LOGIN“Memangnya Bunda mau datang ke psikolog?” tanya Arif pada sang ayah yang duduk berseberangan dengannya. Setelah sekian lama, mereka akhirnya bisa duduk berdua sambil makan siang sesudah mencocokkan jadwal.Mereka tidak melibatkan Deswita, karena ingin menikmati waktu dengan tenang tanpa ketegangan. “Bunda itu punya penghasilan sendiri,” lanjut Arif lalu menyeruput kuah soto tangkarnya. “Jadi, walau CC-nya diblokir, Bunda masih bisa shopping.”“Awal-awal memang masih bisa shopping pake uangnya sendiri,” balas Ivan sudah mempertimbangkan segalanya. “Tapi lama-lama? Bundamu pasti nggak rela kalau uang di rekeningnya terus berkurang. Ditambah dengan acara amalnya di mana-mana.”Arif tertawa pelan. Ia sampai lupa, kapan terakhir kali bisa duduk dengan damai seperti ini bersama ayahnya sendiri. Sepertinya, kehamilan Suci membawa berkah dan kebahagiaan tersendiri.“Tapi, sudah dapat psikolognya?” tanya Arif lagi.“Jose sudah dapat, tapi Bundamu yang belum mau datang.”“Ya, kita lihat aja na
“Kabari kalau otewe pulang,” pesan Suci kembali mengingatkan ketika Hadi hendak berangkat sekolah. “Biar kutungguin di depan, kalau Irul datang lagi.”“Nggak usah,” sahut Sahli yang tengah mencuci motornya di carport. “Kamu pulangnya berhenti di pos satpam aja. Paling lima belas menitan aku dah di sini kayak kemarin. Nanti ke rumahnya sama aku.”“Aku di pos satpam aja,” ujar Hadi segera berdiri setelah memakai sepatunya. Ia menghampiri Suci, lalu berpamitan dengan kakak perempuannya lebih dulu karena ojeknya sudah standby di depan pagar. “Berangkat dulu.”“Hati-hati,” ucap Suci dan Sahli bersamaan. “Ibu yang mau kerja di sini itu jadi?” tanya Sahli.“Jadi,” jawab Suci mengangguk sambil menyapu dedaunan di taman depan. Udara pagi yang masih sejuk, membuat tubuhnya terasa lebih segar. “Datang jam tujuh, jam empat sudah pulang. Ingat, ya, kalau kamar bersihin masing-masing.”“Tau,” sahut Sahli sambil meraih kepala semprotan air lalu membilas motornya yang sudah penuh dengan sabun. “Ora
“Cuekin aja,” ucap Suci enggan membahas masalah Irul dan keluarga pria itu yang sudah mengetahui semua sandiwaranya. “Kalau mereka sudah tau semuanya, ya, udah. Mau gimana lagi?”“Gimana kalau mereka datang lagi?” sahut Hadi pelan. “Tadi aja dia ngotot mau masuk. Pake ngomong kalau kita ini keluarga.”“Keluarga apaan!” seru Sahli kesal sendiri. “Dia itu datang pasti ada maunya. Tapi aku heran, kenapa mereka sampe ngurusin kita segitunya?”“Mereka begitu karena nggak punya pembantu gratisan lagi,” ujar Suci lalu menggeleng cepat sambil mengusap perutnya. “Haduh, jangan ngomongin mereka dah. Aku lagi hamil, nggak mau benci-benci sama orang. Kan, nggak lucu kalau anakku mirip …”Suci bergidik, tidak melanjutkan kalimatnya. “Mirip siapa emang?” tanya Hadi polos. Benar-benar tidak mengerti dengan maksud kakak perempuannya itu.“Nggak usah diomongin kubilang,” ulang Suci lalu berdecak. Tidak seperti Sahli, pria itu justru tertawa. “Nggaklah, anakmu nanti mirip bapaknya. Kalau cowok pasti
“Pak Ivan.” Arif buru-buru menuruni tangga teras pengadilan untuk menghentikan ayahnya yang hendak masuk ke mobil. Ivan yang baru saja menunduk dan hendak masuk ke dalam mobil, sontak mengurungkan niatnya ketika mendengar suara Arif. Ia kembali berdiri tegak, lalu sedikit memutar tubuhnya. “Bisa minta waktunya sebentar,” ujar Arif berdiri di samping pintu mobil yang sudah terbuka. “Lima menit.”Ivan menghela cepat, lalu mengangguk. Entah perihal apa yang akan disampaikan putranya, sampai harus mencegah kepergiannya. “Ada apa?”“Sebentar.” Arif membuka layar ponsel yang sejak tadi sudah ia genggam. Ia membuka aplikasi pesan, lalu mengirimkan sesuatu pada ayahnya. “Buka hape Ayah. Aku ada kirim sesuatu di sana.”Ivan segera mengeluarkan ponsel yang tersimpan di saku jasnya. Saat melihat satu notifikasi pesan dari Arif, ia pun membukanya.Untuk sesaat, dahi Ivan mengerut. Tatapannya menajam saat melihat sebuah foto yang dikirimkan oleh putranya.“Ini …” Ivan sontak menatap tanya pada A
