Share

Bab 3

Author: Hes
Namun keesokan harinya, aku tetap pergi ke Kantor Catatan Sipil. Karena aku masih ingin melihat sendiri apakah dia benar-benar akan datang.

Pukul 9.15, aku melihat mobil Timo berhenti di seberang jalan.

Saat pintu mobil terbuka, hatiku langsung terasa lega. Bahkan tanpa sadar, aku merapikan rambutku.

Sebenarnya, asalkan dia mengatakan satu kalimat saja “Freya, aku sudah datang.” Mungkin aku masih sanggup menelan semua rasa sakit dan kekecewaan semalam sekali lagi.

Namun, ponselnya tiba-tiba berdering.

Timo mengangkat telepon itu. Entah apa yang dikatakan Maya dari seberang, ekspresi wajahnya langsung berubah.

Detik berikutnya, dia kembali masuk ke mobil. Suara pintu mobil yang tertutup sebenarnya sangat pelan, tetapi terdengar seperti hantaman keras tepat di dadaku.

10 menit kemudian, Maya mengunggah sebuah postingan di media sosial.

[Aku bilang sedang tidak ingin sendirian … dan dia benar-benar kembali untukku ….]

Foto itu memperlihatkan Timo sedang menggenggam tangan Maya yang terpasang infus.

Pukul 9.40, Edwin tiba di Kantor Catatan Sipil.

Saat turun dari mobil, wajahnya tampak lelah seperti seseorang yang kurang tidur.

“Jangan menunggu lagi. Timo tidak bisa datang hari ini.”

Aku menatapnya, “Aku melihatnya tadi.”

Edwin tertegun. Dia membuka mulut, tetapi pada akhirnya hanya berkata, “Alergi Maya kambuh lagi semalam. Emosinya tidak boleh terganggu.”

Aku bertanya, “Kalau begitu, perasaanku boleh terus disakiti?”

Dia mengerutkan kening.

“Freya, jangan terus mengajukan pertanyaan seperti itu.”

Dia mendekat, lalu berbicara dengan nada membujuk.

“Kamu punya pesta pernikahan. Statusmu juga jelas … nantinya kamu akan menjadi Nyonya Howart. Sedangkan Maya punya apa? Dia hanya punya kami, beberapa orang temannya.”

Aku menyimpan kembali dokumen-dokumenku, lalu berbalik hendak pergi.

Edwin menarik tanganku, “Mau ke mana?”

“Kantor wedding organizer.”

Dia menghela napas lega, “Mau memastikan susunan acaranya?”

Aku mengangguk. Ekspresinya pun sedikit melunak.

“Baguslah. Jangan mengacaukan semuanya, nanti kamu sendiri yang akan menanggung akibatnya.”

Sesampainya di kantor wedding organizer, ekspresi wajah perencana pernikahan itu tampak sedikit canggung.

Dia memperlihatkan rancangan dekorasi area penyambutan tamu kepadaku.

Namun, di layar justru terpampang foto Timo yang berdiri di tengah, sementara aku dan Maya berada di sisi kanan dan kirinya.

Foto itu diambil saat ulang tahun Maya tahun lalu.

Maya mengenakan gaun putih sambil menggandeng lengan Timo. Dia justru terlihat lebih seperti pemeran utama dalam foto tersebut.

Sementara aku berdiri di samping mereka, masih memegang pisau yang kugunakan untuk memotong kue ulang tahunnya ….

Tulisan penyambutan tamu pun sudah diubah.

[Terima kasih telah menjadi saksi perjalanan 10 tahun kita ….]

Kenapa perjalanan 10 tahun yang seharusnya menjadi milikku dan Timo justru melibatkan Maya juga?

Aku lanjut memeriksa susunan acara. Semuanya telah diubah.

Bahkan dalam janji pernikahan kami, terdapat tambahan bagian khusus untuk mengucapkan terima kasih kepada Maya.

Aku bertanya kepada perencana pernikahan itu, “Siapa yang menyetujui semua perubahan ini?”

