แชร์

BAB 7

ผู้เขียน: LucioLucas
last update วันที่เผยแพร่: 2025-09-20 00:57:48

Carter mendesah, merasakan hasrat menyerbunya hanya karena teringat Khaelia. Ia harus menyingkirkan semua pikiran buruk kalau ingin Khaelia betah di tempatnya bekerja. Ia kehilangan sekretaris lamanya karena laki-laki muda itu tidak kuat bergadang terus menerus, berganti lagi dengan perempuan dan hanya bertahan satu bulan karena terlalu takut untuk bicara dengannya.

Sekretarisnya yang terakhir seorang laki-laki berumut awal tiga puluhan, terhitung cukup lama bekerja, hampir enam bulan tapi akhirnya menyerah karena ingin menikah. Gonta-ganti sekretaris sampai-sampai Bosman kebingungan untuk mencari orang yang bisa menemaninya. Sejauh ini Khaelia tidak pernah mengeluh, ia hanya berharap nafsunya tidak membuat gadis itu pergi.

Selesai berpakaian, ia keluar kamar. Disambut beberapa pelayan yang membungkuk di lorong. Kamarnya berada di lantai tiga, sengaja menggunakan tangga padahal ada lift tidak jauh dari kamarnya. Ia perlu olah raga agar tubuhnya tetap bugar. Rumah keluarga yang ditempatinya terdiri atas lima tingkat dengan belasan kamar tidur. Untuk kolam renang ada di lantai paling atas berikut bar, serta lapangan helipad. Sedangkan garasi mobil ada di lantai empat, menyatu dengan mess untuk karyawan, dapur basah, serta gudang. Lantai tiga dan dua adalah ruang tidur serta perpustakaan dan ruang kerja. Lantai dasar ada dapur bersih, ruang tamu, serta ruang makan yang bisa menampung puluhan orang.

Saat mencapai lantai dasar, ia terdiam di tengah pintu menatap anggota keluarganya yang sudah duduk rapi bersiap untuk makan malam.

“Kau terlambat anakku?” Sang mama, seorang perempuan berumur enam puluh tahun dengan gaun hitam glamour mendekati Carter. Bernama Eiwa, perempuan itu masih sangat cantik dengan rambut merah madu. Mengecup pipi Carter dan membimbingnya ke meja. “Duduklah, sebentar lagi makan malam akan dimulai.”

Sang papa adalah laki-laki bertubuh gempal dengan rambut kelabu, sedang berbicara serius dengan anak pertama yang bernama Carlo. Duduk di samping Carlo adalah sang istri, Sofia. Sama seperti Eiwa, keduanya juga memakai baju warna hitam, hanya saja gaun yang dipakai Sofia sangat pendek hingga sebatas paha.

Di sisi kanan ada adik laki-laki Carter yang masih remaja bernama Clovis. Memakai kacamata dan sangat pendiam, Clovis sibuk dengan dunianya sendiri.

“Di mana Celila?” tanya Carter pada sang mama.

“Di kamarnya, hari ini kondisinya kembali memburuk.”

“Sudah ke rumah sakit?”

“Sudah, tapi tetap sama kondisinya. Mama sudah mengumpulkan banyak donatur darah dengan golongan O-, semoga saja ada yang cocok.”

“Bagaimana dengan bayinya?”

“Sama lemahnya dengan sang mama tapi aku yakin bayi itu akan bertahan.”

Carter menghela napas panjang, teringat akan Khaelia yang mempunya golongan darah yang sama dengan sang adik dan juga keponakannya. Ia tidak terlalu kuatir lagi tentang pasokan darah. Selama Khaelia sehat, harusnya tranfusi darah bisa dilakukan setiap dibutuhkan. Ia mengingatkan diri untuk memanggil dokter mengecek darah Khaelia.

“Tumben kamu makan malam bersama kami?” ujar Carlo dari kursi ujung. “Apakah hari ini waktumu untuk bersantai? Enak sekali kamu? Padahal kami yang bekerja saat siang, selalu banting tulang dan kamu enak-enak saja tidur!”

Carter tidak sempat menjawab saat terdengar suara langkah kaki. Sepasang laki-laki dan perempuan muncul dalam balutan pakaian mewah. Si perempuan bergaun biru gelap dengan taburan kristal sedangkan si laki-laki memakai jas lengkap.

“Maafkan kami terlambat!”

Tidak ingin berurusan dengan orang-orang ini, Carter bangkit dari kursi dan tanpa berpamitan menuju lift.

