MasukLovina mendengus pelan sambil melirik Joana dengan tatapan meremehkan.“Kita lihat saja dulu apa kamu bisa bertahan.”Gadis selembut dan semanja Joana seperti itu, memangnya bisa bertahan berapa lama di tempat seperti ini? Menurutnya, paling tiga hari lagi juga sudah kabur entah ke mana.…Hari itu Joana benar-benar kelelahan setelah kerja seharian. Awalnya Joana hanya ingin pulang, mandi air hangat, lalu segera istirahat. Namun begitu turun dari mobil dan angkat kepalanya, dia langsung lihat sosok tinggi yang sangat familiar berdiri di bawah gedung apartemen tempat sahabatnya tinggal. Kalau bukan Fajar, siapa lagi? Kenapa pria itu datang lagi? Apa dia datang untuk tagih jawaban Joana?Joana masih ingat jelas kejadian seminggu lalu, ketika Fajar gunakan Lili sebagai ancaman demi paksa dia kembali jalin hubungan dengannya. Dengan susah payah Joana berhasil tenangkan pria itu dan ulur waktu. Joana pikir Fajar sudah lupakan masalah itu. Nggak nyangka, pria itu malah muncul lagi di sini.S
“Apa? Hari pertamamu masuk kerja di Grup Widodo, malah langsung dipindahkan ke bagian gudang buat angkat-angkat barang?”Lili langsung ngomel begitu dengar pengalaman Joana hari ini di Grup Widodo.Joana hanya angkat bahu pasrah.“Aku sebenarnya sudah duga bakal ada pengaturan seperti ini.”Sejak putuskan terima permintaan ayahnya untuk masuk ke Grup Widodo, Joana sudah persiapkan mentalnya. Awalnya Joana pikir dirinya hanya akan didiamkan dan dipinggirkan untuk sementara waktu. Nggak nyangka, dia malah ditempatkan di bagian gudang. Setidaknya masih ada pekerjaan yang bisa dilakukan, daripada hanya duduk nggak ngapa-ngapain.“Tapi kamu kan pergi ke sana bukan untuk kerja kasar! Aku curiga, pasti ibu tirimu sengaja main di belakang dan manfaatkan kesempatan buat bikin kamu susah!”Selama ini Joana belum pernah lakukan pekerjaan seberat itu. Padahal dia kerja di perusahaan keluarganya sendiri, tapi kondisi kerjanya jauh lebih buruk dibanding perusahaan tempat dia kerja dulu. Lili mulai b
“Aku ikuti mobilmu ke sini,” kata Fajar.Ekspresi Joana langsung membeku. Pria itu benar-benar berani katakan itu terang-terangan.“Kamu ikutin aku?” tanya Joana dengan nada geram sambil gertakkan giginya.Fajar akui itu tanpa sedikit pun merasa bersalah. Jelas sekali Fajar sudah nggak hargai dirinya lagi.“Yah, aku memang ikutin kamu!” Fajar ngaku tanpa ragu, lalu melirik ke arah kompleks apartemen di belakangnya.“Pantas saja akhir-akhir ini kamu nggak pulang ke rumah. Ternyata kamu pindah tinggal di sini.”Wajah cantik Joana langsung berubah dingin.“Itu bukan urusanmu.”Fajar menatapnya penuh arti.“Kamu punya sahabat namanya Lili, kan? Dia tinggal di kompleks ini?”Tatapan Joana seketika waspada.“Kamu mau ngapain?”Kalau Fajar sudah sampai selidiki tempat tinggal Lili, itu jelas bukan sekadar basa-basi. Pasti ada sesuatu yang sedang dia rencanakan.“Jangan tegang gitu. Aku cuma peduli ke kamu.” Fajar tersenyum lembut.Namun entah kenapa, senyum itu justru buat bulu kuduk Joana me
Joana langsung terdiam saat dengar pertanyaan itu.Benar juga, gimana kalau Fajar datang gangguin dia lagi? Dia nggak mau dikurung oleh pria itu lagi. Apalagi kembali terjerat dalam hubungan apa pun dengan mantan suaminya itu.“Oke.”Pada akhirnya, karena nggak punya pilihan lain, Joana hanya bisa terima bantuan itu untuk sementara waktu.…Hari ini adalah hari pertama Joana masuk kerja di perusahaan keluarga, Grup Widodo. Jelas terlihat kalau ayahnya, Wayne nggak kasih instruksi khusus apa pun ke pihak perusahaan. Nggak seorang pun di kantor tahu kalau dirinya adalah putri kedua Keluarga Widodo.Begitu selesai lapor ke divisi HRD, manajer personalia langsung tempatkan Joana di bagian gudang. Padahal semua orang tahu, bagian gudang adalah departemen paling melelahkan dan paling berat di Grup Widodo. Bahkan sebagian besar pekerja di sana adalah laki-laki.Hari pertama Joana kerja di perusahaan keluarganya sendiri, dan Joana langsung dilempar ke bagian gudang. Nggak perlu ditebak lagi in
