LOGIN"Ngobrol apa tadi sama mama?"
Syifa yang tengah duduk di depan meja rias sembari membersihkan muka, hanya melirik Yaksa sekilas. Rambut lelaki nampak masih setengah basah, bau segar menguar dari sosok itu, hampir mengalihkan fokus Syifa dari perintilan ritual malamnya. "Banyak." jawab Syifa sembari mengusap krim malam ke kulit wajah. "Aku baru tahu kamu nolak nikah, sampai mama harus maksa-maksa karena masih terbayang cinta pertama kamu di SMA." Sudut mata Syifa mendapati wajah itu berubah, tangan yang tadinya hendak meraih pakaian dari dalam lemari, melayang di udara beberapa saat. Hanya sekilas Yaksa nampak mematung dan membeku, setelahnya ia memakai kaos polos yang dia pilih lalu membawa handuknya kembali ke kamar mandi. Tidak ada jawaban maupun tanggapan, membuat Syifa terkekeh. Ia merasa menang melawan Yaksa, terbukti lelaki itu membisu, tidak berani bersuara untuk sekedar menyanggah atau klarifikasi. Saat Yaksa keluar dari kamar mandi, keisengan Syifa tiba-tiba muncul. Ingin rasanya ia menggoda dan membuat Yaksa kesal. Syifa segera bangkit, menyusul Yaksa yang kini tengah menutup tirai jendela kamar mereka. "Hmm ... kira-kira siapa, ya? Aku kenal nggak sama dia?" Masih hening. Yaksa membisu, berpindah ke jendela lain yang perlu ditutup tirainya. "Pantes sih ya, ngebet banget ... maksa banget ngajakin nikah, gagal move on rupanya." ledek Syifa lagi, kini ia mengejar Yaksa yang sudah duduk di tepi ranjang. Syifa mencebik, ledekan demi ledekan dia lancarkan dan Yaksa, ia membisu tak menanggapi sama sekali. Lelaki itu bahkan kini merebahkan tubuh di atas ranjang, menarik selimut dan nampak bersiap tidur. Darah Syifa mendidih, ia berniat membuat Yaksa kesal, tapi kenapa dia yang malahan dibuat kesal olehnya? Dengan segera Syifa ikut naik dan merebahkan tubuh. Bukan untuk tidur, tapi untuk menganggu Yaksa dan membuat lelaki itu kesal tentunya. Toel ... toel. Jemari Syifa menoel lengan Yaksa, membuat mata yang terpejam itu seketika terbuka. Yaksa menoleh, menatap Syifa yang nyengir lebar merasa senang direspon oleh Yaksa. "Apa?" tanya Yaksa masih terlihat begitu tenang. "Bagi tahu dong, siapa dia? Aku kenal nggak dulu?" kejar Syifa yang memang sengaja sekali ingin membuat Yaksa naik pitam. Namun agaknya Syifa salah strategi, bukannya menjawab, Yaksa malah bangkit. Bukan bangkit untuk pergi karena kesal, Yaksa malah merayap ke atas tubuh Syifa, mengunci tangan Syifa ke atas kepala, sebuah tindakan yang sukses membuat jantung Syifa seperti mau rontok. Mata mereka bertemu, tubuh Syifa terkunci, Syifa membeku dengan jantung yang berdegup luar biasa kencang. Ia memang ingin membuat suaminya ini kesal, tapi bukan yang seperti ini. Sementara itu, wajah Yaksa terlihat begitu tenang. Mata tajamnya seolah mengikat tubuh Syifa sampai rasanya sulit untuk digerakkan. "Ka-kamu mau apa?" akhirnya Syifa bisa bersuara, rasanya ia ingin berteriak saat ini. "Kamu mau tahu siapa dia?" balas suara itu dengan cukup lirih dan tenang. Kepalang basah! Sebenarnya tidak penting, namun Syifa sudah terjebak dalam rencana jahilnya sendiri. Perlahan kepalanya terangguk, berharap Yaksa menjawab dan segera melepaskan dia sebelum hal yang Syifa takutkan akan terterjsdi. Bisa