Share

Kotak Takdir yang Tidak Ingin Kubuka Lagi
Kotak Takdir yang Tidak Ingin Kubuka Lagi
Author: Hes

Bab 1

Author: Hes
Edwin tertawa lalu menimpali, “Benar. Dia pasti akan mencari pembenaran sendiri untuk menerimanya.”

Aku berdiri di luar pintu. Tiba-tiba, ingatanku kembali ke malam saat aku berusia 18 tahun ….

Malam itu, aku menunggu pesta kembang api tepat tengah malam untuk merayakan kedewasaanku di tengah guyuran hujan.

Namun, Timo dan Edwin justru memayungkan satu-satunya payung yang mereka miliki untuk Maya.

Mereka menoleh kepadaku dan berkata, “Freya, rumahmu dekat. Lari sedikit saja pasti sudah sampai.”

Hari itu, aku pulang dalam keadaan basah kuyup. Namun, aku masih membela mereka dengan mengatakan bahwa diriku memang sedang tidak beruntung.

Akhirnya malam ini aku mengerti. Ternyata, sejak awal payung itu memang tidak pernah disiapkan untukku.

Karena itu, kali ini aku merobek kartu tersebut dan membatalkan janji pendaftaran pernikahan kami. Aku tidak mau lagi ikut dalam permainan keberuntungan yang sudah mereka atur ini.

....

Ketika aku kembali ke ruang VIP, Maya sedang dikerumuni orang-orang yang sibuk berfoto dengannya.

Kalung berlian pink itu menghiasi tulang selangkanya, tampak seperti setetes air mata yang dijaga dengan penuh kasih di telapak tangan seseorang.

Seseorang mulai menggoda, “Timo, hadiah spesial ini mewah sekali! Jika tidak tahu ceritanya, orang-orang pasti mengira yang akan kamu lamar malam ini adalah Maya!”

Mata Maya langsung memerah, “Jangan bilang begitu, nanti Kak Freya marah.”

Begitu dia berbicara, semua tatapan langsung tertuju kepadaku. Timo melihatku kembali. Alisnya sedikit bergerak.

“Kenapa berdiri di depan pintu? Orang yang tidak tahu bisa mengira ada yang menindasmu.”

Aku menatapnya dan tiba-tiba merasa semuanya sangat menggelikan.

Padahal dirikulah yang terluka. Namun, bahkan diamku saja seolah dianggap sebagai tindakan mencari masalah.

Karena itu, aku tetap berdiri tanpa bergerak.

Kening Timo sedikit berkerut.

Edwin lebih dulu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menghampiriku.

Raut wajahnya lembut, dan setiap kali menatap seseorang, matanya seolah selalu menyiratkan senyuman.

Sebelum berusia 18 tahun, aku selalu mengira Edwin adalah orang yang paling tidak mungkin mempermalukanku di dunia ini.

Namun, saat ini dia sedikit membungkuk mendekatiku dan berkata dengan suara sangat pelan, “Freya, jangan mempermalukan Timo di saat seperti ini.”

Aku menatapnya, “Memangnya aku bilang apa?”

Edwin terdiam sejenak. Maya menggenggam kalungnya. Air matanya justru mengalir semakin deras.

“Kak Freya, bagaimana jika kalung ini kukembalikan padamu? Seharusnya aku memang tidak menerimanya.”

Saat tangannya menyentuh kalung itu … Timo segera angkat bicara.

“Pakai saja.”

Timo menoleh padaku, “Siapa yang mendapatkannya, dialah pemiliknya.”

Aku tersenyum tipis.

Ruangan itu seketika hening. Tatapan Timo menjadi semakin dingin.

Edwin mengerutkan kening, “Freya, ini cuma permainan. Apa kamu harus membuat suasananya jadi seburuk ini?”

Setelah itu, dia berdiri melindungi Maya. Nada suaranya masih terdengar lembut, tetapi setiap katanya terasa seperti sisi tumpul pisau yang menekan tenggorokanku.

