LOGIN"Harus banget sekarang?"
Syifa sudah siap, wajahnya sudah tersalut makeup tipis, sementara Yaksa, lelaki itu sudah cukup rapi dengan kemeja dan celana bahan. "Kamu mau saya di hapus dari daftar calon waris?" Bukan jawaban yang Syifa terima, malah pertanyaan yang dilemparkan balik oleh Yaksa. Matanya menatap Syifa cukup tajam, membuat Syifa mencebik dan memilih untuk melangkah lebih dulu keluar dari kamar. Melihat itu, Yaksa hanya menghela napas panjang. Menyusul langkah Syifa dan menutup pintu kamar lebih dulu. Hak sepatu Syifa berdeting, memecah kesunyian rumah yang biasa memeluk Yaksa, sontak lenyap seketika. Yaksa tidak coba mengejar langkah itu, ia memilih tetap berada di belakang langkah Syifa, menunggu sampai kemudian ia berhenti di depan pintu rumah, nampak tengah menunggu langkah Yaksa sampai. "Ada apa?" tanya Yaksa santai. Mata Syifa melotot, "Ada apa?" nampak wajahnya menunjukkan kekesalan yang teramat sangat. "Pikirmu nanti aku harus jawab apa kalau mereka tanya?" Tawa Yaksa pecah, tanpa Syifa duga, ia meraih tangan Syifa, membawanya menuju mobil dan segera mempersilahkan Syifa masuk ke dalam mobil. "Kita bahas sambil jalan." ucapnya sebelum menutup pintu mobil. Syifa mendengus, wajahnya mengeras. Ia sama sekali tidak siap. Dengan apapun itu yang berhubungan dengan perubahan tiba-tiba statusnya hari ini. Ia menarik napas panjang, tengah membayangkan kejutan apa lagi yang akan dia terima setelah ini. *** "Mama bener-bener nggak ngerti ya sama suami kamu." Syifa kontan nyengir, kenapa ia masih belum terima dengan status itu? Kini setelah dicecar panjang-lebar, mereka berempat duduk di meja makan, menikmati makan malam sembari melanjutkan obrolan. "Apa lagi sih, Ma?" keluh Yaksa sembari menatap ibunya dengan saksama. "Ya kamu itu!" salak Juliana galak, "Apa sih susahnya ngomong kalau udah punya calon? Mama hampir gila mikirin kamu!" Yaksa tidak merespon, ia lanjut makan dengan sangat santai. Sementara Syifa, ia benar-benar dalam kondisi canggung setengah mati. Benar dugaannya, Yaksa ini bukan dari keluarga sembarang! Rumah orang tuanya dua kali lebih besar dari rumah Yaksa sendiri, jangan lupakan juga segala macam isi rumah yang tidak bisa dikatakan murah! Meskipun mereka sama-sama dokter spesialis, tapi Syifa ragu, mereka dapat semua kekayaan ini hanya dari pendapatan mereka sebagai dokter spesialis. "Sudahlah, yang penting dia sekarang udah nikah. Kamu juga cocok sama pilihan dia. Tidak perlu panjang-lebar di bahas lagi." Suhut ikut berkomentar, sebuah pembelaan yang langsung membuat anak laki-lakinya tersenyum lebar. Melihat bagaimana suaminya membela Yaksa, Juliana hanya mencebik. Terlebih tak selang lama, Yaksa bangkit, mengusap mulut dengan tisu lalu melangkah pergi dari meja makan. "Eh! Istrimu kamu tinggal begitu saja?" Omel Juliana melihat tingkah anak bungsunya ini. "Dia belum selesai makan, Ma. Biar selesai dulu." balas Yaksa sembari menoleh, "Lagian Yaksa cuma mau kedepan, liat ikan papa yang baru." Ikan? Syifa tersenyum masam. Memang menyebalkan sekali laki-laki satu ini! Dia meninggalkan Syifa sendirian bersama orang tuanya hanya demi melihat ikan? Ah! Hewan satu ini agaknya akan masuk menjadi daftar hewan yang akan Syifa hindari sampai beberapa waktu! Gara-gara ikan, Syifa harus berada di sini sekarang! Gara-gara ikan, Syifa hadus takluk dan kalah di hadapan musuh bebuyutannya. Setelah ini apa? Gara-gara ikan, kira-kira kesialan apa lagi yang akan Syifa terima