Share

14. gajian

last update Tanggal publikasi: 2025-12-24 12:11:34

Hari-hari setelah itu berjalan dengan sunyi yang aneh.

Keluarga Fahri benar-benar tidak pergi dari rumah Khalisa. Mereka tetap ada—mengisi ruang tamu, dapur, dan kamar-kamar—tapi seolah Khalisa tidak lagi termasuk di dalamnya. Tidak ada sapa. Tidak ada tegur. Tidak ada percakapan. Jika berpapasan, mereka berpura-pura sibuk. Jika duduk satu ruangan, Khalisa dianggap udara.

Dan Khalisa membiarkan semuanya.

Ia tidak lagi makan bersama. Tidak lagi mengatur apa pun di rumah itu. Ia hanya keluar sepe
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 127. Siapa Zidan?

    Matahari pagi mulai menghangatkan ruangan melalui celah tirai kamar hotel. Setelah salat Subuh dan berdoa bersama, Khalisa dan Zidan masih duduk berdampingan di atas sajadah. Suasana terasa damai. Tidak ada suara selain pendingin ruangan yang berdengung pelan. Zidan memandangi wajah istrinya yang terlihat jauh lebih tenang dibandingkan kemarin. Perlahan ia mengangkat tangannya lalu mengusap kepala Khalisa dengan lembut. "Sayang." "Hm?" "Kamu nggak keberatan kan kalau aku ingin punya anak secepatnya?" Pertanyaan itu membuat Khalisa sedikit tertegun. Senyumnya tidak langsung hilang, tetapi hatinya mendadak dipenuhi kegelisahan yang sudah lama ia simpan. Ia teringat masa lalunya. Pernikahannya dengan Fahri. Bertahun-tahun bersama tanpa kehadiran seorang anak. Meski pada akhirnya hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa masalah itu bukan berasal darinya, luka dan keraguan itu masih tersisa di hatinya. Bagaimana kalau ternyata hasil pemeriksaan itu salah? Bagaiman

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 126. Suami istri

    Khalisa yang berada dalam pelukannya hanya tersenyum malu. Jujur saja, sampai sekarang ia masih sulit percaya bahwa semua ini benar-benar terjadi. Bahwa dirinya kini telah menjadi istri Zidan. Bahwa pria yang selama ini terasa begitu misterius kini memeluknya dengan penuh rasa sayang. Zidan tidak melepaskan pelukannya. Seolah ingin memastikan bahwa Khalisa benar-benar ada di sisinya. "Khalisa." "Hm?" Panggilan itu terdengar begitu lembut. Khalisa mengangkat wajahnya sedikit. Ia mendapati Zidan sedang menatapnya. Tatapan yang berbeda dari biasanya. Lebih hangat. Lebih dalam. Dan entah kenapa membuat jantungnya kembali berdebar. "Ada apa?" tanya Khalisa pelan. Zidan tersenyum tipis. "Aku mencintaimu." Khalisa membeku. Untuk beberapa detik ia hanya menatap suaminya tanpa berkedip. Mungkin karena ia tidak menyangka kalimat itu akan keluar dari mulut Zidan malam ini. "Apa?" Senyum Zidan semakin lebar. "Aku mencintaimu, Khalisa." Mata Khalisa p

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 125. Malam pertama

    "Aku ingin jadi istri yang baik buat kamu." Senyum tulus mengembang di bibir Khalisa. Zidan menatapnya beberapa saat. Ada kehangatan yang sulit dijelaskan dalam sorot matanya. "Jadi malam ini kita menunaikan hak dan kewajiban sebagai suami istri?" tanyanya pelan. Khalisa langsung menundukkan kepala. Pipinya kembali memerah. Perlahan ia mengangguk. "Iya." Senyum Zidan melebar. Namun bukan senyum jahil seperti biasanya, melainkan senyum penuh rasa syukur. "Alhamdulillah." Khalisa menahan malu lalu berdiri dari kursinya. "Tapi bersih-bersih dulu." "Siap." Jawaban Zidan begitu cepat hingga membuat Khalisa tertawa kecil. "Semangat sekali." "Tentu saja." Zidan langsung berdiri. "Perintah istri harus dilaksanakan." "Zidan." "Apa?" "Kamu nggak capek?" "Tadi capek." "Sekarang?" Zidan menatapnya sambil tersenyum. "Sekarang hilang." Khalisa langsung menggeleng geli. Pria itu benar-benar berbeda dari kesan dingin yang selama ini ia lihat. Tak lama kemudian Zidan berjalan menuju kamar mandi. Sebelu

