LOGINGendis melajukan mobil menuju ke rumah. Jangan tanya ke mana Reyhan. Gendis sudah mengusirnya karena rumah itu dibeli atas nama dirinya. Reyhan entah pulang kemana, ibu satu anak itu sudah tidak peduli lagi.
"Mbak Gendis yakin dengan apa yang dilakukan saat ini?" tanya sang asisten saat mobil berhenti di lampu merah jalan menuju rumah Gendis. "Yakin. Lagi pula, semua bukti sudah aku kantongi. Mau apa lagi dia?" Gendis mengembuskan napas kasar. "Nov, aku harusnya peka. Dari awal dia udah selingkuh. Bodohnya aku malah memaafkan. Dia itu hanya karyawan aku," kata Gendis yang kali ini semakin kesal. "Mbak... sebenarnya aku mau cerita dari lama...." Novita tampak menjeda kalimatnya, sengaja memilih kalimat yang tepat agar tidak menambah rumit masalah rumah tangga Gendis. "Kamu ngomongnya di rumah aja. Tanggung, bentar lagi sampai rumah," potong Gendis dengan cepat. Novita hanya diam saat ini. Antara takut dan tidak ingin memperkeruh keadaan. Gendis sejak dulu terkenal tegas. Saat ini sudah kembali pada setelan semula. Sementara itu, Reyhan terpaksa pulang ke rumah kedua orang tuanya. Lebih tepatnya, rumah itu dipinjami oleh Gendis. Gendis merasa kasihan saat kedua mertuanya masih mengontrak rumah. Mereka sering kali pindah-pindah. "Gendis dapat dari mana semua bukti itu, Han?" tanya Bu Rusmi yang saat ini sedikit takut. "Aku juga ndak tahu, Bu. Apa ada temanku yang bocorkan, ya? Tapi, kayaknya nggak mungkin," sangkal Reyhan merasa kali ini di ujung tanduk. Reyhan dalam keadaan tidak bisa berpikir. Ia takut jika Gendis benar-benar membuat gugatan. Masalah perselingkuhan, KDRT, dan masih banyak masalah lain akan menjadi poin utama bagi hakim menyetujui gugatan itu. Reyhan tidak mau kehilangan Gendis. "Kamu lebih baik minta maaf sama istrimu, Han. Janji jangan bikin-bikin masalah lagi," kata Bu Rusmi setelah mereka diam dalam pikiran masing-masing. "Tadi Ibuk nggak lihat apa? Gendis datar aja. Aku bahkan sudah sujud di kaki dia, Bu. Belum lagi aku malu, harus batalin pesananku. Tiga ratus juta. Aku beli cincin berlian," kata Reyhan dengan enteng. "Kamu beli cincin berlian?" Bu Rusmi kaget saat mendengar ucapan sang anak. "Kamu beli buat Gendis?" desak Bu Rusmi sangat ingin tahu. "Ya, enggaklah, Bu. Itu buat Tanti. Dia ada di Hongkong. Rencananya aku mau nikah siri sam dia. Eh, tapi malah apes ketahuan duluan sama Gendis." Reyhan tampak tidak merasa bersalah sama sekali. Bu Rusmi hanya bisa melongo. Ia bahkan tahu dengan benar siapa wanita yang disebut oleh sang anak. Tanti bukan perempuan idaman keluarga Reyhan karena berasal dari keluarga biasa. Tapi, Bu Rusmi tidak tahu jika Tanti sudah berubah saat ini. "Tanti mantan pacar kamu saat SMA?" Bu Rusmi ingin memastikan. "Iya, siapa lagi, kalo bukan dia. Tanti emang TKW, Bu. Tapi, sekarang dia sudah kaya dan sukses. Tanti nggak kalah kaya sama Gendis. Malah bisa jadi, Tanti lebih kaya dari Gendis." Reyhan menjelaskan dengan santai. Paham sekarang apa yang diincar Reyhan dari Gendis? Harta. Reyhan tidak akan peduli apa yang dialami oleh Gendis saat ini. Sosok pekerja keras itu memang apes setelah menikah dengan Reyhan. "Han... berapa kali kami sebagai orang