Share

Bab 3

Author: Loraina
Pandangan Nathan tertuju ke arah kami. Saat dia melihat Elvano yang kudorong, sorot matanya langsung menggelap. Dia melangkah cepat menghampiri, lalu mencengkeram lenganku dan berteriak dengan suara ditekan.

"Ivory, apa uang yang kuberikan padamu masih kurang? Buru-buru sekali cari pengganti, malah orang cacat lagi. Mau mempermalukanku?"

Elvano yang berada di sampingku tidak berkata apa-apa, tapi aku jelas merasakan tekanan di sekelilingnya mendadak menurun.

Aku kesakitan dan ingin menarik tanganku, tetapi sama sekali tidak bisa melepaskan diri dari cengkeraman Nathan.

"Pak Nathan, mohon jaga sikap." Aku tidak ingin terlibat lebih jauh. Aku hanya ingin segera meninggalkan tempat penuh masalah ini. "Pak Nathan, kalau kamu nggak melepas sekarang, besok kamu bisa masuk berita utama."

Setelah itu, barulah Nathan melepaskan tanganku. Aku segera mendorong Elvano, nyaris kabur ke arah pintu keluar mal.

Hal yang paling ditakutkan malah akan terus menghampiri.

Baru saja aku berbalik, saat melewati Althea yang sedari tadi diam, dia tiba-tiba menyadari ada yang tidak beres denganku dan langsung menarik topiku.

"Ivory, bukankah kamu paling menyayangi rambutmu? Sejak kapan kamu pakai topi?" Aku menjerit dan refleks ingin menutupinya, tapi sudah terlambat. Topi itu tercabut seluruhnya, memperlihatkan rambut yang jarang dan kulit kepala pucat. Sekitar kami langsung dipenuhi tawa dan bisik-bisik.

"Ya ampun, menjijikkan."

"Katanya wanita matre yang dibuang Pak Nathan. Pantas kena karma."

Aku menutup kepalaku dengan panik, lalu memungut topi dan memakainya kembali secepat mungkin. Namun, suara-suara itu terus berdengung di telingaku. Tatapan penuh niat buruk tak bisa kuhindari sama sekali.

Kenapa? Kenapa bahkan sisa terakhir martabatku pun harus dihancurkan seperti ini?

Sebersit keterkejutan melintas di mata Nathan, lalu berubah menjadi rasa jijik yang lebih dalam.

"Ivory, kamu benar-benar nggak tahu diri. Kali ini mau jual penderitaanmu lagi padaku? Kamu mau berapa lagi?"

Aku tidak ingin berlarut-larut. Dengan nada tergesa, aku memanggil namanya, "Nathan!" Dia tidak peduli dengan jawabanku. Dengan seenaknya dia mengeluarkan sebuah kartu hitam dan melemparkannya ke wajahku.

"Dua miliar terakhir. Bawa pria liar cacatmu itu dan enyah."

Kartu itu menggores pipiku, lalu jatuh ke lantai.

Inilah pria yang kucintai selama lima tahun.

Saat nyawaku tinggal menghitung hari, di matanya aku tetap hanya wanita yang menjual penderitaan demi uang.

Aku terdiam lama dan belum sadar sepenuhnya. Saat hendak berjongkok mengambil kartu itu, tangan di sisiku tiba-tiba ditarik.

Elvano yang sedari tadi diam, melepas kacamata hitamnya, memperlihatkan sepasang mata yang tak berfokus tetapi memancarkan tekanan yang kuat. "Siapa kamu? Berani-beraninya menghina orangku?"

Nathan malah tertawa sinis. "Besar sekali nyalimu. Berani menantang Keluarga Lucarno? Benar-benar sudah bosan hidup."

Althea mendengus ringan. "Sampah memang cocok dengan sampah."

Nathan mengangkat ponselnya. "Panggil manajer ke sini. Usir dua orang ini."

Manajer mal berlari tergopoh-gopoh datang. Orang-orang yang menonton mulai berbisik dan menunjuk-nunjuk.

"Berani sekali menyinggung Keluarga Lucarno, tamat sudah mereka ini."

Sepertinya, aku sudah menyeret Elvano ke dalam masalah. Aku gelisah dan tanpa sadar mencengkeram ujung bajuku. Pandangan Nathan melirik ke tanganku, lalu dia berbicara dengan nada seolah memberi belas kasihan.

"Ivory, kalau sekarang kamu memohon padaku, aku masih bisa ...."

Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, manajer malah melewatinya begitu saja dan langsung membungkuk hormat ke arah Elvano. "Tuan Muda Schmidt. Apa perintah Anda?"

"Tuan Muda Schmidt?" Raut wajah Nathan langsung berubah.

Pria bermarga Schmidt di ibu kota, hanya ada satu. Si orang gila itu.

Elvano berbicara dengan nada dingin, "Usir mereka. Masukkan ke daftar hitam mal ini. Tidak diterima selamanya."

Ivory membatin, 'Dia sedang membelaku?'

Manajer mal menyeka keringat di dahinya lalu membungkuk hormat. "Baik."

