分享

Bab 8

作者: Surana
Setelah makan malam, Gilang mengajak Joanna dan Haris untuk menonton kembang api.

Di langit malam, kembang api meletus dengan indahnya. Gilang merangkul pinggang Joanna, sementara Haris bersandar manja di dekat mereka. Pemandangan itu tampak sangat bahagia, seperti sebuah lukisan keluarga yang sempurna.

Vanya berdiri jauh di belakang mereka. Dia memilih untuk berbalik dan bersiap pergi dalam diam. Namun, tiba-tiba, Haris berlari ke arahnya, menyalakan sebuah kembang api, dan melemparkannya tepat ke arah Vanya!

Bum!

Kembang api meledak tepat di samping kakinya. Percikan apinya mengenai ujung celana Vanya, seketika membakar kainnya hingga berlubang.

"Lihat betapa bahagianya Ayah dan Bibi Joanna?" Haris tertawa jahat. "Aku dan Ayah, kami berdua sama-sama nggak suka sama kamu! Kamu itu pembunuh ibuku, jadi pelayan buat urusin kami saja kamu nggak pantas!"

"Kalau kamu masih nggak mau pergi juga dan keras kepala mau rebut posisi ini, aku nggak akan kasih kamu hidup tenang!"

"Selain ibuku sendiri, aku cuma mau Bibi Joanna yang jagain aku!"

Setelah berteriak begitu, dia melemparkan kembang api satu per satu ke arah tubuh Vanya.

Rentetan ledakan kembang api mengenai tubuhnya, membuat bajunya compang-camping penuh lubang bakar.

Demi melindungi wajahnya, lengan Vanya terkena ledakan hingga luka-lukanya menganga lebar. Rasanya sangat perih dan panas membakar, kulit dan dagingnya sampai terkelupas.

"Nggak perlu kamu usir." Vanya kembali menegaskan dengan suara keras. "Sebentar lagi, aku bakal pergi."

Haris terpaku sejenak. Baru saja dia ingin menyahut, Gilang sudah berjalan mendekat. "Ada apa ini?"

Seketika raut wajah Haris berubah total. Dengan raut wajah yang tampak terzalimi, dia berkata, "Ayah, aku tadi mau ajak Vanya main kembang api, tapi dia payah banget sampai kena ledakan sendiri!"

Joanna buru-buru menghampiri Haris dengan ekspresi cemas. Setelah memastikan bocah itu tidak terluka, dia baru bisa bernapas lega.

"Nona Vanya, kamu 'kan sudah dewasa. Nggak apa-apa kalau kamu melukai diri sendiri, tapi tolong jangan sampai mencelakai Haris, dong!"

Gilang mengernyitkan dahi. "Lain kali lebih hati-hati. Haris nggak boleh sampai kenapa-napa."

Vanya tidak lagi memberikan penjelasan apa pun. Dia hanya pergi dalam diam menuju rumah sakit untuk mendaftarkan diri dan mengobati luka-lukanya sendirian.

Setelah beristirahat semalaman di rumah sakit, Vanya menerima telepon dari Kantor Catatan Sipil.

"Nona Vanya, akta cerai yang kamu ajukan sudah selesai diproses. Silakan datang untuk mengambilnya."

Mendengar hal itu, dia hanya merasakan sebuah kelegaan yang luar biasa.

Akhirnya, semuanya akan segera berakhir.

Dia pun pergi ke kantor tersebut dan menerima akta cerainya. Petugas di sana bertanya, "Lalu, bagaimana dengan akta milik pihak laki-laki?"

Vanya menekan nomor telepon Gilang. Namun, di seberang telepon, yang terdengar justru suara tawa riang Haris dan Joanna yang sedang asyik bermain.

Vanya terdiam sejenak, lalu berucap pelan, "Masa kontrak enam tahun sudah habis. Gilang, aku mau pergi. Datanglah ke Kantor Catatan Sipil untuk ambil akta ceraimu."

Gilang mendengus meremehkan. "Kamu ketagihan akting? Nggak mungkin kamu berani pergi, setiap hari kerjamu cuma bilang mau pergi terus."

"Sudahlah, kamu masih marah soal kejadian beberapa hari ini, 'kan? Kalau mau apa-apa, bilang saja sama asistenku. Aku lagi sibuk sekarang, jangan ganggu aku terus."

Baru saja kalimat itu selesai diucapkan, terdengar bunyi telepon ditutup.

Gilang memutuskan sambungan telepon secara sepihak.

Vanya menghela napas panjang. Dia hanya bisa menatap petugas di depannya. "Dia nggak punya waktu untuk kemari. Tolong simpan saja akta cerai bagiannya di sini. Ini nomor teleponnya, mohon hubungi dia kalau dia ada waktu untuk mengambilnya nanti."

