Share

Bab 7

Author: Surana
Seketika wajah Gilang berubah drastis menjadi sangat muram. "Haris!" bentaknya kasar.

Akan tetapi, sebelum kata-kata teguran itu sempat keluar dari mulutnya, mata Haris sudah memerah berkaca-kaca.

"Dia bohong! Ayah, aku sudah dengerin omongan Ayah, aku nggak usir dia lagi!"

"Kalau Ayah nggak percaya, suruh dia kuras lambung buat diperiksa! Itu bakal ngebuktiin siapa yang sebenarnya jujur!"

Gilang terdiam sejenak untuk menimbang dan di luar dugaan, dia mengangguk setuju.

Vanya pun diseret paksa untuk menjalani prosedur bilas lambung. Namun, tidak ada satu orang pun yang tahu bahwa Haris telah diam-diam mencampurkan air cabai ke dalam cairan bilas lambung tersebut.

Rasa panas yang membakar seketika menjalar dari tenggorokan hingga ke perutnya. Vanya meringkuk kesakitan hingga tubuhnya gemetar hebat, keringat dingin membasahi seluruh baju pasiennya.

Dia terus muntah dalam waktu yang sangat lama, hingga rasanya empedunya pun ikut keluar, tetapi rasa perih di lambungnya tak kunjung reda.

Tak lama kemudian, perawat datang membawa laporan pemeriksaan dan membacakan hasilnya kepada mereka.

"Hasil pemeriksaan menunjukkan nggak ada jejak bubuk gatal atau zat kimia serupa."

Setelah mendengar hasil pemeriksaan itu, raut wajah Gilang dipenuhi dengan kekecewaan mendalam.

Dia menatap Vanya dengan dingin, "Vanya, sekarang kamu benar-benar pembohong. Kakakmu itu sangat lembut dan baik hati, kenapa sedikit pun kamu nggak bisa mencontoh sifatnya?"

Haris pun ikut menyahut di sampingnya, "Bener banget! Dia nggak ada apa-apanya dibanding Ibu kandungku, bisanya cuma memfitnah aku saja!"

Dengan penuh kemarahan, Gilang membawa Haris pergi meninggalkan ruangan, hanya menyisakan satu kalimat tajam. "Pikirkan saja nasibmu sendiri."

Vanya terbaring lemas di ranjang rumah sakit, sudut matanya perlahan mulai basah.

Beberapa hari berlalu, kondisi tubuhnya akhirnya berangsur pulih.

Hal pertama yang dia lakukan setelah keluar dari rumah sakit adalah pergi ke panti jompo untuk menjenguk ibunya.

"Bu, dua hari lagi aku sudah bisa lepas dari Keluarga Mahesa. Kita pergi dari sini sama-sama ya, kita pindah dan cari tempat tinggal baru."

Ibu Vanya menghela napas panjang dengan tatapan sedih. "Vanya, Ibu tahu tahun-tahun ini berat sekali buatmu. Ibu minta maaf karena sudah membuatmu menderita."

"Ibu bakal nurut sama kamu. Kamu mau pergi ke mana pun, Ibu bakal ikut. Mulai sekarang, kita fokus jalani hidup kita sendiri saja. Masa bodoh sama Keluarga Baskara atau Keluarga Mahesa, semuanya sudah nggak ada urusannya lagi sama kita!"

Mendengar ucapan ibunya, Vanya tidak sanggup lagi membendung air matanya. Dia mengangguk pelan sambil terisak.

Sesampainya di rumah, Vanya mendapati Joanna juga ada di sana.

Wanita itu duduk di ruang tamu dengan senyum manis yang dibuat-buat. "Haris baru saja menang lomba piano, jadi dia mengundangku untuk ikut merayakan bersama kalian. Nona Vanya nggak keberatan, 'kan?"

"Nggak kok."

Vanya menjawab datar. Toh, sebentar lagi dia akan pergi. Sosok nyonya rumah di sini memang bukan dia lagi.

