LOGINJethro hanya bisa terus ucapkan kata-kata penghiburan. Meski begitu, sebenarnya hatinya sendiri juga sangat cemas. Kali ini memang dia nggak ikut dampingi Surya dalam perjalanan bisnis. Namun mengenai proyek pengembangan pulau di luar negeri yang sedang dinegosiasikan Surya, dia cukup tahu situasinya.Pulau itu merupakan salah satu wilayah strategis yang terletak di kawasan Samudra Palaso. Pemandangannya indah, alamnya memukau, dan nilai ekonominya sangat besar. Karena itu, nggak hanya Grup Setiawan yang incar hak pengembangannya.Ada banyak pesaing lain yang ikut berebut. Beberapa di antaranya adalah perusahaan multinasional dengan kekuatan finansial luar biasa. Sebagian lagi merupakan konglomerat lokal yang punya pengaruh besar di wilayah tersebut. Bahkan ada perusahaan domestik yang dikenal punya hubungan kuat dengan dunia mafia maupun dunia bisnis resmi.Malam sebelum keberangkatannya, Surya pernah bahas hal itu dengan Jethro. Dia sempat sebut kalau ada sebuah perusahaan berlatar b
“Makasih banyak!” Joana segera ucapkan terima kasih.Jethro jawab cepat, “Aku akan langsung hubungi mereka sekarang. Begitu ada kabar, aku akan segera hubungi kamu.”“Oke, aku tunggu.”Setelah telepon ditutup, waktu seolah berjalan jauh lebih lambat. Bagi Joana, setiap menit terasa seperti satu tahun. Dia gigit bibir bawahnya sambil mondar-mandir di dalam kamar Julia. Langkahnya nggak pernah berhenti. Hatinya dipenuhi rasa cemas dan gelisah. Dia hanya berharap semua ini hanyalah ketakutan yang dia ciptakan sendiri. Surya nggak boleh alami apa pun.“Joana ....”Tiba-tiba sebuah suara lemah terdengar dari arah ranjang. Joana segera noleh. Nggak tahu sejak kapan Julia sudah buka matanya. Wanita itu kini terbaring lemah di atas ranjang sambil ulurkan tangan ke arahnya. Joana bergegas hampiri dan segera genggam tangan ibunya erat-erat.“Ibu! Gimana perasaan Ibu sekarang?”“Joana?”Julia menatapnya dengan mata yang masih sedikit kabur. Air mata perlahan penuhi sudut matanya. Lihat itu, Joana
Saat ini, Joana benar-benar nggak punya suasana hati untuk ngobrol.“Kamu saja yang bicara ....”Suaranya terdengar lelah dan nggak bertenaga. Melalui layar HP, Surya segera sadar ada yang nggak beres.“Apa terjadi sesuatu?” Nada suaranya penuh perhatian. Joana tundukkan pandangan sebelum mengangguk pelan.“Aku lagi ada di rumah Keluarga Widodo. Ibuku ... didiagnosis kena sirosis hati. Tadi dia sempat pingsan.”Suasana hatinya sedang sangat buruk. Bahkan untuk ucapkan beberapa kalimat sederhana pun rasanya berat. Wajah Surya langsung berubah serius. “Apa kamu mau aku bantu carikan dokter terbaik untuk ibumu? Biar dia lakukan pemeriksaan ulang secara menyeluruh?”Joana menggeleng pelan. “Kita bicarakan nanti saja.”Surya menatapnya beberapa saat. “Aku akan kembali dalam dua hari lagi. Saat aku pulang, kita ….”Namun sebelum Surya sempat selesaikan kalimatnya, sambungan video tiba-tiba terputus.“Surya?” Jantung Joana langsung berdegup kencang. Entah kenapa, firasat buruk tiba-tiba
Senyum licik perlahan terangkat di sudut bibir Denina.“Itu memang ide yang bagus.”Jika Joana benar-benar kehilangan kehormatannya, apa Surya masih mau sama dia? Begitu lihat Denina setuju dengan rencananya, Diana tahu langkah pertamanya telah berhasil.Sebenarnya, maksud awal Fajar cukup sederhana, dia ingin Joana kembali tinggal di rumah Keluarga Widodo. Dengan begitu, hubungan Joana dan Surya perlahan akan jadi renggang hingga akhirnya berpisah. Saat itu tiba, dia bisa minta Wayne setujui lamarannya dan nikahi Joana sekali lagi. Namun niat itu sudah lebih dulu dibaca oleh Diana.Gimana mungkin dia biarkan Fajar dan Joana bersatu kembali? Karena itulah ketika Fajar minta dia bantu, Diana pura-pura setuju dengan permintaan itu. Di permukaan, dia tampak bekerja sama. Padahal diam-diam, dia sudah susun rencana lain. Diana berniat manfaatkan tangan Denina untuk hancurkan Joana sepenuhnya. Ketika Surya dan Fajar sama-sama tinggalkan Joana, apa yang masih tersisa untuk gadis itu? Pada saa