Syifa lihat Yaksa tersenyum, wajahnya semakin dekat membuat Syifa yang sudah dalam mode tegang, makin menegang. Cengkeraman tangan Yaksa makin kuat, membuat Syifa benar-benar ingin menangis saat ini. Cup! Sekali lagi, Syifa merasakan benda itu menyapu bibirnya dengan sangat lembut, cukup dalam dan singkat, berbeda dengan malam itu. Yaksa menarik wajahnya, menatap Syifa yang masih membeku dalam kuasa tubuhnya. "Menurutmu, siapa dia?""Nyah ... Nyonyah."Panggilan itu terus berdegung di telinga Syifa, perlahan ia mulai mengerjapkan mata, membuka mata perlahan dan mendapati sosok paruh baya itu tersenyum ke arahnya. Dia bi Ndari, asisten rumah tangga yang bekerja di rumah ini. Perlahan Syifa bangkit, matanya masih lengket, namun ia paksakan terbuka. Hal yang kemudian ia perhatikan adalah sisi lain kasur yang kosong. Rupanya Yaksa benar-benar tidak kembali ke kamar semalam. Lalu tidur di mana dia? Ah! Apa pedulinya Syifa? "Sudah pagi, Nyah. Bibi udah masak buat sarapan. Nyonyah mandi dulu biar seger."Syifa tersenyum, telinganya sedikit geli dengan panggilan itu. "Panggilnya jangan begitu bisa, Bi? Kok geli aja dengarnya." mohon Syifa sembari tersenyum kecut. "Lah bapak yang minta, Nyah. Nggak berani bibi."Ah! Syifa menarik napas panjang, mencoba nego untuk masalah sepele namun menggelikan ini. "Panggil mbak aja deh, Bi. Jangan nyonya."Nampak perempuan itu berpikir keras, sedetik kemudian ia mengangguk patuh
Syifa membeku, pertanyaan itu membuatnya makin tidak berkutik. Yaksa masih menatapnya, dengan seulas senyum sinis yang mengembang di wajah. Ketika wajah itu kembali mendekat, sekuat tenaga Syifa memberontak. Ia melepaskan tangannya dari cengkeraman Yaksa, bangun hingga dahi mereka saling bertubrukan lalu mendorong tubuh itu dengan kasar. "Kamu mau coba-coba, ya!" teriak Syifa dengan penuh amarah, jantungnya berdegup kencang. Yaksa mendengus, balas menatap mata Syifa tanpa takut. "Saya? Saya hanya mencoba menjawab pertanyaan yang kamu terus lempar ke saya."Bagaimana wajah dan suara itu yang nampak begitu santai tanpa menyiratkan rasa bersalah, Syifa makin murka. Ia segera turun dari ranjang, meraih bantal dan ponsel miliknya lalu melangkah pergi keluar. "Fa, kamu mau kemana?" teriak Yaksa sedikit keras, lelaki itu ikut turun mengejar langkah Syifa yang sudah sampai pintu. Brak! Yaksa menahan pintu yang hendak Syifa buka dengan kaki. Sorot matanya berubah tajam dan dingin. Namu
"Ngobrol apa tadi sama mama?"Syifa yang tengah duduk di depan meja rias sembari membersihkan muka, hanya melirik Yaksa sekilas. Rambut lelaki nampak masih setengah basah, bau segar menguar dari sosok itu, hampir mengalihkan fokus Syifa dari perintilan ritual malamnya. "Banyak." jawab Syifa sembari mengusap krim malam ke kulit wajah. "Aku baru tahu kamu nolak nikah, sampai mama harus maksa-maksa karena masih terbayang cinta pertama kamu di SMA."Sudut mata Syifa mendapati wajah itu berubah, tangan yang tadinya hendak meraih pakaian dari dalam lemari, melayang di udara beberapa saat. Hanya sekilas Yaksa nampak mematung dan membeku, setelahnya ia memakai kaos polos yang dia pilih lalu membawa handuknya kembali ke kamar mandi. Tidak ada jawaban maupun tanggapan, membuat Syifa terkekeh. Ia merasa menang melawan Yaksa, terbukti lelaki itu membisu, tidak berani bersuara untuk sekedar menyanggah atau klarifikasi. Saat Yaksa keluar dari kamar mandi, keisengan Syifa tiba-tiba muncul. Ingin