Di meja makan, Gilang, Joanna, dan Haris tampak begitu harmonis dan akrab, persis seperti sebuah keluarga utuh.

Sementara itu, Vanya justru terus-terusan diperintah oleh Haris untuk mengupas udang dan membelah kepiting untuk mereka. Sepanjang makan malam itu, ujung jarinya teriris cangkang kepiting yang tajam hingga berdarah, tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang peduli atau sekadar meliriknya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 26

    "Jangan begitu. Sekarang, kamu dan Haris harus segera pergi," tolak Vanya tanpa ragu sedikit pun.Ketika seorang pria mulai merasa penasaran terhadap seorang wanita, itulah awal dari sebuah perasaan.Akan tetapi, Vanya tahu bahwa di dalam hati Gilang akan selalu ada tempat bagi mendiang Laili, posisi yang tidak akan pernah bisa digoyahkan oleh siapa pun.Orang yang masih hidup tidak akan pernah bisa menang melawan orang yang sudah mati. Vanya sudah membuktikan hal itu sekali dan dia benar-benar lelah. Dia tidak ingin mencobanya lagi.Kondisinya yang sekarang sudah sangat baik. Dia tidak butuh mereka untuk bisa hidup bahagia.Gilang merasa sangat tidak berdaya, dia berkata dengan perlahan, "Vanya, percaya atau nggak, aku sebenarnya mulai menyukaimu. Meski belum bisa menandingi perasaanku pada Laili, tapi berikan aku waktu, aku akan mencintaimu. Cinta ini nggak ada hubungannya dengan Laili. Aku tahu aku harus belajar merelakannya."Mendengar itu, Vanya merasa sangat jijik seolah melihat

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 25

    "Anak durhaka? Kamu bahkan nggak pantas kusebut sebagai Ayah. Nggak pernah menafkahiku sehari pun, tapi masih berharap aku berbakti padamu?""Selama enam tahun ini, bukannya sudah cukup banyak keuntungan yang kamu peras dari Keluarga Mahesa? Masih belum menyerah juga? Kamu pikir aku akan tetap menurut padamu seperti dulu? Jangan mimpi!"Dulu, dia sudah terlalu lama bersabar dan mengalah saat berada di kediaman Mahesa. Sekarang, dia tidak akan pernah membiarkan dirinya ditindas lagi.Mendengar ucapan itu, wajah ayahnya berubah pucat pasi lalu merah padam. Merasa orang-orang di sekitar mulai berbisik-bisik dan menunjuk-nunjuk ke arahnya, rasa malunya berubah menjadi kemurkaan yang meledak."Vanya, kamu benar-benar sudah berani sekarang! Kalau bukan karena aku, ibumu pasti sudah lama mati karena sakit! Kamu juga nggak akan mungkin bisa masuk ke lingkaran Keluarga Mahesa dan mencicipi hidup mewah sebagai nyonya besar!""Kamu itu berutang pada Keluarga Baskara, berutang pada kakakmu, Laili!

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 24

    Saat membuka mata, Haris menyadari dirinya berada dalam dekapan yang hangat.Ibunya Vanya, Linda, sedang memeluknya. Melihat Haris sudah siuman, dia dengan telaten menyuapinya bubur, meski nada bicaranya tetap terdengar sangat dingin."Lain kali, jangan pernah lagi gunakan taktik melukai diri sendiri seperti ini. Kalau sekali lagi kamu sengaja membuat dirimu kelaparan sampai pingsan cuma untuk mencari Vanya, aku nggak akan segan-segan menyerahkanmu ke kantor polisi."Haris menelan sesendok bubur, matanya tertunduk lesu. "Maafkan aku ...."Linda langsung memotong permintaan maafnya dengan cepat. "Nggak perlu lagi mengucapkan kata maaf. Luka yang kamu torehkan pada Vanya nggak akan pernah bisa dimaafkan. Kalau bukan karena kamu masih anak-anak, aku pasti akan mempertaruhkan nyawaku sendiri untuk memastikan kamu merasakan setiap penderitaan yang pernah dia rasakan!""Tapi, aku benar-benar tahu aku salah. Aku bisa tinggal di sini untuk menebus dosaku, tolong jangan usir aku, ya?"Air mata

