เข้าสู่ระบบJam kerja baru saja selesai, Khaelia bersiap untuk pulang saat Carter menyergapnya. Malam ini keduanya sangat sibuk sampai nyaris tidak mengobrol satu sama lain. Makan dan istirahat pun hanya sekedarnya karena diburu waktu. Begitu selesai, kelegaan melanda Khaelia. Ingin cepat memakai jaket karena merasa kedinginan. Sayangnya tidak mudah melakukan itu karena Carter yang memeluknya dan mengusap tubuhnya sembarangan.
“Bulu kudukmu merinding, kamu kedinginan Cara?”
&ldq
Saat hendak ke ruangan sang manajer, langkah Khaelia dihadang oleh Wika dan Riana. Satu perempuan lagi, entah di mana. Khaelia menatap dua perempuan di depannya dengan heran. Mereka tersenyum cerah seakan melihat sesuatu yang luar biasa. Khaelia merasa bulu kuduknya meremang. Pandangan mereka seolah ingin menelannya.“Hai, Khaelia. Senang sekali ketemu kamu di sini.” Riana membuka lengan seolah hendak memeluk, Khaelia berdiri kaku dengan tangan terkepal di sisi tubuh.“Ehm, urusan pekerjaan.”Wika mengangguk cepat hingga terlihat seperti boneka yang pirnya lepas. “Wah, luar biasa. Kamu datang bersama Tuan Carter!”“Apanya yang luar biasa? Dia adalah bosku,” jawab Khaelia.“Aduh, Khaelia. Kamu bisa dikatakan belum lama. Kami sudah bekerja lebih dari tiga tahun di sini. Selama ini Tuan Carter tidak pernah menampakkan diri. Mendadak datang dan inspeksi, rasanya sungguh luar biasa membahagiakan!&rdq
Kepergian Carlo dan Sofia untuk berbulan madu disambut baik semua orang. Carter yang akan menghandle pekerjaan Carlo selama kakaknya pergi. Rencana bulan madu sekitar dua minggu lamanya.“Setelah badai akan ada pelangi, ternyata pepatah ini ada benarnya juga,” Khaelia berkata dengan bahagia selesai menerima telepon dari Sofia yang akan bertolak bulan madu.Setelah peristiwa perkelahian di kafe, hubungan keduanya menjadi baik. Sofia tidak tanggung-tanggung memberikan banyak hadiah pada Khaelia, dari berupa gaun, perhiasan, dan banyak lagi. Hadiah yang tidak bisa ditolak.“Saya senang Nyonya Sofia sekarang bahagia.”“Untunglah, kakakku sadar lebih cepat. Kalau tidak, hancur sudah rumah tangga dan masa depannya.”“Tuan, saya dengar dari Emima katanya pertunangan Karenia putus? Benarkah? Bukan ingin menggosip, hanya ingin tahu saja.”“Benar, tunangannya ternyata terlibat penggelapan pajak dan
Carlo tersenyum lemah, dengan tangan yang sibuk mengupas udang dan meletakkannya di atas piring kecil. Sementara Sofia masih terdiam, tidak percaya dengan permintaan maaf dari Carlo. Menyesap anggur merah dan mencecap rasanya yang sedikit manis bercampur pahit yang nikmat, Sofia membiarkan Carlo bicara.“Selama kita menikah, aku selalu menyakitimu. Mengabaikan dan tidak peduli denganmu. Sibuk mengejar ambisiku atas nama cinta sejati. Padahal semua yang aku lakukan merusak diriku, merusak pernikahan kita, dan aku yang bodoh ini tidak peduli. Aku melihat CCTV saat Karenia pertama kali memukulmu. Aku juga bicara dengan Khaelia dan ternyata memang Karenia yang memulai pertengkaran. Sofia, kamu pasti tidak bisa membayangkan rasa malu yang bersarang di dada.”“Malu kenapa? Tidak bisa membela perempuan itu?” tanya Sofia dengan tatapan tajam.Carlo tersenyum dan menggeleng lemah. “Bukan itu, aku merasa malu karena tidak melindungimu, Sofia.
