Masuk
“Lihat! Anak haram sok-sokan mau jadi pahlawan!” pekik seorang pedagang buah lain yang baru saja menampol seorang bocah pasar yang kedapatan mencuri buah, sekadar untuk makan.
“Dia hanya mengambil satu! Kalian tidak perlu sampai menghakiminya seperti itu! Kalau perlu kalian tinggal bawa dia ke kantor kepolisian!” pekik remaja pemberani bernama Harlan Kusuma, yang saat itu lebih banyak menghabiskan waktu di pasar membantu tetangganya jualan buah dan sayur.
“Sekali pencuri, tetaplah pencuri! Tak ada alasan!” pekik pedagang bernama Jaka.
“Dia mungkin berkomplot...” bisik kawan Jaka.
“Benar juga, bisa saja kau berkomplot dengan bocah itu, karena kau iri dengan dagangan buahku! Mengaku saja, anak haram keparat!
“Sudah aku bilang, aku bukan anak haram.”
Lalu semua orang yang mendukung Jaka nampak terkekeh-kekeh.
“Kau pikir orang-orang di pasar sini tidak tahu bagaimana kau lahir? Ibumu itu hanya seorang lonte! Serahkan bocah itu padaku...”
“Ya, serahkan dia!” pekik orang-orang di sekitar Jaka, yang sebagian besar pedagang lain.
“Jaka... tutup mulutmu... sekali kau mengatakan hal macam-macam soal ibuku, aku benar-benar akan ...”
“Akan apa, bocah haram! Itulah kenyataannya!” katanya dengan kekehan sinis. “Kenyataannya ibumu tak lebih dari sekadar wanita murahan!”
Tawa meledek pun mengepung Harlan. Maka makin mendidihlah Harlan.
“Tak usah dilawan, Bang,” gumam bocah bernama Robi yang kini hanya berlindung di balik tubuh jangkung Harlan.
“Tidak... sebaiknya kau larilah.”
“Tapi.”
“Lari!”
“Tapi, nanti Abang dikeroyok!”
Harlan mendorong Robi sampai tersungkur ke kubangan.
“Lari!”
“Sialan, dua bocah haram akan saling melarikan diri.”
“Tidak! Aku tidak akan melarikan diri... ayo! Sebaiknya kau lawan aku, Jaka! Mau mendapatkan bocah itu, kau lawan aku dulu!” pekik Harlan nyalang kepada Jaka.
“Bajingan juga bocah ini...”
“Satu lawan satu! Atau kau memang banci.”
“Bajingan! Aku terima tantanganmu.”
Dan begitulah, di sore yang ribut itu selanjutnya Harlan, yang sebetulnya terpaut jauh usianya dengan Jaka, lantas menerima terjangan Jaka. Dengan beringas lelaki itu menghantam Harlan bertubi-tubi, tanpa peduli yang dihadapinya lebih muda darinya.
Meski awalnya Harlan bisa menghalaunya dan memberikan beberapa tampolan keras ke pipi dan hidung Jaka, namun si Jaka justru melanggar aturan.
Tiga kawannya tanpa merasa malu lantas ikut menerjang Harlan, dan seketika itu juga lelaki yang dianggap anak haram itu pun mesti menghadapi banyak orang.
“Bajingaaaan!”
“Mampus kau anak haram!”
“Aku bukan anak haraaam!”
Enam belas tahun lalu, petir menyambar langit Jakarta, membelah malam yang pekat saat hujan deras mengguyur gerbang besi megah kediaman keluarga Winata yang serupa istana.
Di besi pagar yang dingin, Mirna Kusuma berdiri dengan tubuh gemetar, kedua tangannya mendekap erat perutnya yang membuncit besar.
Dengan sisa tenaga yang ada, dia mencengkeram selembar amplop putih berisi hasil tes DNA, bukti otentik yang menjadi harapan terakhirnya.
