Share

BAB 6 KONTRAK SETAN

Author: Lara Luka
last update Last Updated: 2026-01-29 08:03:18

Ruangan rapat di lantai 40 gedung perkantoran elit SCBD itu terasa seperti ruang operasi: steril, dingin, dan berbau kematian. Dinding kacanya menyajikan pemandangan langit Jakarta yang kelabu, sekelabu perasaanku saat ini.

Aku duduk di kursi kulit hitam yang terlalu besar, merasa kerdil. Di hadapanku, sebuah dokumen setebal dua sentimeter tergeletak di atas meja marmer yang mengilap. Judulnya tertulis dengan huruf kapital tebal: PERJANJIAN PENYELESAIAN UTANG PIUTANG & KESEPAKATAN KERAHASIAAN (NDA).

Di sebelahku, Adrian duduk dengan kaki bergoyang gelisah. Dia sudah mengenakan setelan jas baru—topeng retaknya sudah ditambal—meski lebam di pipinya masih terlihat jelas di bawah lapisan foundation tipis.

"Silakan dibaca poin-poin krusialnya, Bu Elena," ujar pria di hadapan kami.

Pengacara itu—sebut saja dia Pak Anwar—memiliki wajah datar tanpa emosi, seolah dia sedang mengurus jual-beli tanah, bukan jual-beli manusia. Dia mendorong dokumen itu ke arahku dengan ujung jari.

Aku menatap kertas putih itu dengan pandangan kabur. Huruf-huruf legal yang rumit menari-nari di mataku. Pihak Pertama: Cakra Dirgantara. Pihak Kedua: Adrian Pratama & Elena Winata.

"Langsung tanda tangan saja, El," bisik Adrian tidak sabar, menyodorkan pena Montblanc emas miliknya. "Kita tidak punya banyak waktu. Orang suruhan Cakra menunggu konfirmasi sebelum jam dua belas siang untuk transfer dananya."

"Tunggu," suaraku serak. Aku menahan tangan Adrian. "Aku mau baca."

"Elena..." geram Adrian tertahan.

"Aku berhak tahu apa yang kujual, Adrian!" desisku tajam, membuat Adrian terdiam.

Dengan tangan gemetar, aku membalik halaman demi halaman. Pasal 1 tentang jumlah utang. Pasal 2 tentang pelunasan. Mataku berhenti di Pasal 4: Kewajiban Pihak Kedua (B).

Jantungku berhenti berdetak.

Pasal 4. Ayat 2:

"Pihak Kedua (Elena Winata) wajib menyerahkan diri secara sukarela di lokasi yang ditentukan Pihak Pertama pada pukul 19.00 WIB."

Pasal 4. Ayat 3:

"Selama kurun waktu 12 (dua belas) jam, Pihak Kedua dilarang menolak segala bentuk perintah, permintaan, atau tindakan fisik yang diinginkan oleh Pihak Pertama, selama tidak menyebabkan cacat permanen atau kematian."

Dilarang menolak segala bentuk perintah.

Darahku mendidih, lalu membeku seketika. Kalimat itu begitu klinis, begitu formal, tapi maknanya sangat vulgar. Itu adalah izin legal untuk memperkosaku. Itu adalah klausa perbudakan.

"Ini gila..." gumamku, air mata mulai menggenang. Aku menatap pengacara itu. "Apa Anda sadar kontrak macam apa yang Anda buat ini? Ini ilegal! Ini perdagangan manusia!"

Pak Anwar membetulkan letak kacamata mahalnya dengan tenang. "Itu adalah Private Agreement yang didasari konsensus kedua belah pihak, Bu Elena. Tidak ada paksaan. Jika Ibu keberatan, Ibu bisa menolak tanda tangan, dan Pihak Pertama akan langsung mengeksekusi jaminan awal..."

Dia melirik Adrian. "...yaitu nyawa suami Ibu."

Adrian langsung mencengkeram tanganku di bawah meja. Kuku-kukunya menancap sakit. "Tanda tangan, El! Jangan bikin masalah! Kamu mau aku mati sekarang?!"

Aku menatap Adrian. Tatapan memelasnya kemarin malam sudah hilang, digantikan oleh ketamakan. Dia tidak melihatku sebagai istrinya lagi. Dia melihatku sebagai kunci brankas.

Aku kembali menatap kertas itu. Di bawah pasal-pasal menjijikkan itu, ada kolom kosong di atas namaku. Tempat di mana aku harus membubuhkan tanda tanganku, menyerahkan otonomi atas tubuhku sendiri.

