แชร์

Bab 19: Pengakuan

ผู้เขียน: KAEL
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-12 01:08:01

Rey lempar kunci di meja dengan bunyi berisik yang menggema di ruang tamu kosong, lalu dia berbalik menatapku dengan mata yang tidak memberi pilihan. "Kamu tidur di sini malam ini, dan itu bukan permintaan," katanya, suaranya rendah tapi tegas seperti setiap perintah yang pernah dia ucapkan sejak hari pertama kami bertemu.

"Rey, aku bisa pulang sendiri, aku tidak butuh—"

"Bisa?" Dia melangkah maju, sepatunya berbunyi di lantai kayu, mendekatiku dengan tatapan yang membuatku terdiam. "Ke unit ya
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Kontrak Cinta Dengan Mantan Musuh   Bab 35: Di Dalam Mobil

    Kaca mobil hitam pekat seperti kuburan. Kami bergerak menyusuri Jakarta yang masih ramai, tengah malam. Tapi di dalam, segalanya telah mati.Aku menempel di pintu sejauh mungkin dari Rey yang duduk di sebelahku. Bahu kami berjarak tiga jari yang terasa seperti jurang, Kevin mengemudi di depan, diam seperti patung. Bahkan dia yang selalu cerewet tahu bahwa suara apa pun saat ini bisa memicu ledakan.Hujan mulai turun.Rintik-rintik memukul kaca dengan lembut, mengaburkan dunia luar, membuat kami terjebak dalam gelembung kaca yang akan segera pecah.Aku menatap lurus ke depan, rahang mengencang, tanganku terkunci di pangkuan sampai kuku menekan telapak dan meninggalkan bekas merah.Tiga menit. Lima menit. Tujuh menit tanpa suara. Hanya deru mesin yang halus dan napas Rey yang semakin memburu di sebelahku. Dia bergerak tidak nyaman, jari-jarinya membuka dan menutup kerah kemeja seolah udara di dalam mobil ini telah habis."Aku bisa jelaskan."Suaranya pecah di tengah sunyi, parau, berat.

  • Kontrak Cinta Dengan Mantan Musuh   Bab 34: Perjanjian Kamar 2207

    Aku tahu seharusnya aku tidak mengikutinya. Tapi ketika melihatnya berdandan dengan setelan Armani abu-abu tengah malam, hatiku berkata bahwa sesuatu akan terjadi. Sesuatu yang akan menghancurkanku.Rey bilang ada meeting mendadak, tapi rahangnya mengencang saat berkata, jarinya sengaja menghindar dari kulitku saat melewati sofa. Dia berbohong. Dan sekarang aku berdiri di balik pilar marmer Kempinski, menatap punggungnya yang menjauh.Jam menunjukkan 22:47.Klik. Klik. Klik.Sepatunya berderap teratur, dia berhenti di concierge, berbicara pelan, mengangguk. Sebuah kartu kunci diberikan. Lantai dua puluh dua.Kukuku menekan telapak hingga sakit. Lima puluh miliar. Apakah dia akan menukarku dengan bayaran itu?Pintu lift membuka memantulkan bayangannya yang tegap. Saat pintu menutup, aku melihat wajahnya di kaca, tidak ada jejak pria yang pagi tadi mencium leherku dengan obsesi. Tidak ada lagi biarkan dunia tahu kamu milikku.Lift menutup, aku berlari dari balik pilar menekan tombol lif

  • Kontrak Cinta Dengan Mantan Musuh   Bab 33: Tanda di Leher

    Aku terbangun bukan karena alarm, melainkan karena sesuatu yang lebih tajam.Sesuatu yang menusuk leher bagian kiriku, tepat di bawah tulang rahang, di tempat yang paling sensitif. Rasanya seperti terbakar dan dingin secara bersamaan, denyut yang mengirimkan sinyal ke seluruh tubuhku bahwa aku telah berubah.Cermin di lemari pakaian memantulkan bayangan wanita yang tidak kukenali.Rambut berantakan menutupi bahu, mata bengkak karena tidur terlalu lelap, dan di leherku terdapat bekas merah tua yang kontras dengan kulit pucatku. Tanda kepemilikan yang vulgar dan indah secara bersamaan."Jangan ditutupi."Suara itu datang dari belakangku parau masih terbalut sisa-sisa tidur. Aku berbalik perlahan, selimut terpeleset dari dada telanjangku, membuatku sadar bahwa aku hanya mengenakan celana dalam yang terlalu kecil milikku dan tidak ada yang lain.Rey duduk di tepi tempat tidur, punggungnya telanjang, otot-otot punggung bergerak-gerak saat dia mengulurkan tangannya ke arahku. Rambutnya bera

