LOGIN"Saya yang akan simpan surat ini!"
Yaksa yang baru saja masuk ke dalam mobil, seketika meraih selembar kertas yang ada di tangan Syifa, kertas yang merupakan sertifikat resmi dari negara yang menyatakan mereka kini sudah sah dan resmi menjadi sepasang suami-istri. Syifa tidak membantah, ia membiarkan saja Yaksa mengambil sertifikat itu dari tangannya. Baginya pernikahan ini bukanlah sebuah hal yang penting. Hatinya sudah terlanjur mati, ia kecewa dan sakit hati. Tujuh tahun waktu yang ia punya, semua sia-sia dan tidak berarti apa-apa. Jika dulu Syifa denial dan merasa bahwa ia hanya cemburu tak beralasan pada Amel, kini Syifa sadar bahwa selama ini, hatinya benar. "Kita pulang ke rumah." Kalimat itu keluar bersamaan dengan melajunya mobil dari depan kantor pencatatan sipil. Syifa menoleh, nampak sangat terkejut namun hanya beberapa saat, ia kembali bersandar lemas di jok. Sama sekali tidak antusias dengan perubahan penting dalam hidupnya yang baru saja terjadi. "Bisa antar ke rumah ayah dulu?" pinta Syifa dengan nada malas. "Tentu." Sebuah jawaban yang membuat Syifa makin kesal. Laki-laki ini, entah apa tujuan dibalik ajakan menikah yang ditawarkan pada Syifa, dia terkesan begitu santai sekali! Namun apa peduli Syifa? Dia hanya sedang berusaha bertanggungjawab untuk kesalahan yang sebenarnya tidak dia lakukan. Sebuah tanggungjawab yang dipaksakan dan terpaksa Syifa sepakati demi nama baik klinik dan profesinya. "Aku tidak mau kita satu kamar." ucap Syifa yang mendadak teringat akan ini. "Aku minta kamar sendiri nanti." Diluar dugaan, tawa Yaksa pecah, ia tertawa tanpa melepaskan fokusnya dari jalanan. "Di sini, saya yang memutuskan, Syifa. Bukan kamu." tekan Yaksa yang membuat Syifa kembali hampir kehilangan kesabaran. "Aku mau nikah sama kamu itu semata-mata cuma demi nama baikku dan klinikku. Bukan yang lain-lain." Syifa ikut menegaskan, ada hal-hal yang perlu dia luruskan mengenai perubahan status mereka sekarang. "I see." suara itu terdengar sangat santai. "Tapi mau bagimanapun saya tetap pemegang keputusan atas kamu." Mata Syifa melotot, ia menoleh dan menatap kesal ke arah lelaki itu. "Hey! Mana bisa begitu?" Protes Syifa tidak terima. "Tentu bisa! Status saya suami kamu sekarang!" balas Yaksa dengan fakta yang tidak mampu Syifa bantah lagi. Ya! Mau bagaimanapun status lelaki itu adalah suaminya! Suka tidak suka, mau tidak mau, sertifikat itu adalah bukti bahwa kini status mereka sudah bukan orang lain atau orang asing lagi, tak peduli sebenarnya hanya kebencian yang ada dalam hati Syifa untuk suaminya ini. "Oke! Kita satu kamar. Tapi hanya satu kamar, tidak ada yang lain-lain lagi!" Yaksa membisu, hanya tersenyum sinis tanpa menanggapi kalimat Syifa. Syifa sendiri tidak peduli, ia sudah katakan apa yang dia mau, jadi kalau sampai nanti Yaksa nekat memaksakan sesuatu kepadanya, sesuatu yang tidak Syifa mau, maka ia bisa memukul kepala lelaki ini tak peduli Yaksa meminta haknya sebagai suami. "Sudah sampai rumah ayah!" ucap Yaksa yang sejenak membuat Syifa membelalak terkejut. Dia belum katakan di mana rumah ayahnya, kenapa Yaksa sudah tahu bahkan tanpa bertanya lebih dulu? "Bawa yang penting dulu, sisanya bisa kamu bawa besok." Tanpa menunggu Syifa, Yaksa turun dari mobil lebih dulu, meninggalkan Syifa yang membisu di tempatnya duduk dengan jutaan pertanyaan yang ada di kepalanya. Kenapa bisa? Dan bagaimana bisa begini? *** "Bisa ketuk pintu terlebih dahulu?" Syifa sedang mengemasi pakaiannya dalam koper, ketika Yaksa mendadak muncul dan masuk ke dalam kamarnya tanpa permisi. Lelaki itu hanya menghela napas panjang, melipat dua tangan di dada sembari membalas tatapan tak suka yang Syifa layangkan kepadanya. "Saya suami kamu, harus ketuk pintu juga?" Balasan itu membuat Syifa membelalakkan mata. Ia mendengus, kembali fokus memindahkan beberapa pakaian ke