MasukMengantri hampir dua jam untuk layanan yang tidak lebih dari dua puluh menit. Perutnya keroncongan dan memutuskan untuk makan di kedai yang menyediakan beragam olahan mi. Memesan mi bebek goreng dan segelas es teh. Ia sedang makan dengan lahap saat beberapa orang memasuki kedai. Khaelia tidak melihat mereka sampai salah satu dari orang itu meneriakkan namanya.
“Khaelia? Ini kamu? Nggak nyangka ketemu di sini.”
Khaelia mendongak, menatap terkejut pada dua laki-laki da
Eiwa menghela napas lega mendengar lanjutan cerita Khaelia. “Begitu ternyata, kalian pulang sebelum pagi. Carter tidur di mana karena di malam itu dia tertidur nyenyak dan pulang saat pagi menjelang. Hal yang tidak lumrah untuk Carter.”Khaelia menelan ludah, menggigit bibir dengan bingung. Apakah setiap hal yang dilakukan Carter harus diketahui semua orang? Untungnya Khaelia diselamatkan Carter dalam keharusan menjawab.Para laki-laki mendekat, pelayan memberikan minuman segar dan dingin. Eiwa mengusap keringat suaminya, tempatnya semula diduduki Clovis. Sofia juga menghampiri suaminya, sedangkan Carter berpamitan ke kamar kecil.“Aku heran kamu masih hidup,” gumam Clovis dengan suara rendah. “Jarang sekali seorang gadis bisa keluar dari sini dalam keadaan segar bugar setelah bicara dengan mamaku.”“Apa kamu menyumpahiku?” ucap Khaelia dengan geram. “Sayangnya doamu nggak terkabul, Tuan Clovis. Apa ka
Kaspia menatap Carter, mempertimbangkan usulnya dan di luar dugaan mengangguk. “Tentu saja, rumah bukan sesuatu yang sulit. Aku sepakat membelikan rumah untuk Khaelia kalau memang dia bisa menolong Celila.”Carlo memprotes, Sofia menatap lekat-lekat. Eiwa dan Carter memberi selamat, sedangkan Clovis tetap tidak peduli. Reaksi berbeda-beda diterima oleh Khaelia. Untungnya makan malam berakhir, meski begitu ia diharuskan tetap tinggal untuk acara selanjutnya. Semua orang berganti tempat ke halaman belakang. Mereka berencana untuk sedikit olahraga. Tadinya Khaelia mengira olahraga yang dimaksud mereka adalah berjalan keliling taman, tapi ternyata salah. Semua orang ingin bermain golf di halaman belakang.Carter, Carlo, Kaspia, dan Clovis memegang stik masing-masing, beberapa pelayan mengikuti mereka untuk membawa bola serta peralatan lain. Lampu tambahan dinyalakan membuat halaman menjadi terang benderang. Eiwa mengajak Sofia dan Khaelia duduk di ruang santai
“Dokter mengatakan kalau kamu cocok menjadi donor Celila dan anaknya, aku harap kamu mau membantu mereka.” Eiwa membuka serbet dan meletakkannya di atas pangkuan, begitu pula yang lainnya.Khaelia mengikuti mereka, membuka serbet dan tersenyum pada Eiwa. “Nyonya, saya siap dan dengan senang hati membantu.”“Kalau anak dan cucuku selamat dengan darahmu, keluarga Solitare akan memberikan semua yang kamu inginkan!” Kaspia berucap dengan suara tegas. “Kami bukan orang yang tidak tahu terima kasih. Jangan salah, aku masih merasa kalau latar belakangmu tidak cocok menjadi sekretaris Carter, tapi untuk kesembuhan Celila, aku bisa terima apa pun itu.”Beberapa pelayan datang menghidangkan sup untuk makanan pembuka. Seketika aroma wangi dari kaldu bercampur krim semerbak di udara, semua orang mengambil sendok dan mulai mencicipi. Khaelia menyendok perlahan dan menikmati rasa lezat di lidahnya. Meski begitu tetap saja tidak