Sofia sama sekali tidak mengajak suaminya bicara sejak keluar dari kantor polisi hingga di perjalanan. Ia tidak menjawab apa pun pertanyaan Carlo, hingga laki-laki itu terdiam karena kesal. Sofia tidak peduli, sudah ada Carter dan pengacara yang membereskan masalah ini jadi tidak ada lagi yang harus ditakutkan. Ia juga tidak butuh pertolongan Carlo karena tahu kalau perhatian suaminya tidak akan condong ke arahnya. Hatinya sudah terlalu kebas oleh berbagai kekecewaan yang menumpuk. Lebih baik berhenti berharap dan menghadapi kenyataan.Suasana di dalam mobil terasa begitu dingin dan mencekam, seolah oksigen di dalamnya telah menguap habis. Carlo beberapa kali mencuri pandang melalui kaca spion tengah, tetapi Sofia memilih menatap kosong ke luar jendela, menyaksikan gemerlap lampu kota yang mengabur di balik keheningan malam.“Sofia, bisa kita bicara sekarang?” Carlo menahan langkahnya saat tiba di rumah, mencoba meraih jemari istrinya yang terasa sedingin e
Seorang laki-laki berkacamata datang, memperkenalkan diri sebagai tunangan Karenia. Tanpa pikir panjang Karenia melemparkan diri dalam pelukan tunangannya.“Sayang, kita selesaikan ini segera. Aku pusing, ingin pulang sekarang.”“Iya, Sayang. Kamu tunggu sebentar. Kita akan selesaikan segera.”Khaelia yang penasaran melirik ke arah Carlo. Ia ingin tahu bagaimana reaksi laki-laki itu saat perempuan yang dicintainya justru melemparkan diri pada laki-laki lain selain dirinya. Khaelia yakin kalau ini bukan hanya soal Carlo sudah menikah, tapi lebih dari ini. Dari awal memang Carlo tidak pernah dicintai, terlalu buta dalam mencinta hingga tutup mata dengan kenyataan.Setelah berunding hampir satu jam, akhirnya tercapai kesepakatan damai. Para pengacara menghadapi beberapa wartawan yang sudah menunggu di luar. Karenia pulang bersama tunangannya, begitu pula Sofia dan Carlo. Khaelia masuk ke dalam mobil Carter, menuju rumah laki-laki itu.
Kantor polisi berada di sebuah gedung berlantai tiga yang tidak terlalu besar. Saat ini ada beberapa wartawan yang sudah menunggu di luar. Beberapa pengacara bernegosiasi dengan polisi agar masalah ini tidak membesar. Masalahnya adalah kesepakatan perdamaian tidak tercapai antara Sofia dan Karenia. Sedangkan Khaelia hanya diam, berharap semuanya cepat selesai. Malu saat melihat Carter datang. Tidak menyangka akan terlibat sesuatu yang memalukan seperti ini.Selama menunggu masalah diproses, Sofia tidak hentinya mengoceh. Membuat telinga Khaelia berdenging mendengarnya. Sofia yang duduk berdampingan dengan Khaelia, menatap Karenia yang terpisah dengan mereka.“Sundal itu merasa sudah menang. Lihat saja, ini tidak akan berakhir dengan mudah. Dia menamparku lebih dulu. Akan ada balasan yang jauh lebih kuat nanti!”“Nyonya, bagaimana kalau nanti ada masalah dengan keluarga Solitaire?” tanya Khaelia gugup.Sofia menepuk-nepuk punggung t
Carter mendesah, merasakan hasrat menyerbunya hanya karena teringat Khaelia. Ia harus menyingkirkan semua pikiran buruk kalau ingin Khaelia betah di tempatnya bekerja. Ia kehilangan sekretaris lamanya karena laki-laki muda itu tidak kuat bergadang terus menerus, berganti lagi dengan perempuan dan h
Dalam benak Khaelia sedang sibuk memikirkan pekerjaan di kantor dan tidak peduli dengan perkataan sepupunya. Sudah biasa Mila selalu menentang pendapatnya, seakan menjadi sepupu paling peduli padahal tidak peduli.“Temen-temenku yang sarjana semua kerja di kantor besar. Saat weekend pada ngumpul di
Waktu berlalu dengan cepat dan tanpa terasa sudah satu bulan Khaelia bekerja dengan Carter. Setiap hari melalui rutinitas yang sama. Membuat kopi, menyusun berkas, melakukan penjadwalan, dan setiap pukul 12 malam keduanya beristirahat 30 menit. Sesekali Carter memanggil pelayan untuk membawa cemila
Setelah puas melihat-lihat, ia memutuskan untuk minum teh. Dengan malu-malu duduk di sofa sementara Carter merokok di sudut dekat gazebo. Menyesap tehnya, Khaelia diam-diam menatap profil atasannya. Carter yang ketampanannya tidak seperti manusia pada normal ternyata mempunyai sikap yang ramah. Tid







