Home / Romansa / Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi / Bab 3 Mantan Istri Suamiku

Share

Bab 3 Mantan Istri Suamiku

Author: Ratu As
last update publish date: 2026-07-11 17:25:37

​"Tentu saja karena semua orang tahu status Dokter Liam yang menduda," jawab Sintia diiringi tawa kecil. "Bahkan di rumah sakit ini, beliau sedang gencar-gencarnya didekati oleh banyak wanita. Terutama para dokter koas—"

​Marfa mendengarkannya sembari tetap mempertahankan senyum. Ia tak ingin seseorang yang sedang mengajaknya bercanda itu merasa curiga. Saat ini, ia tak punya niat untuk mengaku sebagai istri Liam lagi.

​"Oh, ya? Ternyata Dokter Liam seterkenal itu?"

​Sintia mengangguk, masih bercerita dengan antusias. "Tapi sepertinya Dokter Liam memang belum bisa move on. Sikapnya selalu dingin kepada wanita. Beliau hanya mau mengobrol panjang di luar urusan pekerjaan kalau bersama Dokter Alena. Sampai saat ini, belum ada yang bisa menggantikan posisi itu."

​"Benarkah?" Marfa kembali menyahuti. Meski ada nyeri yang berdenyut di dadanya, rasa penasaran membuatnya tak bisa berhenti memancing Sintia untuk terus bicara. "Ternyata Dokter Liam bisa bucin parah."

Sintia kembali terkekeh, menyetujui anggapan itu. Bagi siapa pun di rumah sakit ini, Liam memang tampak terlalu setia pada kenangan mantan istrinya.

​"Saya rasa karena Dokter Alena juga tak kalah sempurna. Siapa pun pasti akan sulit melupakannya, apalagi mereka pernah menikah selama tujuh tahun."

​Marfa tidak menyela. Ia hanya semakin penasaran, sosok seperti apa wanita bernama Alena itu hingga semua memujinya dengan nada kagum.

Sampai di depan ruangan Liam, Sintia berhenti. Ia pamit dengan seulas senyum. Sementara Marfa melanjutkan niatnya.

"Dokter Liam sedang ke dokter kardiologi anak bersama Vian, Bu Marfa," kata perawat yang sebelumnya menjaga Vian, ia berdiri di depan ruangan Liam.

"Oh, baiklah. Tidak apa-apa, kalau begitu saya akan tunggu dokter Liam di sini," sahut Marfa.

Ia pun duduk di kursi di depan ruangan Liam. Sementara Sintia pamit untuk bertugas setelah memastikan Marfa tidak butuh bantuannya lagi.

Tak lama Vian datang, anak itu berjalan sembari berlari kecil. Di belakangnya ada Liam yang tetap berjalan tegap.

Marfa mendongakkan wajahnya, ia menatap mereka sedari jauh hingga Liam berada tepat di depannya, sedangkan Vian justru berhenti sebentar di koridor mengamati beberapa gambar yang terpasang di dinding.

"Pak Liam," sapa Marfa ketika jarak mereka dekat. Ia coba memasang wajah semanis mungkin, bagaimanapun ia ingin suaminya melihatnya. Namun senyum itu pudar saat menyadari Liam bahkan tidak menoleh ke arahnya sedikit pun.

Liam langsung masuk ke ruangan, dan duduk di kursinya. Di belakang, Vian menyusul. Anak itu lalu menghampiri Liam dan melendot di kakinya.

"Mama, sini!" panggil Vian melambaikan tangan ke arah Marfa yang masih mematung di pintu.

Suara putranya menarik Marfa dari lamunan. Ia lalu duduk berhadapan dengan Liam yang hanya terhalang meja.

Ini pertama kalinya Marfa bisa menatap Liam cukup lama di antara terang yang membuat ketampanan lelaki itu ketara semakin jelas.

Dokter Liam tidak hanya terlihat gagah saat tubuh kekarnya terekspos, namun saat ia membalut tubuhnya dengan pakaian dokter yang rapih, ketampanannya justru meningkat berlipat-lipat.

Marfa tersenyum miris, ternyata menikah selama beberapa bulan ini ia benar-benar tidak tahu banyak tentang suaminya, bahkan tanda hitam kecil di dekat alis suaminya saja baru ia lihat.

Alis yang tebal dan tajam baru bisa ia perhatikan lebih detail, lalu lesung pipi yang terlihat ketika Liam bicara ... itu pun baru Marfa tahu jika suaminya semanis itu. Tapi sayang, Marfa merasa sikapnya terlalu dingin.

Liam fokus membuka berkas hasil pemeriksaan Vian. Tanpa kata, lelaki itu mengizinkan Vian yang sejak tadi merengek pelan untuk naik ke pangkuannya.

Tidak ada pelukan hangat atau kata-kata manis, tetapi Liam membiarkan tangan mungil Vian menggenggam jemarinya selagi mata pria itu meneliti setiap detail laporan kesehatan sang putra.