Sahli dan Hadi menyambut kabar kehamilan Suci dengan penuh suka cita. Keduanya bergantian mengucapkan selamat dengan senyum yang terus mengembang di wajah mereka. “Jadi, kapan kira-kira lahirnya?” tanya Hadi antusias. “Kata Dokter, perkiraan lahirnya sekitar awal Oktober,” jawab Suci benar-benar bahagia. Pagi tadi, mereka berdua sudah memeriksakan diri ke dokter kandungan. Setelah dilakukan pemeriksaan dan USG, dokter memastikan bahwa Suci memang sedang mengandung. Usia kehamilannya masih sangat muda, tetapi kondisi ibu dan calon bayi dinyatakan baik, sehingga mereka hanya diminta menjaga pola makan, memperbanyak istirahat, dan rutin melakukan kontrol sesuai jadwal.“Dan selama waktu itu, aku minta tolong jaga kakakmu ini kalau aku lagi kerja,” timpal Arif sambil mengusap puncak kepala Suci. “Jangan biarkan dia pegang kerjaan apa-apa di rumah, karena aku sedang nyari ART.”“Apa? Kenapa aku nggak boleh pegang kerjaan apa-apa?” protes Suci menggeser duduknya menjauh dari Arif. “Itu
Pada akhirnya, Suci tidak lagi bisa membuat alasan apa pun untuk menolak. Setelah Arif memastikan suhu tubuhnya masih terasa hangat, mau tidak mau ia menurut diajak ke praktik dokter umum terdekat. Beberapa pertanyaan dan pemeriksaan standar pun dilakukan. Sampai akhirnya, satu pertanyaan dokter membuat Suci dan Arif membeku.“Kapan haid terakhir?”Suci berkedip pelan. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tidak ada jawaban yang langsung keluar. “Sebentar, Dok,” gumam Suci pelan lalu menelan ludah. Ia mencoba mengingat-ingat tanggal terakhir kali mengalami haid. Namun, semakin dipaksa mengingat, pikirannya justru semakin kosong.Sebenarnya, Suci bukan tidak bisa mengingat hal tersebut. Namun, pertanyaan sang dokter membuat benaknya dipenuhi berbagai kemungkinan yang tidak ia pikirkan sebelumnya. Jantungnya mendadak berdegup lebih cepat, karena ia mulai memahami ke mana arah pembicaraan ini.“Kayaknya ...” Suci menggantung kalimatnya. Entah mengapa, lidahnya mendadak kelu dan pikirannya p
“Bun–”“Sebentar,” sela Deswita tetap memasang senyumnya, “Bunda cuma sebentar. Lima menit.”Emosi Arif yang sebelumnya sudah meninggi, akhirnya turun dengan perlahan ketika mendengar ucapan Deswita. Mungkin ia terlalu keras dan otaknya sudah dipenuhi pikiran negatif tentang sang ibu.“Ya, ada apa?
“Mau ambil sertifikat rumah?” Nurul mengangkat kedua alisnya, menatap bergantian ke arah Suci dan Sahli. Kedua keponakannya tiba-tiba datang dan mengatakan ingin menebus sertifikat rumah yang pernah digadai ibu mereka dahulu kala. “Dapat duit dari mana kalian?”Suci menahan napas sejenak sebelum me
“Ada yang mau ditanyakan?” Arif duduk tegak. Bersedekap setelah melihat Suci selesai membaca draft kontrak di layar laptopnya. “Atau, ada yang mau ditambahkan?”“Emm …” Suci menatap canggung pada Arif. “Kontraknya … nggak ada batas waktunya, Pak?”Arif menyipitkan mata. “Ada masalah?” tanyanya tenan
“Bun, cukup.” Arif berusaha untuk tidak meninggikan suara di depan Deswita, agar tidak menimbulkan kecurigaan rekan kerjanya. “Sudah berkali-kali aku bilang, jangan lagi ikut campur dengan hidupku.”“Rif–”“Aku juga sudah bilang, jangan pernah datang lagi ke kantorku,” desis Arif semakin memelankan







