Share

Bab 2

Author: Hes
Keesokan paginya, aku datang ke butik seorang diri.

Saat pegawai butik mengeluarkan gaun pengantin utama dari kantong pelindung, matanya langsung berbinar.

“Nona Molt, gaun ini benar-benar cocok untuk Anda. Apakah Tuan Howart akan datang hari ini?”

Aku sempat ragu sebelum menjawab, “Dia akan datang.”

Itulah terakhir kalinya aku begitu yakin membela Timo.

Namun di pukul 10, dia belum juga datang. Pukul 10.30, asistennya mengirimkan pesan.

[Nona Molt, Tuan Howart mendadak ada urusan. Sepertinya beliau tidak bisa datang hari ini ….]

Aku menelepon Timo.

Akhirnya dia mengangkat teleponku. Namun, dari seberang telepon terdengar suara Maya yang sedang menahan tangis.

“Freya, aku sedang di rumah sakit.”

Aku menggenggam ponselku erat, “Kamu kenapa?”

“Bukan aku, tapi Maya. Dia alergi setelah memakai kalung itu semalam. Lehernya membengkak.”

Aku menunduk dan memandangi gaun pengantin yang sedang kukenakan. Bagian pinggangnya sangat ketat hingga membuatku sulit bernapas.

“Hari ini jadwal kita mencoba gaun pengantin.”

Seberang telepon mendadak hening sesaat.

Timo menghela napas pelan, “Freya, jangan membandingkan dirimu dengannya.”

“Besok, orang yang akan menikah denganku adalah kamu. Orang yang akan berdiri di sampingku saat pernikahan juga kamu.”

“Maya sedang sakit dan aku cuma menemaninya sebentar. Kamu bahkan tidak punya rasa percaya diri sebesar itu?”

Tenggorokanku terasa tercekat.

Saat itu, seorang pegawai butik menghampiriku sambil membawa sebuah kotak.

“Nona Molt, Tuan Howart baru saja meminta seseorang mengantarkan ini.”

Di dalam kotak itu terdapat sepasang sepatu pengantin berbahan satin berwarna putih gading.

Hak sepatunya tidak terlalu tinggi. Bahkan bagian belakangnya sudah dilengkapi bantalan agar tidak membuat kaki lecet.

Di sampingnya terdapat sebuah kartu.

[Tumitmu mudah lecet. Jangan memakai sepatu dengan hak terlalu tinggi ….]

Aku menggenggam kartu itu. Seketika … dadaku terasa sesak oleh rasa haru.

Ternyata dia masih mengingatnya ….

Saat berusia 18 tahun, itu pertama kalinya aku memakai sepatu hak tinggi dan tumitku lecet hingga berdarah.

Dari seberang telepon, suara Timo terdengar lebih lembut.

“Sepatunya sudah kamu terima?”

Aku menjawab pelan, “Ya.”

Dia berbicara seolah sedang membujukku, “Jadilah anak baik. Nanti malam aku pulang dan menemanimu makan malam.”

Aku bahkan belum sempat menjawab ketika suara Maya terdengar dari sana.

“Timo, apa leherku akan meninggalkan bekas luka?”

Timo langsung menjawab, “Tidak akan. Coba kulihat.”

Telepon pun terputus.

Aku memandangi sepasang sepatu itu. Sepatunya memang sangat pas di kakiku. Namun, orang yang mengirimkannya tidak datang ….

Pukul 3 sore, Edwin akhirnya datang. Saat itu, aku sudah selesai mencoba semua gaun.

Edwin membuka pintu dan masuk. Begitu melihatku, tatapannya sempat terhenti.

“Cantik sekali ….”

Dia mendekat, lalu menunduk melihat kakiku. Keningnya langsung berkerut.

“Tumitmu lecet lagi?”

Dia berjongkok dan mengeluarkan sekotak plester dari sakunya.

“Jangan bergerak.”

Dia memasangkan plester itu dengan sangat hati-hati. Gerakannya begitu terampil, persis seperti dulu.

Setelah selesai, dia mendongak menatapku.

“Sakit?”

Aku tidak menjawab.

Edwin berdiri dan membantuku bangkit, “Kita masuk ke mobil dulu. Di luar dingin.”

Hujan masih turun ….

Dia memiringkan payung ke arahku hingga separuh bahunya sendiri segera basah kuyup.

Aku mengikutinya menuju mobil.

Namun saat hendak masuk, aku melihat sebuah boneka domba putih tergeletak di kursi penumpang depan.

Gerakanku langsung terhenti.

Edwin sempat tertegun, tetapi dia segera menahan pintu mobil dan berkata dengan nada santai, seolah itu bukan masalah besar.

“Kamu duduk di belakang saja.”

Aku menatap boneka domba itu, “Memangnya boneka itu tidak bisa duduk di belakang?”

Gerakan Edwin terhenti.

“Jangan cari masalah. Maya sudah menunggu boneka ini sepanjang sore.”

