Share

Bab 4

Author: Loraina
Saat menerima undangan pertunangan Nathan, aku baru saja menyelesaikan kemoterapi ketiga.

Undangan berlapis emas itu tertulis.

[ Dengan hormat mengundang Tuan Elvano untuk hadir dalam jamuan pertunangan Tuan Nathan dan Nona Althea. ]

Asisten khusus yang mengantar undangan itu menghindari tatapanku.

"Pak Elvano, Pak Nathan bilang ini undangan yang Anda minta sebelumnya. Sekalian mengingatkan, Nona Ivory itu cuma wanita matre. Mohon Anda berhati-hati."

Jarang sekali Elvano tidak marah. Dia melambaikan tangan dengan acuh tak acuh.

Setelah asisten itu pergi, dia menyerahkan undangan tersebut kepadaku dengan santai. Aku menggenggam undangan itu erat-erat sampai ujung jariku memutih. Padahal aku sudah menjauh dari hidup mereka. Padahal aku hampir mati. Kenapa mereka tetap tidak mau melepaskanku?

Nathan, betapa kejamnya hatimu.

Elvano berkata dengan lembut, "Mau balas dendam dengan tanganmu sendiri?"

Aku tersenyum pahit dan menatapnya. "Nathan bilang aku wanita matre. Pak Elvano nggak takut?"

Elvano terlihat sangat percaya diri. Nada bicaranya bahkan sedikit meninggi. "Apa aku orang bodoh? Masa percaya sama omongan orang begitu saja. Aku percaya pada penilaianku sendiri." Dia menoleh dan berkata serius, "Dan aku percaya padamu."

Jantung yang sekarat tiba-tiba kembali berdegup.

"Mau balas dendam dengan tanganmu sendiri?"

Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang berdiri teguh di sisiku. Keberanian untuk melawan mendadak tumbuh.

"Mau."

....

Malam pesta tiba. Aku menelan obat pereda nyeri dua kali lipat, merias wajah dengan makeup tebal untuk menutupi wajah sakitku.

Aku mengenakan wig yang dibelikan Elvano, lalu gaun merah terbuka di punggung yang sejak dulu ingin kupakai untuk Nathan, tetapi selalu kusimpan di dasar lemari.

Hari ini, aku memakainya untuk mengubur masa laluku.

"Cantik sekali."

Entah sejak kapan, Elvano sudah berdiri di ambang pintu. Dia mengenakan setelan jas hitam dengan tubuhnya yang tegap. Matanya yang baru setengah dilepas perbannya masih terlihat samar, tetapi sorot matanya tampak tulus.

Aku merapikan kerah jasnya. Jari-jariku sedikit bergetar. "Sebenarnya, aku sedikit takut ...."

"Ada aku."

Inikah rasanya memiliki rasa aman?

Mataku terasa panas. Aku mengangguk. "Baik."

Aku menggandeng Elvano dan naik ke Maybach yang sudah menunggu di depan. Di dalam mobil, aku terus menatap siaran langsung pesta pertunangan. Layar besar menayangkan kisah cinta "hidup dan mati di pegunungan bersalju" antara Nathan dan Althea.

Musik pengiringnya adalah lagu nina bobo yang dulu kunyanyikan agar Nathan tetap sadar.

Di atas panggung, Althea mengenakan gaun putih, matanya berkaca-kaca. "Lima tahun lalu di pegunungan bersalju, saat aku menyelamatkan Nathan, aku tidak pernah menyangka suatu hari dia akan menjadi orang sepenting ini dalam hidupku."

Nathan menatapnya dengan penuh kasih. "Althea, kamulah yang memberiku kehidupan kedua. Aku bersedia mencintaimu dan melindungimu seumur hidupku. Maukah kamu menikah denganku?"

Usai berkata demikian, dia mengeluarkan cincin berlian dan berlutut dengan satu kaki.

Para tamu tersentuh. Suasana pun mencapai klimaks.

"Nikahi dia! Nikahi dia!"

Tepat saat cincin itu hampir melingkari jarinya.

Brak!

Pintu aula pesta didorong terbuka dengan keras.

Aku dan Elvano melangkah masuk, diterpa cahaya dari belakang.

"Bu Althea, apakah kebohongan-kebohongan itu nggak terasa panas di mulutmu?" Suara serakku menggema ke seluruh ruangan melalui mikrofon.

Wajah Nathan tampak tegang. Dia segera melindungi Althea di belakangnya. Beberapa petugas keamanan langsung mengepung.

"Ivory, sudah kuduga kamu akan mengamuk!"

Althea bersembunyi di belakangnya, berbicara dengan nada sok benar. "Bu Ivory, soal kebohonganmu pada Nathan, kami nggak akan mempermasalahkannya. Uang putus yang besar juga sudah kamu terima. Jangan terlalu serakah!"

Para tamu mulai berbisik-bisik.

Elvano mendengus dingin. Lebih banyak pengawal masuk dan menahan para petugas keamanan itu.

