مشاركة

BAB 107

last update تاريخ النشر: 2025-12-29 12:31:21

“Rika? Riko?” Azizah berteriak senang saat melihat keponakannya. Dia langsung menggamit adiknya agar mendekati dua bocah yang sudah berteriak-teriak kesenangan melihat Tante mereka. “Kalian sama siapa kesini?” Dia kembali bertanya sambil mengedarkan pandangan, mencari keberadaan Zahra atau Kakek dan Nenek mereka.

“Rika dan Riko sama saya, Dik ….” Indra yang baru saja membayar baju dan sepatu di kasir mengangguk sopan pada Azizah dan Anisa. Dia memperhatikan Rika dan Riko yang terlihat sangat ak
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق
تعليقات (11)
goodnovel comment avatar
Tari Emawan
kok blm up kk? libur ya thn baruan?
goodnovel comment avatar
Emi Susanti
hai sis..anda kenapa? punya masalah atau punya penyakit?..baca novel itu nya dlm kondisi sehat..shat badan dan sehat Fikiran, jadi kita bisa berfikir dgn baik..kalau menurut anda penulis novel ini gak sesuai dgn kemauan anda.. tiggal skip aj..atau anda buat novel sendiri biar puas..jgn kyk bocah sis
goodnovel comment avatar
Siti Hasanah
kamu yg mendorong anakmu masuk jurang Gunawan,jgn menyalahkan orang....maka nikmati saja hasilnya...kamu menikahkan anakmu dgn menghancurkan rumah tangga orang...
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Kita yang Terluka   BAB 135

    “Aku makan di rumah Ibu saja. Kangen masakan Ibu. Sudah lama kita tidak menginap disana.” Indra mengajak Zahra langsung pulang saja. Dia tidak nafsu makan. Perutnya tidak lapar sama sekali. Kalau tadi dia tidak nafsu makan karena deg-degan menunggu hasil apa Zahra benar hamil atau tidak, kali ini dia tidak merasa lapar karena hatinya buncah oleh perasaan bahagia.“Mas senang?” Zahra memegang lengan Indra saat mereka sudah di mobil. Dia tersenyum saat melihat Indra mengangguk dan menatap matanya dalam-dalam.“Senang … senang sekali, Sayang.” Indra meraih dagu Zahra dan mencium bibir istrinya lama. Rasa harusnya tak terhingga hingga air matanya jatuh di sela-sela bibir mereka. Lelaki itu tersenyum saat kedekatan mereka terlepas. Indra bingung dengan perasaannya, campur aduk memenuhi dada. Dia masih belum percaya kalau akhirnya Tuhan mempercayainya untuk menitipkan amanah keturunan yang sekian lama dia inginkan.Kedua orang tua Zahra terkejut saat mendengar kabar dari Zahra. Lebih terkej

  • Kita yang Terluka   BAB 134

    Dada Indra bergemuruh hebat. Lelaki itu merasakan telinganya berdenging kencang hingga tidak mendengar suara tangis Zahra lagi. Sekian menit berlalu, dia akhirnya bisa menguasai diri. Perlahan, Indra melepaskan pelukan Zahra dan membawa istrinya duduk di kasur. Kakinya terasa lemas antara yakin dan tidak dengan keajaiban yang datang ke hidupnya. Dia membingkai wajah Zahra tanpa kata, menunggu istrinya bicara.“Besok kita cek ke dokter, Mas.” Air mata Zahra mengalir. Akhirnya, dia bisa memberikan kebahagiaan yang selama ini Indra berikan padanya dan kedua anaknya. Tidak lama lagi, dia bisa melihat lelaki yang sangat menyukai anak-anak itu menggendong dan menimang da rah dagingnya sendiri. “Mas senang?” Zahra memegang tangan Indra yang membingkai wajahnya. Dia tersenyum melihat mata suaminya berkaca-kaca.“Senang.” Indra bicara dengan suara serak. Satu kata itu susah payah dia keluarkan. Entah kapan terakhir kali dia merasakan perasaan seperti ini. Antara yakin dan tidak kalau akhirnya

  • Kita yang Terluka   BAB 133

    “Bilang terima kasih nggak?”“Bilang dong ….” Rika meraih bantal dan tiduran di dekat Zahra. Dia memperhatikan wajah mamanya dan menautkan alis. “Tumben Mama dandan di rumah? Biasanya cuma lipstik saja sama pakai bedak tipis. Kok ini pakai alis dan merah-merah pipi segala?” Rika menyentuh pipi mamanya.“Cantik nggak Mama?” Zahra terkekeh saat Rika spontan mengangguk. Dia mencium kening anaknya dan mengelus rambut Rika yang dikepang dua. “Siapa yang merapikan rambut Rika? Tante Anisa?” Zahra balik bertanya, tidak menanggapi pertanyaan anaknya tadi. Entahlah, dia mendadak ingin dandan saja pagi tadi. Setelah salat pun dia touch up, seperti sedang di kantor. Biasanya, kalau di rumah, malas dia dandan-dandan begitu.“Nenek laaaah, apaan Tante Anisa.” Rika mencebik. Kedua tantenya itu boro-boro merapikan rambutnya, yang ada mereka hanya akan protes rambut Rika kusutlah, susah diaturlah, Rika gerak-gerak terus lah dan masih banyak lagi hingga akhirnya tetap tida