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 23

    Haris juga menggigit bibirnya dengan raut wajah yang sangat sedih. "Ayah, apa Ibu benar-benar sudah nggak menginginkanku lagi?""Nggak mungkin. Selama kita berusaha keras memohon pengampunannya, suatu hari nanti dia pasti akan melihat ketulusan hati kita."Gilang tidak ingin membuat putranya bersedih dan dirinya sendiri pun belum mau menyerah.Mendengar ucapan itu, suasana hati Haris sedikit membaik. Dia mengangguk mantap. "Aku pasti akan berusaha keras!"Setelah pergi ke rumah sakit untuk mengobati luka mereka, ayah dan anak itu membeli sebuah rumah di dekat penginapan Vanya dan menetap di sana untuk sementara waktu.Suatu hari, Haris melihat Arum sedang duduk di depan pintu, menikmati masakan buatan Vanya sambil tersenyum lebar hingga matanya menyipit bahagia.Seketika, rasa iri dan cemburu yang amat sangat bergejolak di dalam hati Haris.Dulu, hanya dialah satu-satunya anak yang mendapatkan perawatan istimewa seperti itu dari Vanya.Hanya dia yang boleh memanggil Vanya Ibu.Akan tet

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 22

    Belum sempat kata-kata penjelasan itu selesai terucap, Vanya sudah memotongnya dengan tidak sabar, "Sudahlah. Nggak perlu lagi membicarakan hal-hal nggak berguna seperti itu. Dulu, aku memang sangat berharap kalian bisa menyukaiku. Tapi, sekarang, aku sudah punya cinta dari banyak orang. Aku nggak butuh kalian lagi."Baru saja dia hendak melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba sebuah papan reklame di atas kepala mereka terlepas dan jatuh menghantam ke arahnya."Vanya!""Ibu!"Dalam sekejap mata, Gilang dan Haris secara bersamaan menerjang ke arah Vanya sambil berteriak panik.Vanya hanya sempat melangkah mundur satu langkah. Dia sama sekali tidak terluka, tetapi papan reklame itu justru menghantam dan menembus bahu Gilang.Darah segar terus mengalir deras dari bahunya. Gilang meringis menahan sakit yang luar biasa, tetapi dia sekuat tenaga tidak mengeluarkan satu pun keluhan.Sebaliknya, hal pertama yang dia lakukan adalah memastikan keadaan Vanya."Vanya, kamu nggak apa-apa? Apa ada yang lu

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 21

    Gilang dan Haris terpaku menatap pintu yang tertutup rapat itu. Mereka merasa sangat tidak berdaya dan kehilangan arah."Ayah, aku sudah minta maaf, tapi kenapa Ibu nggak mau memaafkanku? Apa kontrak itu sebegitu pentingnya? Apa selama bertahun-tahun ini dia sama sekali nggak punya perasaan pada kita? Bagaimana bisa dia melepaskan semuanya begitu saja?""Padahal meskipun aku membencinya, di dalam hatiku aku masih mencintainya diam-diam. Aku benar-benar tahu aku salah sekarang."Haris terisak dengan suara lirih.Air mata sebesar biji jagung jatuh membasahi tanah, tak terbendung lagi.Kali ini, dia benar-benar menangis dengan tulus.Dia sungguh tidak mengerti, mengapa Vanya bisa bersikap begitu baik pada gadis kecil yang baru dikenalnya beberapa hari, tetapi bisa dengan begitu cepat menghapus mereka dari hatinya.Di sampingnya, tinju Gilang yang mengepal di sisi kaki mulai mengeluarkan tetesan darah, yang perlahan mengalir dari sela jari dan jatuh ke tanah."Mungkin karena kita sudah ben

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status