Share

Bab 49

Author: Hare Ra
last update Last Updated: 2025-08-26 09:09:03

“Ah, ternyata hidup ini berat,” gumam Indra, menatap layar laptop yang masih terbuka di depannya. Kalimat itu keluar begitu saja, seperti bisikan dari dalam dada yang sudah lelah.

Dia kembali membuka dokumen naskah bukunya, menggulir ke bawah untuk melihat catatan revisi dari Diki. Beberapa bagian harus diperbaiki—alur lebih kencang, karakter lebih dalam, emosi lebih jujur. Tapi yang paling penting adalah dia harus menyelesaikan dalam sebulan dan siap cetak.

Janji itu berat. Bukan karena menuli
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Klinik Pemuncak Gairah Pria   Bab 439

    “Aku ingin, kita terus seperti ini,” ujar Salsa menatap langit malam.“Bagaimana?” tanya Indra.“Iya, seperti sekarang. Menjadi diri kita sendiri sesuai dengan kita inginkan. Tidak ada ancaman dan tidak ada ketakutan. Memiliki keluarga yang banyak dan semuanya bahagia,” jawab Salsa.Indra mengangguk dan mengeratkan pelukannya kepada sang istri.“Harapan aku juga sama.”“Kita juga bisa pulang ke desa kapanpun yang kita mau. Desa ini menjadi rumah kita juga agar bisa merasakan mudik.”Indra tertawa. Ternyata, harapan mereka sama, ingin hidup yang bahagia.Setelah mereka kembali kekota setelah satu minggu berada di rumah Pak Badar dan Bu Nisa. Betapa terkejutnya saat melihat sebuah mobil terparkir menunggu mereka.Dan yang lebih mengejutkannya lagi, siapa pemilik mobil itu. Tomy dan Yulia, sepasang suami istri itu berdiri disana menunggu kedatangan mereka.“Ada apa?” tanya Indra setelah menyapa keduanya.“Kami mau minta maaf atas semua yang telah kami lakukan selama ini. Mungkin, kami ti

  • Klinik Pemuncak Gairah Pria   Bab 438

    “Itu kan istrinya, kenapa dia malah nanya ke aku,” ujar Indra setelah mematikan sambungan telepon itu.“Mungkin dia ingin menjemputnya.”“Semoga saja.”Rumah Pak Badar dan Bu Nisa yang biasanya sepi itu, malam ini terasa begitu ramai dan hangat. Apalagi Juna yang meskipun lahirnya di desa, tapi dia belum pernah tinggal di desa semenjak sudah besar.Banyak hal yang membuatnya penasaran. Mendengar suara jangkrik yang saling bersahutan dia sangat penasaran, hingga ribut memaksa Amara dan Vika untuk menemaninya mencari keberadaan jangkrik itu.“Ayo aunty, kita cari. Dia ribut sekali!” teriak Juna.“Mau cari dimana?” tanya Amara bingung.“Aunty Vika pasti tahu dimana.”“Aku?” tanya Vika menunjuk dirinya.“Iya dong. Kan Aunty dari desa.”Semua orang tergelak mendengarnya, seolah-olah kalau orang desa itu harus tahu semuanya, bahkan persembunyian jangkrik pun harus tahu.“Baiklah, ayo kita buru,” ajak Vika.“Hore.”Mereka berjalan menuju ke pohon jambu yang berada di halaman depan, Vika dan

  • Klinik Pemuncak Gairah Pria   Bab 437

    “Bisa kita bicara, Indra?” tanya wanita itu pelan.Indra menghentikan gerak tangannya sejenak, lalu menoleh. Dia mengenali wajah itu dengan baik, meski sudah lama tidak bertemu. “Bisa,” jawabnya sambil mengangguk tipis. “Bukankah kita sekarang sedang berbicara? Silakan, Bibi mau mengatakan apa.”“Di sini?” Sinta melirik sekeliling sawah, pada orang-orang yang lalu-lalang membawa ikatan padi.Indra mengedikkan bahu. “Iya. Mau di mana lagi?”“Kamu sedang panen?” tanyanya lagi, seolah memastikan sesuatu yang sudah jelas terlihat.“Iya,” jawab Indra singkat. “Ada masalah, Bi?”Sinta terdiam, tidak bisa marah mendapatkan perlakuan seperti itu dari Indra. Karena memang dia yang mulai tidak menghargai Indra. Ia yang sudah membuat Indra menjauh, bahkan pulang ke desa tidak menemuinya.Sikap Indra justru membuatnya kehabisan kata-kata. Marah pun terasa tidak pantas, mengingat dialah yang lebih dulu menjaga jarak, bahkan dialah yang menolak Seva dikuburkan di desa saat Seva meninggal, ia juga y