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 124. Cemburu

    Setelah seluruh rangkaian acara selesai, Zidan membawa Khalisa menuju hotel mewah yang telah ia siapkan. Bukan hanya untuk mereka berdua, Zidan juga telah menyewakan beberapa kamar terbaik untuk Tante Tami, Om Yono, Tante Rina, Nadia, Dinda, dan keluarga Khalisa lainnya sebagai bentuk penghormatan dan terima kasih karena telah menemani Khalisa sampai hari pernikahan mereka.Bahkan sebuah jamuan makan malam khusus juga telah disiapkan untuk keluarga besar Khalisa sebelum mereka beristirahat.Malam mulai turun ketika Khalisa dan Zidan akhirnya masuk ke kamar mereka.Begitu pintu tertutup, suasana mendadak terasa jauh lebih tenang dibandingkan hiruk-pikuk resepsi tadi.Khalisa berjalan masuk tanpa banyak bicara.Ia duduk di depan meja rias lalu mulai melepas satu per satu perhiasan yang menghiasi kepalanya sejak pagi.Anting.Mahkota kecil.Jepit rambut.Semua dilepas perlahan hingga yang tersisa hanya hijab yang masih menutupi kepalanya.Zidan yang sejak tadi memperhatikannya menyadari

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 123. Fatimah

    Wanita berhijab itu masih berdiri di sudut ruangan. Senyum tipis menghiasi wajahnya saat melihat Zidan berbicara dengan para tamu.Namun di balik senyum itu, ada perasaan yang hanya dirinya sendiri yang tahu.Matanya perlahan memanas.Bukan karena iri.Bukan karena marah.Melainkan karena kenangan lama yang tiba-tiba kembali memenuhi pikirannya.Beberapa tahun lalu...Di bawah rindangnya pohon di halaman sebuah kampus Islam ternama, seorang pria berdiri di hadapannya.Zidan.Saat itu usia mereka masih jauh lebih muda."Jadi kamu benar-benar akan berangkat?" tanya Zidan.Fatimah mengangguk pelan."Aku sudah diterima.""Kapan?""Bulan depan."Zidan terdiam cukup lama.Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah perempuan yang sudah dikenalnya bertahun-tahun itu."Lalu kita?"Fatimah tersenyum kecil.Senyum yang saat itu justru terasa menyakitkan bagi Zidan."Nggak ada kita.""Fatimah...""Aku serius."Zidan mengepalkan tangannya."Kita sudah dijodohkan keluarga.""Aku tahu.""Orang tua kit

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 122. Hari bahagia khalisa

    Setelah prosesi akad dan doa selesai, suasana gedung perlahan berubah menjadi lebih santai. Para tamu mulai berpindah ke area jamuan. Suara percakapan dan tawa terdengar dari berbagai sudut ruangan. Beberapa tamu penting terlihat berbincang sambil menikmati hidangan yang telah disiapkan.Khalisa yang kini duduk berdampingan dengan Zidan masih sesekali menerima ucapan selamat dari para tamu. Namun di balik senyumnya, ada satu pertanyaan yang sejak tadi terus mengganggu pikirannya.Ia melirik suaminya pelan.Pria itu tampak tenang seperti biasa. Sesekali membalas sapaan tamu dengan sopan, lalu kembali duduk tanpa menunjukkan sedikit pun rasa canggung.Khalisa menggigit bibir bawahnya sebentar sebelum akhirnya memberanikan diri mendekat."Kamu siapa sebenarnya, Zidan?" bisiknya pelan.Zidan menoleh.Tatapan mereka bertemu."Apa itu penting?" tanyanya tenang.Khalisa langsung mengangguk."Iya, penting.""Kenapa?"Karena sekarang aku sudah jadi istrimu."Jawaban itu membuat sudut bibir Zid

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 66. Nayla melahirkan

    Nayla menatap Fahri dengan kening berkerut. Nada suaranya naik, penuh heran.“Kenapa balik lagi, Mas?” tanyanya. “Bukannya mau langsung ke tempat Khalisa, terus bebaskan ibu?”Fahri menghela napas panjang. Ia bangkit dari sofa, berjalan mondar-mandir sebentar, lalu berhenti di dekat jendela.“Duitn

  • Ku Miskinkan Suamiku   62. Di tinggalkan

    “Terus ibu harus gimana, Fahri?!”Suara Laila meledak lagi, memantul di ruang tunggu tahanan yang sempit. Beberapa orang yang sedang mengurus laporan menoleh. Petugas jaga langsung bangkit dari kursinya.“Bu, tolong jaga suara,” katanya tegas. “Ini masih kantor polisi.”Laila menoleh sekilas, lalu

  • Ku Miskinkan Suamiku   61. Tidak mau di penjara

    Fahri berdiri lama di depan jeruji. Dadanya naik turun. Ia tahu, tidak ada jalan pintas lagi. “Aku mau minta mediasi,” katanya akhirnya pada petugas yang berjaga. “Tolong hubungi Khalisa.” Petugas menatap Fahri beberapa detik, menilai. Lalu mengangguk pelan. “Kami coba. Tapi keputusan tetap di p

  • Ku Miskinkan Suamiku   54. Bertemu Zidan

    Tidak membutuhkan waktu lama, Nadia benar-benar membawa pembeli.Siang itu, Khalisa sedang mengecek stok di laptop ketika Nadia mendekat sambil menurunkan suara.“Lis, orangnya datang. Yang mau lihat rumah.”Khalisa menutup laptopnya. “Oke.”Seorang laki-laki berdiri tidak jauh dari pintu toko. Usi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status