LOGINJoana tarik napas dalam-dalam, lalu gelengkan kepalanya pelan.“Aku nggak apa-apa.”Lili segera noleh dan menatap Fajar dengan tajam.“Ngapain dia ada di sini?”Saat baru masuk tadi, dia lihat dengan mata kepalanya sendiri gimana Fajar tekan Joana di atas ranjang rumah sakit. Padahal, Joana lagi hamil. Siapa yang tahu apa yang ingin dilakukan pria itu?“Aku juga nggak tahu.”Joana jawab sambil melirik Fajar dengan penuh kewaspadaan. Baru saja dia terbangun dari tidur, pria itu sudah berdiri di samping ranjangnya. Dia bahkan hampir kira Fajar adalah Surya. Untung saja dia segera sadar. Namun, alasan kemunculan Fajar di sini kemungkinan besar berkaitan dengan kehamilannya. Fajar datang untuk sakiti anaknya. Setidaknya, itu yang dipikirkan Joana.“Jangan-jangan dia datang setelah tahu kamu hamil untuk kasih ucapan selamat?” Lili berkata dengan nada sindiran yang jelas ditujukan ke Fajar. Setelah itu, dia jalan beberapa langkah dan berdiri tepat di hadapan pria tersebut.“Sekarang Joana ng
“Kamu!”Joana menatap Fajar dengan penuh rasa nggak percaya. Joana sama sekali nggak nyangka, di dalam rumah sakit pun pria itu berani lakukan hal seperti ini ke dia. Seolah-olah Fajar benar-benar ingin hancurkan hidupnya.“Takut?”Kilatan geli bercampur dingin melintas di mata Fajar yang dipenuhi aura membunuh. Dia kembali datang mendekat. Secara refleks, Joana tutupi perutnya dengan kedua tangan. Tanpa sadar tubuhnya bergerak mundur.“Fajar, jangan macam-macam!” Dia peringatkan dengan panik. Joana benar-benar takut pria itu akan lakukan sesuatu pada anak yang ada di dalam kandungannya.Sudut bibir Fajar terangkat bentuk senyum jahat. Saat itu, dia benar-benar tampak seperti iblis yang baru keluar dari neraka, buat siapa pun rasakan hawa dingin menjalar di punggung. Butiran keringat dingin mulai muncul di dahi Joana. Tatapannya tetap waspada menatap pria di hadapannya.Tepat ketika Fajar hendak kembali mendekat dan paksakan ciumannya ke dia, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar
Pupil mata Fajar mendadak menyusut. Pada akhirnya, dia tetap lepaskan cengkeramannya. Gimanapun juga, dia nggak sanggup lihat Joana mati. Ternyata dia nggak sekejam yang selama ini dia kira. Kedua tangannya mengepal erat, seolah sedang mati-matian tekan sesuatu di dalam dirinya. Tanpa sadar dia tanya ke dirinya sendiri: Mengapa dia nggak mampu keraskan hatinya?“Uhuk .... Uhuk ....”Begitu terbebas, Joana segera menghirup udara dalam-dalam sambil pegangi lehernya erat-erat. Rasa sakit yang menyengat dari sana menyerbu seluruh indranya. Sepasang mata indah itu menatap Fajar dengan penuh waspada dan permusuhan. Tatapan Fajar bertemu dengan miliknya. Sorot matanya berubah jadi lebih kelam daripada malam itu sendiri.Tiba-tiba, sudut bibirnya melengkung bentuk senyum tipis. Tangan besar yang tadi terkepal mendadak terulur ke arahnya.“Kamu mau apa?!” Joana berseru ketakutan. Secara naluriah dia geser tubuhnya menjauh. Jangan-jangan pria ini ingin sakiti anaknya? Fajar nggak bisa terima ken
Tatapan Fajar yang tertuju pada Joana tampak jauh lebih suram dari biasanya.“Kamu sebegitu bencinya sama ciumanku?”Padahal, dia baru sentuh Joana sebentar saja. Namun Joana sudah tunjukkan penolakan yang sedemikian besar. Sebaliknya, kalau ke Surya, dia bisa serahkan seluruh hati dan dirinya, bahkan sampai hamil anak pria itu.Siapa yang dekat, siapa yang jauh, siapa yang penting, siapa yang nggak? Perbedaannya terlalu jelas untuk diabaikan. Pikirkan hal itu buat hati Fajar rasanya seperti diiris ribuan bilah pisau.Plak!Joana tampar wajahnya tanpa ragu.“Iya. Jadi tolong, jauhi aku!”Joana sama sekali nggak ingin lihat pria itu lagi. Apa pun alasan Fajar muncul di sini, yang sekarang dia inginkan cuma satu, Fajar segera pergi jauh. Semakin jauh darinya, semakin baik.Seberkas kebencian yang begitu dalam melintas di mata Fajar. Dia datang ke rumah sakit khusus untuk temani Joana. Namun balasan yang dia terima justru adalah pengusiran. Segala keluhan dan kebencian di dalam hatinya me
