로그인Di ujung telepon, Wayne terus marahi Joana tanpa henti. Joana langsung mengernyit nggak nyaman. Joana baru saja ingin tutup telepon dan abaikan ceramah ayahnya, ketika tiba-tiba HP-nya direnggut seseorang. Dia noleh dengan kaget.Ternyata HP-nya sudah berpindah ke tangan Fajar.“Ayah, ini aku.”Begitu dengar Fajar panggil ayahnya dengan sebutan ayah, Joana langsung terkejut. Padahal mereka sudah resmi cerai. Bahkan kedua keluarga pun sudah tahu tentang itu. Lalu apa maksudnya masih panggil ayahnya seperti itu? Dulu saat masih nikah dengannya saja, pria itu nggak pernah panggil ayahnya seakrab ini.Di seberang telepon, Wayne tampak terpaku beberapa saat. Dia hampir kira dirinya salah dengar.“Fajar?”Dulu setelah nikahi putrinya, Joana, Fajar enggan panggil dia dengan ayah mertua. Apalagi sekarang mereka sudah cerai. Mana ada mantan menantu yang justru mulai panggil ayah mertua setelah perceraian?“Yah, Ayah!”Fajar kembali panggil Wayne dengan sopan sebelum berkata serius, “Sekarang Jo
Hanya karena dulu Fajar pernah dirundung dan dirinya pernah tolong Fajar? Meskipun memang ada hubungan masa lalu seperti itu di antara mereka, semua itu sudah terjadi bertahun-tahun lalu. Sementara perasaan dan hubungan mereka selama beberapa tahun terakhir sudah lama habis terkikis oleh segala perbuatannya. Joana nggak mungkin maafkan semua luka yang diberikan pria itu hanya karena sepotong kenangan masa lalu. Ada luka yang sekali tercipta, nggak akan pernah bisa disembuhkan kembali.“Joana .…”Sorot mata Fajar dipenuhi rasa kehilangan, namun cepat-cepat dia tekan kembali. Dia nggak salahkan Joana, mereka sampai pada titik ini. Kalau memang harus salahkan seseorang, orang itu adalah dirinya sendiri.Kenapa dia nggak lebih cepat temukan wanita itu? Kenapa dia begitu mudah dibutakan oleh orang lain hingga berkali-kali salah tuduh Joana? Semua ini memang salahnya sendiri. Dada Fajar rasanya seperti digerogoti ribuan semut tanpa henti.“Nggak perlu bicara lagi.”Joana tolak Fajar dengan n
Bahkan Joana nggak ingin punya sedikit pun berhubungan lagi dengan Fajar.“Setidaknya tunggu sampai lukamu sembuh dulu sebelum pergi,” bujuk Fajar dengan suara lembut.Gimanapun juga, luka yang Joana alami kali ini ada kaitannya dengan dia. Fajar punya tanggung jawab atas semua itu. Dan dia harus tanggung jawab sampai akhir.“Nggak perlu. Sekarang juga aku mau kembali ke rumah sakit,” ujar Joana dengan tegas.Sorot mata Fajar langsung jadi redup. Fajar bisa rasakan gimana wanita itu secara naluriah ingin menjauh dari dia. Fajar juga tahu, Joana sedang berusaha putus semua hubungan dengan dia. Namun dia nggak bisa salahkan Joana. Semua ini memang ulahnya sendiri.“Aku rasa sekarang kamu nggak bisa kembali ke sana,” kata Fajar ingatkan dengan pelan.Joana tertegun. Lalu alisnya berkerut.“Apa? Kamu mau kurung aku lagi?”Joana merasa Fajar sekarang benar-benar berbeda dari dulu. Pria yang dulu nggak seperti ini. Meski dulu Fajar menyebalkan, setidaknya nggak separah sekarang. Dulu paling
Mereka sudah resmi cerai, namun para pelayan itu masih panggil dia nyonya muda. Jelas semua itu atas perintah Fajar. Sebenarnya apa yang sedang pria itu rencanakan? Sikapnya tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat, bahkan sekarang biarkan para pelayan panggil dia seperti dulu. Hanya saja tubuh Joana penuh luka. Dia benar-benar nggak punya tenaga untuk permasalahkan hal seperti itu lagi. Joana biarkan Fajar bantu dia naik ke lantai atas lalu baringkan dia di tempat tidur. Lukanya belum pulih, ditambah lagi sejak tadi dia terus dipaksa berpindah-pindah. Kelopak mata Joana terasa begitu berat karena lelah. Nggak lama kemudian, Joana tertidur lelap.Fajar jalan mendekat dan duduk di sisi ranjangnya. Sepasang mata hitamnya menatap Joana cukup lama dengan tatapan rumit yang sulit dijelaskan. Sekarang hatinyа penuh dengan penyesalan.Kenapa dia nggak sadar lebih awal kalau Joana-lah wanita yang selama ini dia cari? Kenapa dia justru berkali-kali lukai Joana demi wanita lain? Semakin
