LOGINAnak itu menggeleng, ia tetap tidak mau jujur apalagi masih ada Hisya di sana yang terus memantaunya dengan tatapan penuh peringatan dan intimidasi. "Ya sudah, kamu main dulu sama Bibi gih!" titah Lisya tidak ingin berlama-lama, ia beranjak dari sana dan bergegas untuk melakukan hal lainnya. ***Marfa melangkah pelan menyusuri koridor rumah sakit. Langkahnya yang masih terasa lemas melambat saat melihat rombongan dokter dari arah berlawanan.Tampaknya mereka adalah para medis dari beberapa rumah sakit yang sedang melakukan kunjungan resmi.Di antara rombongan itu, Marfa menangkap sosok Liam berjalan berdampingan dengan Alena. Wanita itu tampak anggun memeluk beberapa map tebal di dada. Jas putih yang melapisi kemeja formalnya terpasang rapi, lengkap dengan logo rumah sakit lain yang terpampang jelas di pin kartu identitasnya.Marfa sempat melirik suaminya sekilas. Namun, ia memilih bergeser ke tepi koridor, memberi jalan dan berpura-pura tak kenal demi mengurai canggung.Saat rom
Setelah mengucapkan itu, Marfa langsung memalingkan wajahnya kembali ke samping, sungguh tidak kuat lagi menatap mata suaminya. "Kamu tahu segalanya tentang mantan istrimu. Kalian masih punya hubungan--""Jangan melantur," potong Liam, tatapannya masih lekat pada Marfa. "Kamu masih marah karena siang tadi? Apa kamu pikir aku dan Alena bersama di saat jam kerja hanya untuk membahas sesuatu di luar itu?" Marfa mendengar, ia juga membalas tatapan Lian tajam namun tidak menyela ucapan Liam. Jujur ia penasaran dan ingin mendapat penjelasan lebih dari suaminya. Liam menghela napas pendek. "Tentu saja tidak. Kamu terlalu banyak berpikir, Marfa.""Kalau tidak lalu apa? Jangan beralasan jika kalia membahas pekerjaan! Alena bahkan tidak bekerja di rumah sakit itu--" "Karena dia seorang pasien."Marfa tertegun. Ia terpaku dengan wajah kaget. Keningnya berkerut halus, berusaha mencerna kenyataan bahwa Alena wanita yang terlihat sangat sehat itu ternyata datang sebagai pasien? Liam bisa mem
Kening Marfa berkerut halus ia yakin tadi Liam ingin mengatakan sebagai suami, tapi sepertinya lelaki itu keburu sadar kalau tidak layak disebut suami. "Oh." Marfa menyahut singkat. Ia tersenyum getir. Wajahnya yang masih pucat terlihat begitu lelah. Akhir-akhir ini kepalanya terasa terlalu penuh. Masalah keluarganya yang rumit terus menumpuk beban di dadanya"Maaf, aku merepotkanmu," lirih Marfa pelan.Liam kembali diam, ia butuh waktu beberapa detik untuk melanjutkan percakapan. Sejak tadi tatapannya fokus pada Marfa seolah sedang memperhatikan setiap perubahan gestur istrinya. "Kamu stres karena terus memikirkan soal anak? Jangan ambil hati ucapan Ibu," balas Liam datar. Pria itu tampak begitu yakin bahwa ia tahu semua jawaban atas kondisi istrinya.Marfa tertegun. Liam dengan begitu mudah menyimpulkan bahwa Marfa ambruk hanya karena tekanan program hamil dan celotehan mertuanya. Suaminya sama sekali tidak sadar, atau mungkin pura-pura tidak tahu bahwa ada hal lain yang ja
Lisya mendengus benci, menatap Alena dan Marfa bergantian dengan raut serba salah."Kamu juga, Marfa! Kenapa diam saja?! Suamimu diposisikan begini tapi kamu sama sekali tidak ada tegas-tegasnya!""Sudah, Bu... mari kita pulang...," lirih Marfa.Baru saja Marfa memutar tubuhnya untuk melangkah, kesadarannya mendadak menguap. Pandangannya memutih. Kaki Marfa terkulai lemas dan tubuhnya runtuh ke lantai."Marfa!" pekik Lisya kaget, refleks menahan ketiak menantunya agar tidak hantam lantai sepenuhnya. "Marfa, kamu kenapa?!"Liam masih bergeming di balik mejanya. Matanya menatap tajam pada tubuh sang istri yang terkulai lemas. Sebagai seorang dokter profesional di ruang praktiknya, ia menolak membiarkan emosi pribadi mengambil alih dan mengacaukan prosedur medis. Liam menekan tombol interkom di mejanya tanpa panik sedikit pun."Suster, bawa brankar ke ruang saya sekarang. Pasien penurunan kesadaran, langsung evakuasi ke UGD.""Siap, Dok!" sahut suara dari balik interkom.Lisya
"Ibu, Mas Liam mungkin masih sibuk. Apa tidak bisa bertemunya di rumah saja saat dia sudah pulang kerja?"Marfa membuntut di belakang mertuanya dengan langkah berat. Saat ini masih jam pelayanan aktif di rumah sakit, dan ia tahu bagaimana ketatnya jadwal sang suami. Namun, Lisya tetap bergeming. Wanita itu terkekeh sinis, enggan mendengarkan masukan menantunya."Sudahlah. Kalau nunggu dia pulang, entah kapan. Liam itu selalu punya alasan kalau disuruh ketemu Ibu."Marfa menghela napas pasrah. Ia melangkah tergesa mengimbangi Lisya yang berjalan cepat. Di tengah langkahnya, ada rasa nyeri yang tiba-tiba menusuk di perut bawah Marfa, seperti melilit, kram, dan berdenyut hingga membuat napasnya tertahan. Marfa tidak sanggup lagi berjalan cepat. "Ibu...." Marfa terhenti, menyandarkan punggungnya ke dinding koridor. Peluh dingin mulai menetes di kening, wajahnya berubah pucat. Ia meremas perutnya kuat-kuat. Panggilan lirih Marfa tidak didengar, Lisya tak menoleh sedikit pun. Wanit
Marfa dengan sigap mengulurkan tangan untuk menyambut jas putih yang disampirkan di lengan Liam, serta tas kerja kulit milik pria itu. Jemarinya sempat bersentuhan sekilas dengan tangan Liam yang terasa dingin. "Papa!" seru Vian riang, langsung berlari menghampiri dan memeluk kaki jenjang Liam. Liam menunduk, mengusap lembut kepala anak sambungnya dengan senyum tipis yang samar. "Mau berangkat sekolah, hm?" Liam dan Vian berbincang hangat di ruang depan, sedangkan Marfa melangkah ke dalam. Ia membawa tas kerja Liam menuju kamar, lalu berbelok membawa baju kotor serta jas putih suaminya ke area ruang cuci, sebelum berangkat mengantar Vian ia memutuskan untuk mencuci lebih dulu. Toh, waktu masih cukup. Seperti kebiasaannya, Marfa mengecek satu per satu bagian jas sebelum memasukkannya ke dalam mesin cuci. Namun, saat merapikan bagian atas jas itu, pandangannya terhenti pada area bahu kanan yang dekat dengan kerah leher. Di atas kain putih yang bersih itu, menempel noda samar b