"Antoni! Keluar, Antoni! Ini anakmu! Kau sudah janji! Kita sudah melalui hubungan yang lama hampir tujuh tahun ini! Keluar!" teriak Mirna, suaranya parau menembus deru angin malam yang kencang.
Gerbang besar itu akhirnya berderit terbuka, namun bukan sosok lelaki yang dinantinya yang muncul dari balik payung hitam besar.
Rinka Septiani berdiri dengan anggun di bawah lindungan payung yang dipegang pelayan, menatap Mirna dengan pandangan seolah melihat sebungkus keresek sampah yang mengotori halaman rumahnya.
"Berani sekali wanita murahan seperti kau mengotori gerbang rumahku," desis Rinka, bibirnya yang merah menyala melengkung sinis.
"Aku tidak ada urusan denganmu, Rinka! Aku ingin bertemu Antoni, dia harus melihat hasil tes ini!" Mirna menyodorkan amplop putih yang mulai basah itu dengan tangan gemetar.
Rinka merebut amplop itu dengan kasar, membukanya sekilas, lalu tertawa mengejek sebelum merobek kertas di dalamnya menjadi serpihan kecil.
"Hasil tes palsu ini tidak akan mengubah apa pun, jalang," ucap Rinka dingin sambil melempar serpihan kertas itu ke dalam genangan air berlumpur di bawah kaki mereka. “Kau tentu sudah tahu keluarga Mas Anton tidak merestui kalian, karena kau hanyalah anak seorang mantan narapidana! Mau ditaruh mana muka keluarga Winata, hah?!”
Mirna terisak, menjatuhkan lututnya di atas aspal yang dingin demi memungut potongan kertas yang kini hancur menyatu dengan tanah.
Dari balik jendela kaca besar di lantai dua, Antoni Winata berdiri mematung menyaksikan kekejaman yang menimpa wanita yang pernah amat dicintainya.
Padahal ia tahu, Mirna adalah kekasih yang menemani hari-hari sulitnya dulu, wanita yang telah dia janjikan sebuah pernikahan suci di masa depan.
Namun, ketika roda bisnis keluarganya terancam runtuh, Antoni tidak punya pilihan selain tunduk pada perintah sang ayah untuk menikahi Rinka, putri dari keluarga konglomerat yang setara.
Mirna mendongak, matanya yang sembap menangkap bayangan Antoni di lantai atas, berharap lelaki itu akan berlari turun dan melindunginya.
Namun, Antoni justru memalingkan wajahnya dengan dingin, lalu menarik tirai tebal untuk menutup rapat pandangannya dari kenyataan pahit di luar sana.
Hati Mirna patah seketika, menyadari bahwa janji manis yang pernah diucapkan lelaki itu telah menguap bersama ambisi kekayaan. Ya, janji manis yang terucap ketika ia memberikan benih dalam perutnya di malam yang dingin, ketika keduanya masyuk dalam panasnya asmara di sebuah kamar hotel murah.
"Pelayan, ambil air selang dan siram wanita ini, bersihkan gerbang ini dari kotoran! Dasar wanita tidak tahu diuntung! " perintah Rinka kejam sebelum berbalik masuk ke dalam kehangatan rumahnya.
“Padahal kami sudah menawarkan uang padamu, tapi kau malah menolak dan lancang meminta Mas Antoni mengakui anakmu! Ingat, Mas Antoni sudah jadi suami sahku! Seenaknya datang mengatakan benih di perutmu anaknya!” lanjut Rinkar terus mencerocos.
Semburan air dingin mengenai tubuh Mirna, mengusirnya dari pelataran mewah itu tanpa menyisakan sedikit pun rasa kemanusiaan.
Malam itu menjadi titik awal dari penderitaan panjang yang harus dijalani Mirna di sebuah rumah kontrakan sempit di pinggiran kota.
Ketika waktu persalinan tiba, dia harus merangkak sendirian mencari bantuan menuju rumah sakit daerah dengan sisa uang yang tidak seberapa.