Dia menjawab dengan sangat hati-hati, “Tuan Howart.”

Edwin menyadari ekspresi wajahku memburuk dan segera menyela.

“Itu cuma area penyambutan tamu, bukan panggung utama. Sejak kecil Maya tidak punya keluarga yang benar-benar bisa diandalkan. Dia cuma ingin merasa dilibatkan.”

Aku menatapnya, “Ini pernikahanku. Kenapa dia harus ikut dilibatkan sampai sejauh itu?”

Nada suara Edwin mulai terdengar berat, “Freya, jangan berbicara sekejam itu.”

Tepat saat itu, Timo menelepon.

Begitu telepon tersambung, dia langsung bertanya, “Kamu sudah melihat susunan acaranya?”

“Sudah.”

“Kemarin Maya menangis semalaman. Katanya dia merasa seperti orang luar. Jadi aku meminta mereka menambahkan beberapa foto.”

Aku bertanya, “Menurutmu itu pantas?”

“Memangnya apa yang tidak pantas?”

Nada suaranya terdengar tidak sabar.

“Dia pengiring pengantinmu dan juga teman kita berdua. Besok kamu menikah denganku, bukan dengan layar dekorasi itu.”

Aku terus menggulir halaman demi halaman. Ketika sampai di bagian konfirmasi perhiasan, jariku mendadak berhenti.

Pada kolom catatan tertulis ….

[Anting mutiara akan dicoba oleh Nona Piere untuk keperluan pengambilan video promosi pernikahan ….]

Sepasang anting mutiara itu adalah peninggalan ibuku. Sebelum meninggal, ibu pernah mengatakan bahwa dia berharap aku mengenakannya pada hari pernikahanku.

Aku bertanya, “Kenapa anting peninggalan ibuku diberikan pada Maya?”

Timo terdiam sesaat.

“Dia hanya mencobanya sebentar .…”

Aku langsung memotong ucapannya, “Itu peninggalan ibuku.”

“Aku tahu.”

Aku sampai tertawa karena begitu marah, “Kamu tahu tetapi masih membiarkannya memakai anting itu?”

Dari seberang telepon, terdengar Maya mulai menangis pelan.

“Timo, sudahlah. Aku tidak akan memakainya lagi. Kak Freya pasti menganggapku pembawa sial .…”

Suara Timo langsung melembut, “Jangan bicara sembarangan.”

Namun ketika kembali berbicara kepadaku, nadanya berubah dingin lagi.

“Freya, Maya hanya ingin membantumu mencoba aksesori untuk pengambilan video. Apa kamu harus membesar-besarkan masalah sampai seperti ini?”

Aku berkata tegas, “Kembalikan anting itu.”

Timo tidak menjawab. Tiba-tiba, Edwin yang berada di sampingku ikut angkat bicara.

“Freya, jika bibi masih hidup, dia juga tidak akan mempermasalahkan hal seperti ini dengan seorang gadis muda.”

Aku langsung menoleh tajam ke arahnya. Ruang rapat segera hening.

Edwin tampak tersentak oleh tatapanku, tetapi dia tetap melanjutkan ucapannya.

“Memangnya aku salah? Ibumu pasti juga berharap kamu bisa lebih murah hati. Jika kamu sampai membuat keributan sebesar ini hanya karena sepasang anting, dia pasti tidak akan senang melihatnya.”

Plak!

Aku menampar wajahnya.

Dari telepon, terdengar suara dingin Timo, “Freya, kamu sampai main tangan?!”

Wajah Edwin berpaling ke samping akibat tamparanku. Matanya dipenuhi ketidakpercayaan.

“Freya, kamu benar-benar sudah berubah sampai aku tidak mengenalimu lagi!”

Aku tidak memedulikannya dan mengambil tasku, lalu berjalan menuju pintu keluar.

Dari belakang, suara Timo kembali terdengar melalui telepon.

