LOGINPintu kamar hotel itu terbuka dengan paksa, menampilkan Miyuki yang tampak berantakan dengan botol sampanye di tangannya. Ia mencoba berteriak, namun suaranya tercekat saat melihat Aiko melangkah masuk dengan ketenangan yang mematikan, diikuti oleh Nyonya Sato yang langsung membentangkan dokumen di atas meja kecil yang penuh dengan sisa makanan.
"Kau pikir kau bisa menang, Miyuki? Dengan video murah itu?" Aiko bertanya sembari menatap sekeliling kamar hotel yang kumuh, sangat kontras dengan apartemen mewah yang dulu diberikan Hiroshi kepadanya. "Kau sudah mempertaruhkan segalanya pada satu kartu, dan kau lupa bahwa aku yang memegang seluruh deknya."
Miyuki mencoba tertawa sinis, meskipun tangannya gemetar. "Hiroshi tidak akan pernah mencintaimu, Aiko! Dia datang padaku karena kau membosankan! Video itu adalah bukti betapa dia menginginkanku!" teriak Miyuki, mencoba menggunakan sisa-sisa senjatanya untuk melukai hati Aiko.
Aiko hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat Miyuki merinding. "Cinta? Di dunia Tanaka Group, cinta adalah liabilitas, Miyuki. Dan sekarang, kau adalah kerugian yang harus dihapuskan. Nyonya Sato, silakan jelaskan posisinya."
Nyonya Sato melangkah maju, suaranya sedingin es. "Nona Miyuki, kami telah melacak aliran dana dari rekening perusahaan yang Anda terima. Itu dikategorikan sebagai pencucian uang dan penipuan korporat karena Anda tidak pernah menjadi karyawan resmi. Jika Anda tidak menandatangani surat pengakuan bahwa video itu adalah hasil manipulasi untuk pemerasan, Anda akan menghabiskan sepuluh tahun ke depan di penjara."
Wajah Miyuki memucat pasi. Ia menatap Hiroshi yang berdiri di ambang pintu, berharap ada sedikit belas kasihan. "Hiroshi... tolong aku... kau bilang kau mencintaiku..." rintihnya pelan. Namun, Hiroshi hanya membuang muka, ia terlalu takut pada Aiko untuk sekadar menatap mantan selingkuhannya itu.
"Tanda tangani, atau polisi yang masuk ke sini," perintah Aiko dengan nada yang tidak menerima bantahan. Dengan air mata yang mengalir deras dan tangan yang bergetar hebat, Miyuki akhirnya membubuhkan tanda tangannya, mengakhiri ambisinya untuk menghancurkan Aiko dan merebut posisi nyonya Tanaka.
Setelah meninggalkan hotel, Aiko menatap Hiroshi yang tampak lesu di dalam mobil. "Jangan berpikir ini sudah selesai bagimu, Hiroshi. Miyuki hanyalah gangguan kecil. Masalah utamamu adalah aku."
Sesampainya di rumah, suasana berubah total. Aiko tidak lagi berjalan menuju dapur untuk memasak. Ia duduk di kursi ruang tamu dan menunjuk ke arah lantai. "Sesuai kontrak penebusan yang kau tanda tangani, mulai malam ini kau dilarang menggunakan fasilitas mewah di rumah ini tanpa izinku."
Hiroshi tertegun. "Maksudmu? Aku lelah, Aiko. Aku butuh mandi dan tidur di ranjangku."
"Ranjangmu?" Aiko tertawa kecil. "Ranjang itu milik istri yang setia. Kau adalah pengkhianat. Kau akan tidur di kamar pelayan di lantai bawah, tanpa AC, dan hanya dengan satu setel pakaian untuk besok pagi. Jika kau keberatan, silakan hubungi pengacaramu dan kita selesaikan ini di pengadilan penggelapan dana."
Hiroshi merasa harga dirinya diinjak-injak sampai ke dasar bumi. Ia, sang CEO Tanaka Group, harus tidur di kamar sempit yang biasanya digunakan untuk menyimpan alat kebersihan. Namun, rasa takut akan penjara dan kehilangan harta membuatnya tidak punya pilihan selain patuh.
Malam itu, Hiroshi berbaring di kasur tipis yang keras, menatap langit-langit kamar yang pengap. Ia bisa mendengar suara televisi dari ruang atas, tempat Aiko sedang bersantai menikmati kebebasannya. Ia merasa sangat hina, namun anehnya, ada rasa penyesalan yang mulai merayap—menyadari betapa ia telah menyia-nyiakan wanita sehebat Aiko.
