LOGINPandangan Hiroshi mengabur. Cairan hangat mengalir dari pelipisnya, membasahi jok mobil yang ringsek. Di depannya, moncong senjata Kenji tampak begitu hitam dan dingin. Hiroshi mencoba menggerakkan tangannya, namun rasa sakit yang luar biasa dari tulang rusuknya yang patah membuat setiap tarikan napas terasa seperti sayatan pisau."Kau selalu menjadi penghalang, Hiroshi. Sejak ayah lebih memilihmu untuk memimpin perusahaan, aku sudah bersumpah akan melihatmu berakhir di selokan seperti ini," geram Kenji dengan jari yang mulai menekan pelatuk. "Selamat tinggal, adik kecil. Sampaikan salamku pada ayah di neraka."DOR!Suara tembakan meledak, namun bukan dari senjata Kenji. Sebuah peluru mengenai bahu Kenji, membuatnya terhuyung ke belakang dan senjatanya terlepas ke aspal. Di ujung jalan, sebuah sedan merah melaju kencang dan berhenti dengan manuver tajam, menghalangi jalan Kenji.Aiko keluar dari mobil itu dengan napas memburu. Di tangannya, ia menggenggam sebuah pistol kecil—senjata y
Detik itu juga, waktu seolah melambat bagi Aiko. Titik merah yang menari di dadanya terasa seperti tatapan malaikat maut. Ia terpaku, kakinya seolah tertanam di lantai balkon. Namun, sebelum suara dentuman peluru terdengar, sebuah bayangan menerjangnya dengan kasar dari arah belakang.PRANG!Kaca pintu balkon hancur berantakan saat peluru kaliber tinggi menembus ruang tempat Aiko berdiri sedetik yang lalu. Hiroshi telah melompat, mendekap tubuh Aiko, dan menggulingkannya ke lantai ruang tamu yang gelap. Mereka berdua terengah-engah di atas pecahan kaca, sementara suara desingan peluru kedua menghantam dinding apartemen tepat di atas kepala mereka."Tetap di bawah! Jangan bergerak!" perintah Hiroshi dengan suara yang rendah dan penuh wibawa—suara yang sudah lama tidak Aiko dengar sejak perselingkuhan itu terungkap. Hiroshi tidak lagi tampak seperti pelayan yang pecundang; insting pelindungnya bangkit saat melihat wanita yang ia cintai hampir tewas di depan matanya.Aiko merasakan detak
📢 Catatan Penulis (Penting!)Halo, Pembaca Setia!Saya ingin memohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan ini. Sebelumnya, cerita ini sempat menggunakan nama karakter Queen dan Tama. Namun, setelah melalui proses diskusi dengan editor dan evaluasi naskah untuk kontrak, saya memutuskan untuk mengembalikan nama karakter menjadi Aiko dan Hiroshi serta melakukan revisi total pada plot agar cerita ini jauh lebih seru, emosional, dan penuh ketegangan.Bagi kalian yang sudah membaca hingga bab 8 versi sebelumnya, saya sangat menyarankan untuk membaca ulang dari Bab 1. Banyak detail baru, konflik yang lebih tajam, dan alur "Kontrak Ranjang" yang telah diubah total untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik.Terima kasih atas dukungan dan kesabaran kalian. Selamat menikmati kelanjutan kisah Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat!📖 Bab 9: Jebakan dalam ApiSuara ledakan yang mengguncang gedung pusat Tanaka Group masih terngiang di telinga Hiroshi saat ia memacu mobilnya kem
Udara malam di dermaga tua pelabuhan Tokyo terasa menusuk hingga ke tulang, membawa aroma garam dan besi berkarat. Aiko berdiri di bawah lampu jalan yang berkedip, menggenggam tas kecilnya yang berisi flashdisk rahasia milik Hiroshi. Ia tidak memberitahu siapa pun, bahkan tidak kepada Reiko, karena ancaman terhadap nyawa dan nama baik ayahnya terlalu besar untuk dipertaruhkan.Di kejauhan, sebuah mobil hitam mewah berhenti dengan suara ban yang mencicit di atas beton basah. Seorang pria keluar dari sana. Tubuhnya jangkung, mengenakan parit panjang berwarna gelap, dengan wajah yang sekilas mirip dengan Hiroshi namun memiliki tatapan yang jauh lebih dingin dan bengis. Itulah Kenji Tanaka, sang "hantu" dari masa lalu keluarga Tanaka."Adik iparku yang cantik... kau jauh lebih berani daripada pengecut yang kau nikahi itu," sapa Kenji dengan suara bariton yang serak. Ia berjalan mendekat, setiap langkahnya memberikan tekanan intimidasi yang kuat. "Mana Hiroshi? Apa dia terlalu sibuk menyika
Aiko berdiri mematung di tengah kamar utama, menatap foto pernikahan yang dicoret tinta merah itu dengan napas tersengal. Ancaman tentang ayahnya—sosok yang selalu ia puja sebagai pahlawan integritas—terasa seperti racun yang merayap di nadinya. Ia melirik ke arah pintu kamar pelayan di bawah, tempat Hiroshi meringkuk dalam kehinaan, dan menyadari bahwa suaminya adalah kunci sekaligus kotak pandora bagi semua ini.Tanpa membuang waktu, Aiko menuruni tangga dengan langkah yang mantap. Ia tidak mengetuk; ia langsung menendang pintu kamar sempit itu hingga terbuka. Di sana, di atas kasur tipis tanpa sprei, Hiroshi sedang terduduk lemas, mencoba memejamkan mata di tengah udara pengap yang hanya dibantu oleh sebuah kipas angin kecil yang berderit."Bangun, Hiroshi!" seru Aiko sembari melemparkan foto yang dicoret itu tepat ke wajah suaminya. "Katakan padaku, siapa lagi selain Miyuki yang kau beri akses untuk menghancurkan hidupku? Dan apa hubungannya ayahku dengan pendanaan awal perusahaanm
Pintu kamar hotel itu terbuka dengan paksa, menampilkan Miyuki yang tampak berantakan dengan botol sampanye di tangannya. Ia mencoba berteriak, namun suaranya tercekat saat melihat Aiko melangkah masuk dengan ketenangan yang mematikan, diikuti oleh Nyonya Sato yang langsung membentangkan dokumen di atas meja kecil yang penuh dengan sisa makanan."Kau pikir kau bisa menang, Miyuki? Dengan video murah itu?" Aiko bertanya sembari menatap sekeliling kamar hotel yang kumuh, sangat kontras dengan apartemen mewah yang dulu diberikan Hiroshi kepadanya. "Kau sudah mempertaruhkan segalanya pada satu kartu, dan kau lupa bahwa aku yang memegang seluruh deknya."Miyuki mencoba tertawa sinis, meskipun tangannya gemetar. "Hiroshi tidak akan pernah mencintaimu, Aiko! Dia datang padaku karena kau membosankan! Video itu adalah bukti betapa dia menginginkanku!" teriak Miyuki, mencoba menggunakan sisa-sisa senjatanya untuk melukai hati Aiko.Aiko hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat Miyuki