tua kamu bilang. Jangan sama si Tanti. Jelas kami punya alasan. Bibit, bebet, dan bobot itu harus dipertimbangkan. Tanti itu tidak jelas asal-usulnya, Han. Dia hanya anak angkat Pak Suwarno." Pak Idam menjelaskan kembali pada sang anak. "Pak, kalo masalah bibit, bebet, dan bobot, Gendis juga nggak jelas di mana Bapaknya," sanggah Reyhan merasa tidak terima saat sang ayah menjelekkan Tanti. "Gendis itu beda. Bapaknya dia jelas, Pak Akbar. Hanya saja, orang tuanya berpisah saat Gendis usianya dua tahun. Kami, tidak pernah setuju kamu dan Tanti bukan tanpa sebab. Tanti lahir dari seorang pelacur, Han. Itu kenapa, Tanti punya wajah blasteran. Ibunya Tanti juga tidak tahu siapa ayahnya." Pak Idam kali ini sangat marah. "Sedikit banyak, Gendis itu membantu perekonomian kita semua. Kamu lihat? Dua kakakmu yang tadinya menganggur saat ini punya pekerjaan dan juga rumah tinggal. Bagaimana jika kalian sampai cerai?" tanya Pak Idam dengan bada putus asa. "Itu yang sedang aku pikirkan, Pak." Reyhan beranjak dari duduknya dan langsung masuk ke dalam kamar. Reyhan merebahkan tubuh di atas kasur. Ia mencari Gendis di sosial media. Hilang! Tidak ada jejak. Reyhan kembali mencari dengan akun lain. Sama saja, nama Gendis Padmawati tidak ada sama sekali. 'Apa aku diblokir, ya. Awas aja sampek blokir aku. Aku buat sengsara!' Reyhan merasa tidak bisa terima dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Sementara itu, kakak Gendis--Nawang, kali ini sedang membawa sang ibu ke rumah sakit. Bu Sulastri mendadak drop karena masalah yang menimpa anak bungsunya. Ia sama sekali tidak peka dalam beberapa bulan ini. Gendis sedang menderita. "Buk, jangan nyalahin diri sendiri. Mungkin aja, Gendis emang mau selesaikan masalah rumah tangganya sendiri dulu. Kita semua belum tahu bagaimana dan apa yang diinginkan Gendis," kata Nawang mencoba menghibur hati sang ibu. "Nggak gitu, Wang. Ibuk hanya merasa bersalah. Selama ini, Reyhan itu selalu bilang, Gendis mau menang sendiri dan memperlakukannya seperti babu. Ternyata tidak benar. Di luar sana, laki-laki brengsek itu malah asik-asikan sama banyak perempuan. Mana pakai uang adikmu pula," kata Bu Sulastri yang saat ini mengusap air mata. "Buk... Gendis itu tidak bilang sama kita, karena nggak mau ada kehebohan. Dia tahu apa yang harus dilakukan kok. Reyhan aja yang emang kurang ajar," kata Nawang membuat Bu Sulastri menoleh. "Kamu hubungi adekmu. Bilang sama dia, amankan semua aset. Feeling Ibuk udah nggak enak. Reyhan dan keluarganya pasti nanti akan minta ini dan itu kalo sampai adikmu menggugat cerai." Bu Sulastri dengan sedikit tenaga meminta Nawang agar menghubungi anak bungsunya itu. "Ingat, rumah yang ditinggali Bu Rusmi itu milik adikmu. Jadi, sebelum ada kegaduhan, sebaiknya Gendis harus paksa mereka keluar rumah itu. Nawang pun langsung menghubungi sang adik. Ucapan sang ibu ada benarnya. Keluarga Reyhan memang seperti benalu. Semua minta kerja di restoran milik Gendis. Mereka tidak tahu saja bagaimana dulu Gendis jungkir balik membangun restoran itu. "Nggak diangkat, Buk," kata Nawang menunjukkan layar benda pipih itu pada sang ibu. "Kamu kirim pesan saja dulu. Nanti