Masuk“Kamu suka nggak?” Surya peluk pinggangnya dari belakang, lalu berbisik lembut di dekat telinga Joana.Joana mengangguk pelan. “Aku suka banget.”Dari tempat itu, mereka bisa memandang langsung matahari yang perlahan tenggelam di ufuk laut. Pemandangannya begitu indah hingga sulit diungkapkan dengan kata-kata. Cahaya senja berpadu dengan hamparan laut yang pantulkan semburat ungu kemerahan. Permukaan laut pamerkan gradasi warna ungu kemerahan, dari pekat hingga semakin lembut di kejauhan.“Aku mau cium kamu.”Surya menatapnya dengan penuh kasih. Suaranya rendah, serak, namun begitu lembut. Joana noleh untuk menatapnya. Sebelum sempat bereaksi, bibir Surya telah lebih dulu kecup bibirnya. Bibir mereka bertemu, saling mengejar dalam ciuman yang panjang dan penuh kerinduan. Tanpa sadar, Joana pejamkan mata dan terima ciuman itu dengan sepenuh hati. Lengan Surya yang kuat rengkuh Joana dengan erat, sambil cium dia.Di bawah cahaya matahari senja, bayangan mereka menyatu jadi satu. Nggak ta
Nggak punya pilihan lain, Joana hanya bisa mengangguk kecil ke Surya. Sekadar sapa dia. Namun di luar dugaan, Surya sama sekali nggak tanggapi Joana.Dengan tenang, Surya pesan sarapan di bawah pelayanan manajer restoran. Lovina melirik ke arah Joana sambil kasih isyarat dengan matanya, suruh Joana lanjutkan percakapan dengan Surya. Namun Joana beneran nggak tahu harus mulai dari mana. Lihat sahabatnya kebingungan, Lovina akhirnya turun tangan."Pulau Balina dekat sekali dari sini! Joana, gimana kalau kamu dan Pak Surya pergi liburan beberapa hari ke sana?" usulnya tiba-tiba.Joana tertegun. Dia sama sekali nggak nyangka sahabatnya akan ajukan ide seperti itu. Sebelumnya, dia nggak pernah kepikiran untuk pergi berlibur ke Pulau Balina. Apalagi bersama Surya."Tapi urusan pabrik di Yaskata masih banyak yang belum selesai ...."Kali ini Joana datang ke Astina Tenggara bukan untuk bersenang-senang, dia bawa tugas penting. Kalau masalah di pabrik itu nggak bisa diselesaikan sesuai tenggat
"Meski gitu, kamu tetap cantik."Surya menatapnya dengan senyum tipis saat ucapkan kalimat itu.Sudut bibir merah Joana akhirnya melengkung. Senyum pun merekah di wajahnya."Lepaskan tanganmu," perintahnya lirih.Tatapan Surya semakin dalam."Masih nggak boleh?"Sebenarnya, Surya berharap Joana sendiri yang akan terus terang tentang kehamilannya. Namun jelas, wanita itu masih belum siap. Joana kembali cari alasan."Akhir-akhir ini aku terlalu sibuk. Kurang istirahat, badanku capek sekali. Aku benar-benar nggak ingin lakukan itu."Pada akhirnya Joana tetap nggak bilang yang sebenarnya. Sorot mata Surya seketika berubah, simpan makna yang sulit ditebak."Terlalu capek?"Joana paksakan senyum."Iya, beneran capek."Surya menatapnya lama. Tatapan itu seolah ingin tembus seluruh isi hatinya. Beberapa saat kemudian, Joana alihkan pandangannya."Kalau gitu, istirahat yang baik dulu."Ada rasa kecewa yang penuhi hatinya. Surya lepaskan pelukannya, lalu berbalik pergi."Mau ke mana?"Tanpa sada
Kemampuan kerjanya memang nggak pernah mengecewakan, sama hebatnya seperti dulu. Namun karena dia sudah terlanjur datang, tentu saja dia nggak mungkin langsung pulang begitu saja."Kamu nginap di hotel mana?" tanya Surya."Hotel Hetosa," jawab Joana tanpa berpikir panjang."Oke. Tunggu aku."Usai ucapkan itu, Surya langsung tutup telepon.‘Tunggu dia? Tunggu apa?’Joana pasang wajah bingung. Seketika rasa kantuknya langsung hilang. Masa iya Surya mau terbang dari Eurosia ke sini? Rasanya nggak mungkin.Perjalanan dari sana saja makan waktu lebih dari sepuluh jam. Pekerjaannya sendiri saja sudah begitu menumpuk. Mana mungkin Surya sengaja terbang sejauh itu hanya untuk temui dia? Semakin dipikirkan, semakin terasa mustahil. Akhirnya Joana tarik kembali selimutnya dan kembali pejamkan mata.…Saat Surya keluar dari Bandara Yaskata, malam telah larut. Dia langsung perintahkan sopir untuk menuju Hotel Hetosa.Sepanjang perjalanan, jendela mobil dibiarkannya terbuka sedikit. Hembusan angin
