Share

Ch. 2 Penawaran Gila!

last update publish date: 2026-03-17 10:18:40

“Kamu yang ambil tindakan?” Suara itu kembali berkata tajam. 

Syifa tersentak sejenak, sebelum kemudian mengangguk. “Saya dokter sekaligus pemilik klinik,” balas Syifa. Ia sedikit mendongak, berusaha menyamakan pandangan dengan si pria dingin di depannya.

Sambil berharap matanya tidak kelihatan merah karena ia sempat menangis sedikit tadi setelah mendengar nominal tiga miliar.  

Pria itu, Adhyaksa, tersenyum sinis. Ia menarik kursi, duduk di dekat ember yang menampung ikannya. 

"Jadi, apa yang bisa Dokter Syifa jelaskan mengenai kematian ikan saya?" tantang Yaksa sembari melipat dua tangan di dada. 

Syifa menarik napas panjang, berusaha untuk tidak terintimidasi oleh pria ini.

“Saat datang, kondisi ikan Anda sudah cukup buruk,” jelas Syifa dengan tegas, tapi terdengar cukup simpati. “Saya menduga ikan Anda sebelumnya keracunan. Meski begitu,  saya perlu melakukan sesuai prosedur yang diperlukan, karenanya saya mengambil sampel dan memeriksa–”

“Dengan kata lain,” potong Yaksa dingin. “Kamu terlambat menangani ikan saya.”

“Seperti yang sudah saya jelaskan–”

"Dokter tahu berapa harga ikan itu?"

Ini yang Syifa takutkan! 

Berusaha menyembunyikan getar dalam suaranya, Syifa menjawab, “Tiga … miliar?”

"Tiga koma lima miliar, Dokter Syifa,” koreksi Yaksa. Pria itu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, menatap Syifa, menunjukkan dominasinya. "Dan ikan saya mati di klinik ini."

Syifa mengangkat wajahnya, ia menatap nanar lelaki di hadapan.  "Tapi ... demi Tuhan, ikan itu sudah dalam kondisi yang benar-benar buruk ketika sampai…" Ia menyodorkan hasil tes lab yang keluar. “Ini buktinya, Anda bisa baca.”

“Tujuan saya bawa kemari ya biar dia sembuh.”

“Tuan, tolong jangan begini. Kami sudah bertindak sesuai prosedur seperti yang sudah seharusnya.” Syifa mulai kehilangan kesabaran. “Tentu sebagai sesama dokter, Anda memahami dan tahu betul berapa tingkat kemungkinan kesembuhan pasien yang–”

"Saya tidak mau tahu." Adhyaksa membalas datar. “Jika tidak mau dituntut, tanggung jawab seperti apa yang Dokter tawarkan?”

Syifa menatap geram Yaksa yang masih melemparkan sorot menantang itu. Profesionalisme Syifa menguap, nyaris cuma tersisa paling tidak setengahnya.

Pria ini selalu sukses membuat hidupnya sengsara! Tidak dulu, tidak sekarang. 

Adhyaksa Suteja. 

Musuh bebuyutannya di SMA, seniornya di ekstrakurikuler biologi yang sering menjahilinya.

Sekaligus pria yang mengambil ciuman pertamanya lalu pergi meninggalkan Syifa begitu saja keesokan harinya.

Syifa masih ingat malam perpisahan waktu itu. Bagaimana pria itu membawanya menyusuri lorong sekolah yang gelap lalu berakhir di dekat laboratorium IPA yang terletak di paling belakang gedung sekolah. 

Serta bagaimana lembutnya sentuhan bibir Yaksa di bibirnya, membuat Syifa menahan napas dengan jantung seakan mau meletus!

Lalu, sudah. Begitu saja. Laki-laki itu tiba-tiba pergi meninggalkan Syifa sendirian tanpa sepatah kata setelah mendapatkan telepon.

Otomatis membuat Syifa merasa murahan dan dipermainkan oleh pria menyebalkan itu!

Belum lagi, cerita itu tiba-tiba menyebar begitu saja. Saat Syifa sibuk meluruskannya, Yaksa menghilang. Tidak ada klarifikasi. Tidak ada permintaan maaf atas tindakan di luar batas yang sudah dia lakukan para Syifa.

Lalu, setelah bertahun-tahun, Yaksa mau mempermainkannya lagi!? 

“Kamu nggak bisa menuntut kami begitu saja,” ucap Syifa, sudah mulai marah. “Pihak kami sudah jelaskan situasi dan kondisi ikan arwana itu saat datang. Nggak ada kelalaian dari pihak kami.” 

“Kamu mau coba peruntungan di pengadilan, kalau begitu?”

Syifa membelalak. “Biar saya tanya dulu, Saudara Adhyaksa yang terhormat,” balasnya. "Sebagai pemilik, Anda ke mana saja sampai-sampai ikan sudah separah itu baru dibawa ke klinik?" 

Mata itu terus menatap Syifa, bibirnya melukiskan senyum sinis yang cukup sadis seakan tidak terpengaruh oleh ledakan kemarahan Syifa. 