"Ibu harus segera dioperasi, tetapi administrasinya harus dilunasi terlebih dahulu," ujar perawat dengan wajah datar malam itu.
Mirna terpaksa memohon dan menandatangani surat utang berbobot besar demi membiarkan putranya, Harlan Kusuma, melihat dunia untuk pertama kali.
Tahun-tahun berikutnya adalah perjuangan fisik dan mental yang menguras habis masa muda Mirna yang malang.
Dia bekerja serabutan dari pagi hingga malam, mencuci baju dari rumah ke rumah demi menutup utang rumah sakit dan membeli susu formula.
Meski dikhianati, adakalanya Mirna berjalan jauh hanya untuk berdiri di seberang jalan, mengintip rumah mewah Antoni yang kini semakin megah.
Dia juga sering memaksakan diri membeli kebutuhan pokok di toko retail milik Winata Group, sekadar untuk meyakinkan dirinya bahwa ayah dari anaknya adalah orang yang berkuasa.
“Ingat... suatu waktu nanti kamu harus tahu siapa ayahmu...” katanya pada Harlan yang masih bayi.
Suatu sore, usai keributan di pasar, Harlan pulang ke kontrakan dengan sudut bibir yang berdarah dan baju kaosnya yang robek di bagian bahu.
Mirna yang sedang melipat pakaian tetangga langsung menjatuhkan pekerjaannya, berlari memeluk putranya dengan cemas.
"Astaga, Harlan! Kamu berkelahi lagi? Kenapa wajahmu sampai seperti ini, Nak?" tanya Mirna dengan mata berkaca-kaca.
Harlan mengepalkan tinjunya erat-erat, menolak untuk menangis meski rasa sakit menjalar di sekujur tubuh kecilnya.
"Mereka bilang aku anak haram, Bu. Mereka bilang Ibu bekerja di tempat tidak benar karena kita tidak punya uang," ujar Harlan dengan suara bergetar menahan amarah.
Mendengar penuturan itu, air mata yang sejak lama ditahan Mirna akhirnya tumpah membasahi bahu putranya.
Dia menangkup wajah Harlan, menatap lurus ke dalam bola mata bocah itu yang memancarkan api kemarahan yang besar, sekaligus pendar basah yang tak lagi bisa tertahankan.
"Dengarkan Ibu, Harlan. Kamu bukan anak haram, dan Ibu tidak pernah melakukan hal menjijikkan seperti yang mereka katakan," bisik Mirna dengan suara tegas. “Ibu masih punya harga diri! Masih punya keterampilan, dan tidak akan pernah jadi wanita malas yang hanya mau terima uang panas dari bisnis buruk seperti itu!”
Harlan menatap ibunya dengan bingung, menuntut penjelasan yang selama bertahun-tahun ini selalu disembunyikan darinya.
Mirna bangkit, berjalan menuju lemari kayu tua yang lapuk, lalu mengambil sebuah kotak kaleng kecil yang tersembunyi di bawah tumpukan baju.
Dari dalam kotak itu, dia mengeluarkan selembar foto usang Antoni Winata dan sisa robekan kertas DNA yang warnanya sudah menguning.
"Lelaki di foto ini adalah ayah kandungmu, namanya Antoni Winata, pemilik dari perusahaan raksasa yang logonya sering kau lihat di kota," ucap Mirna.
Harlan menerima foto itu, mengamati wajah pria berjas rapi yang tampak begitu asing namun memiliki garis rahang yang mirip dengannya.
"Jika dia kaya, kenapa dia membiarkan kita hidup seperti tikus di tempat ini?" tanya Harlan, nadanya mendadak berubah sedingin es.
Mirna mengelus rambut Harlan dengan lembut, menceritakan bagaimana malam jahanam itu merenggut seluruh hak dan harga diri mereka sebagai manusia.