Buat Joana nggak punya pilihan lain selain tetap ada di sisinya. Joana gelengkan kepala pelan, lalu tanya dengan bingung, “Kamu kok bisa ada di sini?”Kali ini tatapan Fajar saat lihat Joana terasa sangat lembut. Terlalu lembut hingga buat Joana merasa nggak nyaman.“Tadi aku yang bawa kamu keluar dari rumah sakit. Aku sudah atur semuanya. Kamu bisa ikut pulang ke vila untuk istirahat pulihkan diri.”Entah kenapa, cara pria itu memandangnya sekarang justru buat Joana semakin gelisah. Terlebih lagi perkataannya benar-benar buat Joana ingin tolak semua itu.“Aku mau kembali ke rumah sakit! Aku nggak mau ikut pulang dengan kamu!”Joana sama sekali nggak ingin kembali ke vila mana pun bersama pria ini. Sebelumnya dia pernah diculik dengan mobil ilegal dan dikurung di vila olehnya. Dia bahkan nyaris mati karena ledakan di sana. Belum lagi Sonya yang ingin rusak wajahnya, bahkan suruh orang untuk perkosa dia. Sekarang Fajar masih ingin bawa dia kembali ke vila? Apa bedanya dengan antar Joana
“Cari dia! Sekalipun harus gali tanah sedalam tiga meter pun, kalian harus temukan dia!”Fajar meraung marah di dalam mobil.“Hidup harus ketemu orangnya, mati harus ketemu jasadnya!”Nggak boleh terjadi apa-apa ke Joana. Setelah sekian lama cari dia, baru sekarang akhirnya dia temukan wanita itu kembali. Fajar belum sempat tebus semua kesalahannya. Gimana mungkin Joana alami sesuatu justru di saat seperti ini?…Keesokan harinya.Saat Joana buka mata, dia dapati dirinya terbaring di ranjang rumah sakit. Baru saja dia ingin bangun, suara familiar terdengar di samping telinganya.“Jangan gerak .…”Joana noleh. Dan tentu saja dia lihat wajah tampan Surya yang begitu dikenalnya. Sepasang mata hitam pria itu sedang menatapnya dengan penuh kelembutan dan kekhawatiran.“Dokter bilang lukamu baru selesai dibalut. Kamu butuh beberapa hari untuk pulih, jadi sementara ini nggak boleh turun dari tempat tidur dulu.” Surya jelaskan dengan suara rendah.Joana mengangguk pelan, lalu kembali berbaring
Semalam suntuk, Joana nggak bisa pejamkan mata.Kekosongan di tubuhnya dan pukulan di hatinya buat dia benar-benar nggak bisa tidur.Syukurlah keesokan paginya ia nggak terlambat masuk kerja.Namun saat Joana menguap kecil dan melangkah ke kantor, ia segera rasakan suasana yang aneh.“Hari ini ada p
Wajah cantik Joana seketika langsung membeku.Fajar lihat kilasan kecewa yang melintas di dasar matanya. Namun bibir tipisnya tetap bergerak dingin. “Maaf. Aku sudah bilang berkali-kali, aku punya gangguan OCD.”“Ta-tapi, Suamiku … aku .…” Joana bicara tergesa.Ia sudah sakit. Ia sangat butuh seoran
Joana keluar dari ruang periksa, ambil obatnya, lalu bergegas tinggalkan rumah sakit.Setiap kali ingat adegan barusan, gimana seorang dokter pria perintahkan dia lepas celana dan periksa dia, wajahnya langsung memerah tanpa bisa dicegah.Jika sampai tersebar, ia benar-benar nggak akan berani ketemu
“Lepas dulu, lalu berbaring!”Suara pria yang rendah dan dingin itu menggema di ruangan.Jantung Joana Widodo berdegup keras. Ia sendiri nggak tahu sejak kapan dirinya mengidap penyakit memalukan yang sulit dijelaskan itu. Setiap kali kambuh, hasratnya datang begitu kuat, nggak kenal waktu dan tempa