“Sejak kecil Maya selalu merasa tidak aman. Sekarang akhirnya dia bisa bahagia. Apa kamu tidak bisa mengalah sedikit saja?”

Lagi-lagi kalimat itu ….

Tanpa sadar, aku pun menoleh ke arah Maya.

Dia bersembunyi di samping Timo. Masih ada air mata di sudut matanya, tetapi tatapan yang dilemparkannya padaku seolah menyiratkan senyum kemenangan.

Detik berikutnya, Timo bangkit dan berjalan menghampiriku. Dari tubuhnya tercium aroma cedarwood yang dingin dan lembut. Parfum itu adalah pilihanku.

Dulu aku bilang aroma itu cocok untuknya. Sejuk, bersih, dan elegan. Namun, dia justru menganggap aromanya terlalu ringan.

Belakangan, Maya mengatakan bahwa dia menyukai parfum itu. Sejak saat itu, Timo memakainya selama 3 tahun.

Dia mengangkat tangan dan hendak mengusap kepalaku seperti biasa. Namun, aku memiringkan kepala untuk menghindar.

Seseorang di ruangan itu terdengar menarik napas kaget.

Tatapan Timo akhirnya menggelap, “Besok aku akan menemanimu mencoba gaun pengantin.”

Aku mendongak menatapnya, “Kamu masih ingat?”

Dia menatapku seolah baru saja mendengar sesuatu yang tidak masuk akal.

“Memangnya aku pernah melupakan janji yang kubuat padamu?”

Tepat saat itu, Maya terbatuk pelan. Timo langsung menoleh.

“Ada apa?”

Maya menggeleng, “Tidak apa-apa. Leherku cuma sedikit gatal. Mungkin karena belum terbiasa memakai kalung ini.”

Timo mengambil jas yang tergeletak di sofa, lalu menyampirkannya ke bahu Maya.

Edwin memperhatikan ekspresi wajahku, kemudian menghela napas.

“Freya, jangan terus-terusan mempersoalkannya. Besok, orang yang akan dinikahi Timo itu kamu. Maya hanya kami anggap sebagai adik sendiri.”

Aku menatapnya.

“Memangnya seorang adik pantas menerima kalung berlian pink yang dipilih sendiri oleh tunangan orang lain?”

Senyum di wajah Edwin perlahan memudar, “Haruskah kamu bicara seperti itu?”

Timo menoleh ke arahku. Suaranya rendah dan dingin.

“Freya, cukup. Jangan keterlaluan.”

Tiba-tiba, aku tidak ingin mengatakan apa-apa lagi.

Dalam permainan yang sudah mereka atur ini, bahkan setelah dipermalukan aku masih harus tersenyum dan berkata bahwa keberuntunganku memang buruk sekali.

Ketika pesta berakhir, Timo mengantar Maya ke rumah sakit. Ada sedikit kemerahan di lehernya.

Sementara itu, Edwin tetap tinggal untuk mengantarku pulang.

Saat sampai di pintu keluar, dia melepaskan syalnya dan melingkarkan di leherku.

“Tadi anginnya kencang. Jangan sampai masuk angin.”

Aku menunduk memandangi syal itu.

Dia memang selalu seperti ini. Setiap kali hampir benar-benar kehilangan harapan, dia akan memberiku sedikit kelembutan, tepat pada saat aku sangat membutuhkannya.

Namun sedetik kemudian, dia kembali mendorongku ke posisi semula.

Dan benar saja ….

Setelah selesai merapikan syal di leherku dia berkata, “Freya, jangan terlalu memasukkan kejadian hari ini ke dalam hati. Kamu tahu sendiri Timo bagaimana. Mulutnya memang dingin, tetapi hatinya tidak.”

“Besok dia akan menemanimu mencoba gaun pengantin. Lusa, dia akan pergi bersamamu untuk mendaftarkan pernikahan kalian. Kamu sudah menang. Jadi, jangan lagi berebut hal-hal kecil seperti ini dengan Maya.”