“Carter, mau kemana kamu?” teriak sang mama.

“Berangkat kerja.”

“Karenia dan tunanganya baru saja datang. Carter! Di mana sopan santunmu?”

Pintu lift menutup dengan pandangan Carter tertuju pada satu perempuan yang membuat hatinya kesal. Lebih baik di kantor bersama Khaelia karena rumahnya sendiri seperti neraka.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 72

    “Carter, sekarang bukan jam kerja.”Carter meraih lengan Khaelia dan membawanya pergi. “Siapa bilang kalau mengobrol harus di jam kerja?”“Tapi—”Emima tidak ada kesempatan membantah melihat Carter meraih lengan Khaelia dan membawanya pergi. Ia mengernyit, sedikit heran dengan sikap Carter yang tidak seperti biasanya. Mulai kapan sepupunya itu menjadi begitu posesif dengan seseorang. Khaelia memang sekretarisnya, tapi sekarang sedang berpesta. Bukankah seharusnya membiarkan Khaelia menikmati keramaian? Kenapa malah membawanya pergi?Emima tanpa sadar tersenyum, meraih gelas berisi minuman dari pelayan yang berkeliling. Menyesap perlahan dengan pikiran menerka-nerka. Sikap posesif, pandangan mata yang terpancang, sikap yang kaku ibarat anak kecil yang tidak mengizinkan orang lain mengambil miliknya. Sepupunya berada dalam situasi yang sulit karena perasaan yang begitu ketara.“Bingo! Kena kau, Carter,&

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 71

    Khaelia tidak sadar kalau dirinya menjadi pusat perhatian. Melangkah lambat-lambat karena takut salah jalan atau jatuh, ia menuju ke arah Carter berdiri. Malam ini Carter memakai jas malam dan celana abu-abu yang sedikit mengkilat saat terkena cahaya lampu. Berdiri kokoh sambil tersenyum padanya, Khaelia mengibaratkan dirinya seperti pengantin perempuan yang berjalan di altar dan Carter menunggunya di pelaminan. Tanpa sadar senyumnya menjadi semakin lebar, menyibak kerumunan, dan tidak peduli dengan orang-orang yang menatapnya. Langkah mantap mendekati laki-laki dengan wajah rupawan yang selalu ada dalam hatinya.Beberapa waktu tinggal berjauhan, Khaelia merasa rindu tapi tidak pernah bisa mengungkapkan. Ia juga cemburu pada Joice yang jauh lebih cantik, kaya, dan sepadan dengan Carter. Selalu beranggapan kalau Carter hanya menganggapnya pelampiasan nafsu belaka. Mendekat saat butuh seks, merayu karena ingin bersetubuh, dan membayar untuk setiap sentuhan yang mereka lakukan.

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 70

    “Silakan duduk, mau pesan apa?”Joice menatap minuman Carter. “Sepertinya minumanmu enak.”“Memang, kamu mau ini?”“Tentu, aku ingin coba.”Carter memesan minuman yang sama, mulai menjawab pertanyaan basa-basi dari Joice. Bisa dikatakan kalau dirinya lebih banyak mendengar, bukan karena dirinya laki-laki yang pengertian, tapi memang tidak ingin berbagi rahasia apa pun dengan Joice.“Kenapa kamu diam saja? Apakah merasa bosan? Mau pindah ke bar?”Carter menggeleng. “Tidak, menurutku ceritamu menarik.” Berkilah dengan baik, ia melihat Joice tersenyum.“Beberapa waktu lalu sepupumu datang ke galeriku. Wajah kalian mirip ternyata, tidak heran kalau Emima juga sangat cantik. Dia datang bersama sekretarismu.”“Khaelia? Ke galerimu?” tanya Carter heran.Joice tersenyum kecil, memutar gelas di tangannya. “Aku juga kaget melihat

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 69

    Sudah beberapa hari Carter bekerja sendirian karena Khaelia ke luar negeri mendampingi pengobatan Celila. Ia hanya mengantar dan setelah itu pulang lebih awal. Selama beberapa hari ini ia mengerjakan semua pekerjaan dibantu Bosman. Pematangan investasi baru selalu dilakukan hingga tiba di penghujung tahun dan seperti kebiasaan dari tahun ke tahun, selalu ada rencana untuk mengadakan pesta perusahaan untuk semua karyawan. Carter sudah membuat perhitungan kalau Khaelia akan tiba sehari sebelum pesta diadakan.Carter yakin kalau Khaelia ingin datang ke pesta pertamanya ini. Dari semenjak rencana terbentuk, Khaelia selalu bercerita dan bertanya dengan menggebu-gebu pada Carter, seberapa megah dan meriah biasanya pesta berlangsung. Sayangnya Carter tidak bisa memberikan jawaban pasti karena tidak pernah datang.“Aku menghindari keramaian, tidak terlalu suka berbaur dan berbasa-basi dengan banyak orang. Itulah kenapa banyak pegawai mengira pimpinan tertin

