LOGIN"Kamu gila?!"
Syifa memekik, tangannya mendorong Yaksa dengan kasar. Lelaki itu tertawa lirih, melipat dua tangan di dada sembari menatap Syifa lekat-lekat.
"Saya hanya berusaha memberi penawaran, Dokter." ucapnya dengan sangat santai. "Mau mengganti 3.5 milyar atau setuju menikah dengan saya, semua keputusan ada di tangan Dokter."
Mata Syifa melotot tajam. “Tuan Yaksa yang terhormat menginginkan calon istri orang?” ejek Syifa penuh cemooh. “Andai kata saya nggak punya calon suami pun, saya nggak akan sudi menikah dengan Anda!”
“Jangan terburu-buru, Fa,” ucap Yaksa. Pria itu tidak tampak tersinggung. Sikapnya masih santai seperti sebelumnya.
“Saya akan bayar kompensasi,” ucap Syifa dengan nada final. “Sekarang, permisi. Saya ada janji lain.”
“Mau ke kantor catatan sipil?” balas Yaksa. “Tapi, calon suamimu sendiri tidak akan ada di sana, Syifa. Pria itu sedang ada di rumah sakit.”
Tubuh Syifa membeku. Apakah terjadi sesuatu dengan Anton, calon suaminya?
Perempuan itu buru-buru meraih ponsel dan mengeceknya. Ada banyak panggilan tak terjawab dari tunangannya tersebut, membuat tangan Syifa gemetar. Ditekannya opsi ‘panggil’ di nomor Anton tanpa memedulikan keberadaan Yaksa di ruangan.
“Halo, Fa? Kamu kenapa dari tadi nggak angkat teleponku?”
Suara Anton terdengar baik-baik saja, membuat Syifa menghela napas pelan. “Kamu kenapa telepon, Ton? Di mana kamu sekarang–”
“Aku sudah infokan ke kantor urusan sipil kalau kita nggak jadi menikah hari ini.”
“Gimana?” Pikiran Syifa mendadak kosong mendengar informasi dadakan itu dari Anton, calon suaminya. “Kenapa? Kamu lagi di rumah sakit? Kecelakaan?”
“Iya. Aku di rumah sakit,” ucap Anton lagi. “Penyakit Amel kambuh, sesak napas. Aku harus temani.”
“Amel?” Syifa mengernyit mendengar nama adik tiri Anton tersebut. “Terus kenapa kamu di sana?”
“Jelas aku di sini dong, Fa. Mau di mana lagi?” balas Anton terdengar kesal. “Amel butuh aku. Jadi pernikahan kita diundur dulu. Toh cuma nikah di kantor, nggak ada perayaan apa-apa.”
Syifa tertegun. Sepagian ini, terlepas dari insiden ikan mahal yang tewas dan kemunculan musuhnya, suasana hati Syifa terbilang baik, berpikir bahwa akhirnya ia bisa melepas status lajangnya hari ini meskipun hanya dengan pernikahan sederhana. Tanggal ini pun dipilih dengan pertimbangan khusus, merupakan hari jadi mereka sepuluh tahun yang lalu.
Tapi … tiba-tiba saja batal?
“Nggak bisa gitu dong, Ton. Semua surat sudah masuk. Kita sudah umumkan juga ke keluarga dan saudara kalau hari ini kita menikah,” kata Syifa, menahan getar dalam suaranya. “Dan lagi … kamu nggak ingat kenapa kita pilih tanggal ini? Apa kamu nggak bisa titip Amel ke dokter dan perawat dulu? Atau … orang tuamu bagaimana?”
“Hati kamu di mana, Fa? Kamu minta aku ninggalin Amel yang lagi sakit?” Suara Anton meninggi. “Kamu maunya kita senang-senang, sementara adik aku di rumah sakit?”
“Bukan begitu–”
“Sudahlah, Fa. Kalau memang kamu mau menikah hari ini, ya nikah saja sana! Tapi bukan sama aku,” tandas Anton. “Aku nggak mau istri nggak punya hati kayak kamu.”
“Ton–”
Tut. Sambungan telepon terputus.
Syifa menggenggam ponsel di tangannya kuat-kuat, hingga buku-buku jarinya memutih.
Sebenarnya, ini bukan pertama kali Anton, calon suaminya itu, mengomelinya. Dan sebabnya entah kenapa selalu sama; Amelia, adik tirinya. Anton selalu mementingkan perempuan itu, menjaganya setengah mati meski seringnya harus mengorbankan Syifa.
