Share

Ch. 5 Istana 'Fir'aun'

last update publish date: 2026-03-17 11:14:04

Syifa terkesiap ketika Range Rover yang dikendarai Yaksa berhenti di sebuah gerbang tinggi menjulang dengan pagar berhiaskan batu alam. Begitu klakson Yaksa tekan, gerbang tinggi itu segera terbuka, nampak lah bangunan besar yang berkonsep menyatu dengan alam yang ada di balik gerbang itu.

Suasana begitu asri, sejauh mata Syifa memandang, halaman rumah yang luas itu cukup hijau dengan rumput dan tanaman yang sengaja di tanam yang dirawat dengan begitu telaten. Gemericik suara air dari kolam besar yang ada disudut taman seketika membuat Syifa tersenyum begitu ia menurunkan kaca mobil. Hawa segar langsung menyapa Syifa, seolah memberi ucapan selamat datang padanya yang hari ini resmi menyandang gelar ratu di rumah ini.

"Turunlah, biar saya yang bawa koper kamu!" Ucap Yaksa sembari mematikan mesin mobil.

Syifa tidak mengatakan sepatah kata apapun, termasuk ucapan terimakasih atas kemurahan hati Yaksa yang hendak membawakan kopernya, ia langsung turun, langkahnya menghampiri kolam yang ada di sudut taman. Senyum Syifa merekah ketika tahu, kolam dengan air jernih itu dipenuhi ikan-ikan koi berukuran besar dengan berbagai macam corak.

Cantik sekali!

Syifa jongkok di sana, memperhatikan ikan-ikan itu yang berenang ke sana kemari, tangannya sesekali masuk, memainkan air sembari berusaha menyentuh ikan yang terkejut atas kehadirannya.

"Selamat datang Dokter Syifa."

Sapaan itu membuat Syifa terkejut, suaranya tidak asing dan benar saja! Laki-laki yang membawa si Boy, ikan sultan milik Yaksa yang tewas di kliniknya, sudah berdiri di belakangnya dengan senyum ramah. Berbeda dengan beberapa saat yang lalu, bukankah mereka berdua menangis bersamaan di klinik tadi? Menangisi si Boy, ikan seharga 3,5 miliar yang mengapung tak berdaya di bak penampungan.

"Ah, Bapak!" Syifa mengulurkan tangan, membalas sapaan lelaki itu dengan sopan.

"Selamat datang, Dokter. Semoga betah di sini dan bapak ucapkan selamat atas pernikahannya, Dok."

Selamat atas pernikahannya? Syifa tersenyum masam. Laki-laki ini tengah mengejeknya, kah?

"Terimakasih, Pak. Sa--."

"Pak Adi!"

Suara panggilan itu memotong kalimat Syifa, membuat laki-laki yang ternyata bernama Adi itu segera menghampiri sumber suara. Yaksa sudah beridri di depan pintu, entah apa yang mereka bicarakan, nampak sangat serius sekali dan Syifa sama sekali tidak memperdulikan itu. Fokusnya kembali pada ikan-ikan cantik yang ada di dalam kolam.

"Nanti akan saya kenalkan mereka satu persatu."

Syifa menoleh, Yaksa sudah berdiri di belakangnya, sementara pak Adi, lelaki itu entah pergi kemana.

"Mereka punya nama?" Tanya Syifa dengan ekspresi terkejut.

"Tentu. Sama seperti Boy."

Ah, iya Boy!

Mengingat ikan sultan itu, bulu kuduk Syifa meremang. Karena ikan arowana itu, Syifa berada di sini sekarang. Bukan hanya sebagai tamu, tetapi sebagai istri dari pemiliik rumah! Lelucon macam apa ini?

"Hutang aku sudah lunas, kan? Aku nggak harus bayar 3,5 miliar lagi, kan?"

Pertanyaan itu membuat Yaksa tertawa. Tawanya cukup renyah, hanya sebentar karena lelaki itu lantas menatap Syifa dengan saksama.