Selesai berkata demikian, dia menyerahkan akta cerai milik Gilang kepada petugas, lalu melangkah mantap keluar dari gerbang Kantor Catatan Sipil.

Menghirup udara kebebasan yang segar, dia sama sekali tidak berniat kembali ke rumah itu. Barang-barangnya pun tidak ada yang ingin dia bawa lagi.

Detik itu juga, dia memesan taksi menuju panti jompo untuk menjemput ibunya, lalu mereka langsung pergi menuju bandara.

Saat melangkah masuk ke dalam pesawat, raut wajahnya dipenuhi dengan perasaan lega yang luar biasa.

Lima jam kemudian.

Di depan gerbang taman bermain, Gilang naik ke dalam mobil, bersiap membawa putranya pulang.

Haris mengerucutkan bibirnya dan bertanya, "Ayah, kenapa Ayah terus-terusan nggak mau cerai sama Vanya? Bukannya sama saja kalau Bibi Joanna yang jagain aku?"

Gilang mengernyitkan dahi. "Nggak bisa. Cuma dia yang bisa urus kamu. Lagi pula, dia nggak akan mungkin mau cerai sama Ayah. Kamu jangan ribut lagi sama dia nanti."

Haris merasa sangat tidak puas dan hendak merengek lagi. Namun, detik berikutnya, ponsel Gilang tiba-tiba berdering.

Begitu dia mengangkatnya, terdengar suara petugas dari Kantor Catatan Sipil di seberang telepon.

"Halo, Pak Gilang. Prosedur perceraian Anda telah selesai diproses. Akta cerai Anda sudah dititipkan oleh mantan istri Anda di kantor kami. Kira-kira kapan Anda ada waktu untuk mengambilnya?"

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 26

    "Jangan begitu. Sekarang, kamu dan Haris harus segera pergi," tolak Vanya tanpa ragu sedikit pun.Ketika seorang pria mulai merasa penasaran terhadap seorang wanita, itulah awal dari sebuah perasaan.Akan tetapi, Vanya tahu bahwa di dalam hati Gilang akan selalu ada tempat bagi mendiang Laili, posisi yang tidak akan pernah bisa digoyahkan oleh siapa pun.Orang yang masih hidup tidak akan pernah bisa menang melawan orang yang sudah mati. Vanya sudah membuktikan hal itu sekali dan dia benar-benar lelah. Dia tidak ingin mencobanya lagi.Kondisinya yang sekarang sudah sangat baik. Dia tidak butuh mereka untuk bisa hidup bahagia.Gilang merasa sangat tidak berdaya, dia berkata dengan perlahan, "Vanya, percaya atau nggak, aku sebenarnya mulai menyukaimu. Meski belum bisa menandingi perasaanku pada Laili, tapi berikan aku waktu, aku akan mencintaimu. Cinta ini nggak ada hubungannya dengan Laili. Aku tahu aku harus belajar merelakannya."Mendengar itu, Vanya merasa sangat jijik seolah melihat

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 25

    "Anak durhaka? Kamu bahkan nggak pantas kusebut sebagai Ayah. Nggak pernah menafkahiku sehari pun, tapi masih berharap aku berbakti padamu?""Selama enam tahun ini, bukannya sudah cukup banyak keuntungan yang kamu peras dari Keluarga Mahesa? Masih belum menyerah juga? Kamu pikir aku akan tetap menurut padamu seperti dulu? Jangan mimpi!"Dulu, dia sudah terlalu lama bersabar dan mengalah saat berada di kediaman Mahesa. Sekarang, dia tidak akan pernah membiarkan dirinya ditindas lagi.Mendengar ucapan itu, wajah ayahnya berubah pucat pasi lalu merah padam. Merasa orang-orang di sekitar mulai berbisik-bisik dan menunjuk-nunjuk ke arahnya, rasa malunya berubah menjadi kemurkaan yang meledak."Vanya, kamu benar-benar sudah berani sekarang! Kalau bukan karena aku, ibumu pasti sudah lama mati karena sakit! Kamu juga nggak akan mungkin bisa masuk ke lingkaran Keluarga Mahesa dan mencicipi hidup mewah sebagai nyonya besar!""Kamu itu berutang pada Keluarga Baskara, berutang pada kakakmu, Laili!

