Share

Bab 2

Author: Tipo
Davina belum sempat menanyakan alasannya ketika pintu ruang kerja Marcel terbuka dan Elena keluar.

Elena mengenakan gaun rancangan desainer ternama, dengan riasan sempurna dan aura anggun seorang putri keluarga kaya yang dimanjakan sejak kecil. Dia bergerak leluasa di kantor, seolah-olah gedung itu adalah miliknya.

Akhirnya, Davina memahami asal tatapan penuh arti dari rekan-rekannya.

Bagaimanapun, semua orang mengira dirinya akan menjadi calon istri bos mereka.

Namun, dalam sekejap, Marcel justru bertunangan dengan orang lain, membuat posisinya menjadi canggung.

Sebaliknya, saat melihat Davina, Elena bersikap seolah-olah tidak ada masalah di antara mereka.

Senyum manis tersungging di wajahnya. Dia menyerahkan undangan yang dibawanya kepada Davina dan mengundangnya dengan ramah.

"Sekretaris Davina, selamat pagi. Seminggu lagi bakal diadakan pesta pertunanganku dengan Marcel. Aku sengaja datang buat membagikan undangan ke semua orang."

"Sekretaris Davina paling lama bekerja dengan Marcel. Jadi, nanti kamu harus datang, ya."

Davina segera memasang senyum sopan dan menerima undangan dari tangan Elena dengan kedua tangan.

"Selamat atas pertunangan Nona Elena dan Pak Marcel."

Senyum Elena tak berubah. Dia mendekat sedikit, lalu berbicara sambil tersenyum dengan suara pelan yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.

"Kudengar selama ini kamu mengira bisa menikah dengan Keluarga Gunawan? Benar-benar berkhayal terlalu tinggi."

"Marcel cuma memanfaatkanmu buat melatih kemampuannya. Kalau nggak, bagaimana dia bisa memuaskanku setelah kami menikah nanti?"

"Buka matamu lebar-lebar dan lihat baik-baik perbedaan antara dirimu dan kami. Sebaiknya kamu segera berhenti berharap."

Senyum terus menghiasi wajahnya, sementara sikapnya tampak akrab. Siapa pun yang tidak tahu pasti akan mengira mereka sedang berbagi rahasia.

Ekspresi Davina tidak berubah, tetapi jemarinya yang mencengkeram tali tas perlahan memutih.

Dia bisa memahami sikap Elena. Bagaimanapun, tidak ada wanita yang ingin melihat mantan kekasih suaminya berkeliaran di depan mata.

Meski begitu, hatinya tetap terasa sesak.

Davina mengatupkan bibir, lalu mengambil posisi serendah mungkin. "Nona Elena nggak perlu khawatir. Saya tahu diri."

Senyum Elena menyiratkan hawa dingin. "Sebaiknya memang begitu. Tapi, aku nggak pernah suka bertaruh apakah orang lain tahu diri atau nggak."

Detik berikutnya, dia menarik tangan Davina, lalu tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya ke belakang.

Davina belum sempat bereaksi ketika Elena sudah terjatuh ke lantai. Setelah menjerit, dia menatap Davina dengan wajah penuh keterkejutan.

"Sekretaris Davina, aku berniat baik mengundangmu ke pesta pertunanganku. Mengapa kamu tiba-tiba mendorongku?"

Pintu ruang kerja terbuka dan Marcel melangkah keluar dengan kaki jenjangnya.

Begitu melihat Elena terjatuh di lantai, dia segera menghampirinya dan membantunya berdiri.

"Elena, ada apa?"

Dengan mata memerah, Elena menatapnya.

"Aku memberikan undangan ke Sekretaris Davina dan mengundangnya ke pesta pertunangan kita. Tapi, tiba-tiba dia mendorongku sampai terjatuh dan mengusirku dengan wajah kesal."

Marcel melirik Davina. Tatapan matanya dipenuhi hawa dingin.

Davina mengernyit dan buru-buru menjelaskan, "Saya nggak ...."

Namun, Marcel langsung memotong ucapannya dan berkata kepada Elena.

"Memangnya siapa dia? Apa perlu kamu sendiri yang mengundangnya?"

Suasana seketika hening. Ucapan Marcel yang merendahkan tanpa belas kasihan membuat hati Davina terasa sakit sesaat.

Elena sempat tertegun, tetapi segera kembali tersenyum. Dengan nada manja, dia merajuk ke Marcel.