"Tentu! Hutang kamu sudah lunas." tangan Yaksa masuk ke dalam saku celana, memperhatikan ikan-ikan di kolam dengan saksama. "Ada cat room di belakang, ada juga beberapa ikan di dalam. Saya rasa kamu tidak keberatan merawat mereka, kan?"

Mata Syifa membulat, ia menatap Yaksa dengan tatapan tidak percaya.

"Aku yang harus urus?" ulang Syifa memperjelas.

"Lantas siapa? Saya rasa kamu lebih paham bagaimana cara mengurus binatang, kan?" sahutnya dengan sangat santai.

Syifa tertegun, tidak berniat menjawab. Kesabarannya sudah habis hari ini rasanya tidak perlu dia banyak berdebat dengan Yaksa, hanya membuang sisa-sisa energinya yang sudah tak seseberapa.

"Mau lihat kamar kita?"

Kamar kita!

Dua kata yang di telinga Syifa terdengar cukup menyeramkan! Kamar kita? Mereka akan tidur dalam satu kamar dan .....

"Ingat untuk tidak macam-macam padaku!" tegas Syifa kembali memperingatkan.

Yaksa terkekeh, segera melangkah pergi, membuat Syifa yang sempat terkejut sesaat, segera mengejar langkah Yaksa. Ia tentu tidak ingin tersesat di rumah besar milik suaminya ini.

Bukan hanya halaman rumah Yaksa yang membuat Syifa terkagum-kagum, desain interior rumah Yaksa yang menyatu dengan alam dan bermandikan cahaya ini benar-benar membuat Syifa seperti berada di taman surga! Syifa sangat suka konsep rumah milik Yaksa, ia hampir terantuk anak tangga ketika mengekor di belakang langkah Yaksa.

"Hati-hati."

Syifa hanya berdehem, masih memperhatikan tiap-tiap sudut rumah itu sembari terus melangkah. Mereka melewati lorong dengan jendela-jendela kaca besar, hingga kemudian mereka tiba di sebuah pintu kayu besar yang langsung Yaksa buka.

"Kamar kita."

Syifa melangkah masuk dengan takut-takut, sementara Yaksa, tangannya membuka pintu lebar-lebar, membiarkan Syifa melangkah masuk ke dalam. Mata Syifa terus memperhatikan tiap-tiap sudut kamar dengan saksama, termasuk kasur berukuran besar yang ada di tengah ruangan. Jendela-jendela kaca dengan vitrase dan tirai yang menjuntai sampai bawah, membuat kamar ini terasa seperti villa yang ada di kaki gunung. Lengkap dengan pemandangan hijau taman yang mengelilingi rumah dan jangan lupa, gemericik air yang ada di kolam yang terdengar sampai kamar.

"Semoga kamu betah."

Syifa menoleh, lidahnya mendadak kelu, tidak tahu harus menjawab apa dan bagaimana. Ia hanya tersenyum, lalu nampak kebingungan setelah menyadari sesuatu. Di mana kopernya?

"Di mana koperku?"

Yaksa mengangkat tangan, menunjuk pintu yang ada di dekat cermin besar. Dengan segera Syifa melangkah menuju pintu yang ditunjuk oleh Yaksa, menekan knop pintu dan melangkah masuk ke dalam.

Syifa tertegun sejenak di balik pintu, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru. Walk in closet milik Yaksa cukup besar dan rapi! Syifa menemukan kopernya, namun ia lebih memilih untuk meneliti satu demi satu barang milik Yaksa yang ada di sana.

Setahu Syifa, gaji sebagai dokter spesialis penyakit dalam, tak peduli praktek di tiga rumah sakit sekalipun, rasanya tidak cukup gaji plus jasa medis Yaksa untuk mengikuti gaya hidupnya yang seperti ini. Bahkan Anton sekalipun ... yang memiliki rumah sakit keluarga sendiri, tidak se-high ini selera fashionnya, tapi kenapa Yaksa ...

"Segera siap-siap, Fa. Setelah ini saya mau ajak kamu ke rumah mama sama papa."

Belum sempat Syifa menjawab, Yaksa sudah lenyap bersamanya dengan tertutupnya pintu.