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 24

    Saat membuka mata, Haris menyadari dirinya berada dalam dekapan yang hangat.Ibunya Vanya, Linda, sedang memeluknya. Melihat Haris sudah siuman, dia dengan telaten menyuapinya bubur, meski nada bicaranya tetap terdengar sangat dingin."Lain kali, jangan pernah lagi gunakan taktik melukai diri sendiri seperti ini. Kalau sekali lagi kamu sengaja membuat dirimu kelaparan sampai pingsan cuma untuk mencari Vanya, aku nggak akan segan-segan menyerahkanmu ke kantor polisi."Haris menelan sesendok bubur, matanya tertunduk lesu. "Maafkan aku ...."Linda langsung memotong permintaan maafnya dengan cepat. "Nggak perlu lagi mengucapkan kata maaf. Luka yang kamu torehkan pada Vanya nggak akan pernah bisa dimaafkan. Kalau bukan karena kamu masih anak-anak, aku pasti akan mempertaruhkan nyawaku sendiri untuk memastikan kamu merasakan setiap penderitaan yang pernah dia rasakan!""Tapi, aku benar-benar tahu aku salah. Aku bisa tinggal di sini untuk menebus dosaku, tolong jangan usir aku, ya?"Air mata

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 23

    Haris juga menggigit bibirnya dengan raut wajah yang sangat sedih. "Ayah, apa Ibu benar-benar sudah nggak menginginkanku lagi?""Nggak mungkin. Selama kita berusaha keras memohon pengampunannya, suatu hari nanti dia pasti akan melihat ketulusan hati kita."Gilang tidak ingin membuat putranya bersedih dan dirinya sendiri pun belum mau menyerah.Mendengar ucapan itu, suasana hati Haris sedikit membaik. Dia mengangguk mantap. "Aku pasti akan berusaha keras!"Setelah pergi ke rumah sakit untuk mengobati luka mereka, ayah dan anak itu membeli sebuah rumah di dekat penginapan Vanya dan menetap di sana untuk sementara waktu.Suatu hari, Haris melihat Arum sedang duduk di depan pintu, menikmati masakan buatan Vanya sambil tersenyum lebar hingga matanya menyipit bahagia.Seketika, rasa iri dan cemburu yang amat sangat bergejolak di dalam hati Haris.Dulu, hanya dialah satu-satunya anak yang mendapatkan perawatan istimewa seperti itu dari Vanya.Hanya dia yang boleh memanggil Vanya Ibu.Akan tet

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 22

    Belum sempat kata-kata penjelasan itu selesai terucap, Vanya sudah memotongnya dengan tidak sabar, "Sudahlah. Nggak perlu lagi membicarakan hal-hal nggak berguna seperti itu. Dulu, aku memang sangat berharap kalian bisa menyukaiku. Tapi, sekarang, aku sudah punya cinta dari banyak orang. Aku nggak butuh kalian lagi."Baru saja dia hendak melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba sebuah papan reklame di atas kepala mereka terlepas dan jatuh menghantam ke arahnya."Vanya!""Ibu!"Dalam sekejap mata, Gilang dan Haris secara bersamaan menerjang ke arah Vanya sambil berteriak panik.Vanya hanya sempat melangkah mundur satu langkah. Dia sama sekali tidak terluka, tetapi papan reklame itu justru menghantam dan menembus bahu Gilang.Darah segar terus mengalir deras dari bahunya. Gilang meringis menahan sakit yang luar biasa, tetapi dia sekuat tenaga tidak mengeluarkan satu pun keluhan.Sebaliknya, hal pertama yang dia lakukan adalah memastikan keadaan Vanya."Vanya, kamu nggak apa-apa? Apa ada yang lu

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 21

    Gilang dan Haris terpaku menatap pintu yang tertutup rapat itu. Mereka merasa sangat tidak berdaya dan kehilangan arah."Ayah, aku sudah minta maaf, tapi kenapa Ibu nggak mau memaafkanku? Apa kontrak itu sebegitu pentingnya? Apa selama bertahun-tahun ini dia sama sekali nggak punya perasaan pada kita? Bagaimana bisa dia melepaskan semuanya begitu saja?""Padahal meskipun aku membencinya, di dalam hatiku aku masih mencintainya diam-diam. Aku benar-benar tahu aku salah sekarang."Haris terisak dengan suara lirih.Air mata sebesar biji jagung jatuh membasahi tanah, tak terbendung lagi.Kali ini, dia benar-benar menangis dengan tulus.Dia sungguh tidak mengerti, mengapa Vanya bisa bersikap begitu baik pada gadis kecil yang baru dikenalnya beberapa hari, tetapi bisa dengan begitu cepat menghapus mereka dari hatinya.Di sampingnya, tinju Gilang yang mengepal di sisi kaki mulai mengeluarkan tetesan darah, yang perlahan mengalir dari sela jari dan jatuh ke tanah."Mungkin karena kita sudah ben

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status