Aku melangkah mendekati panggung, selangkah demi selangkah, menekan kedua orang itu. "Nathan! Lagu yang dinyanyikan Althea, benar-benar sama dengan yang kamu dengar waktu itu?"

Napas Althea tersendat. Dia menoleh panik ke arah Nathan. "Nathan ...."

Melihat wajah Nathan yang penuh kebingungan, aku terkekeh pelan. "Waktu itu, bagian ketiga lagu itu nadanya terlalu tinggi, aku sampai fals. Kamu masih ingat?"

Ekspresi Nathan membeku. "Bagaimana kamu bisa tahu?"

Elvano mencibir. "Grup Lucarno belum bangkrut di tangan orang sebodoh ini saja sudah luar biasa beruntung."

Nathan tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan Althea, nada bicaranya dipenuhi tuntutan. "Althea, bagaimana dia bisa tahu? Jelaskan padaku!"

Wajah Althea langsung pucat. "Nathan ... kamu menyakitiku! Jangan dengarkan omongan mereka! Ivory cuma iri padaku. Dia sengaja datang untuk merusak pesta pertunangan kita!"

Dengan tergesa-gesa, Althea mengangkat tangan satunya. Di pergelangan tangannya terikat seutas tali merah tua yang usang, sama sekali tidak cocok dengan gaun mewah yang dikenakannya.

"Nathan, kamu masih ingat, 'kan? Tali merah ini. Lima tahun lalu di gunung salju, kamu yang memberikannya padaku. Kamu masih ingat?"

Saat melihat tali merah itu, genggaman Nathan mengendur. "Maaf, Althea."

Mata Althea berkaca-kaca.

"Dulu kalau bukan karena aku membawa tali merah ini untuk menemukanmu, mungkin sampai sekarang kamu masih ditipu Ivory. Kenapa? Kenapa kamu masih nggak percaya padaku?"

Wajah Nathan tampak bimbang. Pandangannya silih berganti antara aku dan Althea. Beberapa saat kemudian, dia akhirnya berbicara. "Ivory, Althea punya tali tangan sebagai bukti. Lalu apa bukti yang kamu punya bahwa kamulah yang menyelamatkanku lima tahun lalu?"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kulepaskan Pria yang Tak Menghargaiku   Bab 10

    Hari aku keluar dari rumah sakit, cuacanya cerah.Elvano mendorong kursi roda, membawaku keluar dari pintu utama rumah sakit. Yang tidak kuketahui adalah di sudut jalan seberang rumah sakit, terparkir sebuah Maybach hitam. Kaca mobilnya diturunkan sedikit.Nathan duduk di dalam mobil, menatap sosok mungil kurus yang dibungkus rapat dengan selimut kasmir oleh Elvano.Baru setengah bulan berlalu, di kedua pelipisnya sudah tumbuh uban tipis. Dia melihat Elvano menggendongku ke dalam mobil, melihat mobil itu membawa pergi diriku, melaju semakin jauh, hingga akhirnya menyatu dengan arus lalu lintas dan menghilang.Dia terus menatap seperti itu, sampai pandangannya mengabur, sampai matahari terbenam. Dengan tangannya sendiri, dia menyerahkan penebusannya kepada orang lain. Dalam hidup ini, tak ada lagi jalan pulang.Setahun kemudian, di Kota Dali.Sinar matahari di kota tua itu selalu membawa perasaan culas tetapi hangat. Pohon bougenvil besar di halaman bermekaran lebat, tampak menyala sepe

  • Kulepaskan Pria yang Tak Menghargaiku   Bab 9

    Kedua pria yang sama-sama berasal dari puncak kesuksesan itu, kini saling berkelahi di atas hamparan rumput rumah perawatan. Tinju demi tinju menghantam tubuhnya dan darah berceceran."Apa hakmu bawa dia pergi! Akulah yang berutang padanya! Aku ingin menebusnya!"Nathan sudah dipukuli hingga sudut bibirnya berdarah, tetapi dia tetap mati-matian melindungi pintu di belakangnya."Menebus?"Elvano menendang lututnya dengan keras, lalu mencengkeram kerah bajunya. "Kamu sudah menyiksanya sampai tinggal setengah nyawa, sekarang masih berani bicara soal penebusan denganku? Penebusan terbaikmu adalah lenyap sepenuhnya dari dunianya!"Saat keduanya saling berhadapan, suasana terasa begitu tegang."Uhuk ... uhuk ...."Dari balkon lantai dua vila, tiba-tiba terdengar suara batuk yang lemah. Aku berpegangan pada pagar balkon, menatap dua pria yang saling memukul di bawah sana. Pandanganku mulai menggelap berulang kali."Jangan ... jangan bertengkar lagi ...."Baru tiga kata terucap, tiba-tiba rasa