Apa? Bertemu dengan orang tua Yaksa? Sekarang?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ketika Musuh Bebuyutan Menawarkan Pernikahan   Ch. 9 Peliharaan Yaksa

    "Nyah ... Nyonyah."Panggilan itu terus berdegung di telinga Syifa, perlahan ia mulai mengerjapkan mata, membuka mata perlahan dan mendapati sosok paruh baya itu tersenyum ke arahnya. Dia bi Ndari, asisten rumah tangga yang bekerja di rumah ini. Perlahan Syifa bangkit, matanya masih lengket, namun ia paksakan terbuka. Hal yang kemudian ia perhatikan adalah sisi lain kasur yang kosong. Rupanya Yaksa benar-benar tidak kembali ke kamar semalam. Lalu tidur di mana dia? Ah! Apa pedulinya Syifa? "Sudah pagi, Nyah. Bibi udah masak buat sarapan. Nyonyah mandi dulu biar seger."Syifa tersenyum, telinganya sedikit geli dengan panggilan itu. "Panggilnya jangan begitu bisa, Bi? Kok geli aja dengarnya." mohon Syifa sembari tersenyum kecut. "Lah bapak yang minta, Nyah. Nggak berani bibi."Ah! Syifa menarik napas panjang, mencoba nego untuk masalah sepele namun menggelikan ini. "Panggil mbak aja deh, Bi. Jangan nyonya."Nampak perempuan itu berpikir keras, sedetik kemudian ia mengangguk patuh

  • Ketika Musuh Bebuyutan Menawarkan Pernikahan   Ch. 8 Jangan Sentuh Aku!

    Syifa membeku, pertanyaan itu membuatnya makin tidak berkutik. Yaksa masih menatapnya, dengan seulas senyum sinis yang mengembang di wajah. Ketika wajah itu kembali mendekat, sekuat tenaga Syifa memberontak. Ia melepaskan tangannya dari cengkeraman Yaksa, bangun hingga dahi mereka saling bertubrukan lalu mendorong tubuh itu dengan kasar. "Kamu mau coba-coba, ya!" teriak Syifa dengan penuh amarah, jantungnya berdegup kencang. Yaksa mendengus, balas menatap mata Syifa tanpa takut. "Saya? Saya hanya mencoba menjawab pertanyaan yang kamu terus lempar ke saya."Bagaimana wajah dan suara itu yang nampak begitu santai tanpa menyiratkan rasa bersalah, Syifa makin murka. Ia segera turun dari ranjang, meraih bantal dan ponsel miliknya lalu melangkah pergi keluar. "Fa, kamu mau kemana?" teriak Yaksa sedikit keras, lelaki itu ikut turun mengejar langkah Syifa yang sudah sampai pintu. Brak! Yaksa menahan pintu yang hendak Syifa buka dengan kaki. Sorot matanya berubah tajam dan dingin. Namu

  • Ketika Musuh Bebuyutan Menawarkan Pernikahan   Ch. 7 Menggoda Yaksa

    "Ngobrol apa tadi sama mama?"Syifa yang tengah duduk di depan meja rias sembari membersihkan muka, hanya melirik Yaksa sekilas. Rambut lelaki nampak masih setengah basah, bau segar menguar dari sosok itu, hampir mengalihkan fokus Syifa dari perintilan ritual malamnya. "Banyak." jawab Syifa sembari mengusap krim malam ke kulit wajah. "Aku baru tahu kamu nolak nikah, sampai mama harus maksa-maksa karena masih terbayang cinta pertama kamu di SMA."Sudut mata Syifa mendapati wajah itu berubah, tangan yang tadinya hendak meraih pakaian dari dalam lemari, melayang di udara beberapa saat. Hanya sekilas Yaksa nampak mematung dan membeku, setelahnya ia memakai kaos polos yang dia pilih lalu membawa handuknya kembali ke kamar mandi. Tidak ada jawaban maupun tanggapan, membuat Syifa terkekeh. Ia merasa menang melawan Yaksa, terbukti lelaki itu membisu, tidak berani bersuara untuk sekedar menyanggah atau klarifikasi. Saat Yaksa keluar dari kamar mandi, keisengan Syifa tiba-tiba muncul. Ingin