  • Kita yang Terluka   BAB 132

    “Rika, ajak adik-adiknya kesini! Ayo, makan dulu.” Mela memanggil cucunya. Wanita itu menggeser pesanan makanan yang sudah sampai saat pramusaji membawakan kue ulang tahun dengan dekorasi Bis Tayo kesukaan Reki. “Rika, ayo ajak adik-adiknya kesini!” Mela berdecak pelan melihat cucu pertamanya itu masih asyik bermain perosotan bersama kedua adiknya. Rika itu seperti pimpinan bagi Rika dan Reki. Keduanya lebih menuruti apa kata Rika dibandingkan yang lainnya, termasuk Ammar dan Adelia sekalipun.“Ayo kita makan dulu, Gengs! Nanti diomelin Tante Anisa.” Rika tertawa-tawa melihat tantenya melirik dengan mata menyipit ke arah mereka. Dia memang sengaja mengeraskan suaranya saat bicara. Anak kelas empat SD itu sudah pandai berdebat dengan kedua tantenya kalau dilarang ini itu dan dicereweti oleh mereka. “Kalau Tante Azizah mode kalem. Aman. Ada pawangnya soalnya.”Meja mereka langsung ramai oleh suara tawa berderai. Rika terkikik bersama Riko melihat Anisa dan Azizah men

  • Kita yang Terluka   BAB 131

    Gadis itu datang bersama tunangannya, rekan di tempatnya bekerja. Mereka sudah melangsungkan lamaran minggu lalu dan rencana akan menikah setelah lebaran, tiga bulanan lagi. “Mau apa? Biar kuambilkan.” Ammar yang duduk di samping Adelia menatap mantan istrinya sambil tersenyum. Dari gerak-gerik Adelia, dia tahu kalau wanita itu membutuhkan sesuatu. Sejak tadi, Adelia minta tolong mamanya yang sedang ke kamar mandi kalau membutuhkan sesuatu karena gerakannya yang terbatas. “Mau gurame tepung? Atau mie tumis?” Ammar sigap mengambilkan saat melihat Adelia mengangguk. Tiga tahun ke belakang, hubungan mereka jauh membaik. Keduanya menjadi teman yang saling mengisi untuk membersamai pertumbuhan Reki. Ammar sudah naik jabatan lagi di kantor, sehingga tidak pusing membagi nafkah untuk ketiga anaknya. Apalagi, Anisa dan Azizah juga sudah bekerja, dia hanya perlu menanggung ibunya saja. Sementara Adelia juga nyaman bekerja di rumah. Apalagi, sekar

  • Kita yang Terluka   BAB 130

    Seperti biasa, Fatma memeluknya erat dan kali ini, Zahra membalas pelukan, tidak seperti dulu hanya membiarkan. “Mas Indra, masalah pembicaraan kita kemarin, dari kami sudah ada lagi stok resleting yang sempat tertunda. Apa masih butuh barangnya? Saya mau nelpon Mas Indra kelupaan terus karena repot kemarin-kemarin ini.” Gunawan menepuk bahu Ammar saat lelaki itu menyalaminya. “Kalau masih perlu, nanti saya kirim orang ke kantor Mas Indra buat ngasih sampel apa sesuai atau tidak dengan keinginan.” Zahra menyalami Ammar tanpa kata saat Indra masih ngobrol dengan Gunawan. Wanita itu memutuskan menunggu diluar saja karena tidak nyaman berada di dalam sana. Sejak tadi, Ammar sering menatap ke arahnya dan Zahra merasa Indra juga menyadarinya hingga suaminya itu tidak sedetikpun melepaskan genggaman tangan mereka. Lepas dzuhur, Ammar dan keluarga berpamitan. Dia mencium pipi anaknya hati-hati. Setelah ini, dia akan sibuk membagi waktu. Beruntun

  • Kita yang Terluka   BAB 125

    “Rika biar ikut aku dulu saja, Ra, sampai ngambeknya hilang.” Ammar menghela napas panjang melihat Zahra yang sibuk menghapus air mata. “Aku … aku tidak bicara yang aneh-aneh pada mereka. Aku juga terkejut kenapa Rika bisa bilang tidak suka tinggal disini. Sumpah, Ra ….” Ammar berusaha meyakinkan Za

  • Kita yang Terluka   BAB 124

    Meski dia dan Adelia sudah bercerai, tapi Ammar ingin mendekatkan mereka. Bagaimanapun, Rika dan Riko adalah saudara dari anak yang kelak akan dilahirkan oleh Adelia. “Kapan cek kandungan lagi? Nanti berkabar saja, biar aku bisa sesuaikan waktu pulang kerja. Kalau bisa pilih praktek malam saja bia

  • Kita yang Terluka   BAB 123

    “Bu Devi membuat laporan terkait penganiayaan yang dilakukan Pandu pada Novita seminggu yang lalu.” Amira sedikit gemetar menyerahkan surat dengan kop kepolisian kepada suaminya. Wanita itu memijat keningnya. “Bagaimana ini Pa? Apa kita bakal diam saja? Om Yanuar siap membantu katanya kalau mau ber

  • Kita yang Terluka   BAB 122

    Setengah jam berlalu, Pandu melesat keluar. Tiga puluh menit yang terasa seperti tiga puluh tahun baginya. Baru kali ini dia merasa putaran jam begitu lambat berjalan. Lelaki itu menggunakan topi dan kacamata. Dia juga memakai masker agar penampilannya tidak dikenali oleh wartawan yang sudah ramai

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status