“Jika kamu pergi sekarang, jangan harap aku akan pulang menemanimu malam ini.”

Langkahku sempat terhenti.

“Terserah.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kotak Takdir yang Tidak Ingin Kubuka Lagi   Bab 10

    Ketika pintu bus tertutup, Timo berlari mengejar beberapa langkah. Edwin juga ikut mengejar. Namun, bus itu tetap melaju meninggalkan mereka ….Aku duduk di dekat jendela tanpa menoleh ke belakang.Di luar jendela, sosok mereka berdua semakin lama semakin mengecil. Seperti foto lama yang perlahan memudar tersapu air hujan.Aku menunduk dan membuka kotak anting mutiara.Kedua mutiara itu masih ada. Hanya saja, salah satunya memiliki goresan tipis di permukaannya.Aku menyentuh goresan itu perlahan … dadaku masih terasa sakit. Namun, rasa sakit itu masih bisa kutanggung.Pada akhirnya, setiap orang harus belajar melangkah maju sambil membawa luka masing-masing.Asal tidak terus berdiri di tempat yang sama, membiarkan pisau yang sama berulang kali menggores luka lama.Ketika aku tiba di Kota Kingswell, hari sudah gelap.Seorang rekan kerja dari perusahaan baruku datang menjemput. Seorang gadis berwajah bulat bernama Vini.Begitu melihatku menyeret koper, dia langsung berlari menghampiri d

  • Kotak Takdir yang Tidak Ingin Kubuka Lagi   Bab 9

    Aku menaiki bus paling pagi menuju Kota Kingswell.Bus itu sudah cukup tua, dengan kursi yang agak keras. Angin dingin menyusup melalui celah jendelanya.Namun saat duduk di dekat jendela, aku justru merasakan kelegaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.Di dalam tasku tersimpan surat penerimaan kerja yang baru.Aku diterima sebagai supervisor administrasi di sebuah perusahaan kebudayaan di Kota Kingswell.Gajinya memang tidak terlalu tinggi. Namun, cukup untuk menghidupi diriku sendiri.Dan yang lebih penting, di sana tidak ada seorang pun yang mengenal Timo ataupun Edwin. Tidak akan ada lagi yang menyuruhku bersikap murah hati ketika hatiku sedang terluka.Ketika bus meninggalkan kota, hujan akhirnya berhenti. Sinar matahari menembus celah-celah awan.Aku memandangi pemandangan di luar jendela dan tiba-tiba teringat sesuatu dari masa lalu.Dulu Timo pernah bertanya kepadaku, “Freya, kenapa kamu mudah merasa puas?”Saat itu, dia baru saja membelikanku segelas susu kedelai hangat.

  • Kotak Takdir yang Tidak Ingin Kubuka Lagi   Bab 8

    Edwin berhasil menemui mantan pengelola gedung apartemenku di lantai bawah tempat tinggalku.Aku sudah mengakhiri kontrak sewaku ….Pemiliknya mengatakan bahwa aku pergi sebelum fajar, hanya membawa satu koper.Edwin berdiri di dalam apartemen yang kini kosong melompong.Di balkon, dia melihat sebelah kaus kaki putih yang masih tergantung dan belum sempat diambil. Kaus kaki kecil itu bergoyang tertiup angin.Tiba-tiba, ingatannya kembali ke masa bertahun-tahun lalu.Dulu aku selalu berjalan mengikuti mereka dari belakang. Timo berjalan sangat cepat, sehingga aku harus berlari-lari kecil untuk mengejarnya.Edwin yang tidak tega melihatku biasanya akan berhenti dan menungguku. Saat itu aku selalu tersenyum sambil memanggilnya, “Kak Edwin, kamu memang yang terbaik!”Namun, kemudian Maya hadir dalam kehidupan kami.Dia mudah menangis, takut kegelapan, sering gemetar ketakutan, dan selalu mengatakan bahwa dirinya tidak merasa aman.Sejak saat itu, semua orang mulai mengatakan hal yang sama