Dengar kata-kata itu, kepala Joana langsung berdengung.‘Wulan sudah tinggal di kamarnya? Terus sekarang, sebenarnya apa hubungan mereka? Apa perubahan sikap Surya akhir-akhir ini ada hubungannya dengan Wulan?’Pikiran Joana seketika jadi kusut seperti benang yang nggak bisa diurai. Dia nggak jadi ketuk pintu ruang kerja itu. Tanpa ganggu Surya, dia pilih berbalik dan turun ke bawah seorang diri. Nggak lama setelah Joana pergi, suara bentakan Surya terdengar dari dalam ruang kerja."Siapa yang izinkan dia tinggal di sana?!""Itu keputusan Nyonya Besar.""Nenek Salma benar-benar semakin keterlaluan."Biarkan Wulan tinggal di kamar pribadinya di kediaman Keluarga Setiawan? Apa sebenarnya yang dipikirkan nenek?"Suruh dia pindah malam ini juga. Kalau nggak, aku akan hancurkan gedung yang baru saja Nenek investasikan."...Di rumah sakit.Dokter menatap hasil pemeriksaan Joana sebelum akhirnya bicara, "Kamu tunjukkan gejala keguguran, itu sebabnya kamu alami sakit perut dan pendarahan."Ha
Di luar, angin kencang mulai berembus liar. Tampaknya badai akan segera datang. Joana berdiri di depan jendela besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit, menatap pemandangan malam di luar sana. Tatapannya kosong, pikirannya melayang nggak tahu ke mana.Nggak tahu kenapa, sejak mereka pulang dari pesta kapal pesiar malam itu, dia merasa Surya berubah. Dulu, sesibuk apa pun pria itu, dia selalu pulang ke vila untuk temani dia. Namun beberapa hari terakhir, Surya sering nggak pulang semalaman. Bahkan nggak ada sebuah panggilan telepon pun.Sikapnya terhadap Joana jelas terasa jauh lebih dingin. Mustahil jika Joana bilang kalau dirinya nggak rasakan apa-apa. Dia nggak ngerti mengapa Surya tampak marah setelah kembali dari pesta kapal pesiar itu.‘Apa karena Pak Guntur? Atau Jihan bilang sesuatu ke dia?’Saat pikirannya masih dipenuhi berbagai kemungkinan, suara mesin mobil terdengar dari bawah. Sepertinya Surya sudah pulang. Joana segera berbalik, lari keluar dari kamar, lalu
Kelopak mata Joana berkedut pelan.Surya, beneran mau langsung angkat dia jadi asisten presiden direktur? Jangan-jangan ini cuma cara halus untuk jatuhkan dia?“Aku belum pernah kerja sebagai asisten. Aku khawatir nggak mampu jalankan tugas itu .…” Refleks pertamanya adalah menolak.Saat ini kepalan
Herman menatapnya tajam.“Kamu habis buat salah apa?”Bos besar tiba-tiba sebut namanya untuk menghadap, nggak cuma Joana yang kaget, seluruh orang di kantor, termasuk Herman, atasan langsungnya juga nggak nyangka.Joana mengedip polos.“Aku juga nggak tahu.”Telapak tangannya basah oleh keringat di
Semalam suntuk, Joana nggak bisa pejamkan mata.Kekosongan di tubuhnya dan pukulan di hatinya buat dia benar-benar nggak bisa tidur.Syukurlah keesokan paginya ia nggak terlambat masuk kerja.Namun saat Joana menguap kecil dan melangkah ke kantor, ia segera rasakan suasana yang aneh.“Hari ini ada p
Wajah cantik Joana seketika langsung membeku.Fajar lihat kilasan kecewa yang melintas di dasar matanya. Namun bibir tipisnya tetap bergerak dingin. “Maaf. Aku sudah bilang berkali-kali, aku punya gangguan OCD.”“Ta-tapi, Suamiku … aku .…” Joana bicara tergesa.Ia sudah sakit. Ia sangat butuh seoran