Pernah satu waktu, di ulang tahun hari jadi mereka yang kelima, Syifa diturunkan di tengah jalan dan diminta menyetop taksi untuk pulang karena Anton baru saja mendapatkan kabar Amel demam. Dan itu di tengah hujan deras.
Tanpa sadar, air mata Syifa mengalir. Kenapa ia baru menyadari betapa bodohnya dia?
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba saja seseorang menarik Syifa untuk duduk di kursi. Saat mendongak, Syifa mendapati Yaksa sedang menatapnya dengan ekspresi wajah yang tidak terbaca. Bukan penuh cemooh atau sinis seperti sebelumnya.
Sebuah tawa getir lolos dari bibir Syifa. Bisa-bisanya ia membiarkan pria sialan ini melihat kejatuhannya.
“Kamu–”
“Tuan Adhyaksa yang terhormat, kenapa ingin menikahi saya?” kata Syifa tiba-tiba. “Nggak laku?”
Yaksa berdecak. “Begitu pikirmu?” balasnya.
“Iya.” Syifa menangguk. Ia menegakkan punggungnya, mencoba menampilkan kepercayaan diri meski egonya sudah diinjak-injak. “Kalau memang mau menikahi saya, saya terima. Tapi itu berarti Anda harus melepaskan uang tiga koma lima miliar itu.”
Ucapan Syifa membuat Yaksa tertawa. Jernih dan dalam.
“Uang bukan masalah untuk saya, Dokter Syifa.”
Pria sialan!
"Nyah ... Nyonyah."Panggilan itu terus berdegung di telinga Syifa, perlahan ia mulai mengerjapkan mata, membuka mata perlahan dan mendapati sosok paruh baya itu tersenyum ke arahnya. Dia bi Ndari, asisten rumah tangga yang bekerja di rumah ini. Perlahan Syifa bangkit, matanya masih lengket, namun ia paksakan terbuka. Hal yang kemudian ia perhatikan adalah sisi lain kasur yang kosong. Rupanya Yaksa benar-benar tidak kembali ke kamar semalam. Lalu tidur di mana dia? Ah! Apa pedulinya Syifa? "Sudah pagi, Nyah. Bibi udah masak buat sarapan. Nyonyah mandi dulu biar seger."Syifa tersenyum, telinganya sedikit geli dengan panggilan itu. "Panggilnya jangan begitu bisa, Bi? Kok geli aja dengarnya." mohon Syifa sembari tersenyum kecut. "Lah bapak yang minta, Nyah. Nggak berani bibi."Ah! Syifa menarik napas panjang, mencoba nego untuk masalah sepele namun menggelikan ini. "Panggil mbak aja deh, Bi. Jangan nyonya."Nampak perempuan itu berpikir keras, sedetik kemudian ia mengangguk patuh
Syifa membeku, pertanyaan itu membuatnya makin tidak berkutik. Yaksa masih menatapnya, dengan seulas senyum sinis yang mengembang di wajah. Ketika wajah itu kembali mendekat, sekuat tenaga Syifa memberontak. Ia melepaskan tangannya dari cengkeraman Yaksa, bangun hingga dahi mereka saling bertubrukan lalu mendorong tubuh itu dengan kasar. "Kamu mau coba-coba, ya!" teriak Syifa dengan penuh amarah, jantungnya berdegup kencang. Yaksa mendengus, balas menatap mata Syifa tanpa takut. "Saya? Saya hanya mencoba menjawab pertanyaan yang kamu terus lempar ke saya."Bagaimana wajah dan suara itu yang nampak begitu santai tanpa menyiratkan rasa bersalah, Syifa makin murka. Ia segera turun dari ranjang, meraih bantal dan ponsel miliknya lalu melangkah pergi keluar. "Fa, kamu mau kemana?" teriak Yaksa sedikit keras, lelaki itu ikut turun mengejar langkah Syifa yang sudah sampai pintu. Brak! Yaksa menahan pintu yang hendak Syifa buka dengan kaki. Sorot matanya berubah tajam dan dingin. Namu