"Harus banget sekarang?"Syifa sudah siap, wajahnya sudah tersalut makeup tipis, sementara Yaksa, lelaki itu sudah cukup rapi dengan kemeja dan celana bahan. "Kamu mau saya di hapus dari daftar calon waris?"Bukan jawaban yang Syifa terima, malah pertanyaan yang dilemparkan balik oleh Yaksa. Matanya menatap Syifa cukup tajam, membuat Syifa mencebik dan memilih untuk melangkah lebih dulu keluar dari kamar. Melihat itu, Yaksa hanya menghela napas panjang. Menyusul langkah Syifa dan menutup pintu kamar lebih dulu. Hak sepatu Syifa berdeting, memecah kesunyian rumah yang biasa memeluk Yaksa, sontak lenyap seketika. Yaksa tidak coba mengejar langkah itu, ia memilih tetap berada di belakang langkah Syifa, menunggu sampai kemudian ia berhenti di depan pintu rumah, nampak tengah menunggu langkah Yaksa sampai. "Ada apa?" tanya Yaksa santai. Mata Syifa melotot, "Ada apa?" nampak wajahnya menunjukkan kekesalan yang teramat sangat. "Pikirmu nanti aku harus jawab apa kalau mereka tanya?"Tawa
Syifa terkesiap ketika Range Rover yang dikendarai Yaksa berhenti di sebuah gerbang tinggi menjulang dengan pagar berhiaskan batu alam. Begitu klakson Yaksa tekan, gerbang tinggi itu segera terbuka, nampak lah bangunan besar yang berkonsep menyatu dengan alam yang ada di balik gerbang itu. Suasana begitu asri, sejauh mata Syifa memandang, halaman rumah yang luas itu cukup hijau dengan rumput dan tanaman yang sengaja di tanam yang dirawat dengan begitu telaten. Gemericik suara air dari kolam besar yang ada disudut taman seketika membuat Syifa tersenyum begitu ia menurunkan kaca mobil. Hawa segar langsung menyapa Syifa, seolah memberi ucapan selamat datang padanya yang hari ini resmi menyandang gelar ratu di rumah ini. "Turunlah, biar saya yang bawa koper kamu!" Ucap Yaksa sembari mematikan mesin mobil. Syifa tidak mengatakan sepatah kata apapun, termasuk ucapan terimakasih atas kemurahan hati Yaksa yang hendak membawakan kopernya, ia langsung turun, langkahnya menghampiri kolam yang
"Saya yang akan simpan surat ini!"Yaksa yang baru saja masuk ke dalam mobil, seketika meraih selembar kertas yang ada di tangan Syifa, kertas yang merupakan sertifikat resmi dari negara yang menyatakan mereka kini sudah sah dan resmi menjadi sepasang suami-istri. Syifa tidak membantah, ia membiarkan saja Yaksa mengambil sertifikat itu dari tangannya. Baginya pernikahan ini bukanlah sebuah hal yang penting. Hatinya sudah terlanjur mati, ia kecewa dan sakit hati. Tujuh tahun waktu yang ia punya, semua sia-sia dan tidak berarti apa-apa. Jika dulu Syifa denial dan merasa bahwa ia hanya cemburu tak beralasan pada Amel, kini Syifa sadar bahwa selama ini, hatinya benar."Kita pulang ke rumah." Kalimat itu keluar bersamaan dengan melajunya mobil dari depan kantor pencatatan sipil. Syifa menoleh, nampak sangat terkejut namun hanya beberapa saat, ia kembali bersandar lemas di jok. Sama sekali tidak antusias dengan perubahan penting dalam hidupnya yang baru saja terjadi."Bisa antar ke rumah