Rasanya seperti berdiri di tepi jurang lagi. Bedanya, kali ini tidak ada yang mendorongku. Aku harus melompat sendiri.

"Ingat janjimu, Adrian," bisikku lirih, lebih kepada diriku sendiri. "Setelah ini, kita bebas."

"Janji, Sayang. Janji," Adrian mengangguk cepat, matanya berbinar menatap pena di tanganku.

Aku menarik napas panjang, menghirup aroma AC yang dingin, lalu menggoreskan tinta hitam di atas kertas itu.

Sret. Sret.

Tanda tanganku tercetak di sana. Mengikat. Final.

Suara kertas dibalik oleh pengacara itu terdengar seperti suara palu hakim yang mengetuk vonis mati.

"Bagus," kata Pak Anwar, menutup map itu dengan bunyi blam yang tegas. Dia mengeluarkan sebuah amplop hitam kecil dan menyerahkannya padaku.

"Apa ini?" tanyaku hampa.

"Kunci akses kamar penthouse di Hotel Raffles. Lantai teratas," jawabnya datar. "Pihak Pertama tidak suka menunggu. Pastikan Anda sudah steril, bersih, dan siap tepat waktu."

Aku menatap amplop hitam di tanganku. Warnanya segelap nasibku nanti malam. Aku bukan lagi Elena Winata, istri terhormat dari keluarga baik-baik.

Mulai detik ini, secara hitam di atas putih, aku adalah properti milik Cakra Dirgantara.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kubayar Hutangmu Dengan Tubuhku   BAB 30 KAMAR GELAP & KANVAS PUTIH

    Gedung Dirgantara Tower bukan sekadar kantor. Di lantai paling atas, tersembunyi di balik pintu biometrik yang hanya bisa dibuka dengan sidik jari Cakra, terdapat sebuah sanctuary.Bukan kamar tidur, melainkan sebuah studio lukis.Ruangan itu luas, berlantai beton ekspos dengan dinding kaca setinggi enam meter yang menghadap matahari terbenam. Di tengah ruangan, sebuah easel (penyangga kanvas) kayu jati berdiri kokoh, menopang kanvas putih besar yang masih kosong. Di sampingnya, meja penuh dengan cat minyak Old Holland—sama persis dengan yang dia kirimkan ke rumahku."Ini... ini kantormu?" tanyaku takjub, langkahku menggema di ruangan sunyi itu."Ini tempat pelarianku," koreksi Cakra. Dia melepas jam tangannya, meletakkannya di meja. "Dulu aku ingin jadi arsitek, tapi ayahku memaksaku jadi pebisnis. Jadi aku membangun ruangan ini untuk mengingatkanku bahwa aku masih punya sisi manusia."Dia berjalan menuju easel

  • Kubayar Hutangmu Dengan Tubuhku   BAB 29 KENCAN MAKAN SIANG

    Adrian berangkat ke bandara pukul enam pagi, menyeret koper Louis Vuitton-nya dengan wajah pucat sisa sakit perut semalam. Dia mencium pipiku sekilas—ciuman formalitas yang hambar—lalu masuk ke taksi online."Jaga rumah. Jangan keluyuran," pesan terakhirnya sebelum pintu mobil tertutup.Begitu taksi itu hilang di tikungan, senyumku mengembang.Aku tidak menjaga rumah. Dan aku pasti akan keluyuran.Pukul sebelas siang, aku sudah berdiri di depan cermin, mematut diri. Aku mengenakan gaun midi berwarna cream yang lembut dengan potongan leher sabrina, dipadukan dengan heels cokelat muda. Rambutku kigerai bebas, tidak digelung kaku seperti yang disukai Adrian. Aku menyemprotkan sedikit parfum—bukan yang dipilihkan Adrian, tapi Jo Malone aroma Pear & Freesia yang kubeli diam-diam. Wanginya segar, ringan, dan... bebas.Ponsel hitam di saku tasku bergetar.Cakra:

