Share

BAB 20

Author: LucioLucas
last update publish date: 2025-10-22 08:00:58

Jam kerja baru saja selesai, Khaelia bersiap untuk pulang saat Carter menyergapnya. Malam ini keduanya sangat sibuk sampai nyaris tidak mengobrol satu sama lain. Makan dan istirahat pun hanya sekedarnya karena diburu waktu. Begitu selesai, kelegaan melanda Khaelia. Ingin cepat memakai jaket karena merasa kedinginan. Sayangnya tidak mudah melakukan itu karena Carter yang memeluknya dan mengusap tubuhnya sembarangan.

“Bulu kudukmu merinding, kamu kedinginan Cara?”

&ldq

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 108

    Bosman sudah menunggu di depan lift bersama beberapa staf. Mereka bersama-sama menuju ruangan rapat dengan Khaelia memegang laptop serta dokumen di tangan. Percakapan lirih terjadi antara Bosman dan Carter, Khaelia yang sibuk menerka-nerka apa yang terjadi di pertemuan nanti tidak memperhatikan keduanya. Pikirannya dipenuhi Yardan, Rini, dan juga bos lamanya. Membayangkan keterkejutan mereka saat melihatnya pasti sangat menarik.Pertemuan diadakan di gedung Capital Group lantai enam. Para peserta rapat diatur langsung oleh tim umum. Masing-masing perusahaan mengirimkan lima orang, tidak peduli apakah pemilik atau pegawai. Total ada enam puluh orang yang datang dan memenuhi ruang rapat. Yardan duduk satu meja dengan perusahaan lain, berada tepat di samping Rini dan pimpinan yang bernama Lasmi—perempuan berumur 45 tahun dengan rambut pendek dan kacamata. Sedangkan Rini adalah perempuan mendekati usia 30 tahun dengan riasan tebal. Saat orang-orang dari Capital Group memasu

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 107

    Khaelia yang menunggu datangnya ledakan kemarahan dari orang tua Carter, tidak menerimanya bahkan setelah waktu berlalu. Rupanya Carlo tidak mengadukan apa yang dilihatnya pada Kaspia dan Eiwa. Apa yang menahannya? Mungkinkah masalah dengan Sofia memburuk dan membutuhkan penanganan serta perhatian lebih? Khaelia penasaran dengan pikiran Sofia, apa yang membuatnya berbuat nekat dan apa yang dikatakannya pada Carlo sampai mengamuk begitu. Namun, masalah mereka bisa menunggu karena ada yang lebih penting, yaitu rapat hari ini.“Kenapa tegang gitu?” tegur Carter saat mereka menyiapkan berkas untuk rapat.Khaelia menunjuk salah satu daftar perusahaan. “Ini adalah perusahaan lama saya, Tuan.”“Oh, benarkah? Kamu enggak apa-apa ketemu mereka?”Khaelia tersenyum. “Justru saya menunggu kesempatan bertemu mereka.”“Kenapa? Ada dendam dulunya?” tanya Carter penuh selidik.“Bukan masalah

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 106

    Setelah pertengkaran sengit mereka, Carlo memperhatikan istrinya menjadi lebih pendiam. Sofia tidak pernah menyapa, apalagi mengajaknya bicara. Bangun pagi, pergi bekerja, dan pulang saat waktunya tiba. Satu minggu berlalu dan sampai sekarang mereka masih enggan mengungkit masalah itu. Carlo masih bingung bagaimana mengatasi sikap istrinya. Di hari kedelapan, saat sarapan, Sofia yang biasanya hanya minum kopi kali ini ikut ke meja makan dan duduk di depannya.“Dokumen sudah aku siapkan. Kamu periksa lagi nanti saat senggang.”Carlo menatap map putih di hadapannya. “Dokumen apa?”“Perceraian,” jawab Sofia santai. Ia meminta kopi panas dari pelayan, membubuhkan sedikit gula, dan menyesapnya.Menatap tanpa menyentuh map itu, hati Carlo dibuat kalang kabut. Tetap berusaha tenang, ia mendorong piring berisi sosis dan telur yang masih tersisa, lalu mengelap bibir dengan serbet putih. Ia menghela napas panjang, mengamati Sofia

