LOGINCarter mendesah, merasakan hasrat menyerbunya hanya karena teringat Khaelia. Ia harus menyingkirkan semua pikiran buruk kalau ingin Khaelia betah di tempatnya bekerja. Ia kehilangan sekretaris lamanya karena laki-laki muda itu tidak kuat bergadang terus menerus, berganti lagi dengan perempuan dan hanya bertahan satu bulan karena terlalu takut untuk bicara dengannya.
Sekretarisnya yang terakhir seorang laki-laki berumut awal tiga puluhan, terhitung cukup lama bekerja, hampir enam bulan tapi akhirnya menyerah karena ingin menikah. Gonta-ganti sekretaris sampai-sampai Bosman kebingungan untuk mencari orang yang bisa menemaninya. Sejauh ini Khaelia tidak pernah mengeluh, ia hanya berharap nafsunya tidak membuat gadis itu pergi.
Selesai berpakaian, ia keluar kamar. Disambut beberapa pelayan yang membungkuk di lorong. Kamarnya berada di lantai tiga, sengaja menggunakan tangga padahal ada lift tidak jauh dari kamarnya. Ia perlu olah raga agar tubuhnya tetap bugar. Rumah keluarga yang ditempatinya terdiri atas lima tingkat dengan belasan kamar tidur. Untuk kolam renang ada di lantai paling atas berikut bar, serta lapangan helipad. Sedangkan garasi mobil ada di lantai empat, menyatu dengan mess untuk karyawan, dapur basah, serta gudang. Lantai tiga dan dua adalah ruang tidur serta perpustakaan dan ruang kerja. Lantai dasar ada dapur bersih, ruang tamu, serta ruang makan yang bisa menampung puluhan orang.
Saat mencapai lantai dasar, ia terdiam di tengah pintu menatap anggota keluarganya yang sudah duduk rapi bersiap untuk makan malam.
“Kau terlambat anakku?” Sang mama, seorang perempuan berumur enam puluh tahun dengan gaun hitam glamour mendekati Carter. Bernama Eiwa, perempuan itu masih sangat cantik dengan rambut merah madu. Mengecup pipi Carter dan membimbingnya ke meja. “Duduklah, sebentar lagi makan malam akan dimulai.”
Sang papa adalah laki-laki bertubuh gempal dengan rambut kelabu, sedang berbicara serius dengan anak pertama yang bernama Carlo. Duduk di samping Carlo adalah sang istri, Sofia. Sama seperti Eiwa, keduanya juga memakai baju warna hitam, hanya saja gaun yang dipakai Sofia sangat pendek hingga sebatas paha.
Di sisi kanan ada adik laki-laki Carter yang masih remaja bernama Clovis. Memakai kacamata dan sangat pendiam, Clovis sibuk dengan dunianya sendiri.
“Di mana Celila?” tanya Carter pada sang mama.
“Di kamarnya, hari ini kondisinya kembali memburuk.”
“Sudah ke rumah sakit?”
“Sudah, tapi tetap sama kondisinya. Mama sudah mengumpulkan banyak donatur darah dengan golongan O-, semoga saja ada yang cocok.”
“Bagaimana dengan bayinya?”
“Sama lemahnya dengan sang mama tapi aku yakin bayi itu akan bertahan.”
Carter menghela napas panjang, teringat akan Khaelia yang mempunya golongan darah yang sama dengan sang adik dan juga keponakannya. Ia tidak terlalu kuatir lagi tentang pasokan darah. Selama Khaelia sehat, harusnya tranfusi darah bisa dilakukan setiap dibutuhkan. Ia mengingatkan diri untuk memanggil dokter mengecek darah Khaelia.
“Tumben kamu makan malam bersama kami?” ujar Carlo dari kursi ujung. “Apakah hari ini waktumu untuk bersantai? Enak sekali kamu? Padahal kami yang bekerja saat siang, selalu banting tulang dan kamu enak-enak saja tidur!”
Carter tidak sempat menjawab saat terdengar suara langkah kaki. Sepasang laki-laki dan perempuan muncul dalam balutan pakaian mewah. Si perempuan bergaun biru gelap dengan taburan kristal sedangkan si laki-laki memakai jas lengkap.
“Maafkan kami terlambat!”
Tidak ingin berurusan dengan orang-orang ini, Carter bangkit dari kursi dan tanpa berpamitan menuju lift.
