공유

Bab 3

작가: Tipo
Setelah sampai di rumah, Davina memberi tahu beberapa temannya bahwa dirinya mengundurkan diri dari pekerjaannya dan pulang ke kampung halaman.

Mereka berjanji untuk makan bersama keesokan harinya.

Davina mengira seumur hidupnya mungkin tidak akan punya kesempatan lagi untuk bertemu Marcel.

Namun, dia tidak menyangka, saat mengikuti pelayan menuju ruang privat, dari sudut matanya dia justru melihat sosok yang tidak asing di lantai dua.

Marcel dan teman-temannya sedang bersandar di pagar sambil merokok.

Pria itu berdiri membelakanginya, ujung jarinya menjepit sebatang rokok. Entah mengapa, sosoknya dari belakang tampak begitu kesepian.

Davina hanya melirik sekilas, lalu menundukkan kepala dan berpura-pura tidak melihatnya.

Namun, suara Marcel yang sedang berbicara dengan seseorang terbawa angin hingga terdengar olehnya.

Dia hanya mendengar teman Marcel bertanya, "Kamu benar-benar berencana menikahi Elena? Sekretaris Davina sudah mendampingimu selama bertahun-tahun. Kami kira kamu bakal menikahinya."

Nada suara Marcel terdengar datar. "Nggak pernah terpikir."

Temannya tertawa menggoda. "Kecuali latar belakang keluarganya yang sedikit kurang, Sekretaris Davina cantik, cekatan, dan begitu setia padamu. Selama bertahun-tahun, apa kamu sama sekali nggak pernah tertarik padanya?"

Marcel terdiam selama dua detik. Suaranya yang datar dan dingin terbawa angin hingga masuk ke telinga Davina.

"Mana mungkin aku membiarkan diriku jatuh hati pada sebuah mainan."

Wajah Davina seketika memucat. Dia berdiri terpaku di tempat.

Baru setelah menyadari tatapan penasaran dan bingung dari pelayan yang mengantarnya, dia mengepalkan jemarinya erat dan melangkah perlahan menyusul.

Makanan kali ini terasa hambar. Teman-temannya adalah teman sekamar semasa kuliah dan mereka tahu perasaan Davina kepada Marcel selama bertahun-tahun.

Mengetahui bahwa dia akan pulang ke kampung halaman, mereka ikut bahagia untuknya, tetapi juga merasa sedih melihatnya. Mereka pun berpelukan dan menangis bersama.

Setelah suasana ramai itu berlalu, Davina melihat teman-temannya dijemput oleh suami atau pacar masing-masing, sementara dia kembali seorang diri.

Davina menggenggam erat tali tasnya dan hendak pergi ketika ponselnya tiba-tiba berdering.

Davina melihat layarnya dan ternyata itu nomor Marcel.

Dia hendak menutup telepon, tetapi jarinya tanpa sengaja menekan tombol jawab.

Davina mengernyit dan hendak langsung memutuskan panggilan, tetapi terdengar suara asing dari seberang, "Halo, apa Anda Nona Davina?"

Davina tertegun. "Ya."

Orang itu berkata dengan sopan, "Nona Davina, Tuan Marcel mabuk. Tolong Anda datang menjemputnya. Kami berada di ...."

Marcel bukan orang yang suka minum berlebihan. Dengan statusnya sekarang, hampir tidak ada yang berani memaksanya minum.

Bagaimana mungkin dia bisa mabuk?

Davina tidak mempertanyakan bagaimana pelayan itu bisa meneleponnya. Dia hanya menjawab dengan dingin.

"Maaf, aku nggak bisa datang. Hubungi tunangannya dan minta dia datang menjemput."

Begitu dia selesai berbicara, tiba-tiba terdengar suara pelayan yang panik dari seberang telepon.

"Tuan Marcel! Tuan Marcel, Anda kenapa? Tuan Marcel!"

Sambungan telepon terputus dengan tergesa-gesa.

Wajah Davina berubah. Jantungnya berdebar karena panik.

Tubuhnya sudah bergerak lebih cepat daripada pikirannya, berlari menuju lantai dua.

Dia berlari masuk ke ruang privat dan berteriak dengan cemas, "Marcel!"

