LOGINJam kerja baru saja selesai, Khaelia bersiap untuk pulang saat Carter menyergapnya. Malam ini keduanya sangat sibuk sampai nyaris tidak mengobrol satu sama lain. Makan dan istirahat pun hanya sekedarnya karena diburu waktu. Begitu selesai, kelegaan melanda Khaelia. Ingin cepat memakai jaket karena merasa kedinginan. Sayangnya tidak mudah melakukan itu karena Carter yang memeluknya dan mengusap tubuhnya sembarangan.
“Bulu kudukmu merinding, kamu kedinginan Cara?”
&ldq
Joice tidak menyukainya, itu hal pertama yang terbersit di otak Khaelia saat mengamati bagaimana pasangan di depannya bicara. Joice selalu berupaya mengajak Carter bicara dan memperkenalkan pada banyak orang. Tidak segan menunjukkan pada semua yang hadir kalau dirinya mempunyai hubungan akrab dengan Carter.“Carter sangat menyukai benda-benda seni, dan karenanya kami akrab satu sama lain.”“Kalian memang pasangan yang serasi.”Bisikan dari Corrado yang ditiupkan ke telinga membuat bulu kuduk Khaelia meremang.“Khaelia, apa kamu setuju kalau Carter dan Joice serasi?”Khaelia menelan ludah. “Tuan, itu bukan sesuatu yang bisa saya komentari.”“Kenapa? Padahal dengan sekali lihat akan muncul jawabannya.”“Karena bukan bagian dari tugas saya untuk berkomentar.”“Khaelia, kamu ini terlalu sopan.”Corrado meninggalkan Khaelia saat beberapa orang
Carter melepaskan pelukan Joice dengan lembut, tidak menanggapi perkataannya tentang perjodohan. Tidak perlu juga terlibat provokasi, mereka di sini untuk bisnis. Sejujurnya ia heran kenapa Joice bersikap begini, tidak biasanya menggembos-gemborkan tentang perjodohan. Apa yang sebenarnya terjadi? Ada banyak orang di sekitar mereka, menatap dengan penuh ingin tahu dan Carter memutuskan untuk bersikap baik demi menjaga sopan santun. Tentu akan mempermalukan Joice kalau menolak secara terang-terangan, karena itu sekarang ia memilih untuk mengalah. Hanya kali ini saja, tidak ada kesempatan kedua.Para pegawai Joice membungkuk, memberi hormat pada Carter. “Selamat datang, Tuan Carter Solitare.”Carter mengangguk kecil. “Terima kasih.”“Ayo, masuk. Semua orang sudah di dalam, termasuk sepupumu.”Joice tersenyum, menggandeng lengan Carter dengan sudut mata melirik ke arah Khaelia. Merasa senang karena Carter tidak menolak sent
Setelah percakapan itu, Khaelia mulai menepiskan kekhawatirannya dan menjalani hari dengan lebih ceria. Banyak hal berubah setelah pesta usai, termasuk dengan semakin banyaknya kerumunan yang menunggunya di lobi. Kerumunan itu terbelalak saat melihatnya turun dari mobil mewah. Khaelia merasa takut untuk masuk, karena pasti banyak pertanyaan untuknya.Ketakutannya menjadi kenyataan. Begitu kakinya menginjak lobi, berondongan pertanyaan keluar dari bibir orang-orang itu. Di dalam kerumunan ia melihat tiga perempuan dari divisi pemasaran. Apakah mereka kini juga menunggunya?“Khaelia, beri kami saran bagaimana caranya menjadi sekretaris eksklusif?”“Bukankah itu mobil milik bos? Hebat sekali kamu mendapatkan fasilitas antar-jemput.”“Khaelia, bisa nggak aku kerja denganmu di lantai sepuluh?”Semua pertanyaan di atas terlontar dari bibir para pegawai perempuan, sedangkan para laki-laki berbeda lagi.“Kha