"Tapi, gimanapun juga, dia sekretaris utamamu. Aku cuma mau membantumu mempertahankan orang berbakat."

Marcel langsung menggendong Elena ala pengantin dan membawanya masuk ke ruang kerja.

Sambil berjalan, dia berkata dengan nada tegas dan penuh kasih sayang.

"Kamu calon nyonya perusahaan ini. Nggak ada seorang pun yang lebih penting darimu. Bagian mana yang terkilir? Biar kulihat."

Davina berdiri diam tanpa ekspresi, menatap punggung mereka.

Elena benar-benar tidak sabar. Bahkan, dia tidak bisa menunggu sampai Davina menyerahkan surat pengunduran dirinya.

Namun, bagaimana mungkin Marcel tidak menyadari aktingnya yang begitu buruk?

Ironisnya, Marcel memilih untuk melindunginya.

Mereka semua sudah dewasa. Ada keadilan yang tidak bisa diperoleh hanya dengan menangis dan membuat keributan.

Hati Davina terasa getir. Dengan tenang, dia mengeluarkan surat pengunduran dirinya.

Dia baru hendak masuk untuk meminta tanda tangan Marcel ketika pria itu tiba-tiba keluar.

Sosoknya tinggi dan tegap. Saat berjalan, ujung pakaiannya berkibar tertiup angin. Dia mengetuk meja Davina dengan jari-jarinya yang ramping, lalu langsung menyampaikan keputusannya.

"Elena nggak mau melihatmu. Mengundurkan dirilah."

Wajah Marcel yang tegas dan dingin memancarkan sikap acuh tak acuh yang tidak memberi ruang untuk dibantah.

Jantung Davina bergetar. Dia menggenggam erat surat pengunduran diri yang telah disiapkannya sejak pagi.

Selama tujuh tahun bekerja dengan tekun di Grup Gunawan, dia tidak pernah menyangka akan meninggalkan tempat itu dengan cara yang begitu menyedihkan.

Davina tersenyum getir dan perlahan mengangguk. "Baik."

Sikapnya yang tidak menangis ataupun membuat keributan entah mengapa justru membuat Marcel makin gelisah.

Dia mengernyit. "Pergilah hari ini juga. Aku bakal meminta bagian keuangan memberimu pesangon dua kali lipat."

Davina tersenyum tipis. "Saya mengerti. Terima kasih, Pak Marcel."

Marcel langsung berbalik dan pergi.

Davina kembali ke mejanya, merobek surat pengunduran diri yang tidak lagi diperlukan, lalu mengajukan permohonan pengunduran diri melalui sistem perusahaan.

Mungkin Marcel sudah memberi tahu bagian personalia, sebab permohonannya langsung disetujui dalam sekejap dan diteruskan hingga sampai ke Marcel.

Tak lama kemudian, sebuah notifikasi muncul di layar komputer Davina, [Permohonan pengunduran diri Anda telah disetujui.]

Hampir bersamaan dengan itu, sejumlah besar uang pesangon masuk ke rekening Davina.

Davina segera membereskan barang-barangnya. Saat membawa barang-barang itu pergi, dia melewati ruang kerja Marcel.

Pintu ruang kerja itu tidak tertutup rapat, menyisakan celah kecil.

Di dalam ruang kerja, Marcel tampak sedang membaca dokumen dengan kepala tertunduk.

Elena duduk di sampingnya sambil menikmati hidangan penutup.

Dia menyuapkan sesendok untuk dirinya sendiri, lalu mengambil sesendok lagi dan menyodorkannya ke Marcel. "Coba ini, enak sekali."

Marcel memakan sepotong kue itu dengan sendok yang sudah digunakan Elena, tanpa sedikit pun menunjukkan keberatan. "Ya, enak."

Davina menatap wajahnya dan tersenyum mengejek dirinya sendiri.

Sejak hari pertama bekerja, dia sudah tahu bahwa Marcel memiliki dua pantangan.

Pertama, dia sangat menjaga kebersihan dan tidak pernah berbagi peralatan makan dengan siapa pun.

Bahkan saat mereka baru mulai berhubungan intim, Marcel tidak pernah menciumnya.

Mereka baru pertama kali berciuman ketika Davina demam tinggi hingga pikirannya linglung. Saat berbicara dengannya, bibirnya tanpa sengaja menyentuh bibir Marcel.

Davina begitu ketakutan hingga wajahnya memucat, tetapi pria itu justru menunduk dengan santai dan menciumnya.