Akhirnya, Joana angkat wajahnya dan tanya ke Surya, “Terus gimana dengan Fiona dan Jihan?”Kedua wanita itu hampir saja jadi tunangannya. Mereka juga calon menantu pilihan Keluarga Setiawan, wanita-wanita yang dianggap paling sepadan untuk Surya. Jika Joana terima Surya dan jadi kekasihnya, terus mereka berdua gimana?“Aku nggak pernah punya hubungan apa pun dengan mereka berdua,” jelas Surya dengan tenang.“Tapi aku dengar belum lama ini kamu ketemuan dengan keluarganya Jihan, kan? Bahkan kedua keluarga sudah makan sama-sama,” tanya Joana dengan nada ragu.Alis Surya langsung berkerut.“Kamu dengar dari siapa? Fajar?”Joana terdiam. Raut wajahnya jelas tunjukkan rasa nggak senang. Surya segera lanjutkan penjelasannya, “Memang iya, aku sempat ketemuan dengan Jihan dan keluarganya. Tapi di jamuan makan itu aku sudah jelaskan dengan jelas kalau aku nggak akan nikahin dia.”“Beneran?” Joana masih belum sepenuhnya percaya.“Tentu saja benar! Kalau aku masih punya ikatan pernikahan dengan w
Joana sipitkan matanya.“Kamu beneran yakin suka aku?”Surya langsung mengangguk tanpa ragu.“Yakin! Setiap kali lihat kamu, aku selalu ingin lakukan itu dengan kamu. Bukannya itu namanya ketertarikan alami?”Sudut bibir Joana berkedut. Wajah cantiknya langsung memerah sepenuhnya.Apa maksudnya setiap lihat dia langsung ingin lakukan itu? Itu bukan ketertarikan alami, lebih cocok disebut perilaku mesum!“Kamu yakin itu suka? Bukan cuma inginkan tubuhku?” Joana nggak bisa tahan diri untuk tanyakan hal itu.Surya angkat alisnya dengan santai.“Karena suka, jadi mau tubuhmu. Apa ada yang bertentangan dari dua hal itu?”Joana, “…”Dia sampai terdiam beberapa detik karena perkataan Surya. Setelah lama, barulah Joana berhasil temukan kembali suaranya.“Memangnya nggak bisa hanya cinta seseorang dengan murni?”Kenapa semuanya harus selalu dikaitkan dengan hal seperti itu?Surya menatapnya lurus.“Aku bukan orang suci. Pria normal mana pun nggak mungkin suka seorang wanita secara murni saja! S
Joana keluar dari ruang periksa, ambil obatnya, lalu bergegas tinggalkan rumah sakit.Setiap kali ingat adegan barusan, gimana seorang dokter pria perintahkan dia lepas celana dan periksa dia, wajahnya langsung memerah tanpa bisa dicegah.Jika sampai tersebar, ia benar-benar nggak akan berani ketemu
“Lepas dulu, lalu berbaring!”Suara pria yang rendah dan dingin itu menggema di ruangan.Jantung Joana Widodo berdegup keras. Ia sendiri nggak tahu sejak kapan dirinya mengidap penyakit memalukan yang sulit dijelaskan itu. Setiap kali kambuh, hasratnya datang begitu kuat, nggak kenal waktu dan tempa
Kelopak mata Joana berkedut pelan.Surya, beneran mau langsung angkat dia jadi asisten presiden direktur? Jangan-jangan ini cuma cara halus untuk jatuhkan dia?“Aku belum pernah kerja sebagai asisten. Aku khawatir nggak mampu jalankan tugas itu .…” Refleks pertamanya adalah menolak.Saat ini kepalan
Herman menatapnya tajam.“Kamu habis buat salah apa?”Bos besar tiba-tiba sebut namanya untuk menghadap, nggak cuma Joana yang kaget, seluruh orang di kantor, termasuk Herman, atasan langsungnya juga nggak nyangka.Joana mengedip polos.“Aku juga nggak tahu.”Telapak tangannya basah oleh keringat di