Para petugas keamanan segera mengepung dan menyeret dua orang itu. Nathan sudah tidak sesombong tadi. Dia mulai meronta. "Elvano! Keluarga Lucarno juga bukan pihak yang bisa kamu remehkan!"

"Tunggu!"

Saat mendengar suara Elvano, aku malah menjadi lega. Tentu saja, aku sudah bisa menebak pilihannya.

Antara seorang wanita yang sudah hampir mati dan keluarga konglomerat Lucarno di ibu kota ... siapa pun tahu harus memilih yang mana.

Para petugas keamanan menghentikan gerakan mereka. Nathan tersenyum puas.

"Sudah kuduga. Keluarga Schmidt nggak mungkin menyinggung Keluarga Lucarno demi seorang wanita yang sudah diusir oleh Keluarga Lucarno."

Elvano sama sekali tidak menanggapinya. Dia hanya menepuk tanganku dengan lembut. "Sudah puas? Mau sekalian aku hajar pria sok percaya diri ini?"

Aku agak terkejut dan menatap Elvano dengan linglung. Hati yang penuh luka ini, seolah ada bekas retakan yang perlahan mulai menutup. Aku belum sempat menjawab. Dia menggoyangkan tanganku pelan, barulah aku tersadar.

"Sudahlah. Nggak perlu buang waktu untuk orang yang nggak ada hubungannya denganku."

"Oke, aku dengar katamu."

Alis Nathan berkerut rapat. Bahkan Althea yang sejak tadi tampak tenang, kini menatapku dengan wajah penuh keterkejutan. Tidak ada yang menyangka, Elvano yang paling gila di kalangan elite ibu kota, bisa sepatuh itu pada perkataanku.

Elvano berbalik ke arah Nathan dan tersenyum dingin.

"Nathan, ya?"

Nathan buru-buru mengangguk. "Iya. Keluarga kita masih punya kerja sama. Kamu ...."

Belum sempat Nathan menyelesaikan ucapannya, Elvano sudah mengangkat tangan dan memberi isyarat pada petugas keamanan untuk menyeret mereka berdua keluar.

Sikap Elvano kembali angkuh dan malas seperti sebelumnya, tetapi nada bicaranya tetap terkesan dingin. "Jangan lupa kirim undangan pertunanganmu. Aku akan kirim hadiah besar untukmu."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kulepaskan Pria yang Tak Menghargaiku   Bab 10

    Hari aku keluar dari rumah sakit, cuacanya cerah.Elvano mendorong kursi roda, membawaku keluar dari pintu utama rumah sakit. Yang tidak kuketahui adalah di sudut jalan seberang rumah sakit, terparkir sebuah Maybach hitam. Kaca mobilnya diturunkan sedikit.Nathan duduk di dalam mobil, menatap sosok mungil kurus yang dibungkus rapat dengan selimut kasmir oleh Elvano.Baru setengah bulan berlalu, di kedua pelipisnya sudah tumbuh uban tipis. Dia melihat Elvano menggendongku ke dalam mobil, melihat mobil itu membawa pergi diriku, melaju semakin jauh, hingga akhirnya menyatu dengan arus lalu lintas dan menghilang.Dia terus menatap seperti itu, sampai pandangannya mengabur, sampai matahari terbenam. Dengan tangannya sendiri, dia menyerahkan penebusannya kepada orang lain. Dalam hidup ini, tak ada lagi jalan pulang.Setahun kemudian, di Kota Dali.Sinar matahari di kota tua itu selalu membawa perasaan culas tetapi hangat. Pohon bougenvil besar di halaman bermekaran lebat, tampak menyala sepe

  • Kulepaskan Pria yang Tak Menghargaiku   Bab 9

    Kedua pria yang sama-sama berasal dari puncak kesuksesan itu, kini saling berkelahi di atas hamparan rumput rumah perawatan. Tinju demi tinju menghantam tubuhnya dan darah berceceran."Apa hakmu bawa dia pergi! Akulah yang berutang padanya! Aku ingin menebusnya!"Nathan sudah dipukuli hingga sudut bibirnya berdarah, tetapi dia tetap mati-matian melindungi pintu di belakangnya."Menebus?"Elvano menendang lututnya dengan keras, lalu mencengkeram kerah bajunya. "Kamu sudah menyiksanya sampai tinggal setengah nyawa, sekarang masih berani bicara soal penebusan denganku? Penebusan terbaikmu adalah lenyap sepenuhnya dari dunianya!"Saat keduanya saling berhadapan, suasana terasa begitu tegang."Uhuk ... uhuk ...."Dari balkon lantai dua vila, tiba-tiba terdengar suara batuk yang lemah. Aku berpegangan pada pagar balkon, menatap dua pria yang saling memukul di bawah sana. Pandanganku mulai menggelap berulang kali."Jangan ... jangan bertengkar lagi ...."Baru tiga kata terucap, tiba-tiba rasa