biar Gendis baca kalo sudah pegang ponsel," kata Bu Sulastri yang saat ini berusaha menata hati. Mereka tidak tahu saja, Gendis sudah satu bulan yang lalu mendaftarkan gugatan secara diam-diam. Jangankan ibu dan kakaknya, Reyhan saja tidak tahu. Kejutan. Gendis sangat suka memberi kejutan pada siapa pun.Lima tahun sudah berlalu sejak hari ketika Gendis meninggalkan masa lalunya yang kelam. Di rumah kecil bercat putih di pinggiran kota Yogyakarta, ia hidup bersama putrinya, Naira, yang kini berusia delapan tahun. Setiap pagi, aroma kopi dan roti panggang selalu memenuhi udara, berpadu dengan tawa kecil Naira yang ceria.Keputusan pindah dari ibu kota ke kota asal sudah dipertimbangkan Gendis masak-masak. Kehidupan di ibu kota tidak baik untuk sang anak. Anaknya sudah mulai cerdas dengan banyak pertanyaan. Ponsel--benda pipih itu memberitahu banyak hal pada sang anak. Sebuah pengorbanan yang tidak mudah. Gendis mencari beberapa orang yang bisa dipercaya untuk mengelola restoran geprek miliknya. Nawang--sang kakak pun ikut turun tangan membantu. Ternyata, pengorbanan yang menyakitkan itu berbuah manis. “Bunda, hari ini aku mau pakai baju ungu ya. Soalnya Kak Sari bilang warna ungu itu warna keberanian!” seru sang anak sambil berlari kecil ke meja makan.Gendis tersenyum lembut, mengus
Reyhan terkejut saat melihat kedatangan Karina bersama beberapa laki-laki. Wajah mereka begitu sangar. Reyhan menelan ludah dengan susah payah. Ia tahu, Karina tidak akan memberikan tumpangan tempat tinggal lagi."Kamu kenapa, Sayang? Kita bisa bicarakan masalah kita. Jangan karena pemberitaan di media sosial kita malah jadi ribut. Gendis memang nggak suka lihat kita berdua bahagia," kata Reyhan berusaha tenang."Rey, aku nggak mau namaku hancur. Aku susah payah agar dapat pekerjaan melalui media sosial. Ada baiknya kamu tidak lagi tinggal di sini. Apartemen ini milikku," kata Karina tanpa basa-basi sama sekali."Ya, aku tahu. Tapi, kalo aku keluar dari sini, aku tinggal di mana?" Reyhan menampakkan mimik muka yang menyedihkan."Aku nggak tahu. Kamu usaha cari tempat tinggal. Kali ini maaf, aku nggak bisa lagi." Karina lantas keluar dari unit apartemen dan membuat Reyhan bingung.Tiga orang laki-laki itu lantas mengemas semua barang Reyhan tanpa menunggu perintah. Reyhan jelas tidak b
Langit sore di Jakarta mulai memerah ketika kabar tentang Reyhan muncul di beranda media sosial. Dua bulan berlalu sejak pertengkarannya dengan Gendis, mantan istrinya yang dulu begitu dicintainya. Kini, wajah Reyhan muncul lagi — kali ini bersama seorang selebgram cantik bernama Karina Adisty.Foto mereka sedang makan malam di restoran mewah beredar cepat.Komentar netizen langsung meledak.> “Cepet banget move on-nya, Bang Reyhan.”“Karina, hati-hati! Itu duda panas!”“Gendis jauh lebih elegan daripada ini.”Masih banyak lagi komentar netizen yang membuat kepala Reyhan sakit kali ini. Pertemuannya dengan Karina bukan tanpa sebab. Mereka ada kerja sama salah satu brand pakaian ternama. Selama dua bulan ini Reyhan menyibukkan diri dengan mencari pekerjaan. Namun, kali ini Reyhan justru dianggap memanfaatkan Karina sama halnya saat dulu bersama Gendis. Tuduhan itu tidak salah, tetapi juga tidak benar. Reyhan memang dekat dengan sang selebgram. Netizen kali ini sangat menyoroti kehidup