Pintu ruang privat terbuka. Dia melihat Marcel bersandar di kursi, wajahnya tampak muram, sementara telapak tangan kanannya sudah berlumuran darah.

Pecahan kaca berserakan di atas meja dan di dekat kakinya.

Pelayan berdiri di samping dengan wajah penuh kecemasan.

Sementara itu, Marcel justru tampak sangat dingin, seolah-olah bukan dirinya yang terluka.

Mendengar suaranya, dia menoleh dan menatap Davina dengan sorot mata muram.

Suaranya terdengar serak, dengan sedikit nada kecewa yang samar. "Bukannya kamu bilang nggak bakal datang?"

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Kukira Kamu adalah Takdir Seumur Hidupku   Bab 25

    "Aku mendapat kabar kalau Elena diam-diam pergi ke kota tetangga. Kebetulan kamu juga lagi berada di sini buat urusan pekerjaan, jadi aku khawatir sesuatu yang buruk bakal terjadi.""Untungnya, aku berhasil tiba tepat waktu."Saat berbicara, kelopak matanya terasa makin berat. Pandangannya mendadak gelap, lalu seluruh tubuhnya ambruk.Davina secara refleks memeluknya agar dia tidak terjatuh ke lantai.Saat itulah Davina melihat punggungnya.Seluruh cairan asam sulfat yang disiramkan Elena mengenai punggungnya. Meskipun terhalang pakaian, punggungnya kini sudah berlumuran darah.Air mata Davina makin deras. Dia buru-buru membantu para pengawal Marcel membawanya ke rumah sakit.Setelah bersusah payah membawa Marcel ke ruang operasi untuk mendapatkan pertolongan darurat, Ryan pun tiba dengan tergesa-gesa.Begitu melihat Davina di depan ruang operasi, Ryan langsung menghampirinya dan segera memeriksa apakah dia terluka.Sambil menangis, Davina berkata, "Aku nggak apa-apa. Semuanya mengenai

  • Kukira Kamu adalah Takdir Seumur Hidupku   Bab 24

    Davina tidak menyangka Elena ternyata mengejarnya sampai ke kota tetangga hanya untuk mencelakainya.Davina menggertakkan gigi. "Elena, apa kamu sudah gila?"Menurutnya, meskipun dia tidak bisa dibilang bersikap ramah kepada Elena, dia tidak pernah sengaja mencari masalah dengannya.Sebaliknya, Elena-lah yang selalu saja mengincarnya.Dari luar pintu, suara Elena terdengar arogan. "Kamu merebut priaku. Kamu pikir aku bakal membiarkanmu begitu saja? Di Kota Juomar, Marcel dan Ryan melindungimu. Tapi sekarang kamu di sini. Aku mau lihat siapa lagi yang bisa melindungimu!"Karena Marcel telah memperingatkan Keluarga Gunawan, selama beberapa waktu terakhir, Elena terus dikurung oleh orang tuanya di rumah dan tidak diizinkan keluar.Mana mungkin Elena bisa menerima perlakuan seperti itu?Dia memang tidak berani mencari masalah dengan Keluarga Gunawan, tetapi masa dia juga tidak berani menghadapi Davina?Kalau bukan karena Davina, mana mungkin Keluarga Gunawan menargetkannya?Dia sudah lama

  • Kukira Kamu adalah Takdir Seumur Hidupku   Bab 23

    Begitu tiba di kota tetangga, Davina langsung merasakan firasat bahaya yang entah dari mana muncul, seolah-olah ada seseorang yang sedang mengawasinya.Tanpa sadar, dia mengamati sekeliling, tetapi setiap orang yang berlalu lalang tampak seperti pejalan kaki biasa.Dia mencurigai semua orang, tetapi pada saat yang sama, merasa seolah-olah dirinya hanya terlalu banyak berpikir.Davina berjalan dengan tergesa-gesa dan segera keluar dari bandara untuk bertemu dengan rekan kerjanya dari kota tetangga.Setelah bertemu dengan rekannya, perasaan seolah-olah sedang diawasi itu sedikit mereda.Davina tidak memikirkannya lebih jauh. Dia tidak beristirahat di hotel, melainkan langsung pergi ke kantor cabang bersama rekannya, lalu menemui mitra kerja sama bersama para pegawai kantor cabang.Setelah sibuk sepanjang hari, barulah dia kembali ke hotel.Baru saja selesai membereskan barang-barangnya, ponsel Davina pun berdering.Melihat panggilan dari Ryan, Davina tanpa sadar tersenyum, lalu mengangka