  • Kulepaskan Pria yang Tak Menghargaiku   Bab 8

    "Ivory! Aku akan membawamu ke rumah sakit! Jangan menakut-nakutiku!"Dengan sisa tenaga yang kupunya, aku mendorongnya menjauh. Kemudian, aku bersandar pada pohon di sampingku, lalu menatap dingin pria yang panik dan kehilangan kendali itu."Nathan, dengarkan baik-baik.""Aku lebih memilih membusuk sendirian di kamar kontrakan, hancur, menjadi abu, daripada menerima penyelamatan munafik darimu. Karena setiap inci udara yang pernah kamu sentuh, membuatku merasa mual."Nathan berdiri di sana, hanya bisa menatap dengan mata terbelalak saat aku "dipersilakan" masuk ke mobil oleh para pengawal yang dia kirim.Pada detik pintu mobil itu tertutup, aku mendengar teriakannya yang menyayat hati.Begitulah caranya, dia merenggutku dari sisi Elvano dengan cara paling hina, lalu mengurungku di sebuah vila perawatan pribadi di pinggiran kota.Di tempat ini, ada tim medis kelas dunia yang bersiaga 24 jam. Ada obat-obatan kanker termahal, yang setiap hari diterbangkan langsung dari luar negeri.Namun,

  • Kulepaskan Pria yang Tak Menghargaiku   Bab 7

    Aku menatapnya, mengucapkan kata demi kata dengan suara serakku. Itu adalah kata-kata paling jelas yang pernah kuucapkan seumur hidupku."Sedangkan nyawamu ... terlalu kotor. Aku nggak menginginkannya."Tubuh Nathan terguncang hebat. Dia berlutut di hadapan semua orang. Pria yang dulunya begitu arogan dan meremehkanku, kini berlutut di hadapanku."Ivory, jangan perlakukan aku seperti ini ... kumohon, beri aku satu kesempatan lagi ...." Dia merangkak berlutut hendak memeluk kakiku, tetapi diadang oleh Elvano.Elvano melepas jasnya dan menyampirkannya ke gaun pestaku yang tipis, lalu mengangkatku ke dalam pelukannya."Ivory, kita pulang." Dia membawaku berbalik tanpa memedulikan siapa pun, meninggalkan pria di belakang sana yang hancur. "Mulai hari ini, Ivory adalah milikku, Elvano. Siapa pun yang berani membuatnya menderita sedikit saja, akan kubuat seluruh keluarganya ikut terkubur."Suara Elvano bergema sebagai sebuah pernyataan di seluruh aula.Aku meringkuk di pelukannya yang hangat

  • Kulepaskan Pria yang Tak Menghargaiku   Bab 6

    Aku menekan tombol putar.Setelah suara deru angin dan salju yang riuh, sebuah suara gadis yang serak terdengar dari pengeras suara dan menggema di aula pesta yang sunyi senyap."Nathan ... Nathan, bangun ... jangan tidur ...."Itu suaraku sendiri. Serak, rusak, tetapi menyiratkan keteguhan saat putus asa. Lalu, terdengar potongan lagu nina bobo yang terputus-putus dan sangat fals.Setiap nadanya dipenuhi kelelahan. Terutama di bagian ketiga, nada yang pecah itu terdengar seperti jeritan yang menembus gendang telinga semua orang yang hadir.Di akhir rekaman, terdengar teriakan minta tolong yang dikeluarkan dengan sisa tenaga terakhir, disusul raungan baling-baling helikopter yang kian mendekat.Itulah rekaman terakhir yang dulu mati-matian kubuat dengan ponsel tua yang hampir kehabisan baterai. Aku berpikir, kalau kami benar-benar mati, setidaknya masih ada sesuatu yang tersisa. Aku tidak pernah menyangka, rekaman itu akan menjadi bukti krusial yang mengungkap kebenaran.Tatapan semua

  • Kulepaskan Pria yang Tak Menghargaiku   Bab 5

    Tatapanku membeku, hatiku perlahan mencelos. Setelah turun dari gunung salju waktu itu, Althea adalah perawat yang menjagaku.Saat itu aku tidak punya keluarga, dan karena pita suaraku rusak, aku tidak bisa berbicara untuk beberapa waktu. Di sisiku hanya ada dia. Melihatku bosan, dia sering bercerita tentang berbagai hal sepele sejak mulai bekerja. Aku pun menceritakan kepadanya semua yang terjadi di gunung salju.Sampai akhirnya dia tahu, pria yang terbaring di ICU itu ternyata adalah Nathan, tuan muda Keluarga Lucarno di ibu kota. Pada hari aku dijemput Keluarga Lucarno untuk keluar dari rumah sakit, dia mencuri tali merah milikku dan menemui Nathan.Dia berkata, gadis bisu sepertiku mana mungkin bisa menyanyikan lagu nina bobo.Althea mengulang semua yang kuceritakan kepadanya kepada Nathan, sementara tatapan Nathan padaku kian lama kian dingin."Aku menganggap Ivory sebagai teman, makanya aku menceritakan semua ini padanya. Aku nggak menyangka dia malah ingin meraup uang dengan men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status