"Nggak apa-apa. Dokter bilang kondisi janinku masih stabil. Untuk sementara, nggak perlu khawatir."Joana menggeleng pelan, tetapi raut wajahnya tetap serius."Tapi, masalah di pabrik Astina Tenggara kali ini benar-benar rumit. Kita harus konsentrasi penuh dan kerahkan seluruh kemampuan."Lovina memandangnya dengan penuh simpati."Kamu benar-benar luar biasa. Sudah hamil, tapi masih kerja sekeras ini."Joana tersenyum tipis."Aku nggak punya pilihan lain. Ibu tiriku terus awasi aku. Dia hanya tunggu aku berbuat salah agar bisa dijadikan alasan untuk jatuhkan aku."Lovina menghela napas."Ternyata hidupmu nggak mudah."Semula dia kira seorang putri keluarga kaya seperti Joana, yang juga punya pria berkuasa sebagai pelindung, pasti jalani hidup tanpa kekurangan.Siapa sangka kenyataannya jauh lebih berat daripada yang pernah dia bayangkan. Bahkan dalam keadaan hamil pun, Joana masih harus bepergian untuk urusan pekerjaan dan kerja sekeras ini.Joana hanya tersenyum. Dia keluarkan setumpu
Diam-diam Joana mencibir dalam hati. Jadi, Denina tetap mau dia keluar dari Grup Widodo. Namun sejak dulu, Joana nggak pernah gentar hadapi tantangan."Sepakat!"…Di sebuah hotel bintang tujuh di luar negeri.Di dalam salah satu Presidential Suite tempat Surya nginap. Pria itu berdiri di depan jendela kaca setinggi langit-langit, segelas anggur merah berada di tangannya, sementara pandangannya tertuju pada bangunan ikonik yang menjulang di luar sana.Tanpa sadar, pikirannya kembali melayang ke Joana. Surya angkat HP-nya dan langsung hubungi wanita itu. Beberapa saat kemudian, telepon akhirnya tersambung."Halo ...."Suara Joana terdengar dari seberang."Kamu di mana?" tanya Surya."Aku lagi di bandara. Sebentar lagi mau berangkat ke Astina Tenggara."Suara Joana terdengar sedikit terengah-engah. Surya bisa tangkap kalau wanita itu lagi terburu-buru."Ngapain ke Astina Tenggara?""Pabrik pengolahan Grup Widodo yang ada di sana lagi bermasalah. Ibu tiriku minta aku pergi untuk urus itu.
Kelopak mata Joana berkedut pelan.Surya, beneran mau langsung angkat dia jadi asisten presiden direktur? Jangan-jangan ini cuma cara halus untuk jatuhkan dia?“Aku belum pernah kerja sebagai asisten. Aku khawatir nggak mampu jalankan tugas itu .…” Refleks pertamanya adalah menolak.Saat ini kepalan
Herman menatapnya tajam.“Kamu habis buat salah apa?”Bos besar tiba-tiba sebut namanya untuk menghadap, nggak cuma Joana yang kaget, seluruh orang di kantor, termasuk Herman, atasan langsungnya juga nggak nyangka.Joana mengedip polos.“Aku juga nggak tahu.”Telapak tangannya basah oleh keringat di
Semalam suntuk, Joana nggak bisa pejamkan mata.Kekosongan di tubuhnya dan pukulan di hatinya buat dia benar-benar nggak bisa tidur.Syukurlah keesokan paginya ia nggak terlambat masuk kerja.Namun saat Joana menguap kecil dan melangkah ke kantor, ia segera rasakan suasana yang aneh.“Hari ini ada p
Wajah cantik Joana seketika langsung membeku.Fajar lihat kilasan kecewa yang melintas di dasar matanya. Namun bibir tipisnya tetap bergerak dingin. “Maaf. Aku sudah bilang berkali-kali, aku punya gangguan OCD.”“Ta-tapi, Suamiku … aku .…” Joana bicara tergesa.Ia sudah sakit. Ia sangat butuh seoran