Saat itu, Davina mengira dirinya berbeda dari wanita lain bagi Marcel.

Kedua, dia membenci makanan manis.

Selama tujuh tahun mendampinginya, Davina tidak pernah melihatnya menyantap makanan manis.

Bahkan ketika Davina sesekali membeli kue untuk dirinya sendiri, Marcel sama sekali tidak meliriknya.

Davina mengingat baik-baik semua kesukaan dan pantangannya, lalu mencatatnya dalam tiga buku tebal karena takut melakukan kesalahan sekecil apa pun yang bisa membuat Marcel tidak senang.

Namun, ternyata semua jurus rahasia yang selama ini dia andalkan hanyalah lelucon belaka.

Jika bertemu dengan orang yang tepat, seseorang akan bersedia mentoleransi segalanya.

Davina mengeluarkan buku catatan tebal itu, tersenyum getir, lalu tanpa ragu membuangnya ke tempat sampah sebelum berbalik pergi.

Marcel mengangkat kepala dari dokumennya. Samar-samar, dia melihat sosok yang dikenalnya melintas di balik celah pintu, membuatnya sedikit kehilangan konsentrasi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kukira Kamu adalah Takdir Seumur Hidupku   Bab 25

    "Aku mendapat kabar kalau Elena diam-diam pergi ke kota tetangga. Kebetulan kamu juga lagi berada di sini buat urusan pekerjaan, jadi aku khawatir sesuatu yang buruk bakal terjadi.""Untungnya, aku berhasil tiba tepat waktu."Saat berbicara, kelopak matanya terasa makin berat. Pandangannya mendadak gelap, lalu seluruh tubuhnya ambruk.Davina secara refleks memeluknya agar dia tidak terjatuh ke lantai.Saat itulah Davina melihat punggungnya.Seluruh cairan asam sulfat yang disiramkan Elena mengenai punggungnya. Meskipun terhalang pakaian, punggungnya kini sudah berlumuran darah.Air mata Davina makin deras. Dia buru-buru membantu para pengawal Marcel membawanya ke rumah sakit.Setelah bersusah payah membawa Marcel ke ruang operasi untuk mendapatkan pertolongan darurat, Ryan pun tiba dengan tergesa-gesa.Begitu melihat Davina di depan ruang operasi, Ryan langsung menghampirinya dan segera memeriksa apakah dia terluka.Sambil menangis, Davina berkata, "Aku nggak apa-apa. Semuanya mengenai

  • Kukira Kamu adalah Takdir Seumur Hidupku   Bab 24

    Davina tidak menyangka Elena ternyata mengejarnya sampai ke kota tetangga hanya untuk mencelakainya.Davina menggertakkan gigi. "Elena, apa kamu sudah gila?"Menurutnya, meskipun dia tidak bisa dibilang bersikap ramah kepada Elena, dia tidak pernah sengaja mencari masalah dengannya.Sebaliknya, Elena-lah yang selalu saja mengincarnya.Dari luar pintu, suara Elena terdengar arogan. "Kamu merebut priaku. Kamu pikir aku bakal membiarkanmu begitu saja? Di Kota Juomar, Marcel dan Ryan melindungimu. Tapi sekarang kamu di sini. Aku mau lihat siapa lagi yang bisa melindungimu!"Karena Marcel telah memperingatkan Keluarga Gunawan, selama beberapa waktu terakhir, Elena terus dikurung oleh orang tuanya di rumah dan tidak diizinkan keluar.Mana mungkin Elena bisa menerima perlakuan seperti itu?Dia memang tidak berani mencari masalah dengan Keluarga Gunawan, tetapi masa dia juga tidak berani menghadapi Davina?Kalau bukan karena Davina, mana mungkin Keluarga Gunawan menargetkannya?Dia sudah lama

  • Kukira Kamu adalah Takdir Seumur Hidupku   Bab 23

    Begitu tiba di kota tetangga, Davina langsung merasakan firasat bahaya yang entah dari mana muncul, seolah-olah ada seseorang yang sedang mengawasinya.Tanpa sadar, dia mengamati sekeliling, tetapi setiap orang yang berlalu lalang tampak seperti pejalan kaki biasa.Dia mencurigai semua orang, tetapi pada saat yang sama, merasa seolah-olah dirinya hanya terlalu banyak berpikir.Davina berjalan dengan tergesa-gesa dan segera keluar dari bandara untuk bertemu dengan rekan kerjanya dari kota tetangga.Setelah bertemu dengan rekannya, perasaan seolah-olah sedang diawasi itu sedikit mereda.Davina tidak memikirkannya lebih jauh. Dia tidak beristirahat di hotel, melainkan langsung pergi ke kantor cabang bersama rekannya, lalu menemui mitra kerja sama bersama para pegawai kantor cabang.Setelah sibuk sepanjang hari, barulah dia kembali ke hotel.Baru saja selesai membereskan barang-barangnya, ponsel Davina pun berdering.Melihat panggilan dari Ryan, Davina tanpa sadar tersenyum, lalu mengangka