  • Kulepaskan Pria yang Tak Menghargaiku   Bab 8

    "Ivory! Aku akan membawamu ke rumah sakit! Jangan menakut-nakutiku!"Dengan sisa tenaga yang kupunya, aku mendorongnya menjauh. Kemudian, aku bersandar pada pohon di sampingku, lalu menatap dingin pria yang panik dan kehilangan kendali itu."Nathan, dengarkan baik-baik.""Aku lebih memilih membusuk sendirian di kamar kontrakan, hancur, menjadi abu, daripada menerima penyelamatan munafik darimu. Karena setiap inci udara yang pernah kamu sentuh, membuatku merasa mual."Nathan berdiri di sana, hanya bisa menatap dengan mata terbelalak saat aku "dipersilakan" masuk ke mobil oleh para pengawal yang dia kirim.Pada detik pintu mobil itu tertutup, aku mendengar teriakannya yang menyayat hati.Begitulah caranya, dia merenggutku dari sisi Elvano dengan cara paling hina, lalu mengurungku di sebuah vila perawatan pribadi di pinggiran kota.Di tempat ini, ada tim medis kelas dunia yang bersiaga 24 jam. Ada obat-obatan kanker termahal, yang setiap hari diterbangkan langsung dari luar negeri.Namun,

  • Kulepaskan Pria yang Tak Menghargaiku   Bab 7

    Aku menatapnya, mengucapkan kata demi kata dengan suara serakku. Itu adalah kata-kata paling jelas yang pernah kuucapkan seumur hidupku."Sedangkan nyawamu ... terlalu kotor. Aku nggak menginginkannya."Tubuh Nathan terguncang hebat. Dia berlutut di hadapan semua orang. Pria yang dulunya begitu arogan dan meremehkanku, kini berlutut di hadapanku."Ivory, jangan perlakukan aku seperti ini ... kumohon, beri aku satu kesempatan lagi ...." Dia merangkak berlutut hendak memeluk kakiku, tetapi diadang oleh Elvano.Elvano melepas jasnya dan menyampirkannya ke gaun pestaku yang tipis, lalu mengangkatku ke dalam pelukannya."Ivory, kita pulang." Dia membawaku berbalik tanpa memedulikan siapa pun, meninggalkan pria di belakang sana yang hancur. "Mulai hari ini, Ivory adalah milikku, Elvano. Siapa pun yang berani membuatnya menderita sedikit saja, akan kubuat seluruh keluarganya ikut terkubur."Suara Elvano bergema sebagai sebuah pernyataan di seluruh aula.Aku meringkuk di pelukannya yang hangat

  • Kulepaskan Pria yang Tak Menghargaiku   Bab 6

    Aku menekan tombol putar.Setelah suara deru angin dan salju yang riuh, sebuah suara gadis yang serak terdengar dari pengeras suara dan menggema di aula pesta yang sunyi senyap."Nathan ... Nathan, bangun ... jangan tidur ...."Itu suaraku sendiri. Serak, rusak, tetapi menyiratkan keteguhan saat putus asa. Lalu, terdengar potongan lagu nina bobo yang terputus-putus dan sangat fals.Setiap nadanya dipenuhi kelelahan. Terutama di bagian ketiga, nada yang pecah itu terdengar seperti jeritan yang menembus gendang telinga semua orang yang hadir.Di akhir rekaman, terdengar teriakan minta tolong yang dikeluarkan dengan sisa tenaga terakhir, disusul raungan baling-baling helikopter yang kian mendekat.Itulah rekaman terakhir yang dulu mati-matian kubuat dengan ponsel tua yang hampir kehabisan baterai. Aku berpikir, kalau kami benar-benar mati, setidaknya masih ada sesuatu yang tersisa. Aku tidak pernah menyangka, rekaman itu akan menjadi bukti krusial yang mengungkap kebenaran.Tatapan semua

  • Kulepaskan Pria yang Tak Menghargaiku   Bab 5

    Tatapanku membeku, hatiku perlahan mencelos. Setelah turun dari gunung salju waktu itu, Althea adalah perawat yang menjagaku.Saat itu aku tidak punya keluarga, dan karena pita suaraku rusak, aku tidak bisa berbicara untuk beberapa waktu. Di sisiku hanya ada dia. Melihatku bosan, dia sering bercerita tentang berbagai hal sepele sejak mulai bekerja. Aku pun menceritakan kepadanya semua yang terjadi di gunung salju.Sampai akhirnya dia tahu, pria yang terbaring di ICU itu ternyata adalah Nathan, tuan muda Keluarga Lucarno di ibu kota. Pada hari aku dijemput Keluarga Lucarno untuk keluar dari rumah sakit, dia mencuri tali merah milikku dan menemui Nathan.Dia berkata, gadis bisu sepertiku mana mungkin bisa menyanyikan lagu nina bobo.Althea mengulang semua yang kuceritakan kepadanya kepada Nathan, sementara tatapan Nathan padaku kian lama kian dingin."Aku menganggap Ivory sebagai teman, makanya aku menceritakan semua ini padanya. Aku nggak menyangka dia malah ingin meraup uang dengan men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status