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 105

    Tiba di ruangan, Carlo sudah pergi. Meletakkan barang-barang yang dibeli ke dalam lemari es, Khaelia mencari keberadaan kekasihnya. Ia mendapati Carter berdiri di teras samping dengan rokok mengepul di sela bibir. Wajah tampan itu menyiratkan ketenangan yang menghanyutkan, tetapi Khaelia bisa melihat kegundahan yang tersembunyi di balik sikap tenangnya. Apa yang mereka bicarakan? Khaelia yakin bukan sekadar tentang Sofia.“Tuan, ini birnya.”Carter menoleh, menerima bir dingin dari Khaelia lalu menyesapnya. Ia duduk di sofa besar dan menepuk tempat kosong di sampingnya.“Duduklah, kita bicara sebentar sebelum lanjut bekerja. Paman dan sepupuku akan menelepon nanti tentang proyek baru. Kamu sudah siapkan semua?”Khaelia duduk di samping Carter, merapikan permukaan roknya. Setelah menerima gaji yang cukup besar dari Carter, ia mulai membenahi penampilan dengan membeli pakaian baru yang lebih modis, membuatnya tampil elegan serta angg

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 104

    Khaelia menyipit ke arah laki-laki muda dengan tingkat rasa percaya diri yang di luar nalar. “Aku enggak ada dendam apa pun denganmu. Malah enggak pernah ingat apa pun juga. Pergilah! Kamu menggangguku.”Yardan mengabaikan penolakan Khaelia, menatap tumpukan bir di meja dan beragam camilan. Ia tersenyum kecil dan melontarkan tatapan penuh iba pada Khaelia. Mendesah dalam hati karena perempuan yang pernah menjadi kekasihnya ternyata begitu putus asa.“Aku tahu hidupmu sulit setelah kita putus, Khaelia. Masih menjadi admin di gudang? Bagaimana kalau aku bantu kamu cari kerjaan lain?”“Nggak usah!”“Jangan menolak kebaikanku. Demi masa lalu harusnya kamu menurunkan ego dan rasa malu.”Khaelia menghela napas panjang, kekesalan kini menyumbat kepala dan membuat hatinya penuh amarah. Ia merapikan bungkus crackers, menyedot habis susu pisang, dan berniat untuk pergi.“Kamu mau ke mana? Tunggu, aku belum selesai bicara.”“Tidak ada l

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 103

    “Khaelia, kenapa kamu di sini?”Khaelia menatap Yardan, mantan kekasihnya yang mendadak muncul di hadapannya. Ia mendesah kasar. Di saat pikirannya sedang teramat kusut, justru ia harus bertemu dengan laki-laki yang paling tidak ingin ditemuinya seumur hidup. Tanpa rasa malu sedikit pun, Yardan menarik kursi plastik di seberang mejanya dan langsung duduk dengan senyum yang terkembang lebar, merasa kedatangannya sangat disambut.“Kasihan amat sendirian, aku temani ngobrol, ya?” tawar Yardan tanpa rasa dosa.“Nggak perlu, aku lebih suka sendiri,” tolak Khaelia dingin seraya memalingkan wajahnya.“Jangan begitu, bagaimanapun kita teman. Aku tahu kamu masih dendam padaku karena aku putuskan dulu. Rasa cinta yang besar bikin kamu marah, bukan? Aku paham itu, Khaelia. Tapi, waktu berlalu dan harusnya kamu sudah mulai melupakan itu semua,” ujar Yardan percaya diri.Khaelia memilih mengabaikannya. Tatapannya

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 3

    Laki-laki muda dan tampan itu bernama Carter June Solitaire. Tidak banyak yang tahu kalau ia adalah anak kedua dari keluarga Solitaire yang merupakan pemilik saham terbanyak sekaligus pimpinan di Capital Group. Carter yang berambut sehitam arang dan bermata tajam, saat ini sedang memandang seorang

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 2

    Khaelia bergegas mengikuti Bosman menuju lift. Sedikit lega karena bossnya ternyata tidak setua bayangannya. Lobi dalam keadaan masih cukup ramai, ia menduga mereka adalah para pekerja yang sedang lembur. Tanpa sadar Khaelia mengamati Bosman diam-diam dan menyadari kalau kulit laki-laki itu cenderu

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 1

    Warning : Adult roman story 21+Nama kota itu adalah Devil Town, tidak ada yang tahu bagaimana asal muasal nama itu diberikan. Kota iblis yang bagi banyak penduduknya memang perpaduan surga bagi orang kaya dan neraka bagi mereka yang tiak punya apa-apa.Devil Town merupakan kota besar dengan gedung

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 4

    Setelah puas melihat-lihat, ia memutuskan untuk minum teh. Dengan malu-malu duduk di sofa sementara Carter merokok di sudut dekat gazebo. Menyesap tehnya, Khaelia diam-diam menatap profil atasannya. Carter yang ketampanannya tidak seperti manusia pada normal ternyata mempunyai sikap yang ramah. Tid

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status