Home / Fantasi / Kontrak Eksklusif Pelanggan VIP / BAB 6 SOP VIP dan Kilas Balik Pria Berjas

Share

BAB 6 SOP VIP dan Kilas Balik Pria Berjas

Author: aleta xaviera
last update publish date: 2026-10-15 18:57:52

Kirana menutup buku catatan tebalnya dengan bunyi menepuk yang keras.

"Singkat, jelas, nggak pakai ribet," gumam Kirana.

Tiga aturan utama sudah tertulis rapi di sana:

Pembayaran wajib tunai: Emas, permata, artefak, atau tanaman spiritual.

Satu portal, satu pelanggan. Dilarang berpapasan.

Khusus Lord Valerius: Diskon grosir, konsultasi bisnis langsung, dan hak akses VIP.

"Sempurna," bisik Kirana.

Pikirannya melayang sebentar ke masa beberapa bulan lalu. Saat itu, pengembang nakal mengancam akan meratakan rukunya. Kirana tidak menangis. Dia justru mendatangi kantor Baskara Group, menendang pintu ruang rapat, lalu menggebrak meja Arsenio Baskara.

"Tolong disetrika dulu otak anak buahmu, Pak Bos!" bentak Kirana waktu itu.

Arsenio menatapnya dingin. "Kau berani menendang pintuku?"

"Kalau rukoku digusur tanpa prosedur sah, reputasi gedungmu ini hancur di media sosial jam lima sore nanti!" ancam Kirana tanpa kedip.

Arsenio tidak memanggil satpam. Dia justru tersenyum tipis dan membatalkan penggusuran hari itu juga. Sejak saat itu, mereka menjadi mitra bisnis yang solid.

TENG! TENG! TENG!

Jam dinding berbunyi dua belas kali.

Krieeek...

Lord Valerius melangkah keluar dari portal. Tatapan mata emasnya langsung tertuju pada Kirana.

"Kau menungguku, Pemilik Toko?" suara berat Valerius bergema.

"Tentu. Pelanggan VIP tidak boleh diabaikan," jawab Kirana dengan senyum ramah yang profesional.

Valerius melangkah mendekat. Tangan besarnya terangkat perlahan, hendak mengusap pipi Kirana.

Kirana tidak menepisnya, tetapi dengan gerakan lincah dan sopan, dia justru mengambil langkah mundur satu tapak sambil memegang papan jalan transaksi di tangannya. Dia menegaskan batas rasa hormatnya sebagai pemilik toko yang bermartabat.

"Bisnis dulu, Lord Val," pangkas Kirana dengan nada tegas namun manis. "Apa yang kamu bawa malam ini?"

Valerius terkekeh rendah. Sang Raja Naga mengurungkan niatnya, lalu merogoh cincin penyimpanannya.

"Kau selalu tahu cara menjaga jarak," kata Valerius. Dia meletakkan batangan logam berwarna perak kebiruan di atas meja konter. "Ini Logam Mithril Murni. Logam terkuat dan teringan dari duniaku."

Mata Kirana berbinar. "Mithril? Apa yang kamu butuhkan sebagai gantinya?"

"Pasokan medis steril, suplemen stamina, dan pembalut luka untuk pasukanku," jawab Valerius.

"Deal!" seru Kirana. "Semua sudah terkemas rapi di kardus sebelah kanan. Silakan diperiksa."

Valerius melambaikan tangannya, menyedot puluhan kardus itu ke dalam cincin sihirnya.

"Aku akan kembali minggu depan, Kirana," ujar Valerius.

"Pintu toko selalu terbuka untuk transaksi berikutnya, Lord Val," balas Kirana santai.

Valerius melangkah mundur, menghilang di balik cahaya keemasan portalnya yang perlahan menutup rapat.

Kirana bernapas lega. Dia memegang batangan Mithril itu dengan puas.

"Mithril murni... Ini modal raksasa!" gumamnya.