"Ngobrol apa tadi sama mama?"Syifa yang tengah duduk di depan meja rias sembari membersihkan muka, hanya melirik Yaksa sekilas. Rambut lelaki nampak masih setengah basah, bau segar menguar dari sosok itu, hampir mengalihkan fokus Syifa dari perintilan ritual malamnya. "Banyak." jawab Syifa sembari mengusap krim malam ke kulit wajah. "Aku baru tahu kamu nolak nikah, sampai mama harus maksa-maksa karena masih terbayang cinta pertama kamu di SMA."Sudut mata Syifa mendapati wajah itu berubah, tangan yang tadinya hendak meraih pakaian dari dalam lemari, melayang di udara beberapa saat. Hanya sekilas Yaksa nampak mematung dan membeku, setelahnya ia memakai kaos polos yang dia pilih lalu membawa handuknya kembali ke kamar mandi. Tidak ada jawaban maupun tanggapan, membuat Syifa terkekeh. Ia merasa menang melawan Yaksa, terbukti lelaki itu membisu, tidak berani bersuara untuk sekedar menyanggah atau klarifikasi. Saat Yaksa keluar dari kamar mandi, keisengan Syifa tiba-tiba muncul. Ingin
"Harus banget sekarang?"Syifa sudah siap, wajahnya sudah tersalut makeup tipis, sementara Yaksa, lelaki itu sudah cukup rapi dengan kemeja dan celana bahan. "Kamu mau saya di hapus dari daftar calon waris?"Bukan jawaban yang Syifa terima, malah pertanyaan yang dilemparkan balik oleh Yaksa. Matanya menatap Syifa cukup tajam, membuat Syifa mencebik dan memilih untuk melangkah lebih dulu keluar dari kamar. Melihat itu, Yaksa hanya menghela napas panjang. Menyusul langkah Syifa dan menutup pintu kamar lebih dulu. Hak sepatu Syifa berdeting, memecah kesunyian rumah yang biasa memeluk Yaksa, sontak lenyap seketika. Yaksa tidak coba mengejar langkah itu, ia memilih tetap berada di belakang langkah Syifa, menunggu sampai kemudian ia berhenti di depan pintu rumah, nampak tengah menunggu langkah Yaksa sampai. "Ada apa?" tanya Yaksa santai. Mata Syifa melotot, "Ada apa?" nampak wajahnya menunjukkan kekesalan yang teramat sangat. "Pikirmu nanti aku harus jawab apa kalau mereka tanya?"Tawa
Syifa terkesiap ketika Range Rover yang dikendarai Yaksa berhenti di sebuah gerbang tinggi menjulang dengan pagar berhiaskan batu alam. Begitu klakson Yaksa tekan, gerbang tinggi itu segera terbuka, nampak lah bangunan besar yang berkonsep menyatu dengan alam yang ada di balik gerbang itu. Suasana begitu asri, sejauh mata Syifa memandang, halaman rumah yang luas itu cukup hijau dengan rumput dan tanaman yang sengaja di tanam yang dirawat dengan begitu telaten. Gemericik suara air dari kolam besar yang ada disudut taman seketika membuat Syifa tersenyum begitu ia menurunkan kaca mobil. Hawa segar langsung menyapa Syifa, seolah memberi ucapan selamat datang padanya yang hari ini resmi menyandang gelar ratu di rumah ini. "Turunlah, biar saya yang bawa koper kamu!" Ucap Yaksa sembari mematikan mesin mobil. Syifa tidak mengatakan sepatah kata apapun, termasuk ucapan terimakasih atas kemurahan hati Yaksa yang hendak membawakan kopernya, ia langsung turun, langkahnya menghampiri kolam yang
"Saya yang akan simpan surat ini!"Yaksa yang baru saja masuk ke dalam mobil, seketika meraih selembar kertas yang ada di tangan Syifa, kertas yang merupakan sertifikat resmi dari negara yang menyatakan mereka kini sudah sah dan resmi menjadi sepasang suami-istri. Syifa tidak membantah, ia membiarkan saja Yaksa mengambil sertifikat itu dari tangannya. Baginya pernikahan ini bukanlah sebuah hal yang penting. Hatinya sudah terlanjur mati, ia kecewa dan sakit hati. Tujuh tahun waktu yang ia punya, semua sia-sia dan tidak berarti apa-apa. Jika dulu Syifa denial dan merasa bahwa ia hanya cemburu tak beralasan pada Amel, kini Syifa sadar bahwa selama ini, hatinya benar."Kita pulang ke rumah." Kalimat itu keluar bersamaan dengan melajunya mobil dari depan kantor pencatatan sipil. Syifa menoleh, nampak sangat terkejut namun hanya beberapa saat, ia kembali bersandar lemas di jok. Sama sekali tidak antusias dengan perubahan penting dalam hidupnya yang baru saja terjadi."Bisa antar ke rumah