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 68

    “Kalau begitu, kenapa harus ada pernikahan bisnis kalau ujungnya tidak ada cinta?”“Khaelia, dalam dunia kami pernikahan bisnis itu sudah lumrah. Seperti halnya Carlo dan Sofia, aku pun sama. Bulan depan harus ikut kencan buta.”“Kamu mau?”Emima mengangguk. “Harus dicoba setidaknya bertemu sekali. Kalau pun tidak cocok, tidak perlu dilanjut. Apa kamu tahu Carter juga dijodohkan? Anaknya menteri perdagangan, namanya Joice, dan sepertinya mereka sudah pernah bertemu.”Khaelia terdiam mendengar informasi yang baru saja terlontar dari bibir Emima. Siapa sangka kalau Carter ternyata sudah punya calon pendamping. Ia menunduk, menyesap minumannya dalam diam. Mencoba menenangkan dirinya yang menjadi tidak nyaman. Kegembiraan yang baru saja dirasakannya seolah menguap karena kabar soal Carter dan anak menteri perdagangan.“Pasti perempuan itu sangat cantik,” gumam Khaelia perlahan.“M

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 67

    Khaelia memenuhi undangan Emima yang ingin mengajak mengobrol. Minggu malam, mereka bertemu di sebuah fancy restoran. Makan malam dengan nuansa nyaman dan cantik untuk para perempuan. Musik lembut mengalun di stereo dengan percakapan terdengar di berbagai sudut. Para pelayan dengan vest hitam mondar-mandir membawa nampan di tangan. Khaelia yang merasa tidak pernah punya teman akrab sebelumnya merasa senang dengan ajakan Emima. Mereka memesan es kopi dengan krim kental, spageti, serta kue yang cantik. Tadi pagi saat keluar dari rumah Carter, sejumlah uang masuk ke dalam rekeningnya dan membuat Khaelia tersentak kaget. Bagaimana tidak, jumlah uang yang masuk sangat banyak dan mengejutkannya.“Uang ini untuk apa, Tuan?” ia bertanya pada Carter saat tiba di rumah.“Uang jajan. Oh ya, mulai sekarang akan ada sopir yang mengantar jemput untuk bekerja. Kalau sewa rumahmu habis, jangan diperpanjang. Aku punya apartemen yang kosong di dekat k

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 8

    Khelia sedang melintasi lobi yang hari ini cukup ramai saat ponselnya bergetar. Ada notifikasi yang tidak dikenalnya dan ternyata pemberitahuan uang masuk. Ia terbelalak karena tidak menyangka gajinya akan sebesar ini. Hampir lima kali lipat dari gaji di perusahaan terdahulu. Ia sudah tahu gajinya

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 6

    Dalam benak Khaelia sedang sibuk memikirkan pekerjaan di kantor dan tidak peduli dengan perkataan sepupunya. Sudah biasa Mila selalu menentang pendapatnya, seakan menjadi sepupu paling peduli padahal tidak peduli.“Temen-temenku yang sarjana semua kerja di kantor besar. Saat weekend pada ngumpul di

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 5

    Waktu berlalu dengan cepat dan tanpa terasa sudah satu bulan Khaelia bekerja dengan Carter. Setiap hari melalui rutinitas yang sama. Membuat kopi, menyusun berkas, melakukan penjadwalan, dan setiap pukul 12 malam keduanya beristirahat 30 menit. Sesekali Carter memanggil pelayan untuk membawa cemila

  • Khaelia Sang Sekretaris Malam   BAB 4

    Setelah puas melihat-lihat, ia memutuskan untuk minum teh. Dengan malu-malu duduk di sofa sementara Carter merokok di sudut dekat gazebo. Menyesap tehnya, Khaelia diam-diam menatap profil atasannya. Carter yang ketampanannya tidak seperti manusia pada normal ternyata mempunyai sikap yang ramah. Tid

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status