  • Kotak Takdir yang Tidak Ingin Kubuka Lagi   Bab 7

    Ruang belakang hotel sudah kacau balau ….Timo memerintahkan orang-orang untuk menggeledah seluruh ruang rias. Maya terus menangis. Dia menangis begitu lama hingga suaranya menjadi serak.“Timo, aku benar-benar tidak mengambilnya. Kenapa Kak Freya terus mencurigaiku?”Dulu setiap kali Maya menangis seperti itu, hati Timo pasti langsung luluh. Namun hari ini, dia hanya berdiri di depan cermin rias dan menatap Maya dengan dingin.“Aku tanya untuk terakhir kalinya. Di mana anting itu?”Tangisan Maya mendadak terhenti. Edwin mengerutkan kening.“Timo, jangan menakut-nakutinya. Maya itu penakut.”Timo tiba-tiba tertawa sinis, “Dia penakut?”Dia mengambil buku susunan acara pernikahan dari atas meja, lalu melemparkannya dengan keras ke dada Edwin.“Penakut sampai berani mengubah pernikahan Freya menjadi acara yang berpusat pada dirinya sendiri, memakai barang peninggalan ibu Freya untuk merekam video, hingga membuat Freya meminta maaf kepadanya di ruang belakang?”Edwin terdorong setengah la

  • Kotak Takdir yang Tidak Ingin Kubuka Lagi   Bab 6

    Aku baru menyalakan kembali ponselku saat sedang dalam perjalanan menuju pemakaman.Begitu layar ponsel menyala, pesan demi pesan langsung bermunculan. Dari Timo, Edwin, dan Ibu Howart. Aku tidak membuka satu pun ….Sang sopir melirikku melalui kaca spion.“Nona, hari ini mau menikah, ya?”Aku menunduk memandangi kerudung pengantin di tanganku. Kerudung inilah yang kemarin dibawakan oleh pegawai butik yang berlari mengejarku.Awalnya, aku ingin membuangnya. Namun pada akhirnya aku tetap membawanya. Karena kerudung pengantin ini kupilih sendiri.Dulu, aku benar-benar sangat ingin menikah dengan Timo. Bahkan aku sudah berkali-kali mengubah dan menghafalkan janji pernikahanku tanpa sepengetahuannya.Aku ingin mengucapkan kalimat “Aku bersedia” dengan suara selembut mungkin. Karena aku takut akan menangis saat mengatakannya.Ketika mobil berhenti di gerbang pemakaman, hujan kembali turun. Aku tidak membawa payung.Saat berusia 18 tahun, aku tidak punya payung. Hari ini pun sama.Namun kali

  • Kotak Takdir yang Tidak Ingin Kubuka Lagi   Bab 5

    Begitu penanggung jawab acara selesai berbicara, kotak cincin di tangan Timo langsung terjatuh ke lantai.Cincin berlian berbentuk tetesan air mata itu terlepas dari kotaknya, menggelinding hingga membentur ujung sepatu kulitnya.Senyum di wajah Edwin pun membeku.“Apa katamu?”Penanggung jawab acara itu ketakutan melihat ekspresi wajah Timo. Dia segera menyerahkan sebuah tablet kepadanya.“Pukul 4 dini hari tadi, Nona Molt menelepon sendiri untuk membatalkan seluruh rangkaian acara pernikahan. Jamuan hotel, dekorasi pernikahan, fotografer dan videografer, grup musik, hingga dekorasi bunga, semuanya sudah dibatalkan.”“Beliau juga mengatakan jika Tuan Howart tidak menyetujuinya, kami bisa mengirimkan tagihan biaya pembatalan secara terpisah kepadanya.”Timo menatap layar tablet itu tanpa berkedip.Pada kolom nama orang yang mengonfirmasi pembatalan, tertulis jelas namaku ….Freya.Waktu pembatalan, 04.17 dini hari.Seolah baru menyadari apa yang sebenarnya terjadi, Timo segera mengelua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status