Dia menceritakan tentang Rinka yang merobek bukti darah dagingnya, dan tentang Antoni yang memilih memalingkan wajah demi mempertahankan takhta bisnisnya.
"Jangan pernah mengemis pada mereka, Harlan. Ibu memberi tahu ini agar kau tahu dari mana darahmu berasal," tutur Mirna dengan sisa ketegarannya.
Harlan tidak menjawab, tetapi jemari kecilnya mencengkeram foto Antoni hingga kertas usang itu berkerut parah di tangan kuatnya.
Di dalam hati bocah yang baru beranjak remaja itu, sebuah benih dendam yang kelam telah tertanam dan mulai berakar dengan sangat kuat.
Dia bersumpah, suatu hari nanti dia akan menginjak-injak kesombongan keluarga Winata dan memaksa sang ayah berlutut di hadapan ibunya.
Harlan menepi ke bahu jalan beberapa ratus meter dari area pemakaman, menahan niatnya untuk meluncur kencang setelah melihat pergerakan di spion tengah. Sebuah sedan mewah berpelat nomor khusus berhenti tepat di belakang mobilnya, disusul pintu penumpang yang terdorong pelan.Brian melangkah keluar dengan langkah gontai, pakaian serba hitamnya tampak kusut dan matanya sembab memerah akibat duka yang tertahan. Harlan mematikan mesin kendaraan, melangkah keluar dan menyandarkan tubuhnya pada kap mobil sembari menantikan ledakan amarah yang biasa dilontarkan pria muda itu.Namun, tidak ada bentakan melengking atau tuduhan kasar yang keluar dari bibir Brian seperti hari-hari biasanya. Pemuda itu berjalan mendekat dengan bahu terkulai layaknya pria yang hancur total, menyandarkan tubuhnya di samping Harlan tanpa sepatah kata pun."Aku tahu dari awal perusahaan itu tidak akan pernah jatuh ke tanganku, Harlan," bisik Brian dengan suara serak yang bergetar pelan.Harlan tetap membisu, membiar
Langit di atas pemakaman komersial elite itu tertutup awan kelabu tebal, menumpahkan rintik gerimis yang membasahi rumput hijau. Dari jarak beberapa ratus meter di tepi jalan raya, sebuah sedan hitam terparkir tenang di bawah rindangnya pepohonan besar.Harlan melangkah keluar dari kabin, menyandarkan tubuh tegapnya pada pintu mobil sembari menyilangkan kedua tangan di dada. Matanya yang tajam menembus barisan payung hitam yang mengelilingi liang kubur Antoni Winata.Di dalam mobil, Randy menurunkan kaca jendela hingga batas maksimal, mengawasi iring-iringan pelayat elite melalui teropong jarak jauh. "Aktor-aktor utama dari faksi Soerja berkumpul lengkap di sana, Harlan.""Biarkan mereka menikmati momen kemenangan semu ini," sahut Harlan dengan suara bariton yang dingin dan tanpa emosi.Prosesi penguburan berjalan sangat megah, dihadiri oleh puluhan pejabat tinggi dan pengusaha kelas atas yang mengenakan pakaian serba hitam. Di barisan paling depan, Rinka Septiani Soerja berdiri anggu
Kabar pembatalan pernikahan secara sepihak oleh Agnes Tanuwijaya meledak seperti bom waktu di seluruh jajaran direksi Winata Group. Tanpa peringatan, Tanuwijaya Group resmi menarik seluruh suntikan dana dan kepemilikan saham mereka dari konsorsium Winata Group.Keputusan ekstrem itu seketika memicu kepanikan massal di lantai bursa dan meruntuhkan nilai saham perusahaan hingga ke titik terendah. Kerjasama dua klan raksasa yang sudah dibangun berbulan-bulan musnah dalam hitungan jam, menyalakan kembali api permusuhan lama yang jauh lebih membara.Di ruang rapat utama lantai atas gedung direksi, Rinka Septiani Soerja menggebrak meja kaca hingga retak halus. Wajahnya memerah padam oleh amarah yang meledak, dikelilingi oleh para petinggi faksi Soerja yang saling berteriak panik."Cari Agnes Tanuwijaya sampai dapat!" raung Rinka dengan suara melengking yang memotong riuh suasana ruangan. "Wanita bajingan itu sengaja mempermalukan keluarga kita dan menusuk kita dari belakang!"Damian Soerja