  • Kontrak Cinta Dengan Mantan Musuh   Bab 32: Ranjang

    Tubuhku sudah menjawab sebelum bibirku sempat bergerak. Aku terbakar, basah karena ingin. Aku menggesekkan paha mencoba menghilangkan tekanan yang mengganggu di sana, tapi hanya membuatku semakin menyadari kekosongan yang memanggil-manggil.Aku memikirkan dia. Rey. Di kamar sebelah mungkin telanjang dada, mungkin juga terjaga sambil memikirkan hal yang sama.Aku bangkit, kaki telanjangku menyentuh lantai kayu yang dingin, tapi kulitku terbakar. Piyama katunku yang tipis menempel di payudaraku, menggesekkan puting yang sudah mengeras sejak tadi. Aku berjalan ke koridor, menuju cahaya yang menyala.Pintu kamarnya sedikit terbuka.Rey duduk di tepi tempat tidur tlanjang dada, kulitnya berkilauan di cahaya lampu oranye, otot perutnya yang keras naik turun dengan napasnya yang berat. Dia tidak pakai kacamata.Matanya langsung menatapku, turun dari wajahku ke dada, ke paha, kembali ke mataku. Dia menelan ludah."Aku tahu kamu akan datang," katanya

  • Kontrak Cinta Dengan Mantan Musuh   Bab 31: Kesalahan Malam Itu

    Pikiranku masih terjebak di balkon semalam, di kata-katanya yang menggantung seperti kabut tebal, bayangan Arhan, dan aku tidak mengerti apa maksudnya sampai sekarang."Kamu pilih," kata Rey, suaranya datar sengaja, matanya menatap layar yang gelap.Aku menggulir daftar film dengan jari yang gemetar, tapi mataku berhenti di satu judul yang familiar, film tentang kereta api dan dua orang asing yang bertemu dan jatuh cinta dalam satu malam di Wina. Film yang kutonton dengan Arhan. Film yang kupikir romantis, tapi berakhir dengan kepergian tanpa kepastian, seperti kami, seperti semua yang pernah kumiliki dan hilang."Ini," kataku, menekan tombol putar tanpa berpikir panjang, seolah dengan memutar ulang kenangan yang salah aku bisa mengubahnya menjadi benar.Rey tidak protes.Dia hanya mengangguk, bersandar di sudut sofa dengan lengan di sandaran dan kaki terentang santai, tapi aku melihat bahunya tegang, seolah setiap detik film ini adalah detik yang

  • Kontrak Cinta Dengan Mantan Musuh   Bab 30: Yang Terbakar

    "Kamu benar-benar melakukan itu," suaraku parau dan pecah di tengah keheningan balkon yang dingin. "Kamu masuk ke kamarku, menyentuhku, memohon pernikahan saat aku tidak sadar."Rey masih berlutut di antara abu foto-foto yang baru saja kami bakar. "Aku serius, Aurel. Setiap kata yang aku ucapkan di video itu. Bahkan saat kamu tidak sadar, terutama saat kamu tidak sadar, karena aku akhirnya bisa mengatakannya tanpa takut melihat kamu menatapku dengan benci atau melihat kamu pergi.""Dan kamu pikir itu lebih baik?" suaraku naik sedikit. "Kamu pikir melihatku tidur dalam keadaan lemah, tidak sadar, lalu memohon pernikahan seperti itu lebih baik daripada mengatakan saat aku sadar?"Rey menggeleng, "Aku tidak memohon, Aurel. Aku menjanjikan. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa suatu hari, meski kamu tidak pernah tahu apa yang terjadi malam itu, aku akan membuatmu menjadi milikku secara sah. Bukan dengan menguntit, bukan dengan foto-foto tersembunyi, tapi dengan ci

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status