Share

13. Talak aku mas!

last update Petsa ng paglalathala: 2025-12-24 11:27:24

Arini yang sejak tadi menahan diri akhirnya maju selangkah. Suaranya melembut, berbeda dari sikapnya sebelumnya.

“Kak,” katanya pelan, hampir merengek, “tapi Kak Fahri tetap suami kakak. Jangan usir kami, dong. Rumah ibu kan lagi renovasi.”

Khalisa menoleh ke arahnya. Tatapannya tidak keras, tapi kosong. Seolah kata-kata itu tidak lagi menyentuh apa pun di dalam dirinya.

“Sayang, jangan emosi,” Fahri ikut menyela, mencoba mendekat. Tangannya terangkat sedikit, ragu-ragu, seolah ingin menyentuh
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 152. Fatimah lagi

    Iya, bagian tadi memang masih terlalu dibuat-buat. Saya akan turunkan kadar dialog dan candanya, lebih banyak narasi, dan percakapannya dibuat seperti pasangan yang sudah nyaman satu sama lain.Zidan berdiri dari tempatnya."Sayang, ayo balik. Kita ke kota."Khalisa ikut berdiri sambil mengenakan kembali sepatunya."Ke kota?""Iya. Cari makan."Khalisa mengambil ponselnya dan membuka maps."Jauh nggak?""Nggak terlalu. Sekitar empat puluh menit."Khalisa melihat rute yang tertera di layar."Empat puluh menit?""Iya.""Kirain dekat."Zidan hanya tersenyum kecil.Mereka berjalan kembali ke rumah melalui jalan yang sama. Setelah sampai, Zidan mengambil kunci mobil, sementara Khalisa mengambil tas kecilnya.Tidak lama kemudian mereka berangkat.Mobil melewati jalan desa yang masih sepi. Perkebunan dan rumah-rumah batu perlahan tertinggal di belakang. Beberapa menit pertama, Khalisa lebih banyak diam sambil menikmati pemandangan dari balik jendela.Setelah sekitar dua puluh menit, jalan mu

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 151. Kebersamaan Khalisa dan Zidan

    Zidan merangkul bahu Khalisa ketika mereka berjalan menyusuri jalan kecil menuju perkebunan.Khalisa tidak langsung menjawab. Ia justru memperhatikan pemandangan di sekelilingnya. Udara pagi terasa dingin, tetapi sinar matahari mulai menghangatkan jalan yang mereka lewati.Beberapa saat kemudian, Zidan menoleh kepadanya."Bahagia?"Khalisa ikut menoleh. Bukannya menjawab, ia malah tersenyum lebar."Menurut Mas?"Zidan memperhatikan wajah istrinya beberapa detik."Kelihatannya sih iya.""Kelihatannya?"Khalisa memasang wajah pura-pura kesal."Mas ini gimana, sih? Lihat saja wajahku."Ia menunjuk pipinya sendiri."Ini wajah orang bahagia."Zidan tertawa."Iya, iya. Aku percaya."Khalisa ikut tertawa. Setelah itu mereka kembali berjalan tanpa banyak bicara.Beberapa menit kemudian, jalan kecil itu membawa mereka sampai ke sebuah perkebunan yang cukup luas.Khalisa langsung berhenti.Matanya membesar melihat beberapa ekor sapi yang sedang merumput. Di sisi lain, sebuah aliran sungai kecil

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 150. Suasana malam hari

    Sore berganti malam.Desa itu semakin sepi. Lampu-lampu rumah mulai menyala, sementara jalanan di depan rumah mereka hampir tidak dilewati kendaraan.Khalisa sedang duduk di ruang tamu ketika terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.Ia menoleh ke arah jendela."Mas, ada mobil."Zidan yang sedang memainkan ponselnya mengangkat kepala."Iya.""Siapa?""Orang yang biasa bantu aku di sini."Tak lama kemudian, seorang pria masuk membawa beberapa kantong besar."Pak Zidan, pesanannya sudah datang.""Iya, taruh di meja."Khalisa ikut berdiri.Begitu melihat makanan yang dibawa, ia langsung mengernyit."Mas...""Hm?""Kamu pesan sebanyak ini?"Zidan melihat meja yang hampir penuh."Kayaknya iya.""Kayaknya?""Aku nggak ingat pesan sebanyak itu."Khalisa menatapnya."Terus siapa yang pesan?"Zidan diam sebentar."Ya... mungkin aku."Khalisa terkekeh."Ini makanan atau mau buka warung?""Kalau habis ya nggak masalah.""Mana mungkin habis malam ini.""Besok tinggal dipanasin."Khalisa meng