"Perkembangan kondisi Vian stabil. Tidak ditemukan komplikasi maupun efek samping jangka panjang pasca operasi."

​Ucapan Liam sontak menarik fokus Marfa. Ia mendengarkan dengan seksama.

​"Vian sudah bisa beraktivitas seperti anak normal, tapi batasi bermain atau olahraga yang terlalu berat," lanjut Liam, bicara dengan profesional dan serius.

​"Dokter Andre konsultan kardiologi anak yang menangani Vian menyatakan terapi obatnya sudah selesai. Hasil evaluasinya bagus. Selanjutnya aku yang akan memberikan vitamin untuk Vian. Kamu bisa bantu dia untuk teratur mengkonsumsinya."

Liam bicara, kali ini dengan menatap Marfa dan fokus sepenuhnya. Namun Marfa justru terdiam, seolah tertegun setiap kali matanya bertemu pandang dengan manik mata Liam yang tajam.

“Apa kamu mengerti?”

Marfa mengangguk cepat, ia ingin bertanya sesuatu tentang Vian lagi namun suara ketukan pintu menghentikannya.

"Masuk," sahut Liam saat suara seorang wanita terdengar.

​"Dokter Liam," sapa Alena anggun begitu melangkah masuk ke dalam ruangan. Riasan wajahnya tampak tajam dengan polesan lipstik tebal yang menyempurnakan senyum manisnya.

​Kehadirannya memotong suasana di antara Liam dan Marfa. Alena melirik Marfa sejenak, melemparkan senyum tipis yang formal, lalu kembali menatap Liam.

​"Bukankah ini masih jam istirahat? Ada hal penting yang perlu kubicarakan," ujar Alena tanpa ragu.

Marfa bisa merasakan percakapan itu terkesan santai dan tidak formal, atau wajar untuk seseorang yang dekat.

Liam menolehkan kepalanya, fokusnya pada wanita itu sepenuhnya. "Alena, bisakah kamu menunggu?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Anidania
wah blm bisa move on kamu dok???
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 50 Papa Mama Jangan Bercerai!

    Anak itu menggeleng, ia tetap tidak mau jujur apalagi masih ada Hisya di sana yang terus memantaunya dengan tatapan penuh peringatan dan intimidasi. "Ya sudah, kamu main dulu sama Bibi gih!" titah Lisya tidak ingin berlama-lama, ia beranjak dari sana dan bergegas untuk melakukan hal lainnya. ***Marfa melangkah pelan menyusuri koridor rumah sakit. Langkahnya yang masih terasa lemas melambat saat melihat rombongan dokter dari arah berlawanan.Tampaknya mereka adalah para medis dari beberapa rumah sakit yang sedang melakukan kunjungan resmi.​Di antara rombongan itu, Marfa menangkap sosok Liam berjalan berdampingan dengan Alena. Wanita itu tampak anggun memeluk beberapa map tebal di dada. Jas putih yang melapisi kemeja formalnya terpasang rapi, lengkap dengan logo rumah sakit lain yang terpampang jelas di pin kartu identitasnya.​Marfa sempat melirik suaminya sekilas. Namun, ia memilih bergeser ke tepi koridor, memberi jalan dan berpura-pura tak kenal demi mengurai canggung.​Saat rom

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 49 Menghapus Pesan Untuk Marfa

    Setelah mengucapkan itu, Marfa langsung memalingkan wajahnya kembali ke samping, sungguh tidak kuat lagi menatap mata suaminya. "Kamu tahu segalanya tentang mantan istrimu. Kalian masih punya hubungan--""Jangan melantur," potong Liam, tatapannya masih lekat pada Marfa. "Kamu masih marah karena siang tadi? Apa kamu pikir aku dan Alena bersama di saat jam kerja hanya untuk membahas sesuatu di luar itu?" Marfa mendengar, ia juga membalas tatapan Lian tajam namun tidak menyela ucapan Liam. Jujur ia penasaran dan ingin mendapat penjelasan lebih dari suaminya. Liam menghela napas pendek. "Tentu saja tidak. Kamu terlalu banyak berpikir, Marfa.""Kalau tidak lalu apa? Jangan beralasan jika kalia membahas pekerjaan! Alena bahkan tidak bekerja di rumah sakit itu--" "Karena dia seorang pasien."Marfa tertegun. Ia terpaku dengan wajah kaget. Keningnya berkerut halus, berusaha mencerna kenyataan bahwa Alena wanita yang terlihat sangat sehat itu ternyata datang sebagai pasien? ​Liam bisa mem