Agnes berjalan mendekati meja kayu di tengah ruangan, menyandarkan kedua tangannya di tepi meja sembari menunduk dalam. Keheningan merayap di antara mereka berdua sebelum Agnes kembali mendongak dengan tatapan mata penuh keputusasaan."Besok adalah hari pernikahanku dengan Brian Winata," ujar Agnes dengan nada suara datar namun menyimpan beban yang teramat berat.Harlan menatap Agnes tanpa berkedip, membiarkan kalimat tersebut menggantung di udara malam yang dingin. Rencana pernikahan politik antara keluarga Tanuwijaya dan keluarga Winata memang sudah dirancang jauh-jauh hari untuk memperkuat dominasi bisnis kedua belah pihak."Tapi aku bersumpah, bahwa aku tidak akan menghadiri altar itu," lanjut Agnes, menyunggingkan senyum tipis yang dingin dan sarat akan penolakan. "Aku memutuskan melarikan diri dari pernikahan konyol ini besok pagi."Harlan mencerutkan keningnya, melangkah satu pijakan mendekati Agnes."Jika kau kabur, posisimu di Tanuwijaya Group akan hancur dalam sekejap.""Aku
Harlan menyandarkan punggungnya di kursi kayu, menatap layar ponselnya yang memancarkan pendar cahaya di dalam kamar yang remang. Panggilan video terhubung, menampilkan wajah Clara yang tersenyum manis dengan latar belakang kamar rumah susunnya.Hubungan jarak jauh ini menjadi jembatan tipis di antara kesibukan mereka, mengobati rasa rindu yang tertahan di dada Harlan."Aku merindukanmu, Harlan," bisik Clara lembut dari balik layar."Aku juga, Clara," sahut Harlan dengan suara bariton yang hangat dan dalam. "Bagaimana pekerjaanmu di supermarket minggu ini?""Lancar seperti biasa, hanya saja sepi tanpa kehadiranmu yang sering menjemputku sore hari," jawab Clara sembari terkekeh pelan. "Tenang saja, akhir pekan ini aku libur dan janji akan datang menyusulmu ke selatan Bandung."Harlan menyunggingkan senyum lega, membayangkan kepedihan pengasingan ini akan terobati oleh kedatangan wanita yang sangat dicintainya itu. Mereka mengakhiri panggilan malam itu dengan janji manis yang menggantun
Harlan mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga buku-buku jarinya memutih, menatap pemandangan perbukitan yang membisu dari jendela rumah kecilnya di selatan Bandung.Kekesalan membakar dadanya, menyadari bahwa pengasingannya ke kota kecil ini secara drastis mempersempit ruang geraknya untuk memantau pergerakan keluarga Winata.Harlan sangat yakin Rinka dan Damian Soerja kini sedang melancarkan eksekusi tahap akhir untuk melemahkan posisi Antoni Soerja di rumah sakit secara perlahan.Jarak yang jauh dari ibu kota membuat tangannya seolah terikat untuk mengintervensi konspirasi berdarah yang makin memuncak tersebut.Suara derum mesin kendaraan memecah keheningan sore, disusul suara pintu mobil yang ditutup dengan hentakan pelan di halaman depan.Randy melangkah masuk ke dalam rumah sederhana itu, meletakkan ransel hitam tebalnya di atas meja dengan napas terengah-engah.Randy melangkah ke jendela samping, menyapu pandangannya ke arah hamparan lahan luas yang tersembunyi di balik pepoh