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 149. Kemunculan Fahri

    Keesokan paginya, suasana di depan kontrakan masih cukup sepi.Arlina sudah bersiap sejak pagi. Ia mengenakan pakaian kerja yang sederhana, lalu membawa tas kecil yang berisi beberapa perlengkapan.Di depan kontrakan, sebuah motor bekas terparkir.Motor itu memang tidak baru. Catnya sudah sedikit kusam dan beberapa bagian bodinya memiliki goresan.Namun bagi Arlina, motor tersebut sangat berarti.Ia membelinya dengan harga murah dan membayarnya secara cicilan sedikit demi sedikit."Yang penting bisa dipakai kerja," gumamnya.Arlina memasukkan kunci ke kontak.Baru saja ia hendak menyalakan mesin, terdengar suara seseorang dari belakang."Arlina?"Arlina langsung menoleh.Matanya membulat."Kak Fahri?"Fahri berdiri beberapa langkah darinya.Wajah laki-laki itu terlihat jauh berbeda dibanding terakhir kali Arlina melihatnya.Tubuhnya tampak lebih kurus.Wajahnya kusut.Matanya terlihat lelah.Fahri berjalan mendekat lalu menepuk pelan bahu adiknya."Kamu mau ke mana pagi-pagi?""Kerja,

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 149. Kepedulian Arlina

    Setelah suasana kembali sedikit tenang, Bu Laila akhirnya mengajak Arini masuk ke kamar kecil di bagian belakang kontrakan.Kamar itu tidak luas. Hanya ada sebuah kasur tipis, lemari plastik, dan meja kecil yang sudah terlihat kusam."Sudah, kamu istirahat saja," ujar Bu Laila.Arini mengangguk pelan."Iya, Bu."Bu Laila kemudian keluar dari kamar.Berbeda dengan sebelumnya, kali ini pikirannya sudah jauh lebih ringan. Uang yang diberikan Arini membuatnya tidak lagi memikirkan dari mana putrinya mendapatkannya.Baginya, selama masih ada uang untuk membeli makanan, masalah itu bisa dipikirkan belakangan.Sementara itu, Arlina yang masih berada di ruang tengah diam-diam memperhatikan kakaknya.Ada sesuatu yang membuatnya penasaran.Sikap Arini berbeda dari biasanya.Apalagi setelah mendengar pertanyaan Pak Arman.Arlina tidak langsung masuk ke kamarnya.Ia memilih menunggu beberapa saat.Ketika melihat Bu Laila sudah kembali duduk di ruang depan sambil memeriksa uang yang diberikan Arin

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 148. Kerja apa kamu Arini?

    Setelah pertanyaan Arlina, tidak ada satu pun yang langsung menjawab. Arini hanya duduk sambil menundukkan kepala. Jari-jarinya masih menggenggam tali tas dengan erat. Sementara Bu Laila sibuk memasukkan uang pemberian Arini ke dalam dompetnya. Pak Arman yang sejak tadi memperhatikan putrinya akhirnya memanggil. "Arini." Arini mengangkat wajah. "Iya, Pak?" "Sini." Nada suara Pak Arman membuat Arini sedikit gugup. Ia perlahan mendekat. "Ada apa, Pak?" Pak Arman menatap putrinya cukup lama. "Apa pekerjaan kamu sekarang?" Arini terdiam. "Aku kerja, Pak." Pak Arman mengernyit. "Bapak tahu kamu kerja." "Bapak tanya, kamu kerja apa?" Arini mulai gelisah. "Kenapa sih, Pak?" "Bapak mau menyudutkan Arini?" "Apa Bapak nggak bersyukur ada Arini yang cari uang untuk kita makan?" Bu Laila yang mendengar itu langsung menyela. "Sudahlah, Man." "Jangan terus desak Arini." "Yang penting dia pulang bawa uang." Pak Arman tidak menghiraukan istrinya.

  • Ku Miskinkan Suamiku   61. Tidak mau di penjara

    Fahri berdiri lama di depan jeruji. Dadanya naik turun. Ia tahu, tidak ada jalan pintas lagi. “Aku mau minta mediasi,” katanya akhirnya pada petugas yang berjaga. “Tolong hubungi Khalisa.” Petugas menatap Fahri beberapa detik, menilai. Lalu mengangguk pelan. “Kami coba. Tapi keputusan tetap di p

  • Ku Miskinkan Suamiku   54. Bertemu Zidan

    Tidak membutuhkan waktu lama, Nadia benar-benar membawa pembeli.Siang itu, Khalisa sedang mengecek stok di laptop ketika Nadia mendekat sambil menurunkan suara.“Lis, orangnya datang. Yang mau lihat rumah.”Khalisa menutup laptopnya. “Oke.”Seorang laki-laki berdiri tidak jauh dari pintu toko. Usi

  • Ku Miskinkan Suamiku   53. Menjual rumah

    Hari-hari berlalu cepat.Toko Khalisa seperti tidak pernah tidur. Pagi dibuka dengan live, siang melayani pelanggan offline, sore packing, malam balas chat dan cek stok. Nadia semakin luwes di depan kamera. Suaranya ramah, cekatan menjawab pertanyaan pembeli. Penjualan naik signifikan sejak Nadia r

  • Ku Miskinkan Suamiku   50. Uang dari Arini

    “Bu,” Fahri akhirnya angkat suara. “Khalisa ngancam. Kalau Ibu ke sana lagi, dia bakal lapor.” Laila tertawa pendek. Bukan geli—lebih ke meremehkan. “Hahaha… Fahri, Fahri.” Ia menggeleng. “Itulah bodohnya kamu. Masa mau percaya begitu saja?” Fahri menatap ibunya. “Aku cuma ngingetin.” “Serahin ke ib

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status