nantinya? *** "Mama takut banget kemarin, Fa, bener-bener takut kalau sampai Yaksa nggak mau nikah seumur hidup." Di meja makan tinggal Syifa dan Juliana yang masih menikmati secangkir teh hangat, sedangkan dua laki-laki itu, Yaksa dan Suhud, entah ada di mana. Syifa berusaha tenang, meskipun ia begitu gugup dan canggung setengah mati saat ini. "Memang kenapa, Ma? Mantan pacar mas Yaksa sebelumnya selingkuh? Jadi dia trauma?" tanya Syifa mau tidak mau kepo dan bertanya. Hanya demi agar Juliana tidak merasa diabaikan, bukan karena dia penasaran dengan Yaksa. "Dia masih kebayang sama cinta pertama dia semasa SMA dulu." Apa? Mata Syifa membulat. Cinta pertama semasa dia SMA? Tunggu! Jika tadi Syifa sama sekali tidak tertarik dengan Yaksa berikut kisah-kisahnya, kini Syifa jadi begitu penasaran. Siapa kira-kira perempuan yang bahkan sampai detik ini masih membuat Yaksa terbayang-bayang? Apakah dia mengenal atau setidaknya tahu siapa gadis itu?"Nyah ... Nyonyah."Panggilan itu terus berdegung di telinga Syifa, perlahan ia mulai mengerjapkan mata, membuka mata perlahan dan mendapati sosok paruh baya itu tersenyum ke arahnya. Dia bi Ndari, asisten rumah tangga yang bekerja di rumah ini. Perlahan Syifa bangkit, matanya masih lengket, namun ia paksakan terbuka. Hal yang kemudian ia perhatikan adalah sisi lain kasur yang kosong. Rupanya Yaksa benar-benar tidak kembali ke kamar semalam. Lalu tidur di mana dia? Ah! Apa pedulinya Syifa? "Sudah pagi, Nyah. Bibi udah masak buat sarapan. Nyonyah mandi dulu biar seger."Syifa tersenyum, telinganya sedikit geli dengan panggilan itu. "Panggilnya jangan begitu bisa, Bi? Kok geli aja dengarnya." mohon Syifa sembari tersenyum kecut. "Lah bapak yang minta, Nyah. Nggak berani bibi."Ah! Syifa menarik napas panjang, mencoba nego untuk masalah sepele namun menggelikan ini. "Panggil mbak aja deh, Bi. Jangan nyonya."Nampak perempuan itu berpikir keras, sedetik kemudian ia mengangguk patuh
Syifa membeku, pertanyaan itu membuatnya makin tidak berkutik. Yaksa masih menatapnya, dengan seulas senyum sinis yang mengembang di wajah. Ketika wajah itu kembali mendekat, sekuat tenaga Syifa memberontak. Ia melepaskan tangannya dari cengkeraman Yaksa, bangun hingga dahi mereka saling bertubrukan lalu mendorong tubuh itu dengan kasar. "Kamu mau coba-coba, ya!" teriak Syifa dengan penuh amarah, jantungnya berdegup kencang. Yaksa mendengus, balas menatap mata Syifa tanpa takut. "Saya? Saya hanya mencoba menjawab pertanyaan yang kamu terus lempar ke saya."Bagaimana wajah dan suara itu yang nampak begitu santai tanpa menyiratkan rasa bersalah, Syifa makin murka. Ia segera turun dari ranjang, meraih bantal dan ponsel miliknya lalu melangkah pergi keluar. "Fa, kamu mau kemana?" teriak Yaksa sedikit keras, lelaki itu ikut turun mengejar langkah Syifa yang sudah sampai pintu. Brak! Yaksa menahan pintu yang hendak Syifa buka dengan kaki. Sorot matanya berubah tajam dan dingin. Namu
"Ngobrol apa tadi sama mama?"Syifa yang tengah duduk di depan meja rias sembari membersihkan muka, hanya melirik Yaksa sekilas. Rambut lelaki nampak masih setengah basah, bau segar menguar dari sosok itu, hampir mengalihkan fokus Syifa dari perintilan ritual malamnya. "Banyak." jawab Syifa sembari mengusap krim malam ke kulit wajah. "Aku baru tahu kamu nolak nikah, sampai mama harus maksa-maksa karena masih terbayang cinta pertama kamu di SMA."Sudut mata Syifa mendapati wajah itu berubah, tangan yang tadinya hendak meraih pakaian dari dalam lemari, melayang di udara beberapa saat. Hanya sekilas Yaksa nampak mematung dan membeku, setelahnya ia memakai kaos polos yang dia pilih lalu membawa handuknya kembali ke kamar mandi. Tidak ada jawaban maupun tanggapan, membuat Syifa terkekeh. Ia merasa menang melawan Yaksa, terbukti lelaki itu membisu, tidak berani bersuara untuk sekedar menyanggah atau klarifikasi. Saat Yaksa keluar dari kamar mandi, keisengan Syifa tiba-tiba muncul. Ingin