Sudut bibir Denina melengkung bentuk senyum pahit. Di mata Diana, sekilas melintas ejekan yang dingin. Namun kilatan itu menghilang begitu cepat hingga nggak sempat disadari oleh Denina. Sebaliknya, dia datang mendekat dan berdiri di samping ibunya. Dengan nada seolah membela, dia berkata, “Bu, selama ini Ibu terlalu baik hati. Karena itulah Ayah semakin menjadi-jadi. Bertahun-tahun pelihara wanita di luar sana, bahkan bawa wanita itu beserta anaknya masuk ke rumah ini ....”Denina menghela napas panjang. “Kamu kira ibu mau itu? Untuk pria seperti ayahmu, yang punya kekayaan dan status setinggi itu, minta dia berhenti bermain perempuan mungkin lebih menyiksa daripada bunuh dia.”Diana sipitkan matanya. “Jadi karena itu dulu Ibu biarkan Julia dan Joana masuk ke Keluarga Widodo?”Denina mencibir. “Awalnya aku pikir, setelah dapatkan Julia, ayahmu akan berhenti cari perempuan lain. Tapi siapa sangka Julia ternyata begitu nggak berguna? Aku bahkan sudah biarkan dia masuk ke rumah ini, n
Kediaman Keluarga Widodo.Sejak dipermalukan oleh Joana dalam rapat besar perusahaan hari itu, Denina benar-benar hilang kendali. Nggak hanya rencananya gagal total, Joana bahkan berhasil balikkan keadaan dan jadi pusat perhatian di depan seluruh jajaran manajemen.Begitu pulang ke rumah, dia langsung bertengkar hebat dengan Wayne. Pertengkaran itu begitu sengit hingga akhirnya Wayne pergi tinggalkan dia dan pilih cari Julia. Sementara Denina mengurung diri di kamar. Dia nangis, maki, dan lampiaskan kemarahannya seorang diri. Nggak seorang pelayan pun berani mendekat.“Bu!”Nggak tahu sejak kapan Diana sudah berdiri di sana, panggil dia. Denina yang sedang bertumpu pada meja rias perlahan angkat kepala. Melalui pantulan cermin, dia lihat putrinya berdiri di belakang. Tatapan matanya yang penuh amarah akhirnya sedikit melunak.“Kapan kamu pulang?”Diana jalan hampiri dia. “Aku dengar Surya lagi ke luar negeri untuk urusan bisnis, jadi aku pulang untuk jenguk Ibu.”Denina noleh dan perha
Semalam suntuk, Joana nggak bisa pejamkan mata.Kekosongan di tubuhnya dan pukulan di hatinya buat dia benar-benar nggak bisa tidur.Syukurlah keesokan paginya ia nggak terlambat masuk kerja.Namun saat Joana menguap kecil dan melangkah ke kantor, ia segera rasakan suasana yang aneh.“Hari ini ada p
Wajah cantik Joana seketika langsung membeku.Fajar lihat kilasan kecewa yang melintas di dasar matanya. Namun bibir tipisnya tetap bergerak dingin. “Maaf. Aku sudah bilang berkali-kali, aku punya gangguan OCD.”“Ta-tapi, Suamiku … aku .…” Joana bicara tergesa.Ia sudah sakit. Ia sangat butuh seoran
Joana keluar dari ruang periksa, ambil obatnya, lalu bergegas tinggalkan rumah sakit.Setiap kali ingat adegan barusan, gimana seorang dokter pria perintahkan dia lepas celana dan periksa dia, wajahnya langsung memerah tanpa bisa dicegah.Jika sampai tersebar, ia benar-benar nggak akan berani ketemu
“Lepas dulu, lalu berbaring!”Suara pria yang rendah dan dingin itu menggema di ruangan.Jantung Joana Widodo berdegup keras. Ia sendiri nggak tahu sejak kapan dirinya mengidap penyakit memalukan yang sulit dijelaskan itu. Setiap kali kambuh, hasratnya datang begitu kuat, nggak kenal waktu dan tempa