“Jadi aku harus duduk di belakang, sementara boneka itu duduk di depan?”

Dia menghela napas.

“Freya, kamu berbeda. Kamu lebih kuat darinya.”

Tiba-tiba mataku terasa sangat panas. Namun, aku tetap mengangkat tangan dan menyingkirkan tangannya.

“Edwin, hari ini aku tidak ingin menjadi kuat.”

Kelembutan di wajahnya perlahan memudar, “Jangan membuatku serba salah.”

Aku tersenyum tipis.

“Kamu selalu menyuruhku bersikap dewasa dan pengertian. Kenapa kamu tidak pernah menyuruhnya melakukan hal yang sama?”

Edwin terdiam selama 2 detik.

Kemudian dia menjawab, “Karena dia benar-benar akan menangis.”

Aku mengangguk pelan, “Sedangkan aku tidak.”

Aku memeluk erat kantong gaun pengantinku, lalu berbalik dan berjalan menerobos hujan.

Hujan turun sangat deras.

Baru beberapa langkah, bagian belakang sepatuku mulai menggesek tumit hingga terasa perih.

Aku tidak menoleh ke belakang. Edwin pun tidak mengejarku.

Namun, sekarang semua itu sudah tidak penting lagi ….

20 menit kemudian, Maya mengunggah sebuah postingan di media sosialnya.

Dalam foto itu, boneka domba putih tadi terletak dengan bersih dan rapi di samping ranjang rumah sakitnya.

Dia menuliskan keterangan ….

[Ada seseorang yang rela menerobos hujan untuk mengantarkan boneka ini. Katanya, dia baru bisa tenang kalau aku sudah tidak kesakitan lagi ….]

Aku berdiri di pinggir jalan sambil menenteng aksesori gaun pengantin. Tumitku terasa sakit hingga hampir mati rasa.

Tiba-tiba, pegawai butik berlari menyusulku dan menyerahkan sebuah kantong kertas.

“Nona Molt, kerudung pengantin Anda tertinggal.”

Aku menerima kantong itu.

Dan tepat pada saat itulah, tiba-tiba aku tidak ingin lagi mendaftarkan pernikahan kami.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kotak Takdir yang Tidak Ingin Kubuka Lagi   Bab 10

    Ketika pintu bus tertutup, Timo berlari mengejar beberapa langkah. Edwin juga ikut mengejar. Namun, bus itu tetap melaju meninggalkan mereka ….Aku duduk di dekat jendela tanpa menoleh ke belakang.Di luar jendela, sosok mereka berdua semakin lama semakin mengecil. Seperti foto lama yang perlahan memudar tersapu air hujan.Aku menunduk dan membuka kotak anting mutiara.Kedua mutiara itu masih ada. Hanya saja, salah satunya memiliki goresan tipis di permukaannya.Aku menyentuh goresan itu perlahan … dadaku masih terasa sakit. Namun, rasa sakit itu masih bisa kutanggung.Pada akhirnya, setiap orang harus belajar melangkah maju sambil membawa luka masing-masing.Asal tidak terus berdiri di tempat yang sama, membiarkan pisau yang sama berulang kali menggores luka lama.Ketika aku tiba di Kota Kingswell, hari sudah gelap.Seorang rekan kerja dari perusahaan baruku datang menjemput. Seorang gadis berwajah bulat bernama Vini.Begitu melihatku menyeret koper, dia langsung berlari menghampiri d

  • Kotak Takdir yang Tidak Ingin Kubuka Lagi   Bab 9

    Aku menaiki bus paling pagi menuju Kota Kingswell.Bus itu sudah cukup tua, dengan kursi yang agak keras. Angin dingin menyusup melalui celah jendelanya.Namun saat duduk di dekat jendela, aku justru merasakan kelegaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.Di dalam tasku tersimpan surat penerimaan kerja yang baru.Aku diterima sebagai supervisor administrasi di sebuah perusahaan kebudayaan di Kota Kingswell.Gajinya memang tidak terlalu tinggi. Namun, cukup untuk menghidupi diriku sendiri.Dan yang lebih penting, di sana tidak ada seorang pun yang mengenal Timo ataupun Edwin. Tidak akan ada lagi yang menyuruhku bersikap murah hati ketika hatiku sedang terluka.Ketika bus meninggalkan kota, hujan akhirnya berhenti. Sinar matahari menembus celah-celah awan.Aku memandangi pemandangan di luar jendela dan tiba-tiba teringat sesuatu dari masa lalu.Dulu Timo pernah bertanya kepadaku, “Freya, kenapa kamu mudah merasa puas?”Saat itu, dia baru saja membelikanku segelas susu kedelai hangat.