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 48 Kamu yang Lebih Tahu

    Kening Marfa berkerut halus ia yakin tadi Liam ingin mengatakan sebagai suami, tapi sepertinya lelaki itu keburu sadar kalau tidak layak disebut suami. "Oh." Marfa menyahut singkat. Ia tersenyum getir. Wajahnya yang masih pucat terlihat begitu lelah. Akhir-akhir ini kepalanya terasa terlalu penuh. Masalah keluarganya yang rumit terus menumpuk beban di dadanya​"Maaf, aku merepotkanmu," lirih Marfa pelan.Liam kembali diam, ia butuh waktu beberapa detik untuk melanjutkan percakapan. Sejak tadi tatapannya fokus pada Marfa seolah sedang memperhatikan setiap perubahan gestur istrinya. ​"Kamu stres karena terus memikirkan soal anak? Jangan ambil hati ucapan Ibu," balas Liam datar. Pria itu tampak begitu yakin bahwa ia tahu semua jawaban atas kondisi istrinya.​Marfa tertegun. ​Liam dengan begitu mudah menyimpulkan bahwa Marfa ambruk hanya karena tekanan program hamil dan celotehan mertuanya. Suaminya sama sekali tidak sadar, atau mungkin pura-pura tidak tahu bahwa ada hal lain yang ja

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 47 Aku di Sini Sebagai--

    ​Lisya mendengus benci, menatap Alena dan Marfa bergantian dengan raut serba salah."Kamu juga, Marfa! Kenapa diam saja?! Suamimu diposisikan begini tapi kamu sama sekali tidak ada tegas-tegasnya!"​"Sudah, Bu... mari kita pulang...," lirih Marfa.​Baru saja Marfa memutar tubuhnya untuk melangkah, kesadarannya mendadak menguap. Pandangannya memutih. Kaki Marfa terkulai lemas dan tubuhnya runtuh ke lantai.​"Marfa!" pekik Lisya kaget, refleks menahan ketiak menantunya agar tidak hantam lantai sepenuhnya. "Marfa, kamu kenapa?!"​Liam masih bergeming di balik mejanya. Matanya menatap tajam pada tubuh sang istri yang terkulai lemas. Sebagai seorang dokter profesional di ruang praktiknya, ia menolak membiarkan emosi pribadi mengambil alih dan mengacaukan prosedur medis. ​Liam menekan tombol interkom di mejanya tanpa panik sedikit pun.​"Suster, bawa brankar ke ruang saya sekarang. Pasien penurunan kesadaran, langsung evakuasi ke UGD."​"Siap, Dok!" sahut suara dari balik interkom.​Lisya

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 46 Suasana Menegangkan di Ruangan Liam

    ​"Ibu, Mas Liam mungkin masih sibuk. Apa tidak bisa bertemunya di rumah saja saat dia sudah pulang kerja?"​Marfa membuntut di belakang mertuanya dengan langkah berat. Saat ini masih jam pelayanan aktif di rumah sakit, dan ia tahu bagaimana ketatnya jadwal sang suami. Namun, Lisya tetap bergeming. Wanita itu terkekeh sinis, enggan mendengarkan masukan menantunya.​"Sudahlah. Kalau nunggu dia pulang, entah kapan. Liam itu selalu punya alasan kalau disuruh ketemu Ibu."​Marfa menghela napas pasrah. Ia melangkah tergesa mengimbangi Lisya yang berjalan cepat. Di tengah langkahnya, ada rasa nyeri yang tiba-tiba menusuk di perut bawah Marfa, seperti melilit, kram, dan berdenyut hingga membuat napasnya tertahan. Marfa tidak sanggup lagi berjalan cepat. ​"Ibu...." Marfa terhenti, menyandarkan punggungnya ke dinding koridor. Peluh dingin mulai menetes di kening, wajahnya berubah pucat. Ia meremas perutnya kuat-kuat. Panggilan lirih Marfa tidak didengar, ​Lisya tak menoleh sedikit pun. Wanit

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 45

    Marfa dengan sigap mengulurkan tangan untuk menyambut jas putih yang disampirkan di lengan Liam, serta tas kerja kulit milik pria itu. Jemarinya sempat bersentuhan sekilas dengan tangan Liam yang terasa dingin. ​"Papa!" seru Vian riang, langsung berlari menghampiri dan memeluk kaki jenjang Liam. ​Liam menunduk, mengusap lembut kepala anak sambungnya dengan senyum tipis yang samar. "Mau berangkat sekolah, hm?" Liam dan Vian berbincang hangat di ruang depan, sedangkan Marfa melangkah ke dalam. Ia membawa tas kerja Liam menuju kamar, lalu berbelok membawa baju kotor serta jas putih suaminya ke area ruang cuci, sebelum berangkat mengantar Vian ia memutuskan untuk mencuci lebih dulu. Toh, waktu masih cukup. Seperti kebiasaannya, Marfa mengecek satu per satu bagian jas sebelum memasukkannya ke dalam mesin cuci. Namun, saat merapikan bagian atas jas itu, pandangannya terhenti pada area bahu kanan yang dekat dengan kerah leher. ​Di atas kain putih yang bersih itu, menempel noda samar b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status