  • Ketika Musuh Bebuyutan Menawarkan Pernikahan   Ch. 6 Bertemu Mertua

    "Harus banget sekarang?"Syifa sudah siap, wajahnya sudah tersalut makeup tipis, sementara Yaksa, lelaki itu sudah cukup rapi dengan kemeja dan celana bahan. "Kamu mau saya di hapus dari daftar calon waris?"Bukan jawaban yang Syifa terima, malah pertanyaan yang dilemparkan balik oleh Yaksa. Matanya menatap Syifa cukup tajam, membuat Syifa mencebik dan memilih untuk melangkah lebih dulu keluar dari kamar. Melihat itu, Yaksa hanya menghela napas panjang. Menyusul langkah Syifa dan menutup pintu kamar lebih dulu. Hak sepatu Syifa berdeting, memecah kesunyian rumah yang biasa memeluk Yaksa, sontak lenyap seketika. Yaksa tidak coba mengejar langkah itu, ia memilih tetap berada di belakang langkah Syifa, menunggu sampai kemudian ia berhenti di depan pintu rumah, nampak tengah menunggu langkah Yaksa sampai. "Ada apa?" tanya Yaksa santai. Mata Syifa melotot, "Ada apa?" nampak wajahnya menunjukkan kekesalan yang teramat sangat. "Pikirmu nanti aku harus jawab apa kalau mereka tanya?"Tawa

  • Ketika Musuh Bebuyutan Menawarkan Pernikahan   Ch. 5 Istana 'Fir'aun'

    Syifa terkesiap ketika Range Rover yang dikendarai Yaksa berhenti di sebuah gerbang tinggi menjulang dengan pagar berhiaskan batu alam. Begitu klakson Yaksa tekan, gerbang tinggi itu segera terbuka, nampak lah bangunan besar yang berkonsep menyatu dengan alam yang ada di balik gerbang itu. Suasana begitu asri, sejauh mata Syifa memandang, halaman rumah yang luas itu cukup hijau dengan rumput dan tanaman yang sengaja di tanam yang dirawat dengan begitu telaten. Gemericik suara air dari kolam besar yang ada disudut taman seketika membuat Syifa tersenyum begitu ia menurunkan kaca mobil. Hawa segar langsung menyapa Syifa, seolah memberi ucapan selamat datang padanya yang hari ini resmi menyandang gelar ratu di rumah ini. "Turunlah, biar saya yang bawa koper kamu!" Ucap Yaksa sembari mematikan mesin mobil. Syifa tidak mengatakan sepatah kata apapun, termasuk ucapan terimakasih atas kemurahan hati Yaksa yang hendak membawakan kopernya, ia langsung turun, langkahnya menghampiri kolam yang

  • Ketika Musuh Bebuyutan Menawarkan Pernikahan   Ch. 4 Hanya Demi Nama Baik

    "Saya yang akan simpan surat ini!"Yaksa yang baru saja masuk ke dalam mobil, seketika meraih selembar kertas yang ada di tangan Syifa, kertas yang merupakan sertifikat resmi dari negara yang menyatakan mereka kini sudah sah dan resmi menjadi sepasang suami-istri. Syifa tidak membantah, ia membiarkan saja Yaksa mengambil sertifikat itu dari tangannya. Baginya pernikahan ini bukanlah sebuah hal yang penting. Hatinya sudah terlanjur mati, ia kecewa dan sakit hati. Tujuh tahun waktu yang ia punya, semua sia-sia dan tidak berarti apa-apa. Jika dulu Syifa denial dan merasa bahwa ia hanya cemburu tak beralasan pada Amel, kini Syifa sadar bahwa selama ini, hatinya benar."Kita pulang ke rumah." Kalimat itu keluar bersamaan dengan melajunya mobil dari depan kantor pencatatan sipil. Syifa menoleh, nampak sangat terkejut namun hanya beberapa saat, ia kembali bersandar lemas di jok. Sama sekali tidak antusias dengan perubahan penting dalam hidupnya yang baru saja terjadi."Bisa antar ke rumah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status