Dalam hati, Syifa mengumpat. Ia sudah lelah sekali. Seharusnya ia tidak buka klinik saja hari ini, kalau tahu akan ada kesialan seperti ini. Meski harus meloloskan beberapa pelanggan kaya, setidaknya Syifa akan bisa lolos dari iblis di depannya ini,

Tapi paling tidak klinik impian Syifa yang baru buka ini akan aman!

Syifa melihat Yaksa perlahan bangkit dari kursi, melangkah menghampiri Syifa dan berdiri tegak di hadapan Syifa tanpa mengurangi kadar tajam sorot matanya. 

"Bagaimana, Dok?" desisnya dengan suara menekan. “Saya tidak punya banyak waktu.”

"Oke! Saya akan bayar harga ikan itu!" tukas Syifa dengan sisa kesabaran yang dia miliki. Tapi suaranya melandai saat ia menambahkan dengan menahan semua gengsi yang ia miliki, “Tapi apa boleh saya cicil?”

Alis Yaksa terangkat satu, tapi ia tidak mengejek lebih jauh. Pria itu lantas tersenyum lalu tertawa lirih.

"Kalau kamu keberatan, saya punya penawaran lain." 

Syifa menegakkan punggungnya. "Bagaimana?" tanya Syifa frustasi, apapun akan dia lakukan asal tidak lagi berurusan dengan Yaksa. 

Yaksa tersenyum, mendorong tubuh Syifa dan menghimpitnya ke tembok. Persis seperti dulu, membuat Syifa sontak mendongak dan beradu tatap dengan sepasang mata hitam tajam yang tengah menatapnya dalam-dalam tersebut.

“K-kamu–”

Ucapan Syifa terputus saat tiba-tiba Yaksa mendekatkan bibirnya ke telinga Syifa dan berbisik:

“Tinggalkan calon suamimu dan … menikahlah dengan saya, Syifa."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ketika Musuh Bebuyutan Menawarkan Pernikahan   Ch. 9 Peliharaan Yaksa

    "Nyah ... Nyonyah."Panggilan itu terus berdegung di telinga Syifa, perlahan ia mulai mengerjapkan mata, membuka mata perlahan dan mendapati sosok paruh baya itu tersenyum ke arahnya. Dia bi Ndari, asisten rumah tangga yang bekerja di rumah ini. Perlahan Syifa bangkit, matanya masih lengket, namun ia paksakan terbuka. Hal yang kemudian ia perhatikan adalah sisi lain kasur yang kosong. Rupanya Yaksa benar-benar tidak kembali ke kamar semalam. Lalu tidur di mana dia? Ah! Apa pedulinya Syifa? "Sudah pagi, Nyah. Bibi udah masak buat sarapan. Nyonyah mandi dulu biar seger."Syifa tersenyum, telinganya sedikit geli dengan panggilan itu. "Panggilnya jangan begitu bisa, Bi? Kok geli aja dengarnya." mohon Syifa sembari tersenyum kecut. "Lah bapak yang minta, Nyah. Nggak berani bibi."Ah! Syifa menarik napas panjang, mencoba nego untuk masalah sepele namun menggelikan ini. "Panggil mbak aja deh, Bi. Jangan nyonya."Nampak perempuan itu berpikir keras, sedetik kemudian ia mengangguk patuh

  • Ketika Musuh Bebuyutan Menawarkan Pernikahan   Ch. 8 Jangan Sentuh Aku!

    Syifa membeku, pertanyaan itu membuatnya makin tidak berkutik. Yaksa masih menatapnya, dengan seulas senyum sinis yang mengembang di wajah. Ketika wajah itu kembali mendekat, sekuat tenaga Syifa memberontak. Ia melepaskan tangannya dari cengkeraman Yaksa, bangun hingga dahi mereka saling bertubrukan lalu mendorong tubuh itu dengan kasar. "Kamu mau coba-coba, ya!" teriak Syifa dengan penuh amarah, jantungnya berdegup kencang. Yaksa mendengus, balas menatap mata Syifa tanpa takut. "Saya? Saya hanya mencoba menjawab pertanyaan yang kamu terus lempar ke saya."Bagaimana wajah dan suara itu yang nampak begitu santai tanpa menyiratkan rasa bersalah, Syifa makin murka. Ia segera turun dari ranjang, meraih bantal dan ponsel miliknya lalu melangkah pergi keluar. "Fa, kamu mau kemana?" teriak Yaksa sedikit keras, lelaki itu ikut turun mengejar langkah Syifa yang sudah sampai pintu. Brak! Yaksa menahan pintu yang hendak Syifa buka dengan kaki. Sorot matanya berubah tajam dan dingin. Namu