“Carter, mau kemana kamu?” teriak sang mama.
“Berangkat kerja.”
“Karenia dan tunanganya baru saja datang. Carter! Di mana sopan santunmu?”
Pintu lift menutup dengan pandangan Carter tertuju pada satu perempuan yang membuat hatinya kesal. Lebih baik di kantor bersama Khaelia karena rumahnya sendiri seperti neraka.
Khaelia tercengang, begitu juga orang lain yang ada di meja. Tidak biasanya Clovis yang pendiam jadi banyak bicara seperti sekarang, terutama demi membela Khaelia. Seluruh pandangan kini tertuju pada Clovis, bahkan Khaelia pun tidak bisa menyembunyikan kekagetannya. Ia berterima kasih karena dibela, tapi ini mengejutkan semua orang.“Clovis, Sayang. Mama senang dengar kamu bela Khaelia. Rupanya kamu sudah bisa menilai orang lain, Sayang.” Eiwa tersenyum pada anak bungsunya.Clovis memutar bola mata. “Aku merasa kalian yang berlebihan. Kalau Kak Carter suka, Khaelia juga ingin bersamanya, kenapa kalian larang? Biarkan saja. Kalau bosan juga putus.”“Cerdas!” sela Carlo. “Aku sepakat. Nggak usah dilarang, biarkan saja dan kalau nggak serius pasti juga putus.”“Lagi pula, Papa kurang adil kalau cuma memperingatkan Khaelia. Ingat, Pa. Anak Papa itu laki-laki, harusnya Carter yang diberi peringatan untuk ti
Khaelia menerima panggilan dari keluarga Solitaire. Undangan untuk datang ke rumah yang besar dan megah itu. Di saat Carter tidak ada di kota ini, mereka memintanya bertemu. Sudah bisa dipastikan untuk membahas hubungannya dengan Carter. Padahal, hubungannya bukan sesuatu yang tabu. Ia dan Carter sama-sama masih sendiri, tapi perbedaan status membuat semuanya menjadi terlarang.Khaelia memutuskan untuk pergi menghadapi apa pun yang terjadi, diantar oleh sopir kekasihnya.“Nona, silakan ke ruang makan.”Seorang pelayan berseragam menuntunnya masuk. Khaelia mengangguk, mengikuti pelayan perempuan itu menuju ruang makan yang bisa jadi adalah tempat pembantaian untuknya. Semua orang berkumpul, mulai dari Eiwa, Kaspia, Carlo, Sofia, dan Clovis. Semuanya mengenakan pakaian terbaik mereka untuk makan malam. Yang mengejutkan adalah kehadiran Celila di tengah-tengah mereka. Duduk diapit oleh Carlo dan Clovis, tersenyum menyambut Khaelia.“Aku sen
Hari-hari berlalu dengan cepat. Tanpa terasa dua minggu berlalu. Carlo dan Sofia kembali dari bulan madu mereka, membawa setumpuk oleh-oleh untuk Khaelia. Dengan wajah berseri-seri Sofia mengatakan ingin hamil dan punya anak.“Ternyata dicintai sangat menyenangkan, Khaelia. Aku tidak percaya kalau kini Carlo benar-benar mencintaiku.”Khaelia merasa sangat bahagia untuk pasangan itu dan mendoakan yang terbaik untuk mereka. Sofia sudah menderita sejauh ini dan pantas bahagia. Perempuan itu terlihat lebih cantik, lebih bahagia, dan lebih sehat dari terakhir kali mereka bertemu.“Aku mendengar dari Papa dan Mama kalau mereka sudah tahu hubunganmu dengan Carter?”“Iya, Nyonya.”“Karenia yang membocorkan?”Khaelia mengangguk dengan wajah muram.“Perempuan sialan! Aku tahu dia melakukan itu karena iri dan cemburu dengan hubunganmu dan Carter. Apa kamu tahu satu rahasia? Aku baru dengar ju
