan cepat Syifa mengangguk, mulutnya penuh dengan cake cokelat, membuatnya harus mengosongkan dulu mulutnya sebelum menjawab. "Udah dengan detail dirincikan sama dokter Inggit, Ma.""Yaksa juga denger?""Tentu." jawab Syifa cepat. "Baguslah, jadi mama nggak perlu cerewet nasehatin dia."Syifa terkekeh, kembali asyik dengan cake cokelat di tangan. "Berapa embrio yang ditanam, Fa?"Syifa tersentak, memilih untuk menjeda cakenya karena percakapan ini akan sanga

  • Ketika Musuh Bebuyutan Menawarkan Pernikahan   Ch. 180 Doa Ibu

    "Sudah ... jangan dimarahi lagi Yaksa-nya." pesan Winarno ketika mengantarkan Juliana ke depan. Mendengar itu, Juliana mencebik, ia melirik gemas ke arah ayahnya itu."Gimana nggak dimarahin? Anak itu sejak bisa cari duit sendiri jadi begitu." gerutu Juliana gemas namun jujur bangga dengan segala pencapaian Yaksa, "Merasa udah mampu jadi nggak butuh orang tuanya lagi?"Winarno terkekeh, ia tahu anaknya sedang kesal. "Bukan begitu, dia mungkin tidak mau merepotkan kalian." kilah Winarno yang terlihat sekali membela Yaksa. Mata Juliana melotot, ia berbalik, menatap ayahnya dengan tatapan tidak senang. "Tidak mau merepotkan?" pekik Juliana habis kesabaran. "Pah ... dia ujug-ujug pulang bawa istri, nikah sama sekali nggak ada omongannya sama orang tua, apa itu namanya tidak mau merepotkan?" kesabaran Juliana benar-benar habis. "Untung yang dia bawa potensial, anak profesor, ibunya dokter spesialis. Coba kalau bukan?" Juliana meledak-ledak. "Bisa dibayangkan nanti keturunan Papa bagai

  • Ketika Musuh Bebuyutan Menawarkan Pernikahan   Ch. 168 MESA

    "Hai."Syifa tertegun, tersenyum ketika Yaksa muncul dengan map di tangan. Senyum Yaksa begitu lebar, melangkah masuk menghampiri sang istri yang tengah membersihkan tangan. Tanpa basa-basi, Yaksa menjatuhkan kecupan di puncak kepala Syifa, memeluk tubuh itu erat-erat lalu kembali menciumi wajah i

  • Ketika Musuh Bebuyutan Menawarkan Pernikahan   Ch. 167 Pamitan

    Sepeninggal Afi, Syifa mematung di kursinya. Mata Syifa masih memerah basah oleh air mata. Ia menatap lurus ke depan, mood baiknya tadi pagi anjlok. Ditambah bayangan dalam mimpinya terus mengusik. Mama. Panggilan itu begitu manis, lengkap dengan gestur manja dan pelukan tangan menggemaskan itu.

  • Ketika Musuh Bebuyutan Menawarkan Pernikahan   Ch. 165 Akhir Dari Semua

    "Aku udah buat keputusan, aku nggak bakalan ganggu hidup Abang lagi jadi tolong ... aku minta kerja samanya."Ucapan itu begitu lirih, datar dan lugas. Sebuah kalimat yang mampu menghantam hati Anton dengan sangat keras. Tangan yang awalnya mencengkeram kuat tubuh Amel, seperti melunak. Amel seger

  • Ketika Musuh Bebuyutan Menawarkan Pernikahan   Ch. 164 Sehancur Ini

    "Baru pulang kamu?"Anton mengangkat wajah, Gunawan sudah berdiri dengan sorot marah dan wajah mengeras. Ia menarik napas panjang, segera jatuh bersimpuh ketika Gunawan melangkah mendekat. Tangis Anton pecah, ia menundukkan wajahnya dalam-dalam. "Masalah kamu belum selesai, Anton!" pekik Gunawan m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status