dalam koper. Melihat Syifa kalah berdebat dengannya, Yaksa melangkah mendekat, menjatuhkan diri di tepi ranjang dan memperhatikan apa yang sedang dilakukan istrinya. Tidak ada percakapan yang terjadi, Syifa tetap melakukan aktivitasnya seolah-olah tidak ada siapapun dalam kamar ini kecuali dirinya, dan Yaksa ... Ia sendiri tidak berniat menganggu Syifa. Ia hanya duduk diam sembari memperhatikan gerak-gerik sang istri. "Saya ngobrol banyak sama ayah-ibu tadi." ucap Yaksa memecah keheningan. "Oh ya?" Syifa nampak cuek, masih sibuk dengan barang miliknya. "Kamu tidak sedang mencari pembelaan dari mereka, kan?" Kembali tawa Yaksa pecah, sebuah tawa lirih yang di telinga Syifa terdengar macam sebuah ledekan untuknya. "Kalaupun iya, saya tidak salah, kan?" Syifa menutup kopernya dengan kasar, matanya menatap kesal ke arah Yaksa yang masih duduk di samping kopernya yang terbuka. "Jangan kamu kira dengan mendapatkan dukungan dari ayah-ibu lantas bisa membuat aku nurut di bawah kaki kamu, ya!" tegas Syifa yang sedang menekankan bahwa Yaksa sama sekali tidak bisa mengendalikan dirinya, tak peduli dia sekarang suami Syifa. Yaksa terkekeh, melipat dia tangan di dada sembari membalas tatapan tajam yang Syifa layangkan padanya. "Saya nggak butuh kamu tunduk di bawah kaki saya, saya bukan Fir'aun." sahutnya dengan sangat menyebalkan. Syifa menarik napas dalam-dalam, berusaha mengabaikan Yaksa dan kembali mengemasi pakaiannya. Sembari menumpuk pakaiannya dalam koper, Syifa terus menggerutu. Kebenciannya pada Yaksa makin menjadi. Syifa tenggelam dalam kebenciannya sampai tidak sadar Yaksa memperhatikan dirinya sejak tadi. Mata itu tak lepas dari Syifa, sesekali tersenyum dan menghela napas panjang."Nyah ... Nyonyah."Panggilan itu terus berdegung di telinga Syifa, perlahan ia mulai mengerjapkan mata, membuka mata perlahan dan mendapati sosok paruh baya itu tersenyum ke arahnya. Dia bi Ndari, asisten rumah tangga yang bekerja di rumah ini. Perlahan Syifa bangkit, matanya masih lengket, namun ia paksakan terbuka. Hal yang kemudian ia perhatikan adalah sisi lain kasur yang kosong. Rupanya Yaksa benar-benar tidak kembali ke kamar semalam. Lalu tidur di mana dia? Ah! Apa pedulinya Syifa? "Sudah pagi, Nyah. Bibi udah masak buat sarapan. Nyonyah mandi dulu biar seger."Syifa tersenyum, telinganya sedikit geli dengan panggilan itu. "Panggilnya jangan begitu bisa, Bi? Kok geli aja dengarnya." mohon Syifa sembari tersenyum kecut. "Lah bapak yang minta, Nyah. Nggak berani bibi."Ah! Syifa menarik napas panjang, mencoba nego untuk masalah sepele namun menggelikan ini. "Panggil mbak aja deh, Bi. Jangan nyonya."Nampak perempuan itu berpikir keras, sedetik kemudian ia mengangguk patuh
Syifa membeku, pertanyaan itu membuatnya makin tidak berkutik. Yaksa masih menatapnya, dengan seulas senyum sinis yang mengembang di wajah. Ketika wajah itu kembali mendekat, sekuat tenaga Syifa memberontak. Ia melepaskan tangannya dari cengkeraman Yaksa, bangun hingga dahi mereka saling bertubrukan lalu mendorong tubuh itu dengan kasar. "Kamu mau coba-coba, ya!" teriak Syifa dengan penuh amarah, jantungnya berdegup kencang. Yaksa mendengus, balas menatap mata Syifa tanpa takut. "Saya? Saya hanya mencoba menjawab pertanyaan yang kamu terus lempar ke saya."Bagaimana wajah dan suara itu yang nampak begitu santai tanpa menyiratkan rasa bersalah, Syifa makin murka. Ia segera turun dari ranjang, meraih bantal dan ponsel miliknya lalu melangkah pergi keluar. "Fa, kamu mau kemana?" teriak Yaksa sedikit keras, lelaki itu ikut turun mengejar langkah Syifa yang sudah sampai pintu. Brak! Yaksa menahan pintu yang hendak Syifa buka dengan kaki. Sorot matanya berubah tajam dan dingin. Namu