Khaelia menunduk, tidak berani menatap Carter. Kekasihnya saat ini sedang bertanya tentang apa yang terjadi. Ia tidak ingin berbohong, tapi sudah berjanji pada Clovis akan menyimpan rahasianya.“Kenapa diam, Khaelia? Apa yang terjadi?”“Nggak ada apa-apa, tadi nggak sengaja ketemu Clovis dan dia mengantarku kemari.”Carter menyipit, tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Ada yang janggal sedang terjadi dan Khaelia sedang menutupinya.“Kenapa kamu nggak terus terang? Takut apa kamu?”Khaelia menggeleng. “Tuan, saya nggak takut apa pun. Memang nggak ada hal istimewa yang terjadi.”“Begitu ternyata. Baiklah, kalau kamu nggak mau cerita aku akan menelepon Clovis.”“Tidaak!” Khaelia mendekati Carter, memeluk dan mengecup kedua pipi serta bibirnya berulang kali sambil memohon. Bagaimana bisa ia mengatakan kebenarannya, bukankah sama saja membuat Clovis tidak memperc
Mila mengerjap, berusaha memfokuskan pandangan. “Khaelia?”“Iya, ini aku. Ayo, aku antar kamu pulang. Orang tuamu bisa mengamuk kalau tahu keadaanmu seperti ini.”Khaelia mengulurkan tangan untuk memapah Mila, tapi dua laki-laki mendorongnya pergi.“Siapa kamu? Mila sedang bersama kami.”“Tidak ada yang boleh ikut campur urusan kami.”“Kecuali kamu mau ikut serta. Aku lihat kamu lebih cantik dari Mila. Ayo, Sayang. Ikut kami ya?”Satu orang dengan kurang ajar ingin meremas dada Khaelia. Dengan gesit Khaelia mengelak, mengayunkan kaki untuk menendang selangkangannya.“Aduh, sialan! Perempuan brengsek!”Clovis memerintahkan anak buahnya mencegah perkelahian. Membantu Khaelia membawa Mila yang mabuk keluar dari klub dan menahan para pengunjung kurang ajar itu.Tiba di teras, Mila muntah-muntah dan Khaelia mengernyit bingung.“Apa-apaan dia
Clovis mendengarkan laporan manajer klub di depannya tentang apa yang terjadi dengan klub selama ia tidak ada. Beberapa hari ini ia disibukkan dengan ujian, membuatnya tidak ada waktu untuk datang.“Beberapa teman Tuan datang, ingin service VIP. Kami berikan dan mereka terlibat perkelahian membuat beberapa barang pecah.”“Berikan nama-namanya, biar aku yang membuat perhitungan dengan mereka. Ada lagi?”“Tentang distributor minuman, mereka menginginkan keputusan.”“Oke, lusa aku kabari. Kamu beritahu mereka untuk menunggu. Minta pramusaji membawakan contoh minuman untukku.”“Baik, Tuan.”Manajer membungkuk lalu menghilang. Clovis memutar tubuh di tempat duduknya, mengedarkan pandangan ke sekeliling yang ramai dan padat. Klub ini awalnya bukan miliknya, ia hanya pelanggan biasa yang hampir tiap hari datang. Pemiliknya mengeluh masalah keuangan dan memutuskan ingin menjual klu
Khaelia bergegas mengikuti Bosman menuju lift. Sedikit lega karena bossnya ternyata tidak setua bayangannya. Lobi dalam keadaan masih cukup ramai, ia menduga mereka adalah para pekerja yang sedang lembur. Tanpa sadar Khaelia mengamati Bosman diam-diam dan menyadari kalau kulit laki-laki itu cenderu
Warning : Adult roman story 21+Nama kota itu adalah Devil Town, tidak ada yang tahu bagaimana asal muasal nama itu diberikan. Kota iblis yang bagi banyak penduduknya memang perpaduan surga bagi orang kaya dan neraka bagi mereka yang tiak punya apa-apa.Devil Town merupakan kota besar dengan gedung
Khelia sedang melintasi lobi yang hari ini cukup ramai saat ponselnya bergetar. Ada notifikasi yang tidak dikenalnya dan ternyata pemberitahuan uang masuk. Ia terbelalak karena tidak menyangka gajinya akan sebesar ini. Hampir lima kali lipat dari gaji di perusahaan terdahulu. Ia sudah tahu gajinya
Dalam benak Khaelia sedang sibuk memikirkan pekerjaan di kantor dan tidak peduli dengan perkataan sepupunya. Sudah biasa Mila selalu menentang pendapatnya, seakan menjadi sepupu paling peduli padahal tidak peduli.“Temen-temenku yang sarjana semua kerja di kantor besar. Saat weekend pada ngumpul di