  • Ketika Musuh Bebuyutan Menawarkan Pernikahan   Ch. 7 Menggoda Yaksa

    "Ngobrol apa tadi sama mama?"Syifa yang tengah duduk di depan meja rias sembari membersihkan muka, hanya melirik Yaksa sekilas. Rambut lelaki nampak masih setengah basah, bau segar menguar dari sosok itu, hampir mengalihkan fokus Syifa dari perintilan ritual malamnya. "Banyak." jawab Syifa sembari mengusap krim malam ke kulit wajah. "Aku baru tahu kamu nolak nikah, sampai mama harus maksa-maksa karena masih terbayang cinta pertama kamu di SMA."Sudut mata Syifa mendapati wajah itu berubah, tangan yang tadinya hendak meraih pakaian dari dalam lemari, melayang di udara beberapa saat. Hanya sekilas Yaksa nampak mematung dan membeku, setelahnya ia memakai kaos polos yang dia pilih lalu membawa handuknya kembali ke kamar mandi. Tidak ada jawaban maupun tanggapan, membuat Syifa terkekeh. Ia merasa menang melawan Yaksa, terbukti lelaki itu membisu, tidak berani bersuara untuk sekedar menyanggah atau klarifikasi. Saat Yaksa keluar dari kamar mandi, keisengan Syifa tiba-tiba muncul. Ingin

  • Ketika Musuh Bebuyutan Menawarkan Pernikahan   Ch. 6 Bertemu Mertua

    "Harus banget sekarang?"Syifa sudah siap, wajahnya sudah tersalut makeup tipis, sementara Yaksa, lelaki itu sudah cukup rapi dengan kemeja dan celana bahan. "Kamu mau saya di hapus dari daftar calon waris?"Bukan jawaban yang Syifa terima, malah pertanyaan yang dilemparkan balik oleh Yaksa. Matanya menatap Syifa cukup tajam, membuat Syifa mencebik dan memilih untuk melangkah lebih dulu keluar dari kamar. Melihat itu, Yaksa hanya menghela napas panjang. Menyusul langkah Syifa dan menutup pintu kamar lebih dulu. Hak sepatu Syifa berdeting, memecah kesunyian rumah yang biasa memeluk Yaksa, sontak lenyap seketika. Yaksa tidak coba mengejar langkah itu, ia memilih tetap berada di belakang langkah Syifa, menunggu sampai kemudian ia berhenti di depan pintu rumah, nampak tengah menunggu langkah Yaksa sampai. "Ada apa?" tanya Yaksa santai. Mata Syifa melotot, "Ada apa?" nampak wajahnya menunjukkan kekesalan yang teramat sangat. "Pikirmu nanti aku harus jawab apa kalau mereka tanya?"Tawa

  • Ketika Musuh Bebuyutan Menawarkan Pernikahan   Ch. 5 Istana 'Fir'aun'

    Syifa terkesiap ketika Range Rover yang dikendarai Yaksa berhenti di sebuah gerbang tinggi menjulang dengan pagar berhiaskan batu alam. Begitu klakson Yaksa tekan, gerbang tinggi itu segera terbuka, nampak lah bangunan besar yang berkonsep menyatu dengan alam yang ada di balik gerbang itu. Suasana begitu asri, sejauh mata Syifa memandang, halaman rumah yang luas itu cukup hijau dengan rumput dan tanaman yang sengaja di tanam yang dirawat dengan begitu telaten. Gemericik suara air dari kolam besar yang ada disudut taman seketika membuat Syifa tersenyum begitu ia menurunkan kaca mobil. Hawa segar langsung menyapa Syifa, seolah memberi ucapan selamat datang padanya yang hari ini resmi menyandang gelar ratu di rumah ini. "Turunlah, biar saya yang bawa koper kamu!" Ucap Yaksa sembari mematikan mesin mobil. Syifa tidak mengatakan sepatah kata apapun, termasuk ucapan terimakasih atas kemurahan hati Yaksa yang hendak membawakan kopernya, ia langsung turun, langkahnya menghampiri kolam yang

  • Ketika Musuh Bebuyutan Menawarkan Pernikahan   Ch. 4 Hanya Demi Nama Baik

    "Saya yang akan simpan surat ini!"Yaksa yang baru saja masuk ke dalam mobil, seketika meraih selembar kertas yang ada di tangan Syifa, kertas yang merupakan sertifikat resmi dari negara yang menyatakan mereka kini sudah sah dan resmi menjadi sepasang suami-istri. Syifa tidak membantah, ia membiarkan saja Yaksa mengambil sertifikat itu dari tangannya. Baginya pernikahan ini bukanlah sebuah hal yang penting. Hatinya sudah terlanjur mati, ia kecewa dan sakit hati. Tujuh tahun waktu yang ia punya, semua sia-sia dan tidak berarti apa-apa. Jika dulu Syifa denial dan merasa bahwa ia hanya cemburu tak beralasan pada Amel, kini Syifa sadar bahwa selama ini, hatinya benar."Kita pulang ke rumah." Kalimat itu keluar bersamaan dengan melajunya mobil dari depan kantor pencatatan sipil. Syifa menoleh, nampak sangat terkejut namun hanya beberapa saat, ia kembali bersandar lemas di jok. Sama sekali tidak antusias dengan perubahan penting dalam hidupnya yang baru saja terjadi."Bisa antar ke rumah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status