Kirana segera menyimpan Mithril tersebut ke dalam ruang dimensi pribadinya di Zona B. Setelah kembali ke area toko, dia berniat naik ke lantai dua untuk beristirahat.

Namun, baru dua langkah menaiki tangga...

WUSH!

Suhu ruangan mendadak merosot drastis. Lapisan es bening merambat cepat membekukan lantai keramik di bawah kakinya.

"Licin banget!" jerit Kirana sambil berpegangan erat pada besi tangga. "Ini siapa lagi yang jebol pintu es?!"

Dari balik rak bumbu dapur, meletup kepulan asap biru es yang sangat pekat. Suara gemerak es pecah menggelegar nyaring.

"Tol... tolong..." sebuah suara halus melengking dari balik kepulan asap.

Sesosok pria tinggi berwajah pucat dengan telinga runcing ambruk ke lantai yang membeku. Dadanya menghitam akibat racun es yang mematikan.

Kirana tidak panik. Sifat nekatnya langsung bekerja.

"Telinga runcing? Fix ini Elf!" gumam Kirana.

Dia berlari ke rak obat, menyambar dua lembar koyo cabai super panas, botol minyak kayu putih, dan menyeduh cangkir kopi jahe panas.

Kirana berlutut di samping pria elf itu, menumpahkan minyak kayu putih ke dadanya, lalu menempelkan koyo cabai tepat di leher belakangnya.

PLAK!

Pria elf itu mendelik lebar. "ARGHHH! Sihir pemusnah apa ini?! Leherku seperti dibakar lahar!"

Asap hitam racun meletup keluar dari pori-pori kulitnya saat aliran darahnya membaik seketika.

"Jangan dilawan panasnya! Ini resep herbal paling ampuh!" seru Kirana sambil meminumkan kopi jahe panas ke mulut sang elf.

Pria elf itu terbatuk, lalu bernapas lega. Warna merah segar kembali ke wajahnya.

"Luar biasa..." bisik pria elf itu, memegang leher belakangnya. "Racun Frost-Bite langsung musnah hanya dengan kain perekat ini?!"

Dia menatap sekeliling toko dengan raut bingung. "Tempat apa ini? Apakah wadah-wadah kecil ini berisi ramuan sihir?"

"Itu botol kecap sama bumbu dapur, Ganteng," jawab Kirana santai. "Namaku Kirana. Dan pertolongan darurat tadi tidak gratis!"

Pria elf itu berdiri, menunduk hormat. "Namaku Vaelen, Komandan Garda Depan dari Frost Realm. Sebutkan pembayaran yang kau minta, Pemilik Toko Ajaib."

"Aturan tokoku tegas: wajib emas, permata, atau tanaman spiritual," tegas Kirana.

Vaelen merogoh kantongnya, menyerahkan tiga Kristal Es Murni dan sebuah kantong sutra berisi benih Bunga Salju Abadi.

"Bunga Salju Abadi sanggup meregenerasi sel kulit dan menyembuhkan luka bakar," terang Vaelen.

Mata Kirana berbinar. Benih ini kalau diekstrak bisa jadi bahan baku kosmetik mewah jutaan rupiah di dunia nyata!

"Deal! Transaksi diterima!" seru Kirana riang.

Vaelen lalu memborong puluhan dus kopi jahe, koyo cabai, dan selimut wol tebal yang disiapkan Kirana.

"Terima kasih, Kirana. Barang-barang ini akan menyelamatkan pasukanku di garis depan," kata Vaelen sebelum melangkah kembali masuk ke portal biru esnya yang menutup rapat.

Kirana memeluk kantong benih itu dengan senyuman lebar.

"Dapet Mithril dari Naga, dapet Bunga Salju dari Elf. Besok langsung tanam di rumah dimensi!" serunya penuh semangat.