Seorang pemuda yang terlihat lugu, penyendiri, dan selalu giat belajar, siapa sangka punya kehidupan yang berbeda saat ada di luar rumah. Khaelia tidak peduli apa pun yang dilakukan Clovis di luar sana karena memang bukan urusannya. Menghargai rahasia pemuda itu, dan tanpa diminta pun akan menyimpannya. Bagaimanapun Clovis pernah membantunya, dan dirinya yang mengerti balas budi harus membalas kebaikan itu.Pandangannya bertemu dengan Clovis. Permohonan yang diucapkan dalam diam membuatnya mengerti.“Halo, Clovis,” sapa Khaelia ramah.Clovis mengangguk, merapikan letak kacamatanya. “Hai, kamu sekretaris yang punya golongan darah sama dengan Kak Celila?”“Iya, benar. Hari ini aku datang karena itu.”Kali ini Clovis menatap Carter dengan pandangan bertanya-tanya. Ada kekhawatiran di suaranya yang bergetar. “Ada apa lagi? Bukannya dokter bilang keadaannya sudah stabil? Tadi pagi aku tengok baik-baik saja.”Carter memasukkan tangan ke dalam saku
Suatu malam, Khaelia yang tidak ingin bertemu dengan pegawai yang merupakan asisten para manajer, berencana masuk ke lobi dengan sembunyi-sembunyi. Ia meminta tolong pada penjaga pintu untuk menyelundupkannya dari pintu samping. Sialnya malah bertemu dengan tiga perempuan dari bagian pemasaran. Khaelia mengerang dalam hati, mengibaratkan diri keluar dari kandang singa, masuk ke kandang buaya. Ia sedang tidak ingin menerima masalah dan entah kenapa selalu ada hal yang salah setiap kali bertemu dengan tiga perempuan ini.“Eh, kamuuu. Kita ketemu lagi. Masih ingat kami?”Tentu saja Khaelia mengingat mereka, Wika, Riana, dan Lita. Kali ini ia hanya tersenyum kecil.“Kamu mau ke atas, kan?” tanya Wika.“Iya, jam kerja udah dimulai,” jawab Khaelia.“Kamu bantu kami nggak?” Kali ini Riana yang bertanya. “Waktu itu aku pernah minta tolong sama kamu untuk mempromosikan kami pada Pak Bosman. Bagaimana? Ka
Tiba di ruangan, Khaelia menghela napas lega. Membuka komputer, menyalakan mesin espresso, dan mulai membalas email. Ia tersenyum membaca pesan dari Emima yang lucu. Menyenangkan punya seseorang untuk diajak bicara.“Khaelia, breaking news. Buruan buka laman gosip!” Ernest muncul di sela percakapannya dengan Emima. “Jangan sampai kena serangan jantung!”Khaelia yang penasaran membuka laman berita yang dimaksudkan Ernest dan terbelalak. Ada banyak sekali foto-fotonya bersama Carter di sana. Sebagian besar foto itu menampilkan saat dirinya sedang bersama Carter di pantai. Semakin banyak yang dilihatnya, semakin gemetar tubuh Khaelia.“Bagaimana ini? Tuan Carter pasti marah kalau lihat,” Khaelia membalas perkataan Ernest.“Nggak usah takut, sebentar lagi foto-foto itu akan hilang. Aku jamin itu. Paling bertahan sepuluh menit saja. Pihak pengacara sekarang pasti sedang bernegosiasi. Ngomong-
Setelah puas melihat-lihat, ia memutuskan untuk minum teh. Dengan malu-malu duduk di sofa sementara Carter merokok di sudut dekat gazebo. Menyesap tehnya, Khaelia diam-diam menatap profil atasannya. Carter yang ketampanannya tidak seperti manusia pada normal ternyata mempunyai sikap yang ramah. Tid
Laki-laki muda dan tampan itu bernama Carter June Solitaire. Tidak banyak yang tahu kalau ia adalah anak kedua dari keluarga Solitaire yang merupakan pemilik saham terbanyak sekaligus pimpinan di Capital Group. Carter yang berambut sehitam arang dan bermata tajam, saat ini sedang memandang seorang
Khaelia bergegas mengikuti Bosman menuju lift. Sedikit lega karena bossnya ternyata tidak setua bayangannya. Lobi dalam keadaan masih cukup ramai, ia menduga mereka adalah para pekerja yang sedang lembur. Tanpa sadar Khaelia mengamati Bosman diam-diam dan menyadari kalau kulit laki-laki itu cenderu
Warning : Adult roman story 21+Nama kota itu adalah Devil Town, tidak ada yang tahu bagaimana asal muasal nama itu diberikan. Kota iblis yang bagi banyak penduduknya memang perpaduan surga bagi orang kaya dan neraka bagi mereka yang tiak punya apa-apa.Devil Town merupakan kota besar dengan gedung