"Harus banget sekarang?"Syifa sudah siap, wajahnya sudah tersalut makeup tipis, sementara Yaksa, lelaki itu sudah cukup rapi dengan kemeja dan celana bahan. "Kamu mau saya di hapus dari daftar calon waris?"Bukan jawaban yang Syifa terima, malah pertanyaan yang dilemparkan balik oleh Yaksa. Matanya menatap Syifa cukup tajam, membuat Syifa mencebik dan memilih untuk melangkah lebih dulu keluar dari kamar. Melihat itu, Yaksa hanya menghela napas panjang. Menyusul langkah Syifa dan menutup pintu kamar lebih dulu. Hak sepatu Syifa berdeting, memecah kesunyian rumah yang biasa memeluk Yaksa, sontak lenyap seketika. Yaksa tidak coba mengejar langkah itu, ia memilih tetap berada di belakang langkah Syifa, menunggu sampai kemudian ia berhenti di depan pintu rumah, nampak tengah menunggu langkah Yaksa sampai. "Ada apa?" tanya Yaksa santai. Mata Syifa melotot, "Ada apa?" nampak wajahnya menunjukkan kekesalan yang teramat sangat. "Pikirmu nanti aku harus jawab apa kalau mereka tanya?"Tawa
Syifa terkesiap ketika Range Rover yang dikendarai Yaksa berhenti di sebuah gerbang tinggi menjulang dengan pagar berhiaskan batu alam. Begitu klakson Yaksa tekan, gerbang tinggi itu segera terbuka, nampak lah bangunan besar yang berkonsep menyatu dengan alam yang ada di balik gerbang itu. Suasana begitu asri, sejauh mata Syifa memandang, halaman rumah yang luas itu cukup hijau dengan rumput dan tanaman yang sengaja di tanam yang dirawat dengan begitu telaten. Gemericik suara air dari kolam besar yang ada disudut taman seketika membuat Syifa tersenyum begitu ia menurunkan kaca mobil. Hawa segar langsung menyapa Syifa, seolah memberi ucapan selamat datang padanya yang hari ini resmi menyandang gelar ratu di rumah ini. "Turunlah, biar saya yang bawa koper kamu!" Ucap Yaksa sembari mematikan mesin mobil. Syifa tidak mengatakan sepatah kata apapun, termasuk ucapan terimakasih atas kemurahan hati Yaksa yang hendak membawakan kopernya, ia langsung turun, langkahnya menghampiri kolam yang
"Saya yang akan simpan surat ini!"Yaksa yang baru saja masuk ke dalam mobil, seketika meraih selembar kertas yang ada di tangan Syifa, kertas yang merupakan sertifikat resmi dari negara yang menyatakan mereka kini sudah sah dan resmi menjadi sepasang suami-istri. Syifa tidak membantah, ia membiarkan saja Yaksa mengambil sertifikat itu dari tangannya. Baginya pernikahan ini bukanlah sebuah hal yang penting. Hatinya sudah terlanjur mati, ia kecewa dan sakit hati. Tujuh tahun waktu yang ia punya, semua sia-sia dan tidak berarti apa-apa. Jika dulu Syifa denial dan merasa bahwa ia hanya cemburu tak beralasan pada Amel, kini Syifa sadar bahwa selama ini, hatinya benar."Kita pulang ke rumah." Kalimat itu keluar bersamaan dengan melajunya mobil dari depan kantor pencatatan sipil. Syifa menoleh, nampak sangat terkejut namun hanya beberapa saat, ia kembali bersandar lemas di jok. Sama sekali tidak antusias dengan perubahan penting dalam hidupnya yang baru saja terjadi."Bisa antar ke rumah







