LOGINKetika pintu bus tertutup, Timo berlari mengejar beberapa langkah. Edwin juga ikut mengejar. Namun, bus itu tetap melaju meninggalkan mereka ….Aku duduk di dekat jendela tanpa menoleh ke belakang.Di luar jendela, sosok mereka berdua semakin lama semakin mengecil. Seperti foto lama yang perlahan memudar tersapu air hujan.Aku menunduk dan membuka kotak anting mutiara.Kedua mutiara itu masih ada. Hanya saja, salah satunya memiliki goresan tipis di permukaannya.Aku menyentuh goresan itu perlahan … dadaku masih terasa sakit. Namun, rasa sakit itu masih bisa kutanggung.Pada akhirnya, setiap orang harus belajar melangkah maju sambil membawa luka masing-masing.Asal tidak terus berdiri di tempat yang sama, membiarkan pisau yang sama berulang kali menggores luka lama.Ketika aku tiba di Kota Kingswell, hari sudah gelap.Seorang rekan kerja dari perusahaan baruku datang menjemput. Seorang gadis berwajah bulat bernama Vini.Begitu melihatku menyeret koper, dia langsung berlari menghampiri d
Aku menaiki bus paling pagi menuju Kota Kingswell.Bus itu sudah cukup tua, dengan kursi yang agak keras. Angin dingin menyusup melalui celah jendelanya.Namun saat duduk di dekat jendela, aku justru merasakan kelegaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.Di dalam tasku tersimpan surat penerimaan kerja yang baru.Aku diterima sebagai supervisor administrasi di sebuah perusahaan kebudayaan di Kota Kingswell.Gajinya memang tidak terlalu tinggi. Namun, cukup untuk menghidupi diriku sendiri.Dan yang lebih penting, di sana tidak ada seorang pun yang mengenal Timo ataupun Edwin. Tidak akan ada lagi yang menyuruhku bersikap murah hati ketika hatiku sedang terluka.Ketika bus meninggalkan kota, hujan akhirnya berhenti. Sinar matahari menembus celah-celah awan.Aku memandangi pemandangan di luar jendela dan tiba-tiba teringat sesuatu dari masa lalu.Dulu Timo pernah bertanya kepadaku, “Freya, kenapa kamu mudah merasa puas?”Saat itu, dia baru saja membelikanku segelas susu kedelai hangat.
Edwin berhasil menemui mantan pengelola gedung apartemenku di lantai bawah tempat tinggalku.Aku sudah mengakhiri kontrak sewaku ….Pemiliknya mengatakan bahwa aku pergi sebelum fajar, hanya membawa satu koper.Edwin berdiri di dalam apartemen yang kini kosong melompong.Di balkon, dia melihat sebelah kaus kaki putih yang masih tergantung dan belum sempat diambil. Kaus kaki kecil itu bergoyang tertiup angin.Tiba-tiba, ingatannya kembali ke masa bertahun-tahun lalu.Dulu aku selalu berjalan mengikuti mereka dari belakang. Timo berjalan sangat cepat, sehingga aku harus berlari-lari kecil untuk mengejarnya.Edwin yang tidak tega melihatku biasanya akan berhenti dan menungguku. Saat itu aku selalu tersenyum sambil memanggilnya, “Kak Edwin, kamu memang yang terbaik!”Namun, kemudian Maya hadir dalam kehidupan kami.Dia mudah menangis, takut kegelapan, sering gemetar ketakutan, dan selalu mengatakan bahwa dirinya tidak merasa aman.Sejak saat itu, semua orang mulai mengatakan hal yang sama
Ruang belakang hotel sudah kacau balau ….Timo memerintahkan orang-orang untuk menggeledah seluruh ruang rias. Maya terus menangis. Dia menangis begitu lama hingga suaranya menjadi serak.“Timo, aku benar-benar tidak mengambilnya. Kenapa Kak Freya terus mencurigaiku?”Dulu setiap kali Maya menangis seperti itu, hati Timo pasti langsung luluh. Namun hari ini, dia hanya berdiri di depan cermin rias dan menatap Maya dengan dingin.“Aku tanya untuk terakhir kalinya. Di mana anting itu?”Tangisan Maya mendadak terhenti. Edwin mengerutkan kening.“Timo, jangan menakut-nakutinya. Maya itu penakut.”Timo tiba-tiba tertawa sinis, “Dia penakut?”Dia mengambil buku susunan acara pernikahan dari atas meja, lalu melemparkannya dengan keras ke dada Edwin.“Penakut sampai berani mengubah pernikahan Freya menjadi acara yang berpusat pada dirinya sendiri, memakai barang peninggalan ibu Freya untuk merekam video, hingga membuat Freya meminta maaf kepadanya di ruang belakang?”Edwin terdorong setengah la
Aku baru menyalakan kembali ponselku saat sedang dalam perjalanan menuju pemakaman.Begitu layar ponsel menyala, pesan demi pesan langsung bermunculan. Dari Timo, Edwin, dan Ibu Howart. Aku tidak membuka satu pun ….Sang sopir melirikku melalui kaca spion.“Nona, hari ini mau menikah, ya?”Aku menunduk memandangi kerudung pengantin di tanganku. Kerudung inilah yang kemarin dibawakan oleh pegawai butik yang berlari mengejarku.Awalnya, aku ingin membuangnya. Namun pada akhirnya aku tetap membawanya. Karena kerudung pengantin ini kupilih sendiri.Dulu, aku benar-benar sangat ingin menikah dengan Timo. Bahkan aku sudah berkali-kali mengubah dan menghafalkan janji pernikahanku tanpa sepengetahuannya.Aku ingin mengucapkan kalimat “Aku bersedia” dengan suara selembut mungkin. Karena aku takut akan menangis saat mengatakannya.Ketika mobil berhenti di gerbang pemakaman, hujan kembali turun. Aku tidak membawa payung.Saat berusia 18 tahun, aku tidak punya payung. Hari ini pun sama.Namun kali
Begitu penanggung jawab acara selesai berbicara, kotak cincin di tangan Timo langsung terjatuh ke lantai.Cincin berlian berbentuk tetesan air mata itu terlepas dari kotaknya, menggelinding hingga membentur ujung sepatu kulitnya.Senyum di wajah Edwin pun membeku.“Apa katamu?”Penanggung jawab acara itu ketakutan melihat ekspresi wajah Timo. Dia segera menyerahkan sebuah tablet kepadanya.“Pukul 4 dini hari tadi, Nona Molt menelepon sendiri untuk membatalkan seluruh rangkaian acara pernikahan. Jamuan hotel, dekorasi pernikahan, fotografer dan videografer, grup musik, hingga dekorasi bunga, semuanya sudah dibatalkan.”“Beliau juga mengatakan jika Tuan Howart tidak menyetujuinya, kami bisa mengirimkan tagihan biaya pembatalan secara terpisah kepadanya.”Timo menatap layar tablet itu tanpa berkedip.Pada kolom nama orang yang mengonfirmasi pembatalan, tertulis jelas namaku ….Freya.Waktu pembatalan, 04.17 dini hari.Seolah baru menyadari apa yang sebenarnya terjadi, Timo segera mengelua