Aku menatapnya, “Apa yang sudah kumenangkan?”

Edwin tertegun sesaat.

Dia membuka mulut, tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar. Karena bahkan dia sendiri tidak mampu menjawab pertanyaan itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kotak Takdir yang Tidak Ingin Kubuka Lagi   Bab 10

    Ketika pintu bus tertutup, Timo berlari mengejar beberapa langkah. Edwin juga ikut mengejar. Namun, bus itu tetap melaju meninggalkan mereka ….Aku duduk di dekat jendela tanpa menoleh ke belakang.Di luar jendela, sosok mereka berdua semakin lama semakin mengecil. Seperti foto lama yang perlahan memudar tersapu air hujan.Aku menunduk dan membuka kotak anting mutiara.Kedua mutiara itu masih ada. Hanya saja, salah satunya memiliki goresan tipis di permukaannya.Aku menyentuh goresan itu perlahan … dadaku masih terasa sakit. Namun, rasa sakit itu masih bisa kutanggung.Pada akhirnya, setiap orang harus belajar melangkah maju sambil membawa luka masing-masing.Asal tidak terus berdiri di tempat yang sama, membiarkan pisau yang sama berulang kali menggores luka lama.Ketika aku tiba di Kota Kingswell, hari sudah gelap.Seorang rekan kerja dari perusahaan baruku datang menjemput. Seorang gadis berwajah bulat bernama Vini.Begitu melihatku menyeret koper, dia langsung berlari menghampiri d

  • Kotak Takdir yang Tidak Ingin Kubuka Lagi   Bab 9

    Aku menaiki bus paling pagi menuju Kota Kingswell.Bus itu sudah cukup tua, dengan kursi yang agak keras. Angin dingin menyusup melalui celah jendelanya.Namun saat duduk di dekat jendela, aku justru merasakan kelegaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.Di dalam tasku tersimpan surat penerimaan kerja yang baru.Aku diterima sebagai supervisor administrasi di sebuah perusahaan kebudayaan di Kota Kingswell.Gajinya memang tidak terlalu tinggi. Namun, cukup untuk menghidupi diriku sendiri.Dan yang lebih penting, di sana tidak ada seorang pun yang mengenal Timo ataupun Edwin. Tidak akan ada lagi yang menyuruhku bersikap murah hati ketika hatiku sedang terluka.Ketika bus meninggalkan kota, hujan akhirnya berhenti. Sinar matahari menembus celah-celah awan.Aku memandangi pemandangan di luar jendela dan tiba-tiba teringat sesuatu dari masa lalu.Dulu Timo pernah bertanya kepadaku, “Freya, kenapa kamu mudah merasa puas?”Saat itu, dia baru saja membelikanku segelas susu kedelai hangat.

  • Kotak Takdir yang Tidak Ingin Kubuka Lagi   Bab 8

    Edwin berhasil menemui mantan pengelola gedung apartemenku di lantai bawah tempat tinggalku.Aku sudah mengakhiri kontrak sewaku ….Pemiliknya mengatakan bahwa aku pergi sebelum fajar, hanya membawa satu koper.Edwin berdiri di dalam apartemen yang kini kosong melompong.Di balkon, dia melihat sebelah kaus kaki putih yang masih tergantung dan belum sempat diambil. Kaus kaki kecil itu bergoyang tertiup angin.Tiba-tiba, ingatannya kembali ke masa bertahun-tahun lalu.Dulu aku selalu berjalan mengikuti mereka dari belakang. Timo berjalan sangat cepat, sehingga aku harus berlari-lari kecil untuk mengejarnya.Edwin yang tidak tega melihatku biasanya akan berhenti dan menungguku. Saat itu aku selalu tersenyum sambil memanggilnya, “Kak Edwin, kamu memang yang terbaik!”Namun, kemudian Maya hadir dalam kehidupan kami.Dia mudah menangis, takut kegelapan, sering gemetar ketakutan, dan selalu mengatakan bahwa dirinya tidak merasa aman.Sejak saat itu, semua orang mulai mengatakan hal yang sama

