Share

14. gajian

last update Tanggal publikasi: 2025-12-24 12:11:34

Hari-hari setelah itu berjalan dengan sunyi yang aneh.

Keluarga Fahri benar-benar tidak pergi dari rumah Khalisa. Mereka tetap ada—mengisi ruang tamu, dapur, dan kamar-kamar—tapi seolah Khalisa tidak lagi termasuk di dalamnya. Tidak ada sapa. Tidak ada tegur. Tidak ada percakapan. Jika berpapasan, mereka berpura-pura sibuk. Jika duduk satu ruangan, Khalisa dianggap udara.

Dan Khalisa membiarkan semuanya.

Ia tidak lagi makan bersama. Tidak lagi mengatur apa pun di rumah itu. Ia hanya keluar sepe
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 125. Malam pertama

    "Aku ingin jadi istri yang baik buat kamu." Senyum tulus mengembang di bibir Khalisa. Zidan menatapnya beberapa saat. Ada kehangatan yang sulit dijelaskan dalam sorot matanya. "Jadi malam ini kita menunaikan hak dan kewajiban sebagai suami istri?" tanyanya pelan. Khalisa langsung menundukkan kepala. Pipinya kembali memerah. Perlahan ia mengangguk. "Iya." Senyum Zidan melebar. Namun bukan senyum jahil seperti biasanya, melainkan senyum penuh rasa syukur. "Alhamdulillah." Khalisa menahan malu lalu berdiri dari kursinya. "Tapi bersih-bersih dulu." "Siap." Jawaban Zidan begitu cepat hingga membuat Khalisa tertawa kecil. "Semangat sekali." "Tentu saja." Zidan langsung berdiri. "Perintah istri harus dilaksanakan." "Zidan." "Apa?" "Kamu nggak capek?" "Tadi capek." "Sekarang?" Zidan menatapnya sambil tersenyum. "Sekarang hilang." Khalisa langsung menggeleng geli. Pria itu benar-benar berbeda dari kesan dingin yang selama ini ia lihat. Tak lama kemudian Zidan berjalan menuju kamar mandi. Sebelu

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 124. Cemburu

    Setelah seluruh rangkaian acara selesai, Zidan membawa Khalisa menuju hotel mewah yang telah ia siapkan. Bukan hanya untuk mereka berdua, Zidan juga telah menyewakan beberapa kamar terbaik untuk Tante Tami, Om Yono, Tante Rina, Nadia, Dinda, dan keluarga Khalisa lainnya sebagai bentuk penghormatan dan terima kasih karena telah menemani Khalisa sampai hari pernikahan mereka.Bahkan sebuah jamuan makan malam khusus juga telah disiapkan untuk keluarga besar Khalisa sebelum mereka beristirahat.Malam mulai turun ketika Khalisa dan Zidan akhirnya masuk ke kamar mereka.Begitu pintu tertutup, suasana mendadak terasa jauh lebih tenang dibandingkan hiruk-pikuk resepsi tadi.Khalisa berjalan masuk tanpa banyak bicara.Ia duduk di depan meja rias lalu mulai melepas satu per satu perhiasan yang menghiasi kepalanya sejak pagi.Anting.Mahkota kecil.Jepit rambut.Semua dilepas perlahan hingga yang tersisa hanya hijab yang masih menutupi kepalanya.Zidan yang sejak tadi memperhatikannya menyadari

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 123. Fatimah

    Wanita berhijab itu masih berdiri di sudut ruangan. Senyum tipis menghiasi wajahnya saat melihat Zidan berbicara dengan para tamu.Namun di balik senyum itu, ada perasaan yang hanya dirinya sendiri yang tahu.Matanya perlahan memanas.Bukan karena iri.Bukan karena marah.Melainkan karena kenangan lama yang tiba-tiba kembali memenuhi pikirannya.Beberapa tahun lalu...Di bawah rindangnya pohon di halaman sebuah kampus Islam ternama, seorang pria berdiri di hadapannya.Zidan.Saat itu usia mereka masih jauh lebih muda."Jadi kamu benar-benar akan berangkat?" tanya Zidan.Fatimah mengangguk pelan."Aku sudah diterima.""Kapan?""Bulan depan."Zidan terdiam cukup lama.Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah perempuan yang sudah dikenalnya bertahun-tahun itu."Lalu kita?"Fatimah tersenyum kecil.Senyum yang saat itu justru terasa menyakitkan bagi Zidan."Nggak ada kita.""Fatimah...""Aku serius."Zidan mengepalkan tangannya."Kita sudah dijodohkan keluarga.""Aku tahu.""Orang tua kit