  • Kukira Kamu adalah Takdir Seumur Hidupku   Bab 22

    Davina tidak pernah menyangka bahwa Marcel juga memiliki sisi menyebalkan seperti ini.Keesokan paginya, saat hendak berangkat kerja, Marcel sudah menunggunya di depan pintu rumah sambil membawa sarapan yang dulu sering dipesannya saat masih bekerja di Grup Gunawan.Marcel menyodorkan sarapan itu kepadanya. "Ini makanan kesukaanmu dulu."Davina meliriknya sekilas tanpa ekspresi. "Dulu, aku sering memesannya bukan karena aku suka, melainkan karena kamu yang menyukainya. Aku sangat nggak suka kudapan dari tempat itu."Ekspresi Marcel seketika membeku.Kebetulan, Ryan yang tinggal di seberang juga membuka pintu dan keluar sambil membawa dua bungkus sarapan.Davina menerima satu bungkus, lalu berjalan bersama Ryan.Marcel tertegun selama beberapa detik, tetapi segera menyusul mereka."Lalu, apa yang kamu suka? Besok aku bakal membawakannya buatmu."Davina menoleh kepadanya. "Pak Marcel, aku lebih suka dirimu yang arogan dan nggak mau tunduk pada siapa pun."Marcel terdiam mendengarnya.Rya

  • Kukira Kamu adalah Takdir Seumur Hidupku   Bab 21

    Marcel menyadari sesuatu dan hampir secara refleks ingin menyuruhnya berhenti bicara.Namun, bibirnya bergetar, sementara kata-kata untuk menghentikannya tak kunjung terucap.Dia tahu, apa yang akan dikatakan Davina selanjutnya pasti akan membuatnya sangat menderita.Namun, entah mengapa, dia tetap ingin mendengar alasannya.Suara Davina yang enak didengar memasuki telinganya, tetapi setiap katanya menjelma menjadi sebilah pisau tajam yang menusuknya hingga sekujur tubuhnya seolah bersimbah darah.Davina berkata pelan, "Marcel, sebenarnya, jatuh cinta kepadamu itu sangat mudah. Kamu begitu hebat dan bersinar. Kamu sangat berbakat dalam dunia bisnis. Bahkan, satu kalimat nasihat darimu saja sudah bisa memberiku banyak manfaat.""Tapi, mencintaimu benar-benar melelahkan. Selama tujuh tahun, aku sudah mengerahkan seluruh tenagaku buat terus mengejarmu dari belakang. Demi bisa berdiri sejajar denganmu, aku harus berlari siang dan malam cuma buat menyusul satu langkah kecil yang kamu ambil

  • Kukira Kamu adalah Takdir Seumur Hidupku   Bab 20

    Marcel tanpa sadar menahan napas dan menatap Davina dengan sedikit gugup.Davina mengangkat wajah dan menatapnya dengan heran.Dia tidak menyangka pria seperti Marcel ternyata juga bisa ingin kembali kepada mantan kekasihnya.Namun, dia langsung menggelengkan kepala dengan tegas. "Aku nggak mau."Marcel menatapnya dengan tatapan kosong, lalu menegaskan, "Bukan sebagai kekasih gelap, melainkan sebagai pacar yang resmi."Kali ini, Davina benar-benar terkejut. Dia menatap Marcel dengan tatapan tak percaya.Marcel tampak tidak terbiasa dengan situasi ini, tetapi dia tetap menatap Davina dengan keras kepala, bahkan dengan nada yang nyaris memohon."Bisa?"Davina hanya terdiam selama tiga detik sebelum perlahan menggeleng. "Kita nggak bisa kembali seperti dulu."Tatapan Marcel perlahan meredup.Dia menatap Davina, lalu menjelaskan dengan gelisah dan kebingungan."Davina, selama bertahun-tahun kamu berada di sisiku, aku bisa merasakan betapa kamu peduli kepadaku dan betapa kamu mencintaiku."

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status