Ariyanto--pengacara yang dulu membantu setiap Gendis ada masalah. Laki-laki yang pernah mengalami kecelakaan saat sidang cerainya dulu dengan Reyhan. Mereka dekat seperti saudara saat ini. Aryanto kebetulan mampir."Mau bagaimana lagi, Mas. Aku nggak punya waktu buat meladeni orang gila seperti mereka. Dikasih hati malah minta jantung." Gendis mengatakan yang sebenarnya."Baguslah, biar mereka juga belajar banyak dari masalah ini," jawab Aryanto tegas.Mereka mengobrol bersama. Aryanto mengabarkan jika sudah bisa mendirikan kantor pengacaranya sendiri. Ia juga banyak membantu pengacara muda yang baru saja berkarir. Gendis sangat bahagia mendengar kabar itu. Ruang tunggu rumah sakit sore itu dipenuhi aroma antiseptik dan suara alat medis berdenting pelan. Reyhan duduk di kursi panjang berwarna abu, kepalanya tertunduk, kedua tangannya mengepal di atas lutut. Matanya merah, lelah karena begadang dan menangis. Di balik kaca ruang perawatan, tubuh Rusmi—ibunya—terbaring lemah dengan sela
Bu Sulastri entah sejak kapan ada di rumah Gendis. Gendis tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya itu. Selalu saja seperti ini. Bu Sulastri berjalan mendekat."Ndis, kamu tahu ular kalo udah ganti kulit?" Bu Rusmi menatap sang anak dengan tatapan tajam. "Ular tetaplah ular, berbisa. Semakin berganti kulit maka bisanya semakin kuat," lanjutnya yang merupakan kode keras dari feeling seorang ibu."I-iya, Bu. Aku udah nolak mereka kok," jawab Gendis gugup karena ternyata diam-diam sang ibu mengamati."Ibu bukan nggak suka kamu membantu. Tapi, ingat mereka pernah membuatmu hancur. Bukan tidak mungkin jika kamu akan dibuat lebih hancur dari kemarin. Keadaanmu juga belum pulih sepenuhnya selama hampir dua setengah tahun ini. Kamu masih harus menanggung apa yang seharusnya tidak kamu tanggung." Bu Rusmi beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke kamar depan.Gendis menunduk, merasa malu karena hampir saja masuk jebakan mereka. Benar, mereka tidak patut dikasihani lagi. Mereka juga sumbe
Angin sore meniup rambut Gendis yang tergerai, menggoyangkan daun pohon ketapang yang meneteskan sisa air hujan. Hening beberapa detik. Hanya bunyi dedaunan dan detak jantung yang terasa di dada masing-masing. Suasana yang sangat canggung. “Baiklah,” kata Bu Rusmi akhirnya. “Ibu tunggu kamu kapan pun siap.”Rusmi tidak mau memaksa mantan menantunya untuk baik padanya. Gendis menunduk sedikit, lalu berpamitan dengan langkah cepat, menahan perasaan campur aduk yang sulit dijelaskan. Ah, ia terlalu gampang merasa terenyuh. Namun, setiap kali mengingat apa yang permah mereka lakukan, hati Gendis Dua hari kemudian, bel rumah Gendis berbunyi. Suara lembut dari luar terdengar, “Mbak Gendis?”Gendis menatap dari balik jendela, sedikit terkejut melihat Ayu, adik Reyhan, berdiri dengan payung berwarna biru dan senyum yang terlalu manis untuk pagi yang dingin. Entah apa yang diinginkan oleh perempuan yang telah dicampakkan Andika itu. Gendis tampak ragu untuk membukakan pintu rumah.“Boleh aku