  • Kotak Takdir yang Tidak Ingin Kubuka Lagi   Bab 7

    Ruang belakang hotel sudah kacau balau ….Timo memerintahkan orang-orang untuk menggeledah seluruh ruang rias. Maya terus menangis. Dia menangis begitu lama hingga suaranya menjadi serak.“Timo, aku benar-benar tidak mengambilnya. Kenapa Kak Freya terus mencurigaiku?”Dulu setiap kali Maya menangis seperti itu, hati Timo pasti langsung luluh. Namun hari ini, dia hanya berdiri di depan cermin rias dan menatap Maya dengan dingin.“Aku tanya untuk terakhir kalinya. Di mana anting itu?”Tangisan Maya mendadak terhenti. Edwin mengerutkan kening.“Timo, jangan menakut-nakutinya. Maya itu penakut.”Timo tiba-tiba tertawa sinis, “Dia penakut?”Dia mengambil buku susunan acara pernikahan dari atas meja, lalu melemparkannya dengan keras ke dada Edwin.“Penakut sampai berani mengubah pernikahan Freya menjadi acara yang berpusat pada dirinya sendiri, memakai barang peninggalan ibu Freya untuk merekam video, hingga membuat Freya meminta maaf kepadanya di ruang belakang?”Edwin terdorong setengah la

  • Kotak Takdir yang Tidak Ingin Kubuka Lagi   Bab 6

    Aku baru menyalakan kembali ponselku saat sedang dalam perjalanan menuju pemakaman.Begitu layar ponsel menyala, pesan demi pesan langsung bermunculan. Dari Timo, Edwin, dan Ibu Howart. Aku tidak membuka satu pun ….Sang sopir melirikku melalui kaca spion.“Nona, hari ini mau menikah, ya?”Aku menunduk memandangi kerudung pengantin di tanganku. Kerudung inilah yang kemarin dibawakan oleh pegawai butik yang berlari mengejarku.Awalnya, aku ingin membuangnya. Namun pada akhirnya aku tetap membawanya. Karena kerudung pengantin ini kupilih sendiri.Dulu, aku benar-benar sangat ingin menikah dengan Timo. Bahkan aku sudah berkali-kali mengubah dan menghafalkan janji pernikahanku tanpa sepengetahuannya.Aku ingin mengucapkan kalimat “Aku bersedia” dengan suara selembut mungkin. Karena aku takut akan menangis saat mengatakannya.Ketika mobil berhenti di gerbang pemakaman, hujan kembali turun. Aku tidak membawa payung.Saat berusia 18 tahun, aku tidak punya payung. Hari ini pun sama.Namun kali

  • Kotak Takdir yang Tidak Ingin Kubuka Lagi   Bab 5

    Begitu penanggung jawab acara selesai berbicara, kotak cincin di tangan Timo langsung terjatuh ke lantai.Cincin berlian berbentuk tetesan air mata itu terlepas dari kotaknya, menggelinding hingga membentur ujung sepatu kulitnya.Senyum di wajah Edwin pun membeku.“Apa katamu?”Penanggung jawab acara itu ketakutan melihat ekspresi wajah Timo. Dia segera menyerahkan sebuah tablet kepadanya.“Pukul 4 dini hari tadi, Nona Molt menelepon sendiri untuk membatalkan seluruh rangkaian acara pernikahan. Jamuan hotel, dekorasi pernikahan, fotografer dan videografer, grup musik, hingga dekorasi bunga, semuanya sudah dibatalkan.”“Beliau juga mengatakan jika Tuan Howart tidak menyetujuinya, kami bisa mengirimkan tagihan biaya pembatalan secara terpisah kepadanya.”Timo menatap layar tablet itu tanpa berkedip.Pada kolom nama orang yang mengonfirmasi pembatalan, tertulis jelas namaku ….Freya.Waktu pembatalan, 04.17 dini hari.Seolah baru menyadari apa yang sebenarnya terjadi, Timo segera mengelua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status