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 122. Hari bahagia khalisa

    Setelah prosesi akad dan doa selesai, suasana gedung perlahan berubah menjadi lebih santai. Para tamu mulai berpindah ke area jamuan. Suara percakapan dan tawa terdengar dari berbagai sudut ruangan. Beberapa tamu penting terlihat berbincang sambil menikmati hidangan yang telah disiapkan.Khalisa yang kini duduk berdampingan dengan Zidan masih sesekali menerima ucapan selamat dari para tamu. Namun di balik senyumnya, ada satu pertanyaan yang sejak tadi terus mengganggu pikirannya.Ia melirik suaminya pelan.Pria itu tampak tenang seperti biasa. Sesekali membalas sapaan tamu dengan sopan, lalu kembali duduk tanpa menunjukkan sedikit pun rasa canggung.Khalisa menggigit bibir bawahnya sebentar sebelum akhirnya memberanikan diri mendekat."Kamu siapa sebenarnya, Zidan?" bisiknya pelan.Zidan menoleh.Tatapan mereka bertemu."Apa itu penting?" tanyanya tenang.Khalisa langsung mengangguk."Iya, penting.""Kenapa?"Karena sekarang aku sudah jadi istrimu."Jawaban itu membuat sudut bibir Zid

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 121. Pergi!

    Sementara itu, jauh dari kemegahan gedung tempat akad berlangsung, Fahri sedang duduk santai di ruang tamu rumah orang tua Nayla. Televisi menyala menemani suasana pagi, sementara Nayla dan ibunya sibuk di dapur menyiapkan makanan. Fahri tampak memainkan ponselnya sambil sesekali melirik layar televisi tanpa minat. Namun tiba-tiba sebuah tayangan siaran langsung pernikahan menarik perhatiannya. Awalnya ia tidak terlalu peduli, sampai kamera menyorot wajah pengantin wanita.Fahri langsung membeku. Ponselnya nyaris terjatuh dari genggamannya."Tunggu..." gumamnya pelan sambil menyipitkan mata. "Nggak mungkin..."Ia duduk tegak dan menatap layar tanpa berkedip. Dadanya mulai berdebar kencang."Itu... itu Khalisa?"Fahri langsung berdiri dan mendekati televisi. Semakin dekat ia melihat, semakin jelas wajah perempuan itu, dan semakin sulit baginya menyangkal kenyataan."Itu Khalisa..." lirihnya. "Tidak mungkin."Matanya membesar saat melihat sosok perempuan yang pernah menjadi istrinya itu

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 120. Haru

    Khalisa berusaha mengabaikan bisikan-bisikan yang masih terdengar di sekitarnya. Ia menarik napas panjang dan menenangkan dirinya. Hari ini bukan tentang penilaian orang lain. Hari ini adalah hari yang akan mengubah hidupnya. Seorang wanita berpakaian rapi yang sejak tadi berdiri di dekat pelaminan berjalan mendekat. "Silakan, Bu Khalisa." Wanita itu tersenyum hangat lalu menuntunnya menuju tempat duduk yang telah disiapkan. Khalisa kembali dibuat terkejut. Tempat duduk itu berada di bagian depan ruangan dengan dekorasi yang sangat mewah. Bunga-bunga segar menghiasi setiap sudut. Lampu kristal menggantung indah di atas kepala. Semuanya tampak elegan tanpa terlihat berlebihan. Ia duduk perlahan. Dari tempat itu, ia bisa melihat dengan jelas area akad yang berada tidak jauh di depannya. Sementara itu, Zidan berjalan menuju meja akad. Langkahnya tenang dan mantap. Pria itu mengenakan setelan putih gading yang membuat penampilannya semakin berwibawa. Para tamu memperh

  • Ku Miskinkan Suamiku   25. keputusan khalisa untuk menggugat

    Setelah mobil Grab itu benar-benar menghilang di ujung jalan, Khalisa masih berdiri di dekat pintu beberapa detik. Rumah terasa terlalu sepi setelah keributan panjang barusan. Suara napasnya sendiri terdengar jelas di telinga. Ia lalu melangkah ke ruang tengah dan duduk di sofa. Tangannya gemetar

  • Ku Miskinkan Suamiku   23. kembali ke kampung

    Fahri menjauh sedikit dari kerumunan. Ia berdiri di dekat teras, ponsel kembali di tangannya. Jarum alisnya mengeras saat ia membuka aplikasi dan memesan Grab untuk pulang ke rumah orang tuanya. Jemarinya bergerak cepat, seolah ingin memastikan kendaraan itu datang secepat mungkin.Di belakangnya,

  • Ku Miskinkan Suamiku   22. Silahkan pergi!

    Nayla masih terisak ketika Fahri tiba-tiba meledak.“Cukup!” bentaknya sambil melangkah ke tengah ruangan. Dadanya naik turun. Wajahnya memerah. “Ini urusan rumah tanggaku. Tante jangan ikut campur!”Bu Rina menatapnya lurus. Tidak terkejut. Tidak mundur.“Kalau kamu pikir ini masih sekadar urusan

  • Ku Miskinkan Suamiku   21. Perdebatan

    Khalisa berdiri di depan kulkas dengan pintu terbuka lebar. Ia menatap rak-rak kosong itu cukup lama, seolah berharap ada sesuatu yang terlewat oleh matanya. Padahal ia ingat betul, kemarin malam ia masih menyusun camilan—pudding, roti, beberapa kotak makanan ringan—semuanya ia simpan rapi.Pintu k

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status