Mereka melewatkan libur awal tahun berdua di rumah Carter. Berbaring telanjang sepanjang hari, bercinta tidak terhitung jumlahnya dan saling memuaskan diri sambil bercerita. Carter menumpahkan unek-uneknya soal pekerjaan dan tekanan dari orang-orang sekitarnya. Termasuk keluarga besar Solitare yang menginginkan hal yang lebih besar dan lebih banyak, sampai-sampai menekan Carter hingga sedikit kewalahan.“Apa yang diinginkan Sofia darimu? Aku lihat kalian mengobrol.”“Dia menunjukkan foto-foto kita, Tuan.”“Dia mengambilnya secara diam-diam?”“Benar.”“Untuk apa? Mengancammu?”Khaelia menggeleng. “Bukan, tapi lebih tepatnya senjata untuk menyakiti Karenia. Saya tidak terlalu mengerti, tapi Nyonya Sofia berharap foto-foto kita akan membantunya.”Carter mendesah, muak dengan perseteruan rumah tangga sang kakak yang berimbas padanya. Carlo yang bodoh, jatuh cinta sete
Bibir Carter menyerang dengan sedikit tekanan di bibir Khaelia. Mengulum lembut dengan lidah beradu. Saling membelit, menciptakan sensasi menggelikan tapi juga memabukkan. Mereka saling memagut dengan angin malam berembus menerpa tubuh. Carter menghentikan ciuman, merogoh saku jas dan mengeluarkan kalung dengan liontin berlian berbentuk tetesan air. Mengalungkan di leher Khaelia disertai bisikan yang memabukkan.“Aku selalu menyukai bentuk lehermu yang jenjang dan indah. Kalung ini cocok untukmu, lebih cocok lagi kalau tali gaunmu aku buka.”Khaelia mengusap kalung yang melingkari lehernya. Indah, cantik, dan terlihat sangat mahal. “Tuan sudah memberi banyak sekali. Pekerjaan, bonus, belum lagi sopir yang antar jemput. Sekarang kalung. Nanti saya jadi terbiasa hidup enak, takut ketagihan, Tuan.”“Kamu ini bicara apa? Seperti orang yang mengigau. Semua yang aku berikan memang layak kamu terima. Kalau seandainya kamu bisa menyetir, ak
Carter membawa Khaelia ke rooftop, menonton kembang api dari puncak gedung. Keduanya berdampingan saat melihat kembang api meletus di udara dan memancarkan warna-warna indah. Carter meletakkan tangannya di bahu Khaelia, merasakan kebahagiaan bisa bersama lagi di tengah hingar-bingar pesta.“Wah, berapa anggaran yang dikeluarkan Capital Group? Kembang apinya luar biasa indah dan megah.”“Tidak murah pastinya. Apa kamu lihat banyak masyarakat umum yang menunggu pertunjukan kembang api kami?”“Saya melihat kerumunan dalam perjalanan kemari. Apakah mereka sengaja menunggu kembang api?”“Benar sekali, dari tahun ke tahun pertunjukan kembang api dari Capital Group adalah yang terbesar dan termegah.”“Menyenangkan sekali.” Khaelia mendesah, menatap dentuman terakhir kembang api yang makin memudar. Teringat kenangan masa kecil saat orang tuanya masih lengkap. Sang papa akan membawanya ber
Waktu berlalu dengan cepat dan tanpa terasa sudah satu bulan Khaelia bekerja dengan Carter. Setiap hari melalui rutinitas yang sama. Membuat kopi, menyusun berkas, melakukan penjadwalan, dan setiap pukul 12 malam keduanya beristirahat 30 menit. Sesekali Carter memanggil pelayan untuk membawa cemila
Setelah puas melihat-lihat, ia memutuskan untuk minum teh. Dengan malu-malu duduk di sofa sementara Carter merokok di sudut dekat gazebo. Menyesap tehnya, Khaelia diam-diam menatap profil atasannya. Carter yang ketampanannya tidak seperti manusia pada normal ternyata mempunyai sikap yang ramah. Tid
Laki-laki muda dan tampan itu bernama Carter June Solitaire. Tidak banyak yang tahu kalau ia adalah anak kedua dari keluarga Solitaire yang merupakan pemilik saham terbanyak sekaligus pimpinan di Capital Group. Carter yang berambut sehitam arang dan bermata tajam, saat ini sedang memandang seorang
Dalam benak Khaelia sedang sibuk memikirkan pekerjaan di kantor dan tidak peduli dengan perkataan sepupunya. Sudah biasa Mila selalu menentang pendapatnya, seakan menjadi sepupu paling peduli padahal tidak peduli.“Temen-temenku yang sarjana semua kerja di kantor besar. Saat weekend pada ngumpul di