  • Kubayar Hutangmu Dengan Tubuhku   BAB 28 PONSEL KEDUA

    "Aduh... Sialan..."Suara erangan Adrian terdengar lagi dari balik pintu kamar mandi, diikuti bunyi flush toilet yang ketiga kalinya dalam satu jam. Rencana kopi "spesial"-ku bekerja lebih efektif dari dugaan. Adrian batal ke kantor, dan jadwal dinasnya ke Surabaya pun terancam mundur."Sayang, kamu masih di dalam?" tanyaku dari depan pintu, menahan senyum puas di balik nada suaraku yang dibuat cemas. "Perlu aku panggilkan dokter?""Nggak usah!" sahut Adrian ketus di sela-sela rintihan. "Cuma salah makan kayaknya. Perutku melilit banget. Tolong cariin obat diare di kotak obat dong!""Iya, sebentar aku carikan."Aku berbalik, melangkah santai menuju lemari di dekat ruang tamu. Rasanya lega sekali tidak melihat wajahnya berkeliaran di sekitarnya.Ting-tong.Bel pintu berbunyi.Aku melirik jam dinding. Pukul sepuluh pagi. Tidak ada jadwal tamu.Aku membuka pintu utama. Seorang kurir bermotor dengan jaket o

  • Kubayar Hutangmu Dengan Tubuhku   BAB 27 SANDIWARA ISTRI TELADAN

    Sinar matahari pagi menusuk masuk melalui celah gorden ruang tamu, menyoroti kekacauan yang ada di sana.Adrian tertidur di sofa panjang dengan posisi meringkuk, masih mengenakan kemeja pestanya yang kusut dan bernoda tumpahan wine. Sepatu pantofelnya terlempar entah ke mana, satu di bawah meja kopi, satu lagi di dekat rak TV. Bau alkohol basi dan muntahan samar menguar di udara, mengubah ruang tamu mewah ini menjadi tempat sampah.Aku berdiri di ambang pintu, masih mengenakan gaun malamku yang kini terasa lengket. Aku baru saja menyelinap masuk lima menit yang lalu, mencuci muka sebentar di wastafel dapur agar terlihat "bangun tidur", lalu berjalan ke ruang tamu.Aku menatap suamiku.Dulu, pemandangan ini akan membuatku panik. Aku akan lari mengambil air hangat, memijat kepalanya, dan membuatkan sup pereda mabuk. Aku akan khawatir setengah mati pada kesehatannya.Tapi hari ini, aku hanya merasakan... kehampaan."Eungh..." Adrian me

  • Kubayar Hutangmu Dengan Tubuhku   BAB 26 PAGI SETELAH CIUMAN

    Kembang api terakhir telah padam di langit Jakarta, menyisakan asap tipis yang segera ditelan angin malam. Namun, api di dalam diriku masih menyala, membakar habis sisa-sisa kewarasanku.Cakra melepaskan pelukannya perlahan, memberiku ruang untuk bernapas, meski matanya enggan melepaskan tatapannya dariku.Aku mundur selangkah, menyandarkan punggung pada pagar balkon yang dingin. Tanganku gemetar saat menyentuh bibirku sendiri. Bibir yang baru saja melumat bibir pria lain dengan nafsu yang tidak pernah kuberikan pada suamiku.Realitas menghantamku seperti palu godam.Apa yang baru saja kulakukan?"Elena?" Cakra memanggil, suaranya rendah dan waspada. Dia mencoba meraih tanganku, tapi aku menariknya menjauh."Jangan," cicitku. Napasku memburu, panik mulai merambat naik ke tenggorokan. "Ya Tuhan... aku... aku berzina. Aku istri orang, Cakra. Aku baru saja mengkhianati Tuhan."Aku menutup wajahku dengan kedua tangan. Bayangan ib

  • Kubayar Hutangmu Dengan Tubuhku   BAB 25 GARIS BATAS DILANGGAR

    Grand Ballroom Hotel Indonesia Kempinski malam ini berubah menjadi lautan topeng. Tema pesta perusahaan Adrian tahun ini adalah Venetian Masquerade. Ratusan tamu mengenakan topeng berbulu, berhias permata, dan berlapis emas, menyembunyikan wajah asli mereka di balik kemewahan palsu.Sangat cocok. Karena malam ini, hidupku juga penuh kepalsuan.Aku mengenakan gaun midnight blue yang elegan, wajahku tertutup separuh oleh topeng perak dengan hiasan renda hitam. Di sampingku, Adrian mengenakan topeng emas mencolok, seolah ingin berteriak pada dunia: Lihat aku! Aku raja malam ini!Dan dia memang merasa jadi raja.Sejak kami datang satu jam lalu, Adrian tidak berhenti minum. Dia berkeliling dari satu meja investor ke meja lain, memamerkan kesuksesan semunya, tertawa terlalu keras, dan merangkulku terlalu erat."Ini istriku, Pak Budi!" Adrian berseru dengan napas berbau whisky, menarik pinggangku kasar di depan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status