LOGINMakasih buat yg masih baca 🫶🏻🫶🏻🫶🏻
“Dasar wanita sialan!”Langkah Crelia menghentak keras di sepanjang koridor Mansion.Gaun putih yang dikenakannya ikut bergoyang seiring gerak tubuhnya yang penuh emosi.Dadanya naik turun akibat kesal dan marah.Belum selesai dengan Lovelle, sekarang muncul lagi wanita lain!Seraphine Houston?Crelia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Brengsek.Satu gadis asing saja sudah cukup membuat semuanya berantakan. Lalu sekarang muncul ilmuwan cantik yang jelas-jelas memandang Xeyren dengan cara berbeda?Aargh… sebenarnya ada apa dengan pria itu?!Crelia menggigit bibirnya. Ia benar-benar tidak mengerti.Karena beberapa waktu sebelum kedatangan Lovelle, semuanya tidak seperti ini.Xeyren memang dingin, sulit didekati, bahkan sering menghilang berhari-hari.Namun di antara semua orang yang ada di sekelilingnya, hanya dirinya yang selalu berada di sana.Tidak pernah ada wanita lain, tidak pernah ada tatapan seperti yang diberikan Xeyren kepada Lovelle.Dan yang paling membuat Crelia takut... ia t
Seraphine kini keluar dari ruang kerja dengan langkah cepat. Heels sepatunya yang tinggi dan runcing mengeluarkan suara keras saat beradu dengan lantai, menggema di lorong Mansion. Ekspresinya masih tampak tenang, namun kesepuluh jemarinya sudah mengepal di sisi tubuhnya. Ia gagal. Benar-benar gagal. Padahal beberapa menit lalu, ia sempat berpikir bahwa Xeyren Crow setidaknya akan sedikit tertarik dengannya. Namun semuanya pun buyar begitu gadis bertubuh pendek itu muncul. Saat itu juga, dia telah mengambil alih seluruh atensi Xeyren. Dasar pengganggu brengsek!! Sambil menggerutu, Seraphine berbelok di dekat tangga. Karena berjalan dengan terburu-buru, wanita itu pun bertabrakan dengan seseorang. Seorang wanita berambut pirang, bergaun putih elegan, namun tatapannya dingin. Seraphine mengangkat alisnya penuh pengamatan. “Sepertinya kamu bukan pelayan.” Wanita itu, Crelia, pun ikut menatapnya dari atas sampai bawah. “Dan kau sangat tidak sopan untuk seorang tamu.”
Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun orang yang bergerak. Lovelle masih setengah terduduk di lantai, dengan wajah yang memanas saat menyadari posisinya sekarang. Xeyren berdiri di depannya, sementara Seraphine ada di belakang. Dan dirinya… benar-benar telah tertangkap basah karena menguping. Aargh, memalukan sekali! “Aku…” Lovelle membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi. Manik biru pucatnya berlarian cepat ke sana kemari seperti seseorang yang sedang mencari alasan untuk selamat. “Uhm... aku cuma lewat,” ucap gadis itu akhirnya. Satu alis lebat milik Xeyren seketika terangkat. “Cuma lewat?” ulangnya, dengan nada datar yang terdengar tidak percaya. Dan Lovelle pun semakin salah tingkah. “Ya, cuma lewat, lalu pintunya kebetulan terbuka…” “Dan apakah itu kebetulan juga ketika telingamu menempel di sana?” ucap lugas Xeyren. Seketika Lovelle membeku, sementara Seraphine yang berdiri beberapa langkah di belakang akhirnya tertawa kecil. Namun senyum di bibir wanita itu
Suasana ruang makan masih terasa berat, setelah percakapan tentang anomali kedua itu. Dan Xeyren-lah yang berdiri lebih dulu. Untuk sesaat, atapan kelabu gelapnya tertuju pada Seraphine. “Cari anomali itu,” ucapnya datar. “Aku tidak peduli berapa orang yang harus dikerahkan. Temukan.” Seraphine mengangkat alis tipis. “Baik, Tuan Crow.” Lalu tanpa menunggu lagi, Xeyren pun segera menggenggam tangan Lovelle yang masih berada di pangkuannya. “Ke kamar," titahnya. Namun belum sempat ia beranjak, tiba-tiba Seraphine kembali membuka suara. “Tuan Crow, aku minta waktu Anda untuk membicarakan sesuatu yang penting.” Tatapan Xeyren pun bergeser kembali pada wanita itu, lalu mengangguk singkat. “Aku akan mengantar Lovelle beristirahat," ucapnya dengan nada suaranya yang tetap tenang. “Tunggulah di ruang kerjaku.” Pria itu lalu memanggil salah satu pelayan. “Antarkan Professor Houston ke ruang kerja.” Pelayan itu pun membungkuk hormat, lalu Xeyren pun kembali berjalan, denga
Ruang makan itu kembali sunyi setelah ucapan terakhir Seraphine. ((Atau lebih buruk... ada seseorang yang mencarimu.)) Tidak ada yang langsung berbicara, bahkan denting alat makan pun telah berhenti. Lovelle masih duduk di atas pangkuan Xeyren, namun kini sekujur tubuhnya terasa sedikit dingin. Seseorang. Seseorang yang mungkin datang bersamanya. Dan orang itu… sedang mencarinya? “Lovelle.” Suara berat Xeyren memecah keheningan. Perlahan gadis itu pun menoleh, dan beradu tatap dengan manik kelabu pria itu tertuju lurus, tajam dan fokus padanya. “Apa ada seseorang yang kamu ingat?” Lovelle membuka bibirnya. “Aku~~” Kalimat itu terhenti, karena tepat di detik berikutnya kepalanya mendadak berdenyut. “Lovelle?” alis Xeyren langsung berkerut. Tangannya pun otomatis menahan pinggang gadis itu lebih erat. Namun Lovelle sudah tidak mendengar apa pun, karena dunia di sekelilingnya seperti menjauh... dan sesuatu yang asing mulai muncul. Jemari kecil yang menggenggam ta
Keheningan singkat tercipta setelah ucapan Xeyren barusan. Elias berdeham kecil sambil mendorong kacamatanya dengan canggung. “T-Tentu saja tidak, Tuan Crow.” Namun berbeda dengan asistennya, Seraphine justru terlihat tenang. Wanita itu bahkan menarik kursinya sendiri dengan elegan, lalu duduk sambil menyilangkan kaki. “Kalau dipikir-pikir,” guman Seraphine santai, “ini pertama kalinya saya melihat Anda membiarkan seseorang berada sedekat itu.” Tatapan tajamnya kembali jatuh pada Lovelle. Seketika, pelukan Xeyren di pinggang Lovelle terasa sedikit semakin erat. Sudut bibir pria itu terangkat tipis. “Banyak sekali analisismu malam ini, Professor.” Seraphine tersenyum samar. “Saya ilmuwan. Hal seperti itu sudah menjadi kebiasaan.” Sementara itu, Lovelle mulai merasa semakin tidak nyaman dijadikan pusat perhatian seperti ini. Terlebih karena tatapan Seraphine terasa terlalu tajam. Bukan seperti seorang wanita biasa... melainkan seperti seseorang yang sedang membedah sesuatu