Kirana membawa benih Bunga Salju itu ke Zona B ruang dimensinya, menanamnya di samping aliran sungai pemurnian. Tanaman itu tumbuh seketika, memancarkan pendar biru es yang indah.

Kembali ke lantai satu toko, Kirana mengunci pintu rapat-rapat. Dia hendak menaiki tangga lagi, namun gedoran kasar menghantam pintu kaca depan rukunya dari luar.

BAM! BAM! BAM!

"Kirana! Buka pintunya! Kamu tidak punya sopan santun membiarkan ayahmu menunggu di luar!" teriak suara pria paruh baya dari luar.

Senyum di wajah Kirana seketika hilang total. Wajahnya berubah dingin dan tajam.

Dia berjalan ke pintu depan. Di luar, berdiri Hendra—ayah kandungnya yang tidak tahu diri—bersama Rian, anak dari selingkuhan ayahnya.

Kirana membuka kunci pintu, tetapi tetap menahan gagangnya. "Mau apa ke sini malam-malam?"

"Jaga mulutmu!" bentak Hendra. "Kami ke sini minta bagian hasil penjualan ruko ini, atau izinkan Rian dan ibunya tinggal di lantai dua!"

"Betul kata Ayah, Kak," timpal Rian dengan senyum miring. "Ruko warisan Ibu ini terlalu luas buat kamu sendirian. Mending bagi dua sama aku."

Darah Kirana mendidih. Ruko ini murni dibangun dari keringat almarhumah ibunya. Dulu, Hendra berselingkuh, membawa selingkuhannya dan Rian yang usianya hampir sebaya dengan Kirana untuk tinggal bersama, memeras uang bisnis ibunya hingga sang ibu depresi berat dan meninggal dunia.

"Bagi dua?" Kirana tertawa sinis. "Kulit mukamu tebal sekali ya! Keringat Ibuku yang membangun tempat ini, tidak ada satu sen pun uang dari ayahmu yang cuma tahu cara menumpang hidup!"

"Kurang ajar!" bentak Hendra sambil mengangkat tangannya hendak menampar.

Sebelum tangan itu mendarat, Kirana mencengkeram pergelangan tangan ayahnya dengan sangat kuat, lalu mendorongnya mundur.

"Jangan coba-coba sentuh aku dengan tangan kotormu!" gertak Kirana tajam. "Kamu lupa siapa yang bikin Ibu menderita sampai meninggal?! Kamu bawa selingkuhanmu ke rumah dan peras uang Ibu! Kamu pikir aku bakal lupa?!"

"Kami bakal gugat kamu ke pengadilan atas hak waris!" ancam Rian.

"Gugat saja!" balas Kirana tanpa rasa takut. "Sertifikat ruko ini murni atas nama Ibuku dan diwariskan penuh kepadaku! Mau aku viralkan semua bukti perselingkuhan dan pemerasan kalian dulu di media sosial?!"

Hendra dan Rian membeku seketika.

"Pergi dari sini sebelum aku panggil warga!" ancam Kirana, lalu membanting pintu kaca dan menguncinya rapat-rapat.

BAM!

Kirana bersandar di pintu kaca, menarik napas dalam-dalam menahan amarahnya.

Ponselnya di atas meja kasir mendadak berdering. Nama Arsenio Baskara tertera di layar.

Kirana menggeser tombol hijau. "Halo, Pak Bos?"

"Kirana," suara Arsenio di seberang telepon terdengar sangat tegang. "Seorang makelar barang antik berbahaya asal Eropa baru saja mendarat di Jakarta. Dan nama pertama yang dia cari... adalah namamu."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kontrak Eksklusif Pelanggan VIP   BAB 7 Perusahaan Cangkang dan Makelar Eropa