  • Klinik Pemuncak Gairah Pria   Bab 436

    “Kamu ngapain di sana?” tanya Indra kepada Juna yang justru tampak betah berdiri di tengah sawah.Indra tergelak melihat anaknya itu yang bukannya nangis jatuh ke sawah, tapi malah santai dan menikmati. Padahal ini adalah pengalaman pertamanya melihat sawah.“Mau jadi burung,” jawab Juna santai sambil merentangkan tangan, seolah benar-benar bisa terbang.“Astaga, anak ini,” gumam Indra sambil menggeleng. “Tuh, orang-orang sudah nunggu mau makan. Ayo naik dulu. Nanti kita main lagi.”Indra meraih tangan mungil Juna dan menariknya perlahan. Anak itu menurut, meskipun langkahnya diseret-seret dengan wajah malas. Maunya langsung bermain, tidak peduli dengan perut lapar. Namanya juga anak kota yang datang ke desa, semua terasa baru dan menarik.Begitu sampai di tepi sawah, Salsa langsung membelalakkan mata. “Loh, itu bajunya basah, Sayang. Aduh anak ini, ada aja gebrakannya setiap hari. Gimana itu, bisa masuk angin kalau begini.”“Iya, Ma,” jawab Juna ringan, seolah tidak terjadi apa-apa.

  • Klinik Pemuncak Gairah Pria   Bab 435

    “Kak Karisa, sepertinya kita sudah sepakat waktu itu untuk tidak saling mengusik. Bahkan kamu yang bilang tidak mau mengenalku lagi, meskipun ujungnya tetap perlu bantuan dariku. Tapi, apa maksudmu hari ini?” tanya Indra dengan nada datar.“Dan kalau masih seperti ini, aku akan menarik kembali investasi yang aku janjikan. Sebab, aku paling tidak bisa bekerja dengan orang yang tidak konsisten dan tidak bertanggung jawab,” sambung Indra.Awalnya Indra hampir saja terpengaruh oleh cara bicara Karisa yang terdengar tenang dan seolah tulus. Namun, kesadarannya segera kembali. Dia tahu betul siapa Karisa. Darah yang mengalir di tubuh wanita itu adalah darah Tomy, lelaki yang lihai memainkan peran sebagai orang baik, padahal menyimpan banyak tipu daya.Dan dia tidak akan jatuh ke jurang yang sama kedua kalinya, sudah cukup beberapa tahun lalu dia begitu mudah percaya dengan mereka.“Aku hanya memberitahu saja. Karena Papa baru cerita, saat keluar dari penjara,” jawab Karisa singkat.“Terima

  • Klinik Pemuncak Gairah Pria   Bab 434

    “Loh, jadi kalian akan pindah rumah?” tanya Amara dengan dahi sedikit berkerut.Iya, Indra dan Salsa memang memutuskan untuk pindah ke rumah yang tepat berada di sebelah rumah Aliman. Rumah itu baru saja selesai direnovasi. Semua perabot sudah masuk, halaman sudah rapi, dan kini benar-benar siap dihuni.Mereka akan memulai hidup sebagai keluarga yang utuh dan hanya ada mereka. Selama ini, mereka merasa belum membangun keluarga yang sesungguhnya.“Iya,” jawab Indra santai. “Biar tidak ganggu kamu lagi. Kamu capek kan setiap hari diganggu sama Juna.”“Apaan ganggu?” Mata Amara mulai memerah, suaranya bergetar menahan tangis.Selama ini, Amara merasa nyaman tinggal di rumah yang ramai. Tidak ada lagi perasaan pulang ke rumah kosong. Setiap kali selesai kuliah, selalu ada Juna yang berlari menyambutnya, memeluk kakinya, atau sekadar memamerkan mainan barunya. Kehadiran Indra, Salsa, Hasan, Sandi dan Andira membuat rumah itu terasa hidup. Dan sekarang mereka justru ingin pergi.“Bukan cuma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status