  • Kukira Kamu adalah Takdir Seumur Hidupku   Bab 22

    Davina tidak pernah menyangka bahwa Marcel juga memiliki sisi menyebalkan seperti ini.Keesokan paginya, saat hendak berangkat kerja, Marcel sudah menunggunya di depan pintu rumah sambil membawa sarapan yang dulu sering dipesannya saat masih bekerja di Grup Gunawan.Marcel menyodorkan sarapan itu kepadanya. "Ini makanan kesukaanmu dulu."Davina meliriknya sekilas tanpa ekspresi. "Dulu, aku sering memesannya bukan karena aku suka, melainkan karena kamu yang menyukainya. Aku sangat nggak suka kudapan dari tempat itu."Ekspresi Marcel seketika membeku.Kebetulan, Ryan yang tinggal di seberang juga membuka pintu dan keluar sambil membawa dua bungkus sarapan.Davina menerima satu bungkus, lalu berjalan bersama Ryan.Marcel tertegun selama beberapa detik, tetapi segera menyusul mereka."Lalu, apa yang kamu suka? Besok aku bakal membawakannya buatmu."Davina menoleh kepadanya. "Pak Marcel, aku lebih suka dirimu yang arogan dan nggak mau tunduk pada siapa pun."Marcel terdiam mendengarnya.Rya

  • Kukira Kamu adalah Takdir Seumur Hidupku   Bab 21

    Marcel menyadari sesuatu dan hampir secara refleks ingin menyuruhnya berhenti bicara.Namun, bibirnya bergetar, sementara kata-kata untuk menghentikannya tak kunjung terucap.Dia tahu, apa yang akan dikatakan Davina selanjutnya pasti akan membuatnya sangat menderita.Namun, entah mengapa, dia tetap ingin mendengar alasannya.Suara Davina yang enak didengar memasuki telinganya, tetapi setiap katanya menjelma menjadi sebilah pisau tajam yang menusuknya hingga sekujur tubuhnya seolah bersimbah darah.Davina berkata pelan, "Marcel, sebenarnya, jatuh cinta kepadamu itu sangat mudah. Kamu begitu hebat dan bersinar. Kamu sangat berbakat dalam dunia bisnis. Bahkan, satu kalimat nasihat darimu saja sudah bisa memberiku banyak manfaat.""Tapi, mencintaimu benar-benar melelahkan. Selama tujuh tahun, aku sudah mengerahkan seluruh tenagaku buat terus mengejarmu dari belakang. Demi bisa berdiri sejajar denganmu, aku harus berlari siang dan malam cuma buat menyusul satu langkah kecil yang kamu ambil

  • Kukira Kamu adalah Takdir Seumur Hidupku   Bab 20

    Marcel tanpa sadar menahan napas dan menatap Davina dengan sedikit gugup.Davina mengangkat wajah dan menatapnya dengan heran.Dia tidak menyangka pria seperti Marcel ternyata juga bisa ingin kembali kepada mantan kekasihnya.Namun, dia langsung menggelengkan kepala dengan tegas. "Aku nggak mau."Marcel menatapnya dengan tatapan kosong, lalu menegaskan, "Bukan sebagai kekasih gelap, melainkan sebagai pacar yang resmi."Kali ini, Davina benar-benar terkejut. Dia menatap Marcel dengan tatapan tak percaya.Marcel tampak tidak terbiasa dengan situasi ini, tetapi dia tetap menatap Davina dengan keras kepala, bahkan dengan nada yang nyaris memohon."Bisa?"Davina hanya terdiam selama tiga detik sebelum perlahan menggeleng. "Kita nggak bisa kembali seperti dulu."Tatapan Marcel perlahan meredup.Dia menatap Davina, lalu menjelaskan dengan gelisah dan kebingungan."Davina, selama bertahun-tahun kamu berada di sisiku, aku bisa merasakan betapa kamu peduli kepadaku dan betapa kamu mencintaiku."

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status