    "Mencari namaku?" Kirana menaikkan alisnya, bersandar pada konter kasir. "Buat apa? Aku nggak punya utang di bank Swiss, Pak Bos.""Koin emas dan permata merah langka milikmu yang kita cairkan kemarin," jawab Arsenio cepat dari seberang telepon. "Jejaknya terdeteksi oleh jaringan perampok barang antik internasional. Mereka pikir kau penyelundup koleksi kerajaan kelas atas.""Terus masalahnya di mana? Kan situ yang jamin pencairannya aman?""Memang aman. Tapi si makelar Eropa ini nekad. Dia menuju rukomu sekarang," ujar Arsenio dingin. "Tunggu di dalam. Sepuluh menit lagi aku sampai."KLIK.Panggilan terputus. Kirana memutar ponselnya di tangan, lalu melirik ke luar jendela ruko."Baru aja ngusir dua parasit, sekarang datang lagi perampok eropa," gumam Kirana. "Bener-bener malam yang rame."Belum ada lima menit, suara deru mesin mobil SUV tebal berhenti di depan teras ruko. Arsenio turun bersama seorang pria paruh baya berkacamata tebal yang memeluk tas kulit.Kirana membukakan pintu k

  • Kontrak Eksklusif Pelanggan VIP   BAB 6 SOP VIP dan Kilas Balik Pria Berjas

    Kirana menutup buku catatan tebalnya dengan bunyi menepuk yang keras."Singkat, jelas, nggak pakai ribet," gumam Kirana.Tiga aturan utama sudah tertulis rapi di sana:Pembayaran wajib tunai: Emas, permata, artefak, atau tanaman spiritual.Satu portal, satu pelanggan. Dilarang berpapasan.Khusus Lord Valerius: Diskon grosir, konsultasi bisnis langsung, dan hak akses VIP."Sempurna," bisik Kirana.Pikirannya melayang sebentar ke masa beberapa bulan lalu. Saat itu, pengembang nakal mengancam akan meratakan rukunya. Kirana tidak menangis. Dia justru mendatangi kantor Baskara Group, menendang pintu ruang rapat, lalu menggebrak meja Arsenio Baskara."Tolong disetrika dulu otak anak buahmu, Pak Bos!" bentak Kirana waktu itu.Arsenio menatapnya dingin. "Kau berani menendang pintuku?""Kalau rukoku digusur tanpa prosedur sah, reputasi gedungmu ini hancur di media sosial jam lima sore nanti!" ancam Kirana tanpa kedip.Arsenio tidak memanggil satpam. Dia justru tersenyum tipis dan membatalkan p

  • Kontrak Eksklusif Pelanggan VIP   BAB 5 Keajaiban Dua Dunia dan Awal Imperium Cuan

    Semburan api keemasan dari tubuh Valerius menerangi seluruh sudut Kirana Jaya Mart. Para penjahat bersenjata laras panjang itu menjerit histeris. Mereka memuntahkan puluhan peluru baja ke arah sosok raksasa bermata emas di depan mereka.TANG! TANG! TANG!Peluru-peluru baja itu meledak di udara, meluncur pasrah lalu meleleh menjadi abu sebelum sempat menyentuh zirah hitam sang raja naga."Monster! Pria ini monster!" teriak pimpinan penjahat dengan wajah pucat pasi.Valerius mengangkat tangan kirinya dengan tenang. Cincin penyimpanan di jari manisnya memancarkan gelombang tekanan sihir tingkat tinggi.BOOOM!Gelombang udara tak kasat mata menghempas seluruh penjahat itu hingga terlempar keluar ruko. Tubuh kekar mereka menghantam trotoar jalan raya dengan keras, membuat senjata api di tangan mereka hancur berkeping-keping."Tunggu, Lord Val! Jangan dibunuh!" seru Kirana cepat, keluar dari balik meja kasir. "Kalau mereka mati di depan tokoku, urusannya bakal panjang dengan polisi!"Valeri

  • Kontrak Eksklusif Pelanggan VIP   BAB 4 Rahasia Kalung Dimensi dan Ancaman Gelap