  • Kotak Takdir yang Tidak Ingin Kubuka Lagi   Bab 8

    Edwin berhasil menemui mantan pengelola gedung apartemenku di lantai bawah tempat tinggalku.Aku sudah mengakhiri kontrak sewaku ….Pemiliknya mengatakan bahwa aku pergi sebelum fajar, hanya membawa satu koper.Edwin berdiri di dalam apartemen yang kini kosong melompong.Di balkon, dia melihat sebelah kaus kaki putih yang masih tergantung dan belum sempat diambil. Kaus kaki kecil itu bergoyang tertiup angin.Tiba-tiba, ingatannya kembali ke masa bertahun-tahun lalu.Dulu aku selalu berjalan mengikuti mereka dari belakang. Timo berjalan sangat cepat, sehingga aku harus berlari-lari kecil untuk mengejarnya.Edwin yang tidak tega melihatku biasanya akan berhenti dan menungguku. Saat itu aku selalu tersenyum sambil memanggilnya, “Kak Edwin, kamu memang yang terbaik!”Namun, kemudian Maya hadir dalam kehidupan kami.Dia mudah menangis, takut kegelapan, sering gemetar ketakutan, dan selalu mengatakan bahwa dirinya tidak merasa aman.Sejak saat itu, semua orang mulai mengatakan hal yang sama

  • Kotak Takdir yang Tidak Ingin Kubuka Lagi   Bab 7

    Ruang belakang hotel sudah kacau balau ….Timo memerintahkan orang-orang untuk menggeledah seluruh ruang rias. Maya terus menangis. Dia menangis begitu lama hingga suaranya menjadi serak.“Timo, aku benar-benar tidak mengambilnya. Kenapa Kak Freya terus mencurigaiku?”Dulu setiap kali Maya menangis seperti itu, hati Timo pasti langsung luluh. Namun hari ini, dia hanya berdiri di depan cermin rias dan menatap Maya dengan dingin.“Aku tanya untuk terakhir kalinya. Di mana anting itu?”Tangisan Maya mendadak terhenti. Edwin mengerutkan kening.“Timo, jangan menakut-nakutinya. Maya itu penakut.”Timo tiba-tiba tertawa sinis, “Dia penakut?”Dia mengambil buku susunan acara pernikahan dari atas meja, lalu melemparkannya dengan keras ke dada Edwin.“Penakut sampai berani mengubah pernikahan Freya menjadi acara yang berpusat pada dirinya sendiri, memakai barang peninggalan ibu Freya untuk merekam video, hingga membuat Freya meminta maaf kepadanya di ruang belakang?”Edwin terdorong setengah la

  • Kotak Takdir yang Tidak Ingin Kubuka Lagi   Bab 6

    Aku baru menyalakan kembali ponselku saat sedang dalam perjalanan menuju pemakaman.Begitu layar ponsel menyala, pesan demi pesan langsung bermunculan. Dari Timo, Edwin, dan Ibu Howart. Aku tidak membuka satu pun ….Sang sopir melirikku melalui kaca spion.“Nona, hari ini mau menikah, ya?”Aku menunduk memandangi kerudung pengantin di tanganku. Kerudung inilah yang kemarin dibawakan oleh pegawai butik yang berlari mengejarku.Awalnya, aku ingin membuangnya. Namun pada akhirnya aku tetap membawanya. Karena kerudung pengantin ini kupilih sendiri.Dulu, aku benar-benar sangat ingin menikah dengan Timo. Bahkan aku sudah berkali-kali mengubah dan menghafalkan janji pernikahanku tanpa sepengetahuannya.Aku ingin mengucapkan kalimat “Aku bersedia” dengan suara selembut mungkin. Karena aku takut akan menangis saat mengatakannya.Ketika mobil berhenti di gerbang pemakaman, hujan kembali turun. Aku tidak membawa payung.Saat berusia 18 tahun, aku tidak punya payung. Hari ini pun sama.Namun kali

  • Kotak Takdir yang Tidak Ingin Kubuka Lagi   Bab 5

    Begitu penanggung jawab acara selesai berbicara, kotak cincin di tangan Timo langsung terjatuh ke lantai.Cincin berlian berbentuk tetesan air mata itu terlepas dari kotaknya, menggelinding hingga membentur ujung sepatu kulitnya.Senyum di wajah Edwin pun membeku.“Apa katamu?”Penanggung jawab acara itu ketakutan melihat ekspresi wajah Timo. Dia segera menyerahkan sebuah tablet kepadanya.“Pukul 4 dini hari tadi, Nona Molt menelepon sendiri untuk membatalkan seluruh rangkaian acara pernikahan. Jamuan hotel, dekorasi pernikahan, fotografer dan videografer, grup musik, hingga dekorasi bunga, semuanya sudah dibatalkan.”“Beliau juga mengatakan jika Tuan Howart tidak menyetujuinya, kami bisa mengirimkan tagihan biaya pembatalan secara terpisah kepadanya.”Timo menatap layar tablet itu tanpa berkedip.Pada kolom nama orang yang mengonfirmasi pembatalan, tertulis jelas namaku ….Freya.Waktu pembatalan, 04.17 dini hari.Seolah baru menyadari apa yang sebenarnya terjadi, Timo segera mengelua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status