"Ngobrol apa tadi sama mama?"Syifa yang tengah duduk di depan meja rias sembari membersihkan muka, hanya melirik Yaksa sekilas. Rambut lelaki nampak masih setengah basah, bau segar menguar dari sosok itu, hampir mengalihkan fokus Syifa dari perintilan ritual malamnya. "Banyak." jawab Syifa sembari mengusap krim malam ke kulit wajah. "Aku baru tahu kamu nolak nikah, sampai mama harus maksa-maksa karena masih terbayang cinta pertama kamu di SMA."Sudut mata Syifa mendapati wajah itu berubah, tangan yang tadinya hendak meraih pakaian dari dalam lemari, melayang di udara beberapa saat. Hanya sekilas Yaksa nampak mematung dan membeku, setelahnya ia memakai kaos polos yang dia pilih lalu membawa handuknya kembali ke kamar mandi. Tidak ada jawaban maupun tanggapan, membuat Syifa terkekeh. Ia merasa menang melawan Yaksa, terbukti lelaki itu membisu, tidak berani bersuara untuk sekedar menyanggah atau klarifikasi. Saat Yaksa keluar dari kamar mandi, keisengan Syifa tiba-tiba muncul. Ingin
"Harus banget sekarang?"Syifa sudah siap, wajahnya sudah tersalut makeup tipis, sementara Yaksa, lelaki itu sudah cukup rapi dengan kemeja dan celana bahan. "Kamu mau saya di hapus dari daftar calon waris?"Bukan jawaban yang Syifa terima, malah pertanyaan yang dilemparkan balik oleh Yaksa. Matanya menatap Syifa cukup tajam, membuat Syifa mencebik dan memilih untuk melangkah lebih dulu keluar dari kamar. Melihat itu, Yaksa hanya menghela napas panjang. Menyusul langkah Syifa dan menutup pintu kamar lebih dulu. Hak sepatu Syifa berdeting, memecah kesunyian rumah yang biasa memeluk Yaksa, sontak lenyap seketika. Yaksa tidak coba mengejar langkah itu, ia memilih tetap berada di belakang langkah Syifa, menunggu sampai kemudian ia berhenti di depan pintu rumah, nampak tengah menunggu langkah Yaksa sampai. "Ada apa?" tanya Yaksa santai. Mata Syifa melotot, "Ada apa?" nampak wajahnya menunjukkan kekesalan yang teramat sangat. "Pikirmu nanti aku harus jawab apa kalau mereka tanya?"Tawa
Syifa terkesiap ketika Range Rover yang dikendarai Yaksa berhenti di sebuah gerbang tinggi menjulang dengan pagar berhiaskan batu alam. Begitu klakson Yaksa tekan, gerbang tinggi itu segera terbuka, nampak lah bangunan besar yang berkonsep menyatu dengan alam yang ada di balik gerbang itu. Suasana begitu asri, sejauh mata Syifa memandang, halaman rumah yang luas itu cukup hijau dengan rumput dan tanaman yang sengaja di tanam yang dirawat dengan begitu telaten. Gemericik suara air dari kolam besar yang ada disudut taman seketika membuat Syifa tersenyum begitu ia menurunkan kaca mobil. Hawa segar langsung menyapa Syifa, seolah memberi ucapan selamat datang padanya yang hari ini resmi menyandang gelar ratu di rumah ini. "Turunlah, biar saya yang bawa koper kamu!" Ucap Yaksa sembari mematikan mesin mobil. Syifa tidak mengatakan sepatah kata apapun, termasuk ucapan terimakasih atas kemurahan hati Yaksa yang hendak membawakan kopernya, ia langsung turun, langkahnya menghampiri kolam yang
"Saya yang akan simpan surat ini!"Yaksa yang baru saja masuk ke dalam mobil, seketika meraih selembar kertas yang ada di tangan Syifa, kertas yang merupakan sertifikat resmi dari negara yang menyatakan mereka kini sudah sah dan resmi menjadi sepasang suami-istri. Syifa tidak membantah, ia membiarkan saja Yaksa mengambil sertifikat itu dari tangannya. Baginya pernikahan ini bukanlah sebuah hal yang penting. Hatinya sudah terlanjur mati, ia kecewa dan sakit hati. Tujuh tahun waktu yang ia punya, semua sia-sia dan tidak berarti apa-apa. Jika dulu Syifa denial dan merasa bahwa ia hanya cemburu tak beralasan pada Amel, kini Syifa sadar bahwa selama ini, hatinya benar."Kita pulang ke rumah." Kalimat itu keluar bersamaan dengan melajunya mobil dari depan kantor pencatatan sipil. Syifa menoleh, nampak sangat terkejut namun hanya beberapa saat, ia kembali bersandar lemas di jok. Sama sekali tidak antusias dengan perubahan penting dalam hidupnya yang baru saja terjadi."Bisa antar ke rumah