    Cairan hitam beraroma busuk menetes makin cepat dari celah atap lift. Hawa panas membakar seketika memenuhi ruangan besi yang sempit itu. Cakar hitam bernapas api mencengkeram atap lift hingga melengkung tajam."Makanan... energi emas magis..." raung suara parau dari balik langit-langit besi."Enak saja mau menjadikan aku makanan!" seru Kirana panik.Melihat cakar monster itu hendak merangsak turun, Kirana refleks memegang batu giok pudar di lehernya. Sifat nekatnya langsung mengambil alih."Sistem! Aktifkan perlindungan darurat!" teriak Kirana dalam hati.TING! 【 PERTUMBUHAN ENERGI TERDETEKSI. MEMBUKA BENTENG DIMENSI TINGKAT SATU. 】Layar holografis biru meletup di depan mata Kirana. Kalung giok di lehernya memancarkan pendar cahaya keemasan bercampur biru yang sangat menyilaukan. Sebuah kubah pelindung transparan merekah, membungkus tubuh Kirana dan menelan seluruh ruang lift.WUSH!Hawa panas dan aroma busuk monster itu mendadak lenyap ditelan cahaya dimensi. Cakar monster yang men

  • Kontrak Eksklusif Pelanggan VIP   BAB 3 Ruang Sistem Warisan dan Rencana yang Matang

    BAB 3 ##Transaksi Emas dan Ruang Rahasia DimensiValerius menjatuhkan kantong kulit di tangannya ke atas konter besi.BRAAK!Suara gedebuk berat itu diikuti oleh terbukanya ikatan kantong. Puluhan koin emas berukuran besar tumpah ruah di atas meja. Koin-koin itu memiliki ukiran kepala naga yang sangat detail dan memancarkan kilau kuning murni di bawah lampu neon toko.Tidak hanya koin, ada beberapa bongkahan permata mentah berwarna merah delima yang ikut menggelinding.Mata Kirana langsung berbinar gembira. Dia menjerit tertahan sambil meraup koin-koin itu dengan kedua tangannya."Demi apa?! Ini emas asli?! Banyak banget! Aku kaya!" seru Kirana.Kirana yang gampang terbawa suasana langsung mengambil satu koin, lalu menggigitnya untuk memastikan keasliannya.Valerius mengernyitkan dahi melihat tingkah wanita di depannya."Emas dari perbendaharaanku memiliki kadar kemurnian tertinggi, Wanita. Kau tidak perlu menggigitnya seperti itu," kata Valerius."Biarin! Ini namanya verifikasi otent

  • Kontrak Eksklusif Pelanggan VIP   BAB 2 Tumpukan Emas Pertama dan Rencana Pencucian Cuan

    "Ikut aku sebentar, jangan banyak tanya," kata Kirana.Dengan berani, dia menunjuk ke arah pintu gudangnya yang terbuka."Aku bakal tunjukin sesuatu yang bisa menyelamatkan pasukanmu, tapi dengan satu syarat: kita harus bicara bisnis yang saling menguntungkan."Valerius, yang didorong oleh rasa penasaran sekaligus kewajiban untuk menyelamatkan pasukannya, akhirnya memutuskan untuk mengikuti wanita manusia aneh ini. Mereka melangkah melewati pintu magis, kembali masuk ke dalam Kirana Jaya Mart.Wush.Aroma belerang langsung berganti dengan aroma ruangan ber-AC yang sejuk dan wangi karbol lantai rasa apel. Valerius tertegun, matanya yang sewarna emas cair berputar melihat sekeliling dengan penuh kewaspadaan.Dia berada di sebuah ruangan dengan pencahayaan putih yang sangat terang tanpa ada satu pun obor. Di sekelilingnya terdapat rak-rak besi tinggi yang memajang ribuan benda berwarna-warni dengan kemasan yang belum pernah dia lihat seumur hidupnya."Selamat datang di swalayanku, calon

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status