Sementara itu, Aiko duduk di balkon, menyesap tehnya sembari melihat pemandangan kota. Reiko meneleponnya tak lama kemudian. "Bagaimana rasanya, Aiko? Melihat singa itu menjadi kucing penurut?"
Ini baru permulaan, Rei. Aku ingin dia merasakan setiap detik kesepian yang aku rasakan selama lima tahun ini. Aku ingin dia sadar bahwa kekuasaannya tidak berarti apa-apa tanpa kesetiaanku."
Namun, ketenangan Aiko terusik saat ia melihat sebuah amplop cokelat terselip di bawah pintu kamar utamanya. Ia membukanya dan menemukan sebuah foto lama—foto pernikahan mereka yang sudah dicoret-coret dengan tinta merah, disertai tulisan tangan yang sangat ia kenal.
"Kau pikir kau menang, Aiko? Aku punya rahasia tentang ayahmu dan pendanaan awal Tanaka Group. Jika kau terus menyiksa Hiroshi, rahasia ini akan menghancurkan nama baik keluargamu, bukan hanya suamimu."
Jantung Aiko berdegup kencang. Ia mengenali tulisan itu. Itu bukan tulisan Miyuki. Itu adalah tulisan tangan seseorang dari masa lalu Hiroshi yang jauh lebih berbahaya—seseorang yang bahkan Aiko pikir sudah lama menghilang.
Aiko meremas foto itu, amarah dan ketakutan bercampur aduk di dadanya. Ternyata, pengkhianatan Hiroshi memiliki akar yang jauh lebih dalam dan gelap daripada sekadar perselingkuhan dengan seorang sekretaris.
Ia menatap ke arah kamar pelayan di bawah, menyadari bahwa suaminya mungkin menyimpan rahasia yang jauh lebih besar yang bisa menghancurkan mereka berdua. "Apa lagi yang kau sembunyikan, Hiroshi?" bisik Aiko sembari menatap kegelapan malam dengan penuh keraguan.
Aiko meletakkan ponselnya dengan tangan yang dingin namun mantap. Informasi dari ayahnya tentang adanya 'dalang' lain di Tanaka Group membuat sisa-sisa kesedihannya menguap, berganti dengan kemarahan yang membeku. Ia menatap wajah Hiroshi yang pucat di balik masker oksigen untuk terakhir kalinya sebelum ia keluar dari ruang ICU."Nyonya Sato," panggil Aiko saat ia melangkah keluar, suaranya kini terdengar seperti perintah militer yang tidak menerima bantahan. "Siapkan mobil. Kita tidak akan pulang ke rumah. Kita akan pergi ke kantor pusat Tanaka Group. Sekarang juga.""Tapi Nyonya, ini sudah hampir tengah malam. Kantor sedang dalam masa pembersihan pasca ledakan," Nyonya Sato mencoba mengingatkan, namun ia segera terdiam saat melihat sorot mata Aiko yang berkilat tajam."Justru karena itulah kita harus ke sana. Pengkhianat sejati selalu kembali ke tempat kejadian perkara untuk menghapus jejak terakhirnya," jawab Aiko sembari memakai jaket hitamnya. "Dan panggil tim audit indepen
Jari-jari Aiko gemetar saat ia menyentuh layar ponselnya. Pesan dari pengacara pribadi Hiroshi terasa seperti beban ribuan ton yang menindih dadanya. Di balik pintu ruang operasi yang tertutup rapat, suaminya sedang berjuang melawan maut, sementara di tangannya kini terdapat kunci menuju rahasia terdalam pria itu."Nyonya Tanaka, ini dokumen fisiknya," ujar Nyonya Sato yang tiba-tiba muncul di rumah sakit, membawa sebuah amplop tersegel dengan cap resmi firma hukum Tanaka Group. "Tuan Hiroshi menyerahkan ini pada saya satu minggu yang lalu, tepat saat Anda memberikan Kontrak Penebusan itu kepadanya. Beliau berkata, jika ia tidak selamat dari 'badai' ini, Anda harus membacanya."Aiko merobek amplop itu dengan kasar. Di dalamnya terdapat surat wasiat resmi dan sebuah surat tulisan tangan yang tintanya sedikit luntur, seolah terkena tetesan air. Aiko mulai membaca baris demi baris, dan jantungnya seolah berhenti berdetak."Aiko, istriku yang kucintai lebih dari nyawaku sendiri... Jika ka
Pandangan Hiroshi mengabur. Cairan hangat mengalir dari pelipisnya, membasahi jok mobil yang ringsek. Di depannya, moncong senjata Kenji tampak begitu hitam dan dingin. Hiroshi mencoba menggerakkan tangannya, namun rasa sakit yang luar biasa dari tulang rusuknya yang patah membuat setiap tarikan napas terasa seperti sayatan pisau."Kau selalu menjadi penghalang, Hiroshi. Sejak ayah lebih memilihmu untuk memimpin perusahaan, aku sudah bersumpah akan melihatmu berakhir di selokan seperti ini," geram Kenji dengan jari yang mulai menekan pelatuk. "Selamat tinggal, adik kecil. Sampaikan salamku pada ayah di neraka."DOR!Suara tembakan meledak, namun bukan dari senjata Kenji. Sebuah peluru mengenai bahu Kenji, membuatnya terhuyung ke belakang dan senjatanya terlepas ke aspal. Di ujung jalan, sebuah sedan merah melaju kencang dan berhenti dengan manuver tajam, menghalangi jalan Kenji.Aiko keluar dari mobil itu dengan napas memburu. Di tangannya, ia menggenggam sebuah pistol kecil—senjata y
Detik itu juga, waktu seolah melambat bagi Aiko. Titik merah yang menari di dadanya terasa seperti tatapan malaikat maut. Ia terpaku, kakinya seolah tertanam di lantai balkon. Namun, sebelum suara dentuman peluru terdengar, sebuah bayangan menerjangnya dengan kasar dari arah belakang.PRANG!Kaca pintu balkon hancur berantakan saat peluru kaliber tinggi menembus ruang tempat Aiko berdiri sedetik yang lalu. Hiroshi telah melompat, mendekap tubuh Aiko, dan menggulingkannya ke lantai ruang tamu yang gelap. Mereka berdua terengah-engah di atas pecahan kaca, sementara suara desingan peluru kedua menghantam dinding apartemen tepat di atas kepala mereka."Tetap di bawah! Jangan bergerak!" perintah Hiroshi dengan suara yang rendah dan penuh wibawa—suara yang sudah lama tidak Aiko dengar sejak perselingkuhan itu terungkap. Hiroshi tidak lagi tampak seperti pelayan yang pecundang; insting pelindungnya bangkit saat melihat wanita yang ia cintai hampir tewas di depan matanya.Aiko merasakan detak
📢 Catatan Penulis (Penting!)Halo, Pembaca Setia!Saya ingin memohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan ini. Sebelumnya, cerita ini sempat menggunakan nama karakter Queen dan Tama. Namun, setelah melalui proses diskusi dengan editor dan evaluasi naskah untuk kontrak, saya memutuskan untuk mengembalikan nama karakter menjadi Aiko dan Hiroshi serta melakukan revisi total pada plot agar cerita ini jauh lebih seru, emosional, dan penuh ketegangan.Bagi kalian yang sudah membaca hingga bab 8 versi sebelumnya, saya sangat menyarankan untuk membaca ulang dari Bab 1. Banyak detail baru, konflik yang lebih tajam, dan alur "Kontrak Ranjang" yang telah diubah total untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik.Terima kasih atas dukungan dan kesabaran kalian. Selamat menikmati kelanjutan kisah Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat!📖 Bab 9: Jebakan dalam ApiSuara ledakan yang mengguncang gedung pusat Tanaka Group masih terngiang di telinga Hiroshi saat ia memacu mobilnya kem
Udara malam di dermaga tua pelabuhan Tokyo terasa menusuk hingga ke tulang, membawa aroma garam dan besi berkarat. Aiko berdiri di bawah lampu jalan yang berkedip, menggenggam tas kecilnya yang berisi flashdisk rahasia milik Hiroshi. Ia tidak memberitahu siapa pun, bahkan tidak kepada Reiko, karena ancaman terhadap nyawa dan nama baik ayahnya terlalu besar untuk dipertaruhkan.Di kejauhan, sebuah mobil hitam mewah berhenti dengan suara ban yang mencicit di atas beton basah. Seorang pria keluar dari sana. Tubuhnya jangkung, mengenakan parit panjang berwarna gelap, dengan wajah yang sekilas mirip dengan Hiroshi namun memiliki tatapan yang jauh lebih dingin dan bengis. Itulah Kenji Tanaka, sang "hantu" dari masa lalu keluarga Tanaka."Adik iparku yang cantik... kau jauh lebih berani daripada pengecut yang kau nikahi itu," sapa Kenji dengan suara bariton yang serak. Ia berjalan mendekat, setiap langkahnya memberikan tekanan intimidasi yang kuat. "Mana Hiroshi